Polesan Apik Epi Martison dalam “Ritus Tergerus Rakus” di GIK

Portal Teater – Sebuah pertunjukan koreografi kontemporer akan segera ditampilkan kepada pencinta seni ibukota dari kantong kesenian Galeri Indonesia Kaya Jakarta.

Adalah New Indonesian Performing Arts (NIPA) yang akan mementaskan tari “Ritus Tergerus Rakus” di bawah garapan koreografer handal kelahiran Riau, Epi Martison.

Epi Martison dalam karya tari ini berupaya menghilangkan sekat antara berbagai kecenderungan artistik dengan meleburkan batas-batas seni visual, teater, tari dan musik.

Secara konseptual, karya tari ini berangkat dari keprihatinan Epi Martison terhadap penebangan hutan yang merajalela tanpa memperhitungkan pelestarian alam, yang juga menggambarkan ironi dari pembangunan yang mampu menyingkirkan kearifan lokal.

Hutan di Riau telah diluluhlantakkan oleh keserakahan manusia. Ini menimbulkan tragedi berkepanjangan. Tragedi ini semakin pilu tatkala keserakahan itu dirasakan tidak saja sebatas pemiskinan, tapi juga telah mengangkangi nilai-nilai kelestarian hutan.

Bagi masyarakat Kuantan Singingi, Riau, untuk menebang sebatang pohon di hutan haruslah dimulai dengan ritual yang disebut “Melambe”. Ritual ini berupa permohonan menebang hutan kepada Sang Khalik, dan berjanji akan menanam kembali pohon pengganti.

Karena itulah, Epi Martison akan mendesain pentas ini dengan musik live dan video yang menampilkan potret hutan yang masih rimbun dan potret hutan yang sudah rusak serta gundul.

Pesan moralnya adalah keinginan untuk hidup selaras dengan alam karena kita hanya mendapat alam sebagai titipan dari Tuhan yang kelak harus diwariskan pada generasi berikutnya.

Pertunjukan berdurasi 45 menit akan berlangsung di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada 23 November 2019 pukul 15.00 WIB.

Nah, seperti apa bentuk dan fisik pertunjukan tari ini, catat tanggalnya dan nantikan polesan apik sang koreografer.

Tentang NIPA

NIPA didirikan oleh Epi Martison pada tahun 2000, sebagai wadah berkumpulnya seniman-seniman kreatif dari berbagai perguruan tinggi seni, seperti: IKJ, ISI, ASKI Padang Panjang dan lain-lain.

Para seniman ini selalu eksis menciptakan karya-karya seni pertunjukan yang banyak terinspirasi dari seni budaya tradisi yang di dalamnya banyak terkandung makna kearifan lokal.

NIPA sepanjang perjalanannya telah banyak bekerjasama dan berkolaborasi dengan seniman-seniman besar Indonesia, antara lain: Ratna Riantiarno, Asrizal Nur, Sardono W Kusumo, Gusmiati Suid, Boy G. Sakti, Wiwik Sipala, Tom Ibnur, Deddy Luthan, Idris Sardi, Nungki Kusumastuti.

Selain itu, NIPA juga berkolaborasi dengan Maria Darmaningsih, Hartati, Doni Irawan, Diddy AGP, Embi C Nor, Bejo Laksono, Erwin Gutawa, Aida Swensen, Marusya Nainggolan, Jadug Ferianto, Toni Prabowo, Sulistyo Tirto Kusumo, Jarrod Powel, Franky Raden, Suko Suharjono, Gunawan Muhammad, Rendra, dan Dwiki Darmawan.

Tentang Epi Martison

Epi Martison sendiri adalah lulusan ASKI/ISI Padang Panjang, Sumatra Barat (1985) dan IKJ (2002). Ia punya pengalaman pentas baik di dalam maupun luar negeri.

Di dalam negeri, Epi pernah menjadi penata tari, sutradara, dan penata musik pada tari massal pembukaan MTQ Riau, MTQ Nasional di Kendari dan Kalimantan Timur, dan MTQ kepulauan Riau di Natuna dan Tanjung Balai Karimun.

Epi juga menjadi sutradara, penata musik, dan penata tari pada pembukaan Festival Pacu Jalur kabupaten Kuansing Provinsi Riau, penata musik pada tari masal pembukaan Erau Festival di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Selain itu, beberapa kali ia menjadi Art Director di New Jakarta Ansamble, Music Director di Gumarang Sakti, Music Director di Wakubhim Choir Papua.

Epi pernah mendapat medali emas di World Choir Olympic di Winna Austria, Denmark, Jerman, Belanda dan mendapat Bassie Award di 11 negara bagian USA bersama Gumarang Sakti Dance Company.

Ia pun diundang tampil di Labaulle Internationales Deladance Paris, Jacob Fillo Dance Teater USA, Jois Theater New York, OTB Seatle USA, Tour de Canada, Tour de Africa Selatan, London Music Sufi Festival, Colombia Dance Theater, Opera House Sidney Australia, Tour de Opera Kali, Tour the Hongkong University Of Art, Tour the Japan, Sister City Korea, Taipei, Roma, dan Argentina.

Sumber: Galeriindonesiakaya.com

Baca Juga

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Terkini

Data dan Dana Untuk Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Indonesia membuka jalur pendataan bagi pekerja seni yang secara ekonomi terdampak virus Corona. Pendataan telah dibuka sejak akhir pekan lalu,...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...