Program Lintas Media itu “Seksi”

Portal Teater – Program tahunan Lintas Media yang diadakan Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) telah usai setelah resmi ditutup pada Sabtu (15/6). Sejak dibuka pada Selasa (11/6), even ini sedikit lebih banyak menarik animo penonton dan pengunjung, terutama kaum milenial.

Sementara, para seniman yang teregistrasi pun punya kemauan kuat untuk memamerkan karya-karyanya, mulai dari seni rupa, fotografi, instalasi objek, instalasi video, film dan pertunjukan.

Bahkan banyak kalangan penikmat dan pencinta seni, yaitu mereka non-seniman dari latar ilmu berbeda pun tertarik.

Tentu ada begitu banyak pesan yang terpatri dalam benak banyak audiens atau pengunjung, termasuk pegiat seni dan pemikir seni.

Sementara di sebagian lainnya, ada problem sirkulasi dari presentasi karya-karya para seniman mix-generation itu yang belum tersampaikan kepada publik secara eksplisit.

Budi Sobar, mantan anggota Komite Teater DKJ, dalam sebuah diskusi pintas, merangkum kesannya selama menelusuri jejak program Lintas Media sejak awal dimulainya tahun 2016 hingga saat ini dengan satu kata: “seksi”.

“Buat saya, Lintas Media adalah program yang seksi,” ungkapnya di Lobby Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (15/6) malam.

Baginya, platform Komite Teater ini telah menawarkan dan menyediakan ruang yang kreatif bagi para seniman lintas karya untuk tampil melalui presentasi karya-karya mereka, baik yang belum jadi, sedang jadi dan sudah jadi.

Keseksian program ini, menurut Pengurus Harian DKJ, adalah juga bahwa setelah publik mengenal dan mendengarnya melalui promosi media dan kerja jejaring lainnya, mereka datang dan melihat-lihat bagaimana kerja kurasi dari ruang sirkular yang terpampang pada galeri ketelanjangan ini.

Di antara banyak penonton itu, selain generasi milenial, adalah mereka yang tergolong bukan seniman, tetapi berasal dari latar disiplin ilmu yang berbeda, misalnya ilmu psikologi klinis, dan mereka responsif serta terlibat aktif di dalam perbincangan karya-karya seniman partisipan seusai pertunjukan.

“Bagi saya ini yang menarik. Dengan itu di Lintas Media ini bukan saja para seniman, tapi juga non-seniman. Mereka akhirnya paham dan ikut berdiskusi,” katanya.

Dengan itu, program ini tidak sekedar mempertontonkan pameran dan pertunjukan, tetapi bagaimana direkayasa sekian, agar dapat memproduksi pengetahuan ke benak penonton, sehingga mereka juga memahami sirkulasi karya seni di Lintas Media.

Teater sebagai biang kesenian, semestinya mewadahi kerja seni dari latar yang berbeda, karena memang teater semacam mengagregasikan pelbagai unsur kesenian di dalamnya. Dan itu, menurut Budi, terjadi di Lintas Media, bahwa di program ini, penonton tidak sekedar menonton teater, tetapi mengalami sendiri bagaimana karya-karya seni pendukung pertunjukan itu diletakan persis pada dirinya secara otonom.

Lebih dari itu, pengajar Performance Communication pada London School ini menilai, rekayasa peristiwa diskusi setelah pertunjukan merupakan momen yang paling tajam untuk mengasah kemampuan penonton menyerap pesan pertunjukan.

Karena, tentu selama proses pertunjukan berlangsung, penonton pasti meraba-raba, seperti apa maksud yang mau disampaikan sang aktor atau sutradara teater itu.

Faktanya, dalam proses diskusi, banyak penonton yang merespon dan lebih memahami pesan implisit dari pertunjukan.

Namun, sebagai pegiat dan pengajar seni, Budi menandaskan bahwa gagasan kurasi kerja kesenian belum sepenuhnya tersampaikan oleh kurator Ugeng T. Moetidjo. Meski penonton aktif membincangkan karya pertunjukan, tetapi gagasan pokok kurasi belum dicerna baik oleh penonton.

“Ini akhirnya menjadi acara yang memproduksi pengetahuan. Buat saya bukan hanya materi pertunjukan yang dipahami, tapi kerja kurasi itu yang mesti juga lahir dari kurator,” paparnya.

Dengan penyampaian konsep kurasi itulah penonton dapat disadarkan bahwa kerja kurasi tidak semata-mata milik seorang seniman, tetapi terbuka kemungkinan bagi orang dari latar ilmu yang lain.

“Bisa jadi, kerja kurator bukan hanya seniman, tapi orang biasa,” ungkapnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Melihat Dampak Konsumerisme terhadap Air

Portal Teater - Koji Yamazaki, 38 tahun, keluar dari sebuah tong sampah besar berwujud kontainer yang terbuat dari aluminium berwarna kuning karat. Ia hanya...

Transmisi Virus Corona Tak Terbendung, AS Terbanyak

Portal Teater - Transmisi virus corona terus meluas. Ini menunjukkan bahwa penyebaran corona makin tak terbendung di tengah ketidaksiapan dan kelambanan negara-negara untuk mencegahnya....

Pekerja Teater Manfaatkan Media Daring untuk Tetap Bekerja

Portal Teater - Para pelaku teater memilih bekerja dari rumah di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang terus meluas. Tidak hanya di Indonesia, sejumlah...

Terkini

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...