Produksi-Distribusi “Dramaturgi Kita” dalam Pertunjukan Interkultural (2/3)

Oleh: Arung Wardhana Elhafiffie*

Portal Teater – Diskusi Rumah Teater Nusantara yang saya dengarkan kembali melalui audio, memfungsikan saya pribadi yang beku dalam sakit lama untuk membuka arsip-arsip yang pernah saya tulis, buku-buku teater tradisi dan modern yang pernah saya beli dan copy dari berbagai macam perpustakan kampus dan pemerintahan daerah maupun sanggar, arsip video dan audio dialektika (workshop, training, ceramah-ceramah, maupun pertunjukan) yang saya simpan dalam kaset hingga digital.

Selain itu, saya juga membaca kembali sejarah, sekaligus mengecek data melalui website, serta mengingat pantikan Alexander Gebe.

Semua ini membuat saya harus melacak tulisan Afrizal Malna, yang sejatinya sejak cetakan pertama, 2010, memang sudah membuat saya terlempar jauh ke dalam ruang yang paling sempit untuk mempertanyakan kembali hubungan diri saya dengan ruang, medium, dan material dalam konteks interkultural pertunjukan.

Ditambah lagi bahasan pemikiran Benny Yohanes (2017) yang berisi teori kritik teater, orientasi kritik teater, kritik dan riset, kritik dan retrospeksi; serta kritik dan diskursus yang disertai beragam contoh tulisan kritik dan kritik itu sendiri bagi teater Indonesia semakin membukakan cara atau obat bagi sakit saya yang sudah lama dan entah kapan berawal.

Salah satu cover buku pemikiran Kenneth Peacock Tynan, dramaturg Inggris yang ditunjuk Teater Nasional Jerman. -Dok. Scribd.
Salah satu cover buku pemikiran Kenneth Peacock Tynan, dramaturg Inggris yang ditunjuk Teater Nasional Jerman. -Dok. Scribd.

Produksi-distribusi wacana pemetaan yang dilakukan itu sebagai jalan untuk mencairkan dan memberikan satu kultural teater tradisi dan modern di setiap wilayahnya masing-masing. Diantaranya teater tradisi/rakyat: mak yong, sandhor, topeng dalang, longser, bantengan, besut, mamanda, kondubuleng, kemidi rudat, dll.

Kemudian bagaimana ini diletakkan dalam satu teks yang tertata rapi dari setiap wilayah, dan mungkin suatu saat bisa disatukan menjadi catatan riwayat pertunjukan untuk kembali ke akarnya dalam melihat ke depan.

Sebagai rujukan saya melihat ini dalam ranah historis dramaturgi; hasil penelitian Mary Luckhurst, Associate Director of Research dan Profesor of Artistic Research di University of Melbourne, Australia, sudah menata dan mengelompokkan kembali secara historis dari masa Aristoteles hingga Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781, kritikus dan dramaturg) membuat satu gagasan kerja dramaturgi, kemudian diikuti Friedrich Schiller (1759-1805, penyair dan filsuf), Johann Ludwig Tieck (1773-1853, penyair dan kritikus) yang melakukan praktik kerja dramaturgi lebih luas pada persoalan budaya, sosial, politik, dll.

Di eranya Tieck, sebelumnya ada Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832, penyair dan novelis), dan August Friedrich Ferdinand von Kotzebue (1761-1819, penulis dan dramaturg), hingga era Bertold Brecht (1898-1956, penyair dan praktisi teater) dan Heiner Muller (1929-1995, penyair dan sutradara), yang bekerja dan sebagian mengidentifikasi diri mereka sebagai dramaturg sehingga membiasakan diri di Jerman untuk mempekerjakan setidaknya satu dramaturg di gedung teater.

Karena itu menurut Mary Luckhurst, di tahun 1963 penunjukan Kenneth Peacock Tynan (1927-1980, kritikus dan penulis Inggris) sebagai dramaturg dengan sebutan lainnya manajer sastra di teater nasional (TN) Jerman memang berfungsi semacam editor penonton pertunjukan sekaligus pengamat sastra lakon untuk sebuah perusahaan teater yang permanen.

Di mana tanggung jawab utamanya adalah pemilihan permainan untuk produksi, bekerjasama dengan penulis (jika perlu) pada revisi dan adaptasi teks mereka, dan menulis catatan program, dll., dan secara strategis memosisikan berbagai fungsi dramaturg di pusat teater sebagai arus utama.

Buku yang ditulis Henry George Liddell (1811-1898, penulis Inggris) dan Robert Scott (1811-1887, akademisi psikologi Inggris) dalam Greek Lexicon menjelaskan bahwa dramatourgia, adalah sub-kontrak di bawah dramatourg-eo, kata kerja yang berarti “menulis teks dalam bentuk dramatis”, digunakan oleh Flavius Yosefus (37-100 M, sejarawan dan penulis apologetik) dalam perang Yahudi (75-9 M).

Dramatourg-eo terkait pada dramatopoi-eo, ‘untuk dimasukkan ke dalam bentuk dramatis’; dramatopoia, ‘komposisi dramatis’; dan dramato-poios, ‘penyair dramatis’.

Jika membaca dari pernyataannya, bisa dipahami bahwa dramaturgi merupakan ide untuk mengerjakan sebuah drama, di mana kedua kata tersebut lebih bersifat kata kerja yang aktif, bukan pasif sehingga memungkinkan berkembang sesuai dengan kebutuhan di lapangan pertunjukan maupun kontekstual zaman.

Sementara dramaturg menyusun sebuah drama dan merealisasikannya di panggung secara logis dan terukur.

Proyek pemetaan pengetahuan yang dilakukan Rumah Teater Nusantara seperti membuka catatan-catatan saya, lalu mengorek kembali dan menemukan satu kesimpulan sementara karena sejatinya dramaturgi tidak stabil dan terus berkembang sebagai jalan 10 tahun sebelumnya.

Saya pun membaca bahwa dramaturg merupakan penghubung atau penyusun sistem gagasan apa pun agar menyatu baik kerangkanya maupun tujuannya ke dalam sebuah pertunjukan atau satu kinerja lain di berbagai disiplin ilmu, yang nantinya bisa berfungsi sebagai operator sistem, programer.

Ataupun pada pertunjukan sebagai sutradara/penulis naskah sekaligus atau juga bekerjasama dengan penulis naskah, koreografer, komposer, dan sutradara dalam pengarahan pemain, penari, pemusik, performer, media, artistik, dll. sebagai tubuh pertunjukan dalam mewujudkan gagasan itu ke atas panggung agar bisa tersampaikan visi dan misi pertunjukan itu sendiri.

Bagan sejarah dramaturgi dari Aristoteles hingga Gotthold Ephraim Lessing. -Dok. AWE, sketsa Yusril Ihza.
Bagan sejarah dramaturgi dari Aristoteles hingga Gotthold Ephraim Lessing. -Dok. AWE, sketsa Yusril Ihza.

Ruang saya yang paling sempit adalah tiga wilayah (dua bagian) juga berhubungan dengan medium yang digunakan maupun material yang dipilih di tahun 2009-2014 misalnya, atau 2014-2019; sejujurnya lagi-lagi melemparkan saya dalam ruang wilayah yang selalu berpindah-pindah untuk membaca diri.

Catatan ini hanya sebagai pengantar yang paling umum untuk memetakan, seperti yang dilakukan Wail Irsyad: membaca keaktoran melalui dua area, sebagai orang Madura yang berdomisili di Bandung.

Sehingga melemparkan saya untuk membaca kerja dramaturgi yang dilakukan Taufik Darwis, Riyadhus Shalihin, maupun John Heryanto (BPAF-Bandung Performing Art Forum).

Di komunitas lainnya juga ada Sugiyanti Ariani (pendiri Darah Rouge, alumnus program master di ISBI Bandung), dll.

Di mana pembacaan ini otomatis dengan sendirinya sebagai bagian kerja dramaturgi arsip dan mengingatkan saya kembali pada kerja dramaturg di Jakarta, seperti Akbar Yumni dan Ugeng T. Moetidjo (Bandar Teater Jakarta), sekalipun Akbar yang berasal dari Forum Lenteng sering terlibat di berbagai macam komunitas teater lainnya.

Madin Tysawan dengan beberapa komunitas di Gelanggang Remaja Jakarta Barat, Endri Karnadi (Sanggar Teater Jerit), lalu Seno Joko Suyono (Teater Studio Indonesia), dan tentu praktik-praktik dramaturgi Teater Garasi (harus serta sertakan juga).

Kerja Yudi Achmad Tajudin sangat memengaruhi pelaku teater di Jakarta dan Bandung seperti Dendi Madiya, Riyadhus Shalihin, Taufik Darwis, Abi ML, dan Yustiansyah Lesmana, yang juga saling berhubungan pemikirannya dengan kerja dramaturgi yang dilakukan dramaturg Teater Garasi lainnya seperti Ugoran Prasad (kandidat doktor dari program Theatre and Performance di The Graduate Center, City University of New York), maupun Gunawan Maryanto.

Tentu saja sebelum membaca kerja dramaturgi di tiga wilayah (Jakarta, Madura-Surabaya) tempat saya mencari produksi-distribusi, secara otomatis membawa saya kepada pembacaan satu riwayat kerja-kerja yang dilakukan dramaturg yang sudah saya maksudkan sekalipun pembacaan saya bisa luput; paling tidak sebagai modal sosial saya dalam tindakan untuk membaca dan memetakan ulang dua bagian yang akan saya klasifikasikan.

Jika mengawali secara umum pembacaan saya pada rujukan praktik-praktik kerja di era 2009-2014 (wilayah Jakarta); saya melihat kerja dramaturg dilakukan sebagai kerja ganda yang dilakukan oleh sutradara pada umumnya seperti Bambang Prihadi (Lab Teater Ciputat), Join Banyuwinanda (Teater Amoeba-kala itu, dan digantikan posisinya Haikal Sanad), Edian Munaedi (Teater Stasiun), Buddy Sumantri (Teater Indonesia, sebelumnya alm. Dayo Pangestu Aji), Budi Yasin Misbach (Teater Alamat), Dadang Badoet (Stage Corner Community), Yustiansyah Lesmana (Teater Gantha), Echo Chotib (Teater Elnama), dll.

Mereka ini juga dipengaruhi oleh guru-guru mereka sebelumnya sehingga muncul pertanyaan menarik: seberapa pengaruh Dindon WS. (Teater Kubur) pada Bambang Prihadi dan Yustiansyah Lesmana? Atau seberapa Bambang Prihadi pada Echo Chotib? Atau seberapa Haris Priadi Bah (Teater Kami) pada Ragilbiru Sholihin Siddiq (Teater Biru)? Atau memang pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban atau hanya sekadar melacak kerja dramaturgnya saja.

Selain itu, di Jakarta dalam jangka waktu yang sama, banyak juga dramaturg pada praktik kerjanya, tetapi secara publikasi atau penempatan yang biasanya tampak di pamflet atau poster, maupun pengantar pertunjukan, komunitas teater di Jakarta cenderung tidak mencantumkan dramaturg.

Hanya juga ada sebagian yang mencantumkan mereka sebagai konsultan atau supervisi produksi, di mana jelas kerjanya memang sebagai dramaturg merujuk pada kerja Lessing, Schiller, Tieck, Kotzebue, dll., misalnya apa yang dilakukan Diding Zeta, Ujang GB., dan R. Tono pada Komunitas Ranggon Sastra (Firman Musalam & Lutfi Setyo Widhi).

Atau yang dilakukan Budi Renil (sebagai direktur artistik juga menjadi dramaturg) pada Sketsa Act, dan Malhamang Zamzam pada beberapa komunitas di Jakarta Utara, Rizal Nasti di Gelanggang Remaja Jakarta Barat, Manahan Hutauruk atau Andi Bersama di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Bulungan), R. Monowangsa, Imam Maarif, atau Asep Martin pada beberapa komunitas di Gelanggang Remaja Jakarta Pusat atau di gedung Miss Tjitjih.

Di antara kerja mereka mengurai hostorikal ruang dan waktunya dari setiap naskah yang hendak dipentaskan, memetakan akting pada teks barat dengan timur, berkonsultasi dalam kaidah kesusastraannya (layaknya manajer sastra), mengontrol setiap latihan terutama pada strategi sutradara terhadap aktor-aktornya, melakukan perombakan terhadap teks, mencari keterhubungan sosial antara teks dengan kontekstualnya, memecah kebuntuan aktor dalam interpretasi sehingga menyebutkan dan mencatatkan secara detail karakter tokoh masing-masing, menjabarkan hasil risetnya sekaligus memberikan contoh rujukan-rujukan dari beberapa pertunjukan sebelumnya sebagai satu riwayat, menceritakan konsep penyutradaraan dan beragam teori dari ragam perspektif.

Kalau dramaturg dipahami sebagai operating system dan melihat perbedaan kerja para dramaturg jauh sebelumnya baik itu secara fungsionalnya seperti apa yang dilakukan Lessing dan Schiller hampir serupa bahwa dramaturg fungsinya sebagai kinerja kritikus (dilakukan Budi Renil, Asep Martin, dan Imam Maarif; lih. Youtube: Sketsa Act – Festival Teater Jakarta 2014, dan Octopus Teater Poros Djakarta Teater Platform DKJ 2017).

Tieck menambahkan fungsinya sebagai sebagai konsultan sastra, penerjemah sekaligus menggabungkan peran penulis naskah.

Tynan yang sudah disebutkan menjadi editor penonton, pengamat sastra, bersumbangsih terhadap aktor (sering kali dilakukan Echo Chotib, Buddy Sumantri, dan Join Bayuwinanda dengan pelatihan aktor yang ketat, memandu dan melatih cukup serius setiap aktor dan tentu saja berangkat dari otentikal dirinya sebagai aktor.

[lih. Youtube: Pertunjukan Teater el Nama dalam Festival Teater Jakarta 2014, Teater Indonesia – Festival Teater Jakarta 2012, John Steinbeck|Mice And Men|Teater Amoeba #1].

Kemudian Brecht bisa bekerja sebagai sutradara atau penulis, memadukan praktik kerja Lessing sebagai kritik, transformasi dramaturgi Aristoteles sebagai para pembela kaum naturalis, yang akhirnya cara Brecht disebut teater epik (juga dilakukan Buddy Sumantri, dan Haikal Sanad).

Goethe, kinerja seorang dramaturg di masanya, khususnya The Dramaturgische Blatter (berpusat pada evolusi kritik teater di Jerman) sangat dielu-elukan sebagai sesuatu yang sangat orisinal dan sebagai langkah yang sangat signifikan.

Ia sangat menekankan pada pengetahuan luas tentang drama klasik, khususnya para penulis naskah dan diharuskan untuk membawa transformasi skala penuh dari narasi dramatis menjadi titik awal yang bisa diterapkan untuk latihan; sehubungan dengan contoh karya penulis di luar Jerman berarti tugas dramaturg terlebih dulu berfokus pada adaptor, karenanya Goethe yang berfungsi sebagai penerjemah, sering kali mengajarkan proses adaptasi kepada penulis dan aktor.

Proses ini menurutnya, suatu perubahan radikal dari struktur dan plot jika diperlukan untuk menciptakan adegan baru, modifikasi karakterisasi, dan pemotongan adegan atau dialog, dan lain sebagainya.

Ini sering kali dilakukan Yustiansyah Lesmana, Edian Munaedi, Diding Zeta, dan Madin Tysawan, di mana praktik kerjanya bertumpu pada pengetahuan melalui diskursus, buku-buku, dan workshop-workshop sehingga analisis kritisnya cukup tajam dalam menjaga keterhubungan antara aktor dengan teks.

[lih. Youtube; Teater Ghanta – Festival Teater Jakarta 2013, Teater Stasiun ‘Repertoar Sabun Colek’ (Full)]

Sementara yang dilakukan Kotzebue, fungsi kerja dramaturginya merupakan kepanjangan tangan tokoh sebelumnya seperti Lessing; maka memosisikannya hampir sama dengan manajer sastra yang berkenaan dengan dramatis, historionik, teaterikal dengan cara membagi setiap katanya yang didefinisikan sebagai (1) komposisi dramatis; seni dramatis, dan (2) akting dramatis atau teaterikal.

Ini dilakukan Andi Bersama dan Manahan Hutauruk yang sangat detail dalam keterhubungan seni dengan komposisinya [lih. Youtube: Performance Andi Bersama With Sanggar Anak Bulungan, Profile Teater Sim].

Llalu fungsi kerja Muller memang terfokus pada sebuah kritik, termasuk melakukan dramturgi ganda terhadap objek yang hendak dikritisi, rencana maupun perspektif dramaturginya juga dapat diintegrasikan, dan sering kali bermain-main pada montage kata maupun gambar-gambar dalam dramaturginya, meletakkan pada ingatan dan latar belakang sejarah sosial yang terjadi di negaranya.

Makanya sering kali mempertanyakan asal usulnya setiap peristiwa yang hadir, dan sering kali disebut pengembangan dari Brecht, sehingga banyak tulisan yang membahas dramaturginya Brecht dengan Muller, seperti yang ditulis David Barnett, yang juga menjadi literatur Mary Luckhurst.

Ini sering kali dilakukan Budi Yasin Misbach, Dadang Badoet, dan Bambang Prihadi dengan meletakkan tindakan dalam interaksi sosialnya sebagai pengalaman otentik yang sangat jelas dirasakan dan dialami.

[Lihat Youtube: Teater Alamat-Festival Teater Jakarta 2013; Relief Tanpa Dinding Stage Corner Community; Kubangan-Lab Teater Ciputat].

Di era 2014-2019 (Jakarta), tampak kerja dramaturg sangat variatif dengan munculnya wacana dramaturgi baru (dengan segala macam istilah teoretisnya seperti teater riset, teater lintas media, dll.), sekalipun masih banyak kerjanya juga dirangkap oleh sutradara yang sudah saya sebutkan di atas masih mendominasi secara intens.

Di antaranya yang bisa saya baca: Dendi Madiya (Artery Performa), Atphal Paturisi (Teater SIM, setelah Manahan Hutauruk), Abi ML (Teater Afiks, yang kini berdomisili di Banyuwangi bersama Studio Klampisan), Irwan Soesilo (Teater Ciliwung).

Ada pula beberapa dramaturg sekaligus sutradara yang bermunculan dan terlihat kapasitasnya melalui Festival Teater Jakarta seperti Aseng Komarudin (Sanggar Kummis), Choki Lumban Gaol (Sanggar Teater Jerit, didampingi dramaturgnya; Endri Karnadi), Dina CF (Unlogic Teater yang pernah menggandeng Akbar Yumni sebagai dramaturg), Dedies Putra Siregar (Teater Amatirujan), Simon Karsimin (Teater Asa), Sultan Mahadi Syarif (Teater Petra), Irfan Hakim (Castra Mardika), di mana tanggung jawab dan keterkaitan dramaturgnya merujuk pada Lessing.

Skolastik (menganalisis secara rasional, satu metode keilmuan), redefinisi model drama, menganalisis permainan dan produksi teater, memberikan informasi tentang penulis naskah, sumber-sumber drama, kemampuan struktural dan linguistik, menggambarkan karakter aktor, teknik, dan pola pemeranannya.

Ini dilakukan Irwan Soesilo, Choki Lumban Gaol/Endri Karnadi, Sultan Mahadi Syarif, dan Irfan Hakim bisa dilihat dari kausalitas keaktoran pertunjukan mereka.

Schiller, penerimaan drama sebagai instrumen pedagogis, menulis sejarah teaternya sendiri, program reportoar yang dianotasi, laporan tentang konstitusi produksi teater. Ini dilakukan banyak dramaturg di Jakarta misalnya Artery Performa dan Lab Teater Ciputat.

Tieck, mengatur secara terpisah praktik kerja dramaturgi dengan penggabungan banyak peran, memilih naskah drama dengan ketat, melatih aktor yang lebih muda dalam seni deklamasi, menulis kritik terhadap produksi teater di lembaganya, meningkatkan standar akting dengan cara mengajar yang keras, tertarik pada hubungan ruang panggung dengan penonton, dilakukan Dedies Putra Siregar, Abi ML—yang sering kali bekerja sama dengan saya belakangan 3 tahun terakhir ini.

Tynan, memilih naskah drama, bekerjasama dengan penulis dalam revisi dan adaptasi, dll., meminimalisir pertentangan-pertentangan yang akan timbul, evolusi aktor, melihat kehadiran konflik dalam naskah, acuan pada sandiwara dan pertunjukan, kritik langsung terhadap aktor berkaitan dengan wilayah artistik dan gerak tubuhnya, dilakukan Simon Karsimin, Dendi Madiya, dan Abi ML.

Brecht, penekanan pada praktik sosial sebagai pertemuan lintas budaya, sebagai arus komunikasi utama, detail memantau setiap dialog para aktornya, orientasi sosial dan budaya yang lebur dengan berbagai macam disiplin ilmu, yang diambil dari fungsi dramaturg.

Kenneth Tynan, dramaturg bukan lagi sosok ruang belakang, tetapi memosisikan fungsinya dalam latihan dan fasilitator yang dinamis, juga dilakukan Simon Karsimin, dan juga Dendi Madiya, Yustiansyah Lesmana, Abi ML, maupun Dina CF, melalui Dadang Badoet selaku direktur artistiknya maupun Akbar Yumni sebagai dramaturgnya dengan pemaparan dan pemahaman kajian teoretis filsafat, teater, film, seni rupa, maupun performance.

Rujukan di atas hanya secara global dalam pembacaan 10 tahun terakhir di Jakarta ini, yang bisa dilakukan beberapa dramaturg lainnya seperti kecenderungan bagi mereka yang tumbuh berkembang pada teater tradisional yang lebih bertumpu pada habbitnya, mereviem saat nyangkruk di pos ronda atau di bale; akhirnya coba mengakulturasi lenong, topeng, blantek dan memetakan presentasinya termasuk membaca ulang historis dan berbagai macam jenisnya.

Memetakan kerja adaptasi secara detail dengan kerangka kerjanya berdasarkan rujukan-rujukan teater tradisi sebelumnya sering dilakukan Yamin Azhari, Irwan Soesilo, Echo Chotib, maupun Zetbier Mustaqiem (Mata Art Community), dan Teater El Nama (Hamlet).

Lalu menentukan sistem gagasan atan rancang bangun yang dilakukannya seperti meminjam watak kerja cafe, pesantren, foklor lingkungannya masing-masing, akrobatik, butoh, restoran, warung makan, filmaker, dokumentaries, sosiologi, etnografer, teologis, terapis, tiktokers, animator, game online, robotic, costplay, arsitektur, story border, puisi, dll.

Bagan perjalanan praktik kerja dramaturgi di Indonesia dengan segala macam problematikanya. -Dok. AWE, Sketsa Yusril Ihza.
Bagan perjalanan praktik kerja dramaturgi di Indonesia dengan segala macam problematikanya. -Dok. AWE, Sketsa Yusril Ihza.

Mengutarakan pengalaman historis pertunjukan atau film yang pernah ditontonnya berdasarkan gagasan yang ingin dicapai, meriset setiap aktor dan latar belakangnya selain melihat kerja eksplorasi tubuh kulturalnya masing-masing, memberikan satu pandangan atau perspektif atas posisi sutradaranya pada praktik penciptaannya, mengutarakan hal-hal yang berkaitan dengan semiotika, metafor, dan lain sebagainya.

Kemudian memberikan satu referensi buku atau literatur berdasarkan keinginan sutradara, di mana semuanya itu secara umum dibicarakan dengan sutradara.

Ketika memisahkan diri kerja dramaturg, tergantung fungsi, tanggung jawab, maupun tujuan utama dan proyeksi dramaturginya.

Tentu saja hal ini semakin berkembang pada praktik kerja dramaturgi baru, membuat saya bertanya apakah saya sudah menjadi agen sosial dalam keterhubungan tersebut?

*Arung Wardhana Elhafiffie adalah pengamat dan dramaturg muda teater. Saat ini sedang mengerjakan tugas akhir dari program Pascasarjana Jurusan Studi Penciptaan Teater di ISI Solo.

Baca Juga

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...