Portal Teater – Kegiatan opening ceremony Lintas Media 2019 dibuka dengan sajian pertunjukan yang unik. Dengan menampilkan pertunjukan perdana “Mencari Ide” karya Damar Rizal Marzuki, ratusan penonton di Teater kecil Taman Ismail Marzuki seolah dibuat bertanya-tanya, makna dari narasi yang dipertontonkan di panggung teater.

Salah satunya dirasakan oleh Kemal (58 tahun), seorang pencinta teater yang sudah menghabiskan sebagian hidupnya di dunia teater. Sejak mengenyam pendidikan di bangku SMA pada tahun 1978, Kemal sudah aktif bermain teater.

Dia mengungkapkan bahwa pertunjukan “Mencari Ide” karya Damar merupakan sebuah karya yang cukup matang karena Damar sebagai aktor dan sutradara telah menguasai materi dan meyakinkan penonton bahwa ada banyak alternatif yang dapat dipilih dalam mencari ide atau gagasan untuk menciptakan karya seni.

“Pertunjukan ini mencampur berbagai media, dan ini sudah lazim di Eropa. Saya pikir banyak penonton tadi yang tidak tangkap pesan teater karena memang karya ini sangat jenius dieprankan oleh aktor yang cerdas mengkreasi ide,” ungkapnya.

Laki-laki paruh baya ini pun mengungkapkan bahwa makna pertunjukan ini bukan pada konten kesulitan mencari ide, tapi bagaimana si aktor merangkai ide yang dapat meyakinkan publik agar punya wawasan yang komprehensif dan tidak buntu dalam menciptakan karya seni.

Akan Menjadi Karya Orisinal

Damar mengungkapkan bahwa karyanya tersebut merupakan produksi dari proses yang panjang dalam memakan waktu yang lama, namun ia mengakui bahwa model pertunjukan tersebut akan menjadi karya pribadi yang orisinal.

“Seperti proses mencari ide, saya membutuhkan waktu dan proses yang panjang,” katanya ketika diwawancara seusai pertunjukan, Selasa (11/6).

Aktor berusia 26 tahun itu pun menceritakan bahwa sebenarnya makna pertunjukan itu adalah untuk menggugah identitas seorang seniman, bahwa dalam proses produksi sebuah karya, seorang seniman tidak boleh terjebak dalam mimpi akan hasil akhir atau produk yang bagus, sementara seniman itu sendiri itu tidak pernah menghargai proses awal penciptaan karya.

“Kadang kita selalu fokus dengan satu tujuan. Proses awal kadang juga terbaikan, dan lebih fokus pada hasil akhir. Proses awal sebuah karya inilah yang saya coba gali. Karena jika kita terus berproses, maka pasti akan ada hasilnya,” ungkapnya.

Meski berlatar seorang aktor, Damar mengakui bahwa ketika masih melanjutkan studi pascasarajana di Institut Kesenian Jakarta, dirinya menemui kesulitan untuk berimprovisasi dalam memerankan tokoh aktor di atas panggung.

Sebab itu, ia mencoba mengubah pola dan gaya pertunjukan dari aktor yang mengandalkan naskah atau skrip menjadi seorang aktor yang menguasai panggung dengan mengandalkan kemampuan untuk memainkan properti panggung, seperti misalnya, lampu, artistik, musik, video, dan lain-lain.

“Karya saya akan lebih bermain dengan properti, misalnya bereksperimen dengan artistik, lampu, penonton, dll.,” ungkapnya.

Damar mengakui bahwa model pertunjukan seperti “Mencari Ide” ini akan tetap menjadi karya orisinal pribadinya ketika tampil sendiri di panggung pertunjukan, tentu dengan narasi dan konten yang berbeda, sesuai bentuk dan dengan siapa dirinya berkolaborasi.

“Saya menemukan pola membuat pertunjukan, bukan ceritanya. Dalam pertunjukan terkahir, plotnya masih kacau. Dan ini akan menjadi karya pribadi saya ketika tampil sendiri,” katanya.

Damar dan Teater “Mencari Ide”

Lulusan Program Penciptaan Seni di Pascasarjana IKJ tahun 2018 ini mengungkapkan bahwa karya ini berkisah tentang awal perjalanan mencari sebuah ide untuk menciptakan karya. Setiap peristiwa yang dipaparkan adalah pengalaman-pengalaman yang langsung dialami, dengan menyadari setiap aktivitas sehari-hari.

“Sampai saat ini saya menjelajah ke seluruh ruang untuk memahami segala persoalan diri sendiri. Mulai dari memperhatikan kebiasaan orang-orang, peraturan sekitar, suasana dalam tempat dan waktu tertentu, baik itu dari segi objek penglihatan, bunyi, dan media-media lainnya. Segala yang ditemukan maupun juga tidak didapatkan selama ini, telah menjadi riset akan sebuah rancangan karya seni yang akan diciptakan,” ungkapnya.

Menurutnya, proses mencari ide ini dilakukan dengan merespons setiap kejadian yang biasa sehari-hari. Merekam segala aktivitas di mana situasi dapat merangsang atau memicu terciptanya inspirasi kreatif, misalnya saat membaca buku atau menonton komedi. Atau ketika melihat ruang publik, ketika mencoret-coret kertas kosong, ketika mendengar pembicaraan orang, ketika melakukan beberapa jenis aktivitas fisik, bahkan saat merenung dan berbagai macam kegiatan.

“Aktivitas sehari-hari yang saya jalani dalam rangka persiapan menciptakan karya saat ini yaitu kesulitan menemukan ide,” imbuhnya.

Namun, Damar menggarisbawahi bahwa dalam proses pencarian ide tersebut, dirinya menemukan sebuah keputusan tentang dirinya yang sedang mencari ide. Dengan itu, keputusan akhirnya adalah tetap mencari ide.

“Hasil akhir dari proses pencarian ide yaitu saya menemukan keputusan untuk mencari ide,” paparnya.

Damar pun menandaskan bahwa seorang seniman akan selalu mengekspresikan perasaan yang tidak berwujud. Ketika seorang aktor melakukan tindakan apa pun di atas panggung, secara tidak langsung muncul kemampuan-kemampuan yang diekspresikan melalui media yang lain.

Melalui karyanya ini, Damar ingin menunjukkan bagaimana seorang aktor merawat kegelisahan yang tetap hidup dalam perkembangan zaman, serta membantu dalam mewujudkan konsistensi dalam berproses menciptakan kesenian.

Tentang Damar Rizal Marzuki

Damar Ismail Marzuki adalah aktor dan sutradara teater lulusan Sarjana pada Program Studi Seni Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 2015 dan Program Penciptaan Seni di Pascasarjana IKJ pada 2018.

Bersama teman-temannya, ia mendirikan grup teater Standarmime pada 2011. Karya terakhirnya yang disutradarai dan dimainkannya bersama kelompok teaternya yaitu Blackhole di gedung pertunjukan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) pada September 2018.

Karya tunggalnya yang terbaru adalah Seminar Mencari Ide yang dipentaskan pada Postfest 2018 di Teater Luwes-IKJ, Juli 2018, sebagai karya tugas akhir pada program Penciptaan Seni di Pascasarjana IKJ.

*Daniel Deha