Profil dan Sinopsis Karya 16 Komunitas Tari Peserta JDMU 2019

Portal Teater – Ada 16 komunitas tari se-Jakarta yang menjadi partisipan event Jakarta Dance Meet Up (JDMU) 2019. Event tahunan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini digelar pekan lalu, 23-25 Agustus, di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Keenambelas komunitas ini menjadi anak-anak binaan Komite Tari, di mana delapan komunitas akan terpilih menjadi peserta JDMU Selection yang bakal digelar November nanti.

Berikut kami ulas profil dan sinopsis karya yang ditampilkan pada tahun ketiga JDMU ini. Ulasan ini diambil dari katalog JDMU 2019.

1. Bahasa Dance Project

Bahasa Dance Project terbentuk tahun 2017 dan dimulai oleh 4 penari perempuan dengan kemampuan berbeda. Sejak pendiriannya BDP fokus pada regenerasi penari. Melalui latihan secara lisan dan praktek tanpa stimulan musik, BDP akhirnya mengarahkan pada pengenalan tubuh masing-masing penari.

BDP memiliki ikatan temporer yang dimana mereka harus keluar untuk mencari pengalaman bersama dan dengan seniman lainnya.

Dalam pentas JDMU, BDP mementaskan karya berjudul “Jeda” dengan koreografer Fitri Anggraini, yang dibantu oleh Kru Panggung: Irfan setiawan, Vava, Napson. Sementara para penarinya adalah Deddy ronald, Dela sintyadelfi, dan Ogik. FD.

Sinopsis Karya
Tubuh memiliki Pencatatan, dan tubuh juga efek dari peristiwa. Banyaknya peristiwa yang saling bertemu tanpa diperintahkan, serta pengikat apa yang terjadi diantaranya. Pengikat disini membicarakan memuat jeda dari satu memori ke memori lain melalui tubuh, waktu yang berhenti di antara peristiwa.

Jeda menjadi tanda yang penting, mengartikan sesuatu yang akan terus berlanjut. Jeda membicarakan soal apa yang akan terjadi di depan. Melalui jurnal tubuh yang terus berjalan, jeda memiliki peranan yang mengisyaratkan pengalaman dalam waktu yang berhenti sebentar.

2. Indonesia Dance Company

Indonesia Dance Company (IDCO) didirikan oleh Claresta Alim, pengusaha cerdas yang fokus kepada masa depan kehidupan tari dan penari di Indonesia.

Ia memutuskan untuk membangun tempat bagi para penari bertalenta untuk berkumpul dan berkembang dalam mencapai potensi yang maksimal. Salah satu aspirasi IDCO adalah untuk mengubah profesi tari menjadi karir yang menjajikan dan dapat diharapkan di Indonesia di masa depan.

IDCO memperkenalkan kepada masyarakat bahwa tari adalah profesi. Meskipun paradigma aktivitas dasar seni belum disadari sebagai pekerjaan yang layak, IDCO akan membantu penari Indonesia untuk berjuang mencapai standar internasional. Dengan begitu Penari Indonesia dapat menjadikan tari menjadi profesi mereka.

Meskipun IDCO dalam tahap pemenuhan standar dan prosedur internasional, seluruh penari akan diurus sesuai dengan budaya Indonesia sebagai tema dan ide untuk tampil. Untuk itu, IDCO akan konsisten membuat produksi tari yang original, kreatif, dan inovatif yang mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap penari Indonesia sebagaimana masyarakat dunia tertarik kepada budaya Indonesia yang unik.

IDCO akan memulai untuk membentuk dan mengurus kolaborasi yang baik dengan pemerintah Indonesia, media partner, perusahaan, dan juga sekolah tari baik lokal maupun asing. IDCO juga akan menyediakan kesempatan bagi penari untuk secara aktif mengikuti event tari tingkat nasional dan internasional (kompetisi, lokakarya, festival).

IDCO berkomitmen menghasilkan penari-penari ternama yang dikenal nasional maupun internasional sebagai pencapaian, kualitas, keunikan, karakter, dan kreativitas penari.

Ada karya yang dipentaskan IDCO pada JDMU 2019, yaitu “Black Kanvas” dan Harmony”. Karya ini dikoreografi oleh Siti Soraya, yang dibantu oleh Putri, Neneng, Eva, Meisy, dan Kwindatu.

Para penari “Black Canvas”, yakni: Madelaine Lourdes Nugroho, Gabriella Hillary, Maria Renata Apriliani, Mikha Aurellia, Nikita Dameasih Sitorus, Aprisya Putri Rinaldy, Alessa Christabelle, Alexandria Charlotte Eleanore, Michelle The, dan Nicole Kosasih.

Untuk karya “Harmony” dipentaskan oleh penari: Angelina Ariyanto, Angelina Natalie Halim, Carmen Kiara, Anita Angelica, Fenny Haliman, Flora Chenita, Ilona Jahja, Charlene Angelica Tisnabudi, Rebecca Alexandria Hadibroto, Regina Skolastika Jolenta, Stella Hye Jin Kang, dan Putri Ainayah.

3. Citra Istana Budaya

Sanggar Tari Citra Istana Budaya didirikan pada 1 Desember 2008 di Jakarta, dengan tujuan untuk melestarikan budaya nusantara dan meningkatkan kreativitas muda-mudi dalam berkesenian. Basis utama tari komunitas ini adalah Sumatra khususnya Melayu.

Dalam perjalanan sanggar CIB ini telah beberapa kali mendapatkan penghargaan, diantaranya; Rekor MURI tari Serampang 12 selama 12 jam non-stop di Anjungan Sumatra Utara (2012), sebagai penari dalam pembuatan DVD tari klasik Sumatra produksi Gema Nada Pertiwi (2013).

Penghargaan dari beberapa anggota CIB, yaitu sebagai juara 3 tari Serampang 12 kategori mudi mudi tingkat nasional (2014), juara umum tari kreasi daerah tingkat sekolah yang diselenggarakan oleh Sanggar Kemuning (2016), sebagai peserta tari Asian Games (2018) dan beberapa lainnya.

Dalam pentas JDMU, CIB menampilkan karya berjudul “Mencencang Air” dengan koreografer Ramonriau dan Assisten Koreografer Arfan Gunadi.

Para penari CIB: Abubakar Ali, Ananda Salsa Malaratina, Martin Siwo, Dewita Nur Alifia Putri, Fauzan Yaafi, Finea Rezky Pratiwi, Listy Ramadana Tanjung, Meisya Maidaliza, Nazila Ramadinta, Noviantina Mulya, Nur Marliana Putri, Arfan Gunadi, Rahman Sya’fiyu Awaluddin, Sri Mulyani Astuti, dan Yeyen Sulistari.

Sinopsis Karya

Tersebutlah kerajaan Indrapura Raya, kerajaan damai, sejahtera dan merupakan kerajaan yang kaya raya. Negeri jauh pun berhasrat menghancurkan kerajaan kaya tersebut. E,mpat pemuda perkasa keturunan kerajaan, bersiap untuk melindungi kerajaan itu, namun pemuda itu tak sanggup menghadapi serangan dari kerajaan lain yang merupakan kerajaan hasil adu domba Datuk padekik.

Datanglah 2 kerajaan seberang melindungi kerajaan Indrapura, Borneo dan Malaya. Hasrat adu domba Datuk padekik yang merupakan kerajaan dari hilir, yang berniat menghancurkan pesaingnya kerajaan Indrapura Raya.

Tarian Melayu kontemporer yang diangkat dari cerita dongeng karya Asrizal Nur ini, menyelipkan sebuah pesan hidup pasti akan ada kehidupan lain, ikut andil campur tangan baik dalam bentuk dukungan ataupun niat menghancurkan.

Namun hasil dari kebaikan akan memunculkan kebaikan. Menghancurkan sesuatu bak mencencang air hanya untuk menguasai namun, akan berakhir tragis bak membuat lobang sendiri untuk terjerumus kedalam lobang yang dibuat.

4. Lentera Fannani Dance

Lentera Fannani Dance Production adalah sebuah wadah berkesenian yang sengaja di bentuk oleh alumni2 SMK 57 jurusan tari dan karawitan.

Selain untuk menyambung tali silaturahmi, wadah ini juga bertujuan untuk tetap memproduksi karya baik seni tari dan musik. Wadah ini terus dikembangkan agar dapat mencari dan mencapai peluang dalam berkesenian.

Di JDMU, Lentera Fannani Dance mementaskan karya “Blopeng” dengan koreografer Trianna Ambarwati dan dibantuk oleh Dwi Maisari Handayani, Putri Maulida, Rina Hasta Mulyaningtyas dan Widya Rachmi.

Penari Lentera Fannani Dance: Adinda Chamila, Ajeng dyah nuraini, Aryati Dewi Kusumaningtyas, Kamila Dara Tadurissya, Lentiana Dewi, Nabillah Maharani, Nabillah putri, Putri Rahmadani Kurniawan, Rekhal Fitriyani, Sheilla Yunia Zulkarnain, Trianna Ambarwati, dan Widya Rachmi.

Sinopsis Karya

Topeng Betawi adalah salah satu ikon budaya yang menempatkannya di arena pewarisan seni tradisi di Indonesia. Salah satunya Tari Topeng Betawi yaitu Tari Topeng tunggal.

Tari topeng tunggal adalah salah satu tarian dari rumpun Tari Topeng Khas Betawi yang diciptakan oleh pasangan suami istri Mak Kinang dan Kong Djioen pada tahun 1930. Tari topeng Betawi sendiri merupakan salah satu rumpun kesenian betawi yang berkembang di daerah Cisalak dan Bekasi yang perlu dilestarikan dan dikembangkan keberadaannya.

Tari topeng tunggal pada penyajiannya menceritakan watak manusia dari halus,lincah hingga kuat, Yang membedakan hanyalah pada topeng menggunakan tiga topeng Betawi yang berwarna putih, pink dan merah. Karya ini berpijak pada tari topeng Betawi.

Blopeng adalah singkatan dari Belajar Nopeng. Sebuah karya yang menggambarkan kegelisahan koreografer mengenai anak zaman sekarang yang tidak pernah melihat adanya tradisi topeng Betawi.

Tari ini mengisahkan seorang EmakBbetawi dan primadona topeng yang ingin mengajak anak anak ikut bergabung memperkenalkan ikon Betawi yaitu tari topeng Betawi karena perkembangan di Betawi sendiri menarik untuk dipelajari akan tradisi topeng Betawi.

5. Daun Gatal

Grup ini terbentuk pada tahun 2016. Daun Gatal adalah kumpulan penari dari berbagai daerah yang berlatar hip hop, dan sering berkumpul serta latihan di Taman Ismail Marzuki. Saat ini Daun Gatal tidak hanya menggeluti dunia hip hop, tetapi juga aktif dalam dunia tari tradisional dan kontemporer.

Daun Gatal sudah banyak mengikuti event dan lomba-lomba tari. Daun Gatal merupakan salah satu finalis Hip Hop International 2019 dan juga pernah diundang untuk tampil diacara Kementrian Sumber Daya Alam menampilkan tari tradisi Papua.

Sinopsis Karya
Karya 1: “Raga-ragu”
Karya ini berawal dari trust issue atau masalah kepercayaan. Kepercayan yang dimaksud adalah kepercayaan antara hubungan individu satu sama lainnya. Daun Gatal menyimpulkan satu poin yang timbul dari semua permasalahan ini yaitu “RAGU”. Dalam karya ini Dan Gatal ingin menjadikan gerak raga saya sebagai objek untuk menyampaikan rasa ragu yang timbul dari semua permasalahan tersebut.

Karya ini dikoreografi oleh Try Anggara dengan penarinya Try anggara, Densiel Lebang, Paul Amandus Dwaa, dan Clausdios Stevan Marani.

Karya 2: “Bakabadi”

Bakabadi yang berasal dari kata baka yang artinya abadi; tidak berubah selama-lamanya. Berangkat dari kekaguman terhadap keindahan burung-burung cenderawasih (khususnya burung cenderawasih jantan) yang juga dijuluki berasal dari khayangan atau surga.

Tari Bakabadi merupakan bentuk doa yang dituangkan dalam seni tari untuk burung cenderawasih sehingga terus abadi dengan keindahanya yang begitu mempesona.

Burung cenderawasih jantan memiliki kemampuan menari yang begitu kompleks dan indah dibandingan si betina, yang tidak dapat ditemukan pada spesies burung lain.

Tari Bakabadi mencoba untuk menghadirkan keindahan bentuk dan gerakan burung-burung cenderawasih melalui eksplorasi visual berbagai macam jenis burung-burung cenderawasih dengan gerak tubuh, gerak alami burung cenderawasih jantan, serta menggambungkan seni tari hiphop dan tarian tradisi Papua.

Tari ini dikoreografi oleh Abugrey Lobubun dengan penari: Abugrey Lobubun, Febryrevelino, Clausdios stevan maran, Rahmat manufandu, dan Paul Amandus Dwaa.

6. Mudamove

Mudamove adalah komunitas tari yang didirikan oleh Anindya Krisna & Wenny Halim pada tahun 2017. Mudamove mempunyai visi dan misi untuk menjadi wadah bagi penari-penari Indonesia dalam kegiatan-kegiatan tari di luar program internal sekolah ballet masing-masing.

Sejak didirikan, Mudamove telah menyelenggarakan empat pementasan dan dua workshop ballet dengan guru tamu dari luar negeri.

Dalam JDMU 2019, Mudamove mementaskan karya berjudul “Sajak Tubuh” dengan koreografer Anindya Krisna dan Nudiandra Sarasvati dan penari: Anindya Krisna, Nudiandra Sarasvati, Shalama Qowlam Fadila, Wenny Halim, dan Kevin Julianto.

Sinopsis Karya
Sajak Tubuh terinspirasi dari kumpulan sajak-sajak karangan W.S. Rendra dan Usmar Ismail serta karya utuh ciptaan Ismail Marzuki dan Mochtar Embut yang telah di interpretasikan seniman Binu Sukaman dan Ananda Sukarlan.

Karya ini yang terdiri dari 6 bagian yaitu dari pembuka, 4 Tema dan penutup, adalah proyeksi dari sajak-sajak dan karya tersebut yang di interpretasikan dari mata kedua koreografer.

7. UKM Unit Seni Budaya Trisakti

Unit Seni Budaya, didirikan pada 22 Desember 1991, merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa Universitas Trisakti yang memiliki 4 bidang yaitu musik, teater, tari dan pertunjukan.

Di JDMU, kelompok ini mementaskan karya berjudul “Nyai Akur” dengan koreografer Rachmah Pratiningrum dan diperbantukan Sasqia Tri Aprillia, Suci Achmadani, Hoggy Mujiono, dan Alvi Auzan.

Penari Unit Seni Budaya: Dinna Putri Kurniawan, Diza Andriyani, Risa Dhiyabaningtyas, Sri Yulia Rosdhalia, dan Tiara Fricilia Nurapriliana.

Karya tari ini berpijak pada tradisi dengan pengambilan gerak dari gerak tari Betawi yang dikembangkan kembali untuk penyesuaian cerita pada karya tari ini.

8. Jakarta Dance Art Education ’17

Didirikan pada tahun 2017 oleh Bondan Ramadhani. JDAE 17 adalah salah satu wadah perkumpulan mahasiswa Pendidikan Tari Universitas Negeri Jakarta untuk bisa lebih berkembang dalam dunia tari dan berkesenian serta ikutserta mengembangkan kesenian di Indonesia, khususnya tari.

Di JDMU, JDAE ’17 mementaskan karya berjudul “Lepraphobia (Leprosy Reaction)” dengan koreografer Bondan Ramadhani dan penari: Yazid Bilal Islami dan Bondan Ramadhani sendiri.

Karya tari ini menjelaskan tentang pengalaman pribadi seseorang yang pernah mengidap penyakit Lepra. Keresahan, ketakutan serta gangguan mental dan psikis yang menjerumus kedalam kematian selalu membelenggu dalam dirinya.

Karya ini mencoba untuk membuka image semua orang tentang penyakit Lepra yang sebenarnya bukanlah penyakit kutukan, melainkan penyakit yang di sebabkan oleh bakteri yang sebenarnya dapat disembuhkan secara tuntas. Terinspirasi dari Matius 8:1-4 dan QS. Al-Maidah 5:110.

9. EKI On Call

EKI On Call dibentuk oleh EKI Dance Company pada tahun 2018, untuk merekrut anak muda Jakarta, yang berminat mengembangkan diri dalam dunia tari dan olah vokal. Perekrutan ini dilakukan melalui proses audisi.

Saat ini, sekitar 50-an anak berhasil diterima sebagai bagian dari EKI on Call. Mereka secara rutin berlatih seminggu tiga kali. Selama setahun ini, EKI On Call juga telah berkesempatan pentas di hadapan ribuan penonton di ajang EKI Update 4.0 dan EKI Update 4.1.

Di JDMU, EKI On Call mementaskan karya “Hear Us Roar” dengan koreografer Yuliani Pranoto Ho, Limawan Bayu Hananto, Lilies, dan Team.

Penari EKI On Call: Kalyca, Joey, Sesa, Marvela, Alana, Ica, Agnes, Matthew, Erika Pratiwi, Jeanette, Rara, Isabel, Danica, Vortuna, Carol, Carine, Novita, Citra Sefinka, Keysa, Felice Machiko Lee, Marcia, Lilia Vika, Clara Cantika, Lupiana, Tanaya, Tasya, Hifni, Feli, Komang, Punda, Yudhi, Nila, Kristanti, Tommy, Tonny, Putu, Ara Ajisiwi, Freddy, Fero, Surya, Akko, Refen, Nala, Kristanto, Ericha Vicky, Novita Wong.

Karya ini ingin mempresentasikan pemberontakan seorang anak dari kemauan orangtua dan orang-orang sekitar yang menuntut anak-anak generasi saat ini harus mengikuti tata aturan tertentu yang kaku. Dengan karya ini, mereka ingin mengatakan bahwa mereka memiliki suara kita yang bisa membuat perubahan di dunia.

10. Swargaloka

Didirikan di Yogyakarta dengan nama Swargaloka Art Department oleh Drs. Suryandoro dan Dra. Dewi Sulastri pada tanggal 17 Juni 1993. Swargaloka didirikan dengan tujuan untuk mewadahi kreativitas para seniman alumni perguruan tinggi seni dan memberikan peluang berkarya bagi para seniman.

Para seniman yang terlibat didalam kegiatan Swargaloka Art Department di Yogyakarta pada waktu itu adalah para alumnus ISI Yogyakarta, IKIP Yogyakarta (UNY), ASKI (ISI) Surakarta dan para seniman otodidak.

Swargaloka membuka kursus tari di tiga (3) wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Kotamadya Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan di Kabupaten Bantul.

Pada tahun 1997, Swargaloka hijrah ke Jakarta mengikuti perjalanan para pendiri yang pindah ke Kota Jakarta. Di Jakarta Swargaloka terus mengembangkan diri baik dalam bidang pendidikan pelatihan maupun pementasan.

Dalam bidang pelatihan seni, pada tahun 1998 Swargaloka mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Rumah Dinas Karyawan TMII serta menggunakan tempat latihan di Taman Mini “Indonesia Indah” yaitu di Anjungan Jawa Tengah, Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Istana Anak-Anak Indonesia.

Pada tahun 2002 Swargaloka mendirikan Yayasan dan terus mengembangkan sayap. Berbagai pementasan dilakukan oleh Swargaloka dengan karya-karya ciptaan baru antara lain : Bedoyo Dewi Sri, Bedoyo Merah Putih, Bedoyo Ajisaka dan lain-lain.

Pada tahun 2008 Swargaloka bermarkas di Gedung Sasana Kriya Taman Mini “Indonesia Indah”. Sekretariat dan tempat latihan menjadi satu di tempat tersebut. Siswa yang mengikuti pelatihan di Swargaloka semakin bertambah seiring dengan prestasi yang diraih oleh sanggar Swargaloka dalam berbagai lomba tari.

Pada tahun 2008 Swargaloka mendirikan PT. Gita Swarga Loka yang berorientasi bisnis untuk menopang kegiatan Yayasan Swargaloka yang bermisi sosial.

Pada tahun 2008 juga dimulai sebuah cita-cita untuk membuat pertunjukan Wayang Orang yang harapannya dapat menjadi Opera Terbaik Dunia. Wayang Orang tersebut dinamakan The Indonesian Opera Drama Wayang Swargaloka. Sebuah pertunjukan Wayang Orang Kreatif berbahasa Indonesia dengan memadukan olah sabet wayang kulit dengan layar lebar, multimedia, tari tradisi dan kontemporer dengan iringan musik gamelan dan alat-alat musik barat.

Tahun 2011 markas Swargaloka pindah ke Gedung Arsipel Taman Mini “Indonesia Indah”. Ditempat yang baru selain terus melanjutkan kegiatan pelatihan dan mengembangkan karya yang telah dirintis juga membuka café untuk daya tarik pengunjung TMII agar dapat mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh Swargaloka khususnya di hari Minggu dan hari-hari libur.

Tahun 2013 Swargaloka menempati markas baru yang lebih memadai untuk menampung kegiatan-kegiatan yang semakin meningkat. Tempat yang cukup ideal dengan nuansa pedesaan tersebut diberi nama Taman Seni Swargaloka dan diresmikan pada tanggal 17 Juni 2013 oleh Bapak Drs. Sulistyo Tirtokusumo, MM selaku Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sejak saat itu Swargaloka semakin berkibar dan semakin diakui keberadaannya oleh masyarakat luas. Hingga tahun 2016 telah tercatat sekitar 100 kegiatan besar yang dilakukan oleh Swargaloka.

Selain pementasan Drama Wayang, Swargaloka memiliki kegiatan unggulan berupa Festival Tari Puspa dan Satwa (FESTA), Festival Tari Kreatif Nusantara (FTKN), Pentas TUJUH BELAS berbagi lewat seni, dan gelar tradisi lisan Macapatan malam Jum”at Kliwonan.

Di JDMU, Swargaloka mementaskan karya berjudul “Turn” dengan koreografer Bathara Saverigadi Dewandoro dan penari: Bathara Saverigadi Dewandoro, Bathari Putri Surya Dewi, Chikal Mutiara Diar, Denta Sepdwiansyah Pinandito, dan Yani Wulandari.

Sinopsis Karya

Karya ini terinspirasi dari pertunjukan Gandrung Banyuwangi bagian “Paju Gandrung”, di mana penari Gandrung menari bersama penonton yang mendapatkan kesempatan (ketiban sampur).

Penari Gandrung berusaha melihat kemungkinan yang akan dilakukan oleh pemaju untuk dapat mengimbangi setiap gerak spontan yang muncul. Ketakutan kecil yang hadir di dalam hati saat berhadapan, divisualisasikan dengan senyum menggoda wajah dari penari gandrung.

Penari gandrung harus menunjukan kekuasaan nya atas pemaju dengan kemampuan membaca watak, karakter, keinginan, dan hasrat para pemaju pada malam itu.

Karya ini merupakan refleksi dari hidup seorang manusia, ketika kematian dimaknai sebagai kemungkinan dan kesempatan. Menjadikan yang lama pergi. Membuka peluang bagi yang baru untuk berkembang. Kematian memastikan bahwa roda dunia tetap berputar. Menentukan arah baru. kematian bisa menjadi ketakutan, tapi bisa jadi juga adalah keindahan.

11. Bidar Dance Community

Kelompok tari ini terbentuk sejak 29 Januari 2017 dan berbasis di daerah Tanjung Priok Jakarta Utara. Komunitas ini berawal dari sekelompok anak-anak di salah satu SMA di Jakarta Utara yang masuk dalam satu kegiatan ekstrakurikuler tari masih ingin meneruskan lagi belajar tari tradisional.

Akhirnya terbentuklah Bidar Dance Community (BDC) hingga saat ini. BDC ini tidak hanya untuk alumni-alumni satu sekolah tersebut, tetapi tetap membuka untuk anggota lain yang berasal dari mana saja yang ingin sama-sama belajar tentang tari tradisional Indonesia dan berproses bersama-sama di BDC.

Di JDMU, BDC mementaskan dua karya, yakni “Tari Priuk” dan “Tari Bagen”. Kedua tari ini dikoreografi oleh Pemilasari Wahyu Mairani.

Penari BDC: Ayunda Putri Hasanah, Ita Permatasari, Nur Army, Nuruh Hidayah, Andi Ema, Shekha, Nadya Safwah, Yosia Relacia Indrawati, Evril, Zaskia, Melin, Echa, Siti Fatimah, naela, Ditari Pangestu, dan Nurul.

Sinopsis Karya

Tari Priuk merupakan karya tari yang berangkat dari tari tradisi Betawi. Idenya berawal dari ketertarikan terhadap alat memasak nasi jaman dulu yang disebut Priuk. Kata “Priuk” itu sendiri juga memiliki kesamaan dari asal usul Tanjung Priok, yang terdiri dari 2 kata yaitu kata Tanjung artinya Pohon Tanjung dan kata Priok artinya alat memasak nasi.

Tari Bagen, dari kata bagen artinya biarin. Tari ini berangkat dari tari tradisi Betawi yang menggambarkan dua kelompok remaja yang berbeda karakternya, namun suatu waktu satu terpecah karena timbulnya rasa iri yang disebabkan salah satunya memiliki kelebihan.

Lalu kelompok yang iri tersebut mencoba mengikuti karakter tersebut. Namun dengan waktu berlalu, mereka tidak nyaman dengan karakter barunya.

Akhirnya, mereka kembali menjadi karakter aslinya dan membiarkan mereka tumbuh dengan jati diri masing-masing.

Properti yang digunakan kembang topeng sebagai simbol karakter yang memiliki kelebihan tersebut, kembang topeng ini kemudian yang dieksplore bentuk lain dan selendang. Namun tetap tidak menghilangkan fungsi asli dari kembang topeng itu sendiri.

12. Last Team Dance

Last Team Dance adalah group baru yang dibentuk di tahun 2019 dengan tujuan sebagai tempat untuk belajar menari,dari usia anak-anak sampai remaja. Basic tarian ini adalah hip hop. Last Call adalah nama yang diambil oleh koreografer Reboo dari proses perjalanan karirnya menari selama di Jakarta dan nama diambil sebagai nama group.

Di JDMU, Last Team Dance mementaskan karya “Gamblink” dengan koreografer Erboo Guluda dan penari: Gio fandre, Safwan, Kesya, Tacha, Zhasa, Bunga, Melly, Putry, Nouval

Karya ini diangkat dari kehidupan pribadi sang koreografer, dari masih berpacaran sampai menikah. Bahwa setiap manusia harus memiliki pilihan hidup. Pilihan yang baik maka hasilnya baik ,begitu juga sebaliknya. Seperti nakoda yang mengarungi samudra, cepat atau lambat pasti akan sampai pada tujuan. Maka berserahlah kepada Yang Kuasa, karena semua pasti indah pada waktunya.

13. KIG Dance Community UPI Bandung

Dance Community (KIG Dance Community) didirikan pada 10 November 2000 dan berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Tari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

KIG Dance Community meyakini bahwa setiap karya kesenian adalah bagian dari dinamika dan dialektika masyarakat yang melingkupinya. Karena itu KIG Dance Community percaya bahwa tari atau bentuk kesenian yang lain bisa menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang kritis, dialektis dan terbuka.

Di JDMU 2019, KIG Dance mementaskan karya “Resah” dengan koreografer Annisa Nurkhadijah dan penari: Ainun Rahma, Intan Rosye Datunisa, Nani Ratna Ningsih, Mira Sukma Susilawati, Reihan Benisaputri, Selvi Septiani, dan Wulan Indah Fatmawati.

Sinopsis Karya

Konsep garapan ini menggambarkan kehidupan atau pergaulan sebagian kecil penari di Bandung. Di awal penari ini tidak mengetahui pergaulan dunia tari seperti apa sampai ia mengetahui salah satu pergaulan di dunia tari yaitu tari kesenian Bajidoran.

Keresahan ini muncul, karena beberapa pendapat datang bahwa menjadi penari bajidor bagi sebagian masyarakat masih memiliki pandangan negatif namun sebagai penari ia dituntut harus profesional untuk tetap menari dengan totalitas sehingga menarik perhatian.

Seiring berjalannya waktu ia terbiasa dengan pergaulan tersebut dan menjadi seorang penari dalam kesenian Bajidoran ini.

Kebahagiaan dunia yang ia dapat yaitu pujian, kesenangan, dan uang yang melimpah membuatnya lupa diri. Hingga pada akhirnya rasa RESAH ini muncul kembali dan ia mulai menyadari bahwa berfoya-foya diatas semua ini tidak baik, tetapi hal ini tidak mampu mengubah kegelisahan nya, dan ia bimbang apakah harus berhenti atau melanjutkan semua yang telah ia mulai.

14. Kreativitat Dance Indonesia

Kreativitat Dance Indonesia adalah grup tari yang dibentuk sejak September 1998, dengan tujuan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni tari dan sekaligus memberi wadah bagi para koreografer, penari, dan pekerja panggung untuk berkarya.

Farida Oetoyo (alm.) adalah penggagas sekaligus direktur artistik kelompok ini, kemudian diteruskan oleh Arya Yudistira Syuman yang merupakan salah satu anaknya dan sebagai koreografer tetap di kelompok ini.

Para penari yang tergabung di dalam Kreativitat Dance Indonesia adalah penari yang telah dipilih berdasarkan disiplin dan loyalitas mereka terhadap profesinya.

Grup tari ini telah bekerja sama dengan koreografer maupun grup tari dari dalam dan luar negeri antara lain Jo Seong Jo (Korea), Jurgen Otte (Belanda), grup tari Introdans (Belanda), Maxine Heppner (Kanada), Dislav Zielinsky (Kanada), Bill Lark (Amerika), Gerard Mosterd (Belanda) juga koreografer lokal seperti Chendra Panatan, Wied Sendjayani, Bianca Sere Pulungan, Sukarji Sriman, Benny Krisnawardi, Nabilla Rasul, Anindya Krisna, Siko Setyanto, Nudiandra Sarasvati dan Marich Prakoso.

Di JDMU, Kreativitat Dance Indonesia mementaskan “Woman War” dengan koreografer Marich Prakoso dan penari: Althea Sri Bestari, Maria Ishida, Ida Ayu Rasthiti, Radia Luthfina Nethania, Nudiandra Sarasvati, Dhania Shelomita, Nabilla Rasul, Yuria Ishida, dan Cherubine Gabriella.

Karya ini menggambarkan persaingan dalam dunia wanita yang menempatkan gengsi di atas segala-galanya. Pada dasarnya wanita enggan tersaingi dengan keberadaan wanita yang lainnya, apalagi yang memiliki tanda-tanda lebih hebat darinya.

Banyak fakta yang dapat mendukung gagasan tersebut, dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat bagaimana wanita bersikap ingin terlihat lebih dibandingkan sesamanya.

15. DMP Project

Kelompok tari ini didirikan oleh Maharani Pane, seorang lulusan terbaik Program Studi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institu Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2017. Pane juga merupakan peraih Hibah Seni Inovatif 2018 dari Yayasan Kelola melalui karya bertajuk “Vertical Limit”.

Melalui karyanya “(a) part” dan “Vertical Limit” Pane berhasil menjadi delegasi Indonesia dalam perhelatan Pitchpad Borak Art Series Conference dalam OzAsia Festival 2018 yang diselenggarakan di Adelaide, Australia.

Pane juga pernah mempertunjukan karyanya “(a)part” dalam Festival HELATARI di komunitas Salihara pada tahun 2019.

Sebagai penari, Pane sudah sering berkerja sama dengan beberapa koreografer Indonesia diantaranya adalah Benny Krisnawardi, Tom Ibnur, Fitri Setyaningsih, dll.

Pane juga pernah berkolaborasi dengan Koreografer asal Jepang yaitu Mikuni Yanaihara NIBROLL pada pertunjukan “Real Reality”. Pada tahun 2018 bersama Koreografer Tom Ibnur Pane mengikuti dance tour dalam Festival Melayu di negara-negara Asia Tenggara.

Di JDMU, DMP Project mementaskan karya “(A)part” koreografer Maharani Pane dan penari: Ahmed Osaka, Clarabelle Giovani, Dela Sintya, Edwin Luthfi, I Made Yogik, Irene, Korinta Cyntia, dan Tara Safardan.

Sinopsis Karya

“(A)part” merupakan sebuah karya koreografer Maharani Pane. Bukan hanya melalui gerak, tetapi dalam berbagai multidisiplin seperti seni instalasi, teater, perkusi tubuh, dan visual art menjadi cara sang seniman untuk menyampaikan gagasannya.

Gagasan mengenai masyarakat urban atau masyarakat yang tinggal dibangunan tinggi seperti apartement dan rumah susun yang cenderung memiliki sifat individualis dan mempunyai rasa egoisme yang tinggi.

Masyarakat urban yang memiliki segudang masalah pribadi menolak beriteraksi dengan individu ataupun lingkungan yang ada disekitarnya. Sehingga mereka membuat batas diri yang mereka ciptakan pada pola pikir.

Garis-garis abstrak membentuk batas diri yang diciptakan manusia untuk membatasinya dari orang lain. Membentuk kotak-kotak menyimbolkan ruang privasi yang tidak boleh dimasuki orang lain.

16. Noken LAB

Kelompok ini diberi nama “Komunitas Laboratorium Noken (Noken Lab) sesuai dengan kesepakatan bersama pada rapat pertama yang diadakan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Noken Lab merupakan salah satu komunitas sei pertunjukkan yang dari tahun 2014 sudah dibentuk dengan nama lain yaitu “Karruwarior’s”.

Dengan berjalannya waktu pada tanggal 7 juli 2017, mereka mengganti nama komunitas menjadi Laboratorium Noken (Noken-Lab) dan saat ini komunitas kami masih aktif bereksplorasi dalam menciptakan dan meningkatkan beberapa produk karya seni pertunjukkan.

Setiap karya-karya yang ditampilkan Noken Lab selalu dengan pendidikan baik itu secara formal maupun non-formal.

Noken Lab sudah sering berproses dalam berkesenian, dimulai dari Dapok Baru dan di lingkungan Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat. Komunitas ini mengadakan pelatihan, pengembangan dan penciptaan tari yang memadukan berbagai macam jenis tarian tradisional Indonesia dengan kebudayaan tarian Asing (Barat dan Asia) juga tarian kontemporer sehingga terciptalah Inovasi atau pengembangan berbagai macam tarian urban.

Komunitas Noken Lab merupakan para penari jalanan yang berasal dari Indonesia Timur, para penari ini merantau ke Jakarta untuk mengikuti berbagai kompetisi dan pentas karya tari yang sedang diadakan di Jakarta.

Nama Noken Lab sendiri diambil dari nama salah satu benda warisan budaya dari Pulau Papua yang menyerupai tas atau biasanya disebut “Noken”. Tas tersebut dalam kehidupan keseharian masyarakat Papua sering menggunakan Noken sebagai tempat menyimpan hasil pertanian dan hasil berburu.

Dalam fungsi lain Noken dapat dimanfaatkan sebagai tempat istirahat anak kecil. Hal semacam ini masih sering kita temukan didalam kehidupan Manusia Papua. Noken selalu memberikan arti keidupan yang dimana kami selaku komunitas selalu diajarkan untuk saling mendukung satu sama lain dan saling memotivasi dalam berkeseniaan.

Di JDMU 2019, Noken Lab mementaskan karya “Di Halaman Rumah” dengan koreografer Paulus Hendrik Saflesa dan penari: Paulus Hendrik Saflesa, Rahmad Izhak Manufandu, Andi Ferdiansya, Silas Sampari Sabekti Siraraje, dan Rumadas.

Karya ini menceritakan tentang masa kecil sang koreografer saat berada di Papua di mana hampir sebagian besar aktivitas masa kecil saya terjadi di halaman rumah. Hal inilah yang membuatnya rindu ketika merantau.

Dengan menghadirkan Noken, itu bukan sebuah beban yang berat dipikul. Bukan sebuah wujud yang dapat disentuh. Namun sebuah rasa yang memiliki identitas. Meskipun jauh tetaplah kuat karena di balik semua itu ada rindu.

*Daniel Deha

Baca Juga

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...