Pidato Pendek Penutupan Festival Teater Jakarta 2019

Oleh: Akbar Yummi*

Portal Teater – Semua aspek kehidupan pada dasarnya memiliki dramaturgi, dimulai dari kita bangun tidur, dimulai dengan minum air putih, gosok gigi dan lain sebagainya; di tempat bekerja dimulai semisal dengan mengisi absen dan lain sebagainya.

Kemudian ketika kita dengan teman, dimulai dengan menyapa canda dan lain sebagainya; bertemu orang tua, dimulai dengan mengucapkan salam hormat dan lain sebagainya; dan semua kegiatan tersebut mengandaikan sebuah dramaturgi; cara bermedia sosial dan lain sebagainya.

Atau bahasa lainnya, dari dramaturgi mungkin tata krama, atau cara hidup sehat, atau kiat-kiat sukses dan bahagia, ataupun cara-cara masuk surga di mana ke semuanya sebenarnya mengandaikan dramaturgi.

Begitu pentingnya dramaturgi bagi kehidupan masyarakat kita, sampai kemudian sebuah kebijakan publik yang tidak mengandaikan dramaturgi, tentu akan menjadi persoalan.

Seperti bagaimana membuat jalan pintu masuk di Stasiun Cikini misalnya, atas nama efesiensi dan ketertiban ternyata belum cukup, ketika melupakan dramaturgi massa, di mana orang bisa berjalan berjubel bersamaan ketika turun dan akan naik kereta berada di lorong menuju keluar masuk pintu stasiun yang sama.

Tidak heran, melompati pagar pembatas jalan pintu masuk keluar kereta, adalah fenomena keseharian yang kita lihat.

Menurut Hannah Arendt, arsitektur adalah pra tindakan, atau semacam skenario bagaimana orang bertindak dan berperilaku.

Tata kota kita juga mengandaikan bagaimana akhirnya orang bertindak dan berperilaku, di mana tata kota di pusat Jakarta tidak mungkin lepas dari rancangan arsitektur Thomas Karsten.

Selain kebijakan rasisme dalam undang-undang warga negara yang diturunkan dalam tata kota Jakarta yang bersifat cluster-cluster ada Menteng bagi kelas atas, ada Glodok bagi para Tionghoa, ada Kampung Melayu, Kampung Makasar, Melayu dan lain sebagainya yang notabene masih tersisa hari ini.

Taman Ismail Marzuki setelah beberapa gedung lama dipugar, termasuk teater Arena. -Dok. sgelive.com
Taman Ismail Marzuki setelah beberapa gedung lama dipugar, termasuk teater Arena. -Dok. sgelive.com

Dalam sejarah Taman Ismail Marzuki sendiri, hancurnya teater Arena bisa kita lihat akibatnya, bagaimana fenomena teater yang cendrung menjadi seragam, setidaknya dalam memandang pertunjukan menjadi mengalami penunggalan dalam satu arah tatapan, dan menutup kemungkinan-kemungkinan lain dari keragaman kultur pertunjukan.

Seakan-akan, teater hanya yang ‘itu’, karena ruang yang tersedia ‘hanya yang itu’, itulah, bagaimana pentingnya tata ruang terhadap kultur pertunjukan, di mana hari ini kita banyak melupakan model-model lain dari kultur pertunjukan yang ada.

Mengutip Gus Dur ketika menjabat di Dewan Kesenian Jakarta, bahwa, keragaman itu ada di luar kita, bukan keragaman di dalam kita.

Dalam konteks berteater kita, bahwa keragaman di dalam kita, masih mencita-citakan sebuah realitas produksi teater yang ideal.

Persoalan-persoalan tempat latihan yang sulit, dana produksi, sewa tempat pertunjukan yang mahal, sebenarnya adalah pembayangan dari kultur teater yang seragam.

Karena sebenarnya seni pertunjukan adalah seni peristiwa, sehinga spasialitas dan konteks situasi sosial apapun, adalah bagian dari pertumbuhan pertunjukan itu sendiri.

Saya membayangkan, biarlah saya tidak punya grup, atau tempat latihan, dana latihan, bahkan saya tidak mempunya waktu latihan, maka realitasn produksi inilah yang menjadi pembentukan pertunjukan saya sendiri, selain dalam teater kontemporer, juga mengandaikan praktek lintas disiplin dan medium juga dimungkinkan.

Saya berusaha dalam posisi yang optimis, di mana seni memiliki kecerdasan artistik dan estetikanya sendiri ketika berhadapan dengan situasi spasial apapun.

Terkadang berpikir, biarlah negara ini ekonomi liberal, atau bahkan fasis sekalipun, seni pertunjukan akan tetap menjadi sesuatu yang akan terus tumbuh berspasial dengan situasi sosial yang melingkupinya.

Seni rupa modern lahir, satu di antaranya karena ada pabrik cat, palet, dll, teater modern lahir karena ada naskah (teks).

Kelahiran ATNI, melalui Asrul Sani, teater Indonesia mengenal bloking, kita hari ini dengan spasial situasi sosial politik yang sedang berubah, dan era digital, teater bisa bekerja dengan indeks, bahkan lebih luas lagi dengan codex.

Saya senang pada FTJ tahun ini. Karena mereka memainkan naskah-naskah babon. Mungkin seni pertunjukan atau teater, mungkin satu satunya seni yang mengandaikan teks (naskah), di mana ia bisa menjadi adalah tubuh yang asing.

Menurut Giorgio Corsetti, teater membutuhkan teks sebagai sebuah tubuh yang asing, sebagai sebuah ‘dunia di luar panggung’.

Persisnya, karena teater semakin tumbuh, dan melakukan perluasannya dengan bantuan perangkat digital, proyektor, sebagai usaha untuk menghadirkan sesuatu yang bersifat ‘kehadiran’ yang hidup, atau arsip, bahkan data, maka teater masih membutuhkan teks sebagai kualitas yang mengiringi kehadiran image.

Atau menurut saya pribadi, kita membutuhkan tubuh yang asing, agar berangkat dari determinan yang jelas dari seni di era digital yang liberal ini.

Selamat, karena telah berfestival, festival FTJ yang festiv tentunya, karena kita tidak sekedar menghadirkan pertunjukan, namun juga ada diskusi, obrolon kopi, bergosip, nyinyir, dan kritik, atau sekedar bereuni bersua kawan lama.

Semoga pidato saya ini bermanfaat, terima kasih!

Baca Juga

Pesta Kesenian Bali 2020 Ditiadakan

Portal Teater - Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan peniadaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2020 menyusul penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...