Produksi-Distribusi “Dramaturgi Kita” dalam Pertunjukan Interkultural (1/3)

Oleh: Arung Wardhana Ellhafiffie*

Portal Teater – Hadirnya Rumah Teater Nusantara sebagai asosiasi yang menaungi kelompok teater tradisi dan modern di Indonesia pada konteks sertifikasi profesi, tampaknya bisa dipahami sebagai transportasi untuk menjawab kebuntuan atau kebekuan dalam menghadapi satu problematika pertunjukan dewasa ini, baik secara produksi maupun distribusinya.

Kita sebelumnya sudah mengetahui banyak wadah yang menaungi insan-insan teater (modern) seperti Federasi Teater Indonesia yang digagas Radar Panca Dahana pada tahun 2004.

Gagasan ini disambut Dindon WS dan kemudian didukung banyak seniman seperti Putu Wijaya, Amna S. Kusumo, Edy Sediawati, dan Goenawan Mohamad. Saya melihatnya masih berada dalam pusaran itu sejak saya menyaksikan langsung peresmiannya.

Lalu Koalisi Seni Indonesia yang berdiri tahun 2013 (sebelumnya sudah diwacanakan sejak tahun 2010 di Bandung), di mana watak kerjanya yang lebih meluas karena melibatkan berbagai macam seni di Indonesia.

Namun demikian, payung-payung teater ini nampak masih berada pada persoalan yang sama dalam seni pertunjukan khususnya.

Sembari melihat kedua rujukan ini, saya membaca kehadiran Rumah Teater Nusantara sebagai satu jalan untuk memproduksi-mendistribusi pengetahuan tradisi dan modern dengan strategi yang bisa dikonsumsi secara majemuk, bukan satu-ketunggalan.

Apakah nantinya akan mencoba mengakulturasi dan mengelaborasi tentunya, di mana akar kebudayaan sebelumnya masih tampak, bukan untuk menghilangkan atau menciptakan yang baru, tapi semacam cara bernegoisasi berdasarkan wacana-wacana/isu yang ditawarkan dari keterlibatan berbagai macam insan teater di dalamnya.

Nampaknya menarik kalau saya meminjam pemikirannya Gilles Deleuze (1925–1995), filsuf Prancis yang mati bunuh diri setelah sakit lama, di mana pemikiran rizomatiknya menunjukkan non-hierarki yang banyak narasi tanpa asal atau akar utama untuk berfungsi sebagai sumber, yang menjadi ukuran deteritorial yang terfragmentasi, berganda, dalam ketidakterkendalian.

Dalam ruang seperti itu, saya melihat hal menarik ketika batas-batasnya berubah-ubah, perubahan diri dalam setiap zaman yang dilacak, layaknya praktik kerja dramaturgi yang tidak pernah stabil, dan keinginan itu pun mengalir dalam berbagai arah.

Maka ditentukan sikap lain seperti yang dilakukan asosiasi ini untuk menyambung sikap-sikap asosiasi sebelumnya, atau kita mempertanyakan jangan-jangan kita selama ini sakit yang berkepanjangan tanpa obat dan hendak mati bunuh diri bahkan (lih. Philip Auslander: Theory for Performance Studies, A Student Guide. London dan New York, 2008:83-88).

Pertanyaan di atas, seperti melemparkan saya untuk membaca kembali: 10 tahun terakhir ini saya berada di kutub mana ya?

Apakah berada di kutub opisisi? Atau berada di kutub lainnya yang berjarak; atau memang saya tidak pernah berada di mana-mana, atau saya sedang di rumah saja menikmati kesehariannya dengan menyapu lantai, membersihkan ruang tidur, lalu merusaknya kembali, rebahan, makan, tidur lagi, lalu menyikat kamar mandi dan kloset.

Apakah kita sudah melacak sejauh mana ruang bisa berfungsi terhadap diri sendiri, atau saya tidak pernah memberikan apa-apa terhadap ruang sehingga selalu busuk dan bau anyir di mana pun.

Pertanyaan diri kembali pada 10 tahun ini semakin melemparkan saya kepada segala banyak pertanyaan: adakah yang memetakan bagaimana kerja tata kelola pertunjukan di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali yang fokusnya melakukan klasifikasi sehingga terjawab secara detail? Kalau memang ada bagaimana distribusinya, apakah sudah merata dan meluas?

Pertanyaan tata kelola ini juga membawa saya bertanya ulang kepada ranah penyutradaraan maupun artistik dengan pertanyaan yang sama: adakah yang sudah memetakan praktik penciptaan penyutradaraan selama 10 tahun terakhir di Jakarta, Lampung, Kalimantan Tengah, Papua, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Jambi, Papua Barat, dlsb.

Pertanyaan semacam ini pastinya sudah dijawab barangkali oleh banyak komunitas independen di daerah atau para akademisi, tanpa distribusi yang cukup baik, atau memang kita yang tidak menjemputnya atau kita memang perlu mencarinya sehingga distribusi itu berjalan baik, khususnya saya.

Hal inilah juga semacam membangunkan saya untuk melakukan pencarian dan pengecekan terhadap arsip-arsip yang pernah saya tulis (entah terselip di kosan/rumah tumpangan atau di email).

Menyadarkan saya untuk melihat apakah sudah ada yang memetakan dramaturgi arsip pertunjukan selama 10 tahun terakhir di Jakarta, atau Madura-Surabaya; tiga wilayah yang sejatinya masih lebar saya tempati secara ruang berkesenian, paling tidak ada riwayat yang terlacak sehingga bisa dipetakan kembali secara spesifik berdasarkan pengalaman.

Apakah saya selama ini menganggap bahwa pemetaan itu tidak penting, atau memang saya tidak mengetahui bagaimana cara memetakannya karena mengalami kesakitan yang parah sehingga terlalu asyik di atas kasur?

Seperti yang disampaikan Eka Nusa Pertiwi (aktor, sutradara, dan produser), selaku ketua Rumah Teater Nusantara dalam syawalan online pada 5 Juni lalu, bahwa pemetaan ini menjadi akar atau cikal bakal dari asosiasi tersebut.

Menurutnya, disadari atau tidak disadari bahwa kita digiring pada industri 4.0, sadar atau tidak dampaknya itu ada, seperti historikal filmnya Charlie Chaplin (1889-1977), komposer, pembuat film, dan aktor komedi Inggris, sebagai contoh kasus yang bisa dipelajari dari biografi, strategi pembuatannya, dan pilihan materialnya juga mengalami transformasi dari industri tersebut.

Sehingga asosiasi ini tidak hanya sebagai rumah yang sifatnya hanya menaungi, tetapi lebih kepada bagaimana memetakan posisi kita masing-masing di teater terlebih dulu; tentunya akan lebih berakar dan sangat berpondasi melalui pengalaman otentik diri.

 August von Kotzebue, dramaturg yang mengembangkan kerja dramaturgi G.E. Lessing, di era yang hampir sama berselisih 30 tahunan. -Dok. Dok. Wikipedia.

August von Kotzebue, dramaturg yang mengembangkan kerja dramaturgi G.E. Lessing, di era yang hampir sama berselisih 30 tahunan. -Dok. Dok. Wikipedia.

Di antara Literatur, Penerjemah, dan Distribusi Teks

Lagi-lagi saya banyak bertanya terhadap diri sendiri: apakah saya sudah menjadi agen sosial terutama pada hidup saya ini, yang kemudian saya terasa terlempar kembali oleh Mahatma Muhammad (sutradara dan pendiri Teater Komunitas Seni Nan Tumpah, Pariaman) yang pernah terpilih menjadi seniman mengajar 2019 di Banda Neira, Maluku, tentu melihat pengalaman itu menjadi sesuatu yang menarik yang menurut Edmund Husserl (1859-1938) [lih. Berto Tukan: Fenomenologi Husserl dan Posisi Realitas Objektif di Dalamnya] bahwa otentikal itu tidak bisa dilarikan, dan sangat berkait dengan lingkungannya dalam cara kolektivitas.

Berkaitan dengan ini, Mahatma menyebutkan bahwa kolektivitas itu yang tidak pernah ketemu. Menariknya kita melakukan praktik pelacakan dengan kerja-kerja kreativitasnya, di mana kelompok membangun tata kelompoknya, karena pengelolaan kelompok bukan hanya penciptaan, tapi praktik global yang harus didistribusikan secara pengetahuan yang baik.

Oleh sebab itu, hal demikian merupakan persoalan teater yang sudah menahun selama tidak berbenah pada tata kelola itu sendiri; tidak bertemu pada pembicaraan di lintas komunal.

Karenanya penting melihat satu pemetaan atau persoalan di wilayah masing-masing yang bisa di-sharing.

Sehubungan dengan itu, Alexander Gebe (Direktur Komunitas Berkat Yakin, Lampung) juga melihat pemetaan-pemetaan itu dalam ranah kiritik, yang dianggap tidak ada kritik di teater sesunguhnya, tidak ada yang berani mengkritik Teater Koma atau Teater Garasi.

Tidak ada yang berani mengurai kelebihannya di mana, dan kelemahannya di mana.

Sementara Benny Yohanes sudah menyumbang pikirannya dari sudut pandang itu (lih. Metode Kritik Teater: Teori, Konsep dan Aplikasi; lih. juga Sahrul N: Teater dalam Kritik; Teater Garasi: Bertukar Tangkap dengan Lepas: Karnaval 20 Tahun Teater Garasi; Dewan Kesenian Jakarta: Teater Enter, Don’t Forget Tukang Sayur; Afrizal Malna: Perjalanan Teater Kedua, Antologi Tubuh dan Kata).

Gebe menjelaskan bahwa riset-riset para akademisi dan praktisi sesungguhnya tidak dipublikasi secara luas, kita tidak pernah mempunyai tradisi kritik, tapi ini penting kalau teater mau maju, bagaimana posisi aktor dengan cara dramaturgi maupun dramaturgi baru misalnya. Tidak ada kritik teater, karena teater tidak didekatkan secara komprehensif.

Tradisi kritik menurutnya bisa dimulai bersama-sama, agar lebih bisa bertanggung jawab atas dasar teorinya, dan menganggap bahwa kontribusi akademis menurutnya nyaris tidak ada, sehingga transformasi pengetahuan pun tidak berjalan baik pula. Selain itu, Gebe menegaskan bahwa tidak ada kritik teater yang keren.

Karena itu saya melihat bahwa kurangnya para penerjemah buku-buku teater berbahasa Inggris; yang dihasilkan para peneliti ataupun teoritikus teater barat maupun timur seperti Hans Thies Lehmann, Erika Fischer-Licthe, Rustom Baruccha, Mary Luckhurst, Mladen Ovadija, Rebecca Rouse, Markus Hallensleben, Annamaria Cascetta, Robert Wilson, David Barnett, Carol Martin, Richard Schechner.

Maupun buku-buku sebelumnya yang ditulis George Bernard Shaw, Tadeusz Kantor, Marianne van Verkhoven, Agustoa Boal, Victor Turner, Antonin Artaud, Walter Benjamin, dan lain sebagainya.

Saya melihat Rumah Teater Nusantara seperti memberikan ruang kepada para penerjemah baru, khususnya akademisi sastra Inggris dan filsafat bersama-sama melakukan hal itu.

Misalnya praktik yang dilakukan Komunitas Serbuk Kayu dan Teater Kaki Langit (Surabaya) yang menerjemahkan bukunya Hans-Thies Lehmann: Postdramatic Theatre, yang perlu didorong distribusinya agar menyebar merata ke setiap lintasan akademisi dan praktiksi sekalipun hasilnya barangkali tidak sempurna (tetapi sudah berusaha semaksimal mungkin yang jelas akan menjadi diskursus berlanjut).

Kelompok ini juga akan menerjemahkan buku Cathy Turner: New Dramaturgies, Dramaturgy and Architecture Theatre, Utopia, and the Built Environment, Katalin Trensenyi & Bernadette Cochrane: New Dramaturgy, International Perspective on Theory and Practice, Branko Colarevic & Ali M. Malkawi: Performative Architecture Beyond Instrumentaly, dan lain sebagainya.

Sementara Abdul Hakim Duma Harahap dari Teater Malam Metro, Lampung, menyoroti sumber daya manusia teaternya itu sendiri, yang menurutnya malas membaca, sehingga terjadinya kemandekan ilmu pengetahuan, selain menyoroti ketokohan yang minim di sana sehingga pengetahuan teater tidak berlangsung secara baik.

Ini yang membuat saya melacak ulang sebuah arsip rekaman audio dan video Afrizal Malna dengan segala pertanyaannya, mengapa banyak sutradara kehilangan aktornya; mengapa komunitas selalu bergonta-ganti sutradara belakangan ini, yang menurutnya disebabkan pergeseran perilaku pelaku teaternya yang kehilangan tradisi membacanya sehingga diperlukan pergeseran strategi naratif dalam menghadapi ekosistem yang disebutnya terbatas.

Dan Ahsana, dari Barito Utara, cukup terbuka dengan input-input demi perkembangan dan kemajuan teater agar tampilan dari banyak unsur menjadi lebih baik, khususnya dalam segi manajemen produksi yang ditanggapi Eka Nusa Pertiwi bahwa menggoreng isu menjadi bagian dari sebuah sistem sosial (lih. Jhon Field: Modal Sosial; Muhammad Jazuli: Manajemen Seni Pertunjukan; Kelola: Telisik Tradisi, Pusparagam Pengelolaan Seni Kelola, yang menjadi projek penelitian tentang sistem pengelolaan seni pertunjukan tradisi di daerah Subang (Jawa Barat), Wajo (Sulawesi), Luhak dan Minangkabau (Sumatera Barat)).

Pemikiran ini juga membuat saya untuk semakin melacak dan mengecek satu persatu dari setiap arsip yang pernah saya tulis untuk melihat pengalaman otentik dramaturgi di masa-masa itu, maupun melacak daftar buku yang pernah saya beli, nyolong buku kawan, dan membukanya kembali; sampai-sampai sakit yang saya alami benar-benar harus terlupakan, karena setahu saya sampai sejauh ini sangat sedikit literatur yang saya baca dalam fokus melakukan pemetaan ini—yang jelas akan menjadi transportasi menarik, yang fokusnya pada 10 tahun terakhir di sebuah wilayah.

Kalau jangkauannya lebih luas memang sudah dilakukan pemetaan dramaturgi pertunjukannya, khususnya teater modern seperti yang ditulis Afrizal Malna (ibid.).

Namun kini pemetaan di antara teater tradisi dan modern, jelas di Jakarta misalnya selama 10 tahun terakhir membuat saya semakin memaksakan diri dalam keadaan sakit untuk melacak, karena sungguh terlempar pada catatan saya sebelumnya bagaimana Lenong, Jpeng dan Jinong, Blantek, Topeng, ataupun wayang kulit Betawi yang terus hadir, kemudian bagaimana seni tradisi itu diakulturasi pada teater modern.

Kmudian kesenian tradisi lainnya juga dilacak kembali, dan bagaimana kalau dipertemukan, yang juga sudah dilakukan pada era 2009-2019, dan jumlahnya semakin banyak beberapa teater modern.

Pemetaan ini membuat saya mengoperasikan sistem diri (dalam dramaturgnya sendiri) dengan segala macam pertanyaannya; jangan-jangan saya sedang tidak ada di mana-mana dan mengalami kesakitan parah sehingga tidak melakukan pencarian selama ini.

Wail Irsyad (aktor Madura-Bandung, Teater Cassanova dan Teater Payung Hitam) pun merespon kesakitan saya tersebut, bahwa akademisi selalu berada pada lingkaran yang sangat teoretis sehingga hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang aktor untuk jalan konkret cenderung terabaikan.

Justru ia menaruh hormat pada aktor-aktor di daerah dengan jalan terjalnya masing-masing yang ada di sekitar masyarakatnya, dengan menyerap ritme apa yang mau dibawakan dan tidak hanya cukup membaca teori-teori untuk mengenal ritme bagaimana tubuh luar dan dalam masuk ke ruang-ruang tema secara konkret agar tak mengalami kesakitan.

Tanya saya kembali dan terhentak ketika dokter muncul secara tiba-tiba. Andi (penata cahaya, Aceh) memberikan produksi wacana skenografi, pencahayaan yang baik, dan lain sebagainya melalui berbagai literasi yang dimilikinya agar terhindar dari sakit-sakit yang berkepanjangan (lih. Ags. Arya Dipayana: Warisan Roedjito: Sang Maestro Tata Panggung, Perihal Teater, dan Sejumlah Aspeknya; Pamela Howard: What is Scenography, Hermawan Wicaksono: Creative Lighting, Jason Livingston: Designing with Light, Richard Pilbrow: The Art, the Craft, The Life, Anne McMills: The Assistant Lighting Desighner Toolkit, dan ini memang diperlukan banyak penerjemah) untuk dilacak kembali.

Rumah Teater Nusantara seperti memberikan peluang munculnya para penerjemah baru, khususnya untuk menjaga kesinambungan dari Bakdi Soemanto (Le Monde yang kemudian diterjemahkan dan membahas tentang teater absurd, khususnya Waiting for Godot), Max Arifin (Antonin Artaud: Teater dan Kembarannya), Yudiaryani (Agustoa Boal: Teater Bagi Kaum Tertindas), St. Hanggar Budi Prasetya (Victor Turner: Dari Ritual ke Teater), Asrul Sani (beberapa naskah drama karya Nicolai Gogol misalnya), dan penerjemah lainnya yang kini berada di usia senja seperti Akhudiat (beberapa naskah drama seperti Malapetaka dari Catastrophe karya Samuel Beckett, Jalan Tembakau dari Tobacco Road karya Erskine Caldwell, dll.), ataupun penerjemah yang tergolong muda dan masih produktif seperti Dewi Noviami (Mesin Hamlet karya Heiner Muller).

Berkaitan dengan naskah drama atau teks pertunjukan, Kedung Darma Romansha (aktor, dan penulis naskah drama) pada kesempatan itu menjelaskan naskah-naskah baru perlu diupayakan dalam keterhubungan teater-teater kampus seni, non seni, dan sanggar.

Di mana perkembangan penulisan naskah drama banyak sekali; sebutlah misalnya teater kontemporer naskahnya berjalan yang memungkinkan bahwa naskah bisa dikatakan selesai setelah pertunjukan berlangsung.

Ia menambahkan bahwa di zaman techno-virtual, naskah akan jauh lebih berkembang dan selalu beradaptasi dengan lingkungannya dan menyoroti banyak naskah drama yang mangkrak melengkapi perpustakaan hasil dari sayembara maupun perlombaan menulis naskah drama karena produksi dan distribusi yang kurang berjalan cukup optimal.

Merujuk pada satu produksi-distribusi pelacakan ulang seperti yang dilakukan Dewan Kesenian Jakarta (lih. Radio ½ Radio, Antologi Naskah Drama dan Analisis Dramaturgi) menjadi hal menarik yang dikaji kembali dalam satu pemetaan dan klasifikasi atau mengkategorikan 10 tahun terakhir ini dengan berbagai macam kajian analisis teks dari beragam perspektif.

Saya juga melihat pemetaan itu melalui kajian analisis dan studi teks sosiologi khas Bourdieu, dekonstruksi Derrida, semiotika Roland Barthes/Julia Kristeva, atau studi gender Judith Butler.

Atau merujuk pada hermeneutika lainnya ala Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricouer, Felix Guattari, sampai Alan Baddiou, Gianni Vattimo, Chantal Mouffe, dan rujukan perspektif lainnya pada puluhan naskah yang sudah dipetakan seperti Pertja karya Benny Yohanes (pemenang utama dalam Sayembara Penulisan Lakon Realis 2010 yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara).

Lalu membaca ulang 5 naskah terbaik Federasi Teater Indonesia 2012, DKJ 2013 (lih. Antologi Bengkel Penulisan Naskah Drama), DKJ 2015 (Album Keluarga 50 Tahun 1965), Rawayan Award DKJ 2017.

Menganalisis naskah pemenang lomba penulisan naskah lakon Teater Nasional 2017, yang diselenggarakan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, di mana salah satunya karya Pinto Anugrah: Sarekat Djin; Joni Faisal: Jalan Menyempit; dan Raudal Tanjung Banua: Jalan ke Tumbang Sari.

Saya juga kemudian membaca pemenang sayembara naskah lakon DK Jatim 2018, karya Fajar Laksana, Byta Indrawati, dan Yusril Ihza, serta Anjrah Lelono Broto.

Di mana hal ini merupakan karya-karya yang terhitung baru dan tentunya sudah dilakukan beberapa komunitas atau Dewan Kesenian di daerah lainnya yang perlu menggunakan satu mekanisme distribusi informasi atau pengetahuan yang sudah dihasilkan lewat pembacaan dan studi kajian yang terus dilakukan terus menerus.

Ini nampaknya akan dikelompokkan dalam kajian analisis nusantara berupa sebuah antologi analisis, di mana saya semakin melihat banyak jalan untuk memecah kebekuan dan kebuntuan.

Karenanya Dody Yan Masfa (Teater Tobong, Surabaya) selaku penasehat Rumah Teater Nusantara menekankan perlunya ada interaksi dan interalisasi yang terus menerus, dan kehadirannya konstan, serta tetap bertahan pada projek pemetaan sebagai akar tumbuh berkembangnya satu pengetahuan sehingga teks terus berdistribusi secara cair dalam interkultural menutupi lubang-lubang kebekuan yang dimaksud di atas untuk menemukan akarnya sendiri.

Bersambung…

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...