Peta Audiens dalam “Demonstrasi Bunuh Diri”

Portal Teater – Diskusi pelik terjadi seusai Abi ML dkk memerankan pertunjukan “Demonstrasi Bunuh Diri” di hari kedua kegiatan Lintas Media Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Diskusi itu tidak sekedar ingin mendudukkan posisi audiens dalam pertunjukan, melainkan pada mencari ketepatan peta audiens (public) dalam konteks kajian seni kontemporer.

Sebagaimana disebutkan kurator Ugeng T. Moetidjo, bahwa dalam karya seni kontemporer audiens terlibat begitu dekat dalam konstruksi karya seniman. Audiens tidak lagi dibatasi oleh sekat atau pakem tertentu sebagaimana didengungkan dalam narasi seni modern.

Dalam konteks karya seni modern, audiens cenderung pasif. Sementara pengalaman estetik audiens dibatasi oleh nilai-nilai yang terkadung di dalam sebuah karya seni. Nilai-nilai itu misalnya, sakralitas, keagungan, keindahan, yang bertendensi menempatkan karya seni modern tidak tersentuh oleh pengalaman kesadaran audiens.

“Seni modern cenderung membatasi pengalaman audiens dalam keterlibatannya dengan karya seni,” ujar Ugeng.

Namun dalam estetik kontemporer, audiens bukan hanya aktif dan dinamis, melainkan juga secara kreatif meleburkan dirinya ke dalam produksi karya seni.

Abi ML dkk dalam pertunjukan mereka mencoba merekayasa panggung sedemikian acak agar penonton dapat secara langsung melihat dan mengalami bagaimana mereka mendemonstrasikan narasi bunuh diri di dalam spot-spot yang telah dipilih.

Dalam pertunjukan itu, penonton tidak lagi duduk manis dan menyaksikan dari jauh bagaimana fragmen-fragmen demonstrasi itu dikreasi. Tetapi, di sana Abi ML dkk malah membalikkan kursi, simbol bahwa penonton itu telah tiada. Artinya, penonton telah diagregasikan ke dalam struktur pertunjukan itu sendiri.

“Saya melihat Abi ML dengan sadar ingin menunjukkan bahwa pertunjukan ini semestinya tanpa penonton statis, tapi telah tercampur dengan adegan itu sendiri,” ungkap seorang peserta dalam diskusi itu.

Ketika menjawab pertanyaan seorang partisipan perihal posisi audiens dalam pertunjukan itu, Ugeng pun mengafirmasi bahwa pertunjukan Abi ML itu memang merupakan bagian inheren dari estetika kontemporer. Bahwa secara cerdas, Abi ML sungguh paham akan batasan-batasan nilai estetik seni modern dan kontemporer.

Karya Anish Kapoor

Ugeng yang juga adalah perupa senior ibukota pun mencontohkan salah satu karya seni kontemporer Sir Anish Mikhail Kapoor, atau biasa terkenal dengan nama Anish Kapoor, seorang pematung Inggris.

Lahir di Bombay, India, Kapoor telah tinggal dan bekerja di London sejak awal 1970-an ketika ia pindah untuk belajar seni, pertama di Hornsey College of Art dan kemudian di Sekolah Seni dan Desain Chelsea, Inggris.

Salah satu karyanya termashyur saat ini, yang dipajang di High Museum of Art Atlanta, Amerika Serikat, adalah karya seni instalasi Untitle, yang terbuat dari besi dan berbentuk seperti cermin dua sisi. Karya pemenang Turner Prize Inggris itu menggabungkan antara seni dan sains menjadi pengalaman yang multi sensorik bagi pendengarnya.

Lewat instalasi Untitle, Kapoor menggunakan bentuk yang tidak biasa, cekung, dan menciptakan perasaan yang luar biasa melalui refleksi di permukaannya. Pola segitiga yang ada di karya adalah hasil penelitian Kapoor tentang fraktal (benda geometris).

Ugeng menyebutkan bahwa dalam merefleksikan estetika kontemporer dalam karya-karya seniman, termasuk Kapoor, audiens tidak lagi pasif atau berhalusinasi di hadapan karya agung tersebut.

Malah, menurut seniman yang pertama kali menjadi kurator itu, audiens mengunjungi galeri top dunia itu dan lebih memilih berswafoto di hadapan mahakarya itu. Tidak ada lagi batasan apapun antara karya seniman dengan audiens. Di sana, audiens berperan aktif mendefinisikan diri dan pengalamannya bersama dengan karya tersebut.

“Misalnya kalau kita ambil contoh karya Anish Kapoor, di sana pengunjung malah ber-selfie atau mengambil foto dengan latar lukisan cermin tersebut,” ungkap Ugeng.

Bahkan, dalam kesadaran akan makna karya seni, karya-karya kontemporer tidak lagi mempertanyakan makna sebuah karya seni, tetapi membiarkan audiens atau publik terlibat di dalam penciptaan makna yang relevan menurut dirinya.

“Misalnya, orang yang menonton pameran lukisan karya Anish Kapoor tidak untuk memetik makna dari karya itu,” imbuhnya.

Pameran lintas media 2019
Pameran lintas media 2019 – Doc. portalteater.com

Ciri Estetika Kontemporer

Seni kontemporer sangat menghargai pluralitas, berorientasi secara bebas, tidak menghiraukan batasan-batasan secara kaku. Seni rupa kontemporer dapat diciptakan dari berbagai benda, bahan, atau media, tidak ada pembedaan antara satu dengan yang lain, termasuk benda-benda yang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, seni kontemporer juga mengarah pada pemahaman sebagai seni alternatif, dengan media ungkap baru seperti instalasi, performance art, video art, environmental art.

Ada beberapa ciri khas estetika kontempore yang membedakannya dari narasi seni modern. Pertama, tiadanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafik, kriya, teater, musik, anarkis, hingga aksi politik.

Kdua, konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi, tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.

Ketiga, tidak terikat pada pakem-pakem tertentu dan aturan-aturan zaman dahulu, tetapi berkembang sesuai zaman.

Keempat, mempunyai gairah dan moralistik yang brerkaitan dengan matra sosial dan politik sebagai tesis.

Kelima, seni yang cenderung diminati media massa untuk dijadikan komoditas pewacanaan sebagai aktualitas berita yang fashionable.

Keenam, mengutamakan jenis seni media baru seperti instalasi, performance, fotografi, video, seni serat dan menerima seni kriya dan seni popular.

Akhirnya, estetika kontemporer condong pada isu-isu seperti gender, HAM, multikultural, budaya etnik, lingkungan hidup, buruh migran, diaspora, dan kategori semacam yang merupakan refleksi atas kehidupan harian manusia.*

*Daniel Deha

Baca Juga

Ini Delapan Pameran Seni Rupa Terbesar Tahun 2020

Portal Teater - Di negara manapun, pameran seni rupa tidak hanya dapat mengubah reputasi seniman dan karyanya, tapi juga kehidupan dan imajinasi publik yang menyerap...

Juni Nanti, Museum Nasional Pamerkan 1.500 Koleksi Museum Delft

Portal Teater - Museum Nasional Indonesia berencana memamerkan 1.500 benda-benda budaya koleksi eks Museum Nusantara Delft, Belanda, pada Juni mendatang. Mengutip historia.id, pameran benda-benda hasil...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Terkini

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...