“Pertja”, Tentang Paradoks Jakarta dan Meta-Narasi Ruang Urban

Portal Teater – Teater Sindikat Aktor Jakarta akan mementaskan lakon “Pertja” karya Benny Yohanes dan sutradara Joind Bayuwinanda di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (5/9), pukul 20.00 WIB.

Lakon ini adalah salah satu naskah pemenang Sayembara Penulisan Lakon Realis 2010 yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara.

“Pertja” saat itu dianggap mampu melahirkan inspirasi untuk membongkar dan mengkaji tindakan-tindakan non-sense kaum urban di Jakarta yang serampangan dan membabi buta karena menganggap bahwa rasionalisme sudah banyak kehilangan sinarnya.

Disutradarai Benny Yohanes, “Pertja” kala itu diperankan Irwan Jamal, Nanan Supriatna, Yani Mae, Ryzzki Ryzcika Riani, dan Yani Nurmayani.

Kali ini, lakon “Pertja” kembali dihadirkan melalui pemeranan oleh aktor-aktor Sindikat Aktor Jakarta: Haikal Sanad, Nia Yuniansah, Angelibi, Miana SA dan Joind Bayuwinanda, yang juga bertindak sebagai sutradara.

Joind adalah salah satu pemeran pembantu pria terbaik ketika memerankan tokoh Clov dalam lakon “End Game” yang dipentaskan Sindikat Aktor Jakarta pada Festival Teater Jakarta (FTJ) yang digelar pada 19-29 November 2018.

Lakon ini sebelumnya juga pernah dipentaskan oleh Sanggar Kummis (Jakarta Selatan) pada gelaran FTJ 2016 di Taman Ismail Marzuki Jakarta di bawah garapan sutradara Aseng Komarudin.

Kisah Tiga Bersaudari

“Pertja” menceritakan tiga perempuan bernama Rosa, Pupu dan Selasih. Kisah hidup mereka adalah khas masyarakat urban (dalam hal ini Jakarta), yang penuh konflik antara perbudakan tata cara dan keinginan berkehendak bebas.

Serangkaian masalah terus menghantui mereka: kemiskinan, impian akan kekayaan, kebangkrutan, putus asa, ketidakadilan. Meski masing-masing tokoh berbeda pendapat, mereka akhirnya berjuang mencari jalan penyelamatan demi keutuhan keluarga.

Kisah ini diawali dengan kematian ayah mereka yang menyisakan warisan berupa hutang yang harus ditanggung oleh anak-anaknya.

Di tengah-tengah masalah keluarga yang harus mereka hadapi, muncul permasalahan lain yaitu rumah mereka akan digusur yang menjadikan mereka serupa kain “pertja” yang berterbangan bersama kunang-kunang di bawah jalan layang (flyover). 

Mereka akhirnya terjun ke kegemerlapan malam bersama dengan aneka pilihan irasionalitas dan ketidakberadabannya dan menjadi korban dari cengkraman kapitalisme.

Lakon "Pertja" akan dipentaskan Sindikat Aktor Jakarta di GKJ, Kamis (5/9). -Dok. picbear.org.
Lakon “Pertja” akan dipentaskan Sindikat Aktor Jakarta di GKJ, Kamis (5/9). -Dok. picbear.org.

Jakarta dan Kota Yang Paradoks

Dalam catatan kesutradaraannya, Joind melihat Jakarta merupakan surga bagi pebisnis, kaum elite intelektual dan pemburu harta, tetapi neraka bagi kaum miskin. Jakarta juga bisa membuat seseorang dalam waktu singkat menjadi kaya atau menjadi mayat bahkan ada juga yang taat beragama sampai kehilangan Tuhanya.

Perempuan sebagai kaum feminim berjuang mengangkat martabat di antara gencarnya tekanann kapitalis dan patriaki yang melahirkan unggulnya kekuatan sentimentil atau tendensius pada aksi atau reaksi dari perasaan yang berlawanan.

Dalam tataran itu, martabat dan kebebasan bisa dicapai dengan cara yang irasional menjadi sebuah pembenaran yang sulit diurai dalam ilmu perasaan. “Pergilah bersama malam, hanya saat malam dunia memberimu banyak pilihan”.

Fenomena ini sudah dianggap hal yang wajar, dengan banyak penganut paham menganggap manusia sebagai objek penting untuk dijadikan alasan sebagai sumber kemajuan dengan cara membentuk objek konservasi kemanusiaan dengan alih-alih menyelamatkan hidup masyarakat dari kemiskinan dan keterpurukan.

Meski pada kenyataannya, kaum urban miskin kota tetap berjuang mati-matian mempertahankan hidup di tengah kota yang paradoks.

Keluarga begitu sukar dipersatukan sehingga sebagian dari mereka yang mewakili masyarakat minoritas telah menjadi “pertja” atau kain besar yang dipotong-potong menjadi kecil dan tidak berguna.

Mereka yang terbuang, putus asa dan cukup tertekan sekian lama akhirnya membuat pikiran menjadi irasional sehingga tindakan dilakukan bukan atas pikiran melainkan kemuan karena rasa sentimen. Selasih yang hamil di usia muda tanpa suami bukanlah kesalahan.

Pupu mencintai kekasih yang ternyata adalah gay bukan juga sebuah penyakit. Atau diam-diam Rosa menjadi seorang mami di pinggiran jalan adalah sebagai bentuk upaya untuk menciptakan keluarga baru, sebab keluarga yang sebenarnya tidak lagi bisa melindungi.

Lakon “Pertja” akhirnya secara khusus berniat memberi imbangan kreativitas untuk memperkuat kembali konsep seni peran realis serta mewujudkannya dalam bentuk karakterisasi dan interpretasi dialog manusia urban yang tersembunyi dengan tetap memperlihatkan kekuatan emosi natural dan tidak terjebak pada distorsi atau stilisasi.

Melalui “Pertja”yang kompleks dan konflik silang-sengkarut antar tokoh bisa menjadi pelajaran bahwa bagaimanapun hidup harus dibuat menjadi rasional dalam menghadapi segala persoalannya.

Meta-Narasi Di Ruang Urban

Lakon ini pada pertama kali pentas pada Sayembara Penulisan Lakon Realis Salihara 2010 mendapat sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari para juri: Iswadi Pratama, Seno Joko Sunoyo, dan Zen Hae.

Dalam sebuah pernyataan, mereka mengatakan, naskah “Pertja” menyuguhkan manusia urban yang tergencet, antara ‘perbudakan tata cara’ dan kehendak bebas, kemiskinan dan impian kekayaan, kebangkrutan dan penyelamatan, keterceberaian dan keutuhan sebuah keluarga.

Naskah tersebut juga menyajikan tata panggung yang menarik, karena rancangan pemanggungan dengan kontras tinggi. … Antara ruang keluarga yang penuh kematian dan penistaan, dan halaman rumah, kebun belakang yang menjanjikan kehidupan, tapi juga rentan dan misterius” (lih. mimbar teater Indonesia, 7 Juni 2011).

Digarap lewat konsep Realisme Urban, naskah tersebut merupakan bentuk reapresiasi dan sekaligus redefinisi terhadap konsep realisme tahun 50-60’an.

Konsep Realisme Urban ini memperlihatkan bentuk dan bobot permainan sublimatif, yang membayangi aspek-aspek skisoprenik dari kompleks persoalan khas manusia urban: kegoyahan dan keperihan dalam identitas yang bertopeng.

Namun, teater Indonesia modern yang cenderung mengeksplorasi spektakel tubuh, sensasi rupa, dan multi-media, yang pada akhirnya melemahkan seni peran para aktor.

Akhirnya, lakon ini khusus hendak memberi imbangan kreativitas untuk memperkuat kembali konsep seni peran realis, yang sudah ditinggalkan dunia teater Indonesia di hampir tiga dekade.

Lakon “Pertja” adalah manifestasi meta-narasi di ruang urban. Dengan pemahaman meta-narasi sebagai cara ungkap pernyataan berkedok, lakon ini merupakan tanggapan atas kompleksitas konflik tersembunyi masyarakat urban.

*Daniel Deha

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...