Rayakan Hari Kemerdekaan, Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih Pentaskan Dua Lakon Kisah Heroisme

Portal TeaterKelompok Kesenian Sandiwara Sunda Miss Tjitjih akan mementaskan dua lakon yang berkisah tentang kisah perjuangan dalam rangka memeriahkan perayaan kemerdekaan ke-74 RI. Lakon pertama berjudul “Sumpah Pejuang” dan lakon kedua berjudul “Antara Tugas dan Cinta”.

Dalam pementasan pertama, komunitas seniman ini berkolaborasi dengan artis Yuki Anggraini Kato, atau dikenal dengan nama Yuki Kato. Lakon ini dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya Jakarta pada Sabtu (17/8), pukul 15.00 WIB.

Sementara pementasan lakon kedua berlangsung pada hari yang sama di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Cempaka Baru Timur (Kabel Pendek) Jakarta, pukul 19.30 WIB.

Sebagai tokoh sentral di Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih, Imas Darsih, seorang (seniman) perempuan pencinta budaya Sunda, lagi-lagi menggarap penulisan naskah dan serentak menyutradarai kedua lakon tersebut.

Kisah tentang Cinta dan Heroisme

Kedua lakon yang dipentaskan Miss Tjitjih dibawakan dalam gaya komedi khas budaya Sunda. Kedua lakon itu menceritakan nilai heroisme dua orang pejuang yang rela meninggalkan pujaan hati dan keluarga keluarga mereka demi menjalankan tugas mereka di medan tempur.

Pada lakon “Sumpah Pejuang”, berkisah tentang seorang gadis bernama Euis yang mencintai seorang penjuang bernama Toha. Meski ditentang oleh kedua orang tuanya, Euis mengajak Toha untuk kawin lari setelah mendengar informasi bahwa ia akan pergi bertugas.

Ketika Toha menolak dan lebih memilih tugas daripada menikah dengannya, Euis pun sedih dan kecewa akan keputusan kekasihnya.

Selang beberapa waktu, Eius pun mendengar kabar bahwa kekasihnya gugur di medan tempur. Dalam sepucuk surat, Toha menulis surat terkahirnya kepada Euis, berbunyi: “meski kita tidak bisa bersatu namun sumpahnya untuk mengusir penjajah dari negerinya sudah tercapai meski nyawa taruhannya”.

Euis tidak mampu menahan kesedihan. Namun pada saat yang sama, ia bangga karena kekasihnya wafat sebagai pejuang yang berjiwa besar dan pemberani.

Dalam lakon kedua “Antara Tugas dan Cinta” pun dikisahkan alur, tokoh dan latar yang sama. Dikisahkan bahwa Parman dan Suliswati sudah lama menjalin cinta. Tetapi hubungan mereka awalnya tidak mendapatkan restu dari orangtua Suliswati. Ibu Suliswati berkeberatan karena Parman seorang pejuang.

Hati ibu Suliswati goyah ketika melihat keseriusan Parman. Akhirnya orangtua Suliswati merestui hubungan mereka dan menikahkan Suliswati dengan Parman.

Setelah diketahui dirinya hamil, Suliswati pun meminta kepada Parman agar ia mendampinginya ketika kelak dirinya melahirkan anak pertama mereka.

Sayangnya, sebelum melahirkan, Parman mendapat tugas militer ke luar kota. Dengan berat hati Suliswati menginzinkan kepergian suaminya untuk menjalankan tugasnya sebagai pejuang.

Waktu berlalu, buah cinta mereka lahir tanpa didampingi Parman. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, Suliswati dengan sabar menunggu kedatangan suaminya tercinta.

Saban hari, datanglah komandan Parman yang mengabarkan bahwa keberadaan Parman masih belum diketahui rekan-rekan seperjuangannya. Betapa hancur hari Suliswati mendengar berita itu.

Di tengah kemurungan itu, datanglah seorang jejaka kaya raya bernama Irawan yang menaruh cinta pada Suliswati. Hati Suliswati pun goyah, sehingga mereka pun melangsungkan pernikahan.

Kesedihan Suliswati terobati karena sejak pernikahan dengan suaminya yang baru. Di bahtera keluarganya itu, ia merasakan kedamaian dan kebahagiaan, meski hati terdalamnya masih mengingat kekasihnya, Parman, yang tidak jua membawa berita.

Tidak disangka-sangka, Parman pun datang menghampiri Suliswati. Suliswati bingung bercampur bahagia saat itu. Kerinduan di lubuk hatinya seolah mekar melihat wajah pujaan hatinya itu.

Pertemuan dan keakraban di antara mereka diketahui Irawan, suaminya yang kaya raya itu. Irawan pun menaruh cemburu dan kalap. Maka terjadilah keributan. Parman pun terbunuh oleh Irawan.

Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih

Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih adalah Sandiwara Sunda dengan nama seorang Diva Sandiwara Sunda pada tahun 1928 asal Sumedang, yaitu Miss Tjitjih.

Pada tahun 1926, seorang gadis cantik bernama Nyi Tjitjih yang biasa bermain sandiwara berbahasa Sunda ditemukan oleh Aboebakar Bafaqih. Ia adalah seorang Arab-Indonesia kelahiran Bangil (Jawa Timur), pemilik Sandiwara Keliling atau Komedie Stamboel 1891-1903.

Saat itu, Aboebakar sedang mengadakan pertunjukan keliling di Jawa Barat. Di sana ia pun melihat karakter keaktoran Nyi Tjitjih dan tertarik mengajaknya masuk ke dalam perkumpulan sandiwara bentukannya, Opera Valencia.

Ajakan Aboebakar tersebut disambut baik Nyi Tjitjih. Mulai saat itu Nyi Tjitjih pun menjadi bagian dari Opera Valencia. Aboebakar akhirnya jatuh hati kepada gadis cantik itu dan mengajaknya untuk menikah.

Kelompok ini pertama kali menetap di Jakarta pada tahun 1928, di sebuah gedung bekas pabrik limun sebelah bioskop Rivoli (Kini PT Astragraphia), Kramat Raya, Jakarta.

Setelahnya, Sandiwara Miss Tjitjih berpindah tempat ke daerah Angke, kemudian menetap di Cempaka Putih Jakarta hingga sekarang. Semua kegiatan kesenian dan pertunjukan Miss Tjitjih terpusat di tempat ini.

*Daniel Deha

Baca Juga

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...