Rebecca Kezia akan Gelar Pameran “Ruang Riuh” pada DTP 2019

Portal Teater – Kurator muda berbakat Rebecca Kezia memikul tanggung jawab besar selama pagelaran Djakarta Teater Platform (DTP) ke-4 tahun 2019. Selain mengkurasi karya-karya para penulis naskah drama untuk dipajang selama pameran selama 7 hari berturut-turut, ia juga akan terlibat dalam diskusi pembacaan terhadap karya-karya tersebut.

Sebagai kurator, Rebecca akan menggelar pameran naskah drama bertajuk “Ruang Riuh”, yang berlangsung sejak 8 Juli hingga 14 Juli 2019, di Loby Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Selanjutnya, lulusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia itu juga akan menjadi narasumber utama dalam diskusi pembacaan terhadap gagasan kurasi yang dibawanya pada Selasa (9/7), masih di tempat yang sama: Lobby Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Dalam diskusi itu, Rebecca akan bersama-sama dengan beberapa pembicara lain, yakni: Ganjar Hermansyah Wijaya, Mohammad Abe, dan Irfan Paripui.

Perjalanan Rebecca sebagai seniman sekaligus kurator terbilang masih baru. Boleh dikatakan, ia adalah pendatang baru dalam praktik kerja kesenian ini. Baru setahun lalu (November 2018), ia diundang sebagai kurator tamu pada even Indonesia Dramatic Reading Festival di Yogyakarta.

Meski demikian, pengalaman Rebecca dalam mengkurasi naskah-naskah drama cukup mumpuni, selain karena kecerdasannya, juga karena pengalaman keikutsertaanya dalam program-program bertemakan kurator, seperti: Curators Academy yang digagas Goethe Institut Singapura dan Theatreworks pada awal tahun 2018.

Selain itu, ia juga sudah berkarya di bidang seni pertunjukan terutama teater dengan beberapa grup dari Jakarta, seperti Stock Teater, Pagupon, Teater Pandora serta penelitian mandiri yang dilakukan atas naskah drama dan grup teater Indonesia Mutakhir.

Di Komunitas Salihara Jakarta pun, Rebecca ditunjuk sebagai pengelola program dan penanggung jawab program pendidikan dan wacana.

Maka, kepercayaan yang dibebankan ke atas pundaknya oleh penyelenggara Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, merupakan sesuatu yang sangat bernilai dalam tapak kerja kesenian selanjutnya.

Pekerjaan sebagai kurator bukanlah hal yang mudah. Karena ada banyak tugas tugas dan tanggung jawab yang diemban untuk menjaga kualitas dan profesionalitas pelaksanaan sebuah program kegitan.

Secara umum kurator memiliki tugas, antara lain: pertama, mengamati dan menganalisis perkembangan seni rupa Indonesia dan seni rupa International; kedua, mempertimbangkan dan menseleksi karya dan kegiatan pameran; ketiga, membantu mempertimbangkan tata pameran tetap, sistem pendokumentasian dan kebijakan pengelolaann koleksi; dan melakukan kerjasama, bimbingan, edukasi, dan apresiasi seni rupa melalui kegiatan-kegiatan galeri.

Display Ruang Pameran

Dalam pameran “Ruang Riuh” nanti, Rebecca membuat tiga situs yang menjadi bandul yang terus menciptakan masa kini kita bersama, setiap kita mencoba masuk ke dalam medan reposisi identitas. Situs itu dijadikan sebagai tatapan utama untuk untuk meretas kunci-kunci identitas dalam pameran naskah drama.

Pameran memperlihatkan dua belahan waktu antara generasi yang pernah mengalami masa Hindia Belanda dan Orde Lama dengan generasi masa kini setelah Reformasi 1998 (“Dindingsatu” dan “Dindingdua”).

Dindingsatu memperlihatkan pembabakan baru dalam penulisan naskah drama. Sementara Dindingdua memetakan perubahan ruang yang dialami generasi era menjelang dan setelah kemerdekaan (Radio ½ Radio-Antologi Naskah Drama dan Analisis Dramaturgi, Rawayan Forum 2019).

Sementara itu, sumber naskah pameran pada Dindingsatu, yakni: Tiga Lapis Kesedihan: Shohifur Ridho’i; Shinta Febriany: Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, Gila Orang Gila, Beri Kami Pantai yang Hilang (2017-2018); Joned Suryatmoko: B3RTIGA (2009); Teater Garasi: Je.Jalan (2015); Ari Pahala Hutabarat: Siapa Nama Aslimu (2007); Yustiansyah Lesmana, Ipeh Cupachabra, Imam Maulana: 47:17 SIDE B (2017-2018); dan Riyadhus Shalihin: Cut Out (2017).

Kemudian, pada Dindingdua, ada karya-karya Shinta Febriany: Politik Hantu Perempuan dalam Ruang Liminal; Zen Hae: Ruang Tunggu (atawa Peninjauan Kembali Terhadap Nyai Dasima); Imas Darsih & Dadang Badoet: Si Manis Jembatan Ancol; Soekarno: Koetkoetbi; Irfan Palippui: Pembangkangan, Revolusi dan Yang-Lain; Bambang Sularto: Domba-Domba Revolusi; Utuy Tatang Sontani: Bunga Rumah Makan; Muhammad Abe: Tiga teks, tegas, segera, sekarang dan para pembuat jembatan.

Pada Dindingdua ada juga karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana: Semboyan Yang Tegas; Soekarno: Pidato Lahirnya Pancasila; Taufik Darwis: Percakapan Menjadi Warga di Ruang-Ruang Minor; W. S. Rendra: Orang-Orang di Tikungan Jalan; Iwan Simatupang: RT NOL RW NOL; Riyadhus Shalihin: Petaka Batas; Andjar Asmara: Dr. Samsi; Sitor Situmorang: Jalan Mutiara; Arifin C. Noor: Pada Suatu Hari,; dan Max Arifin: Badai Sepanjang Malam.

Nah, teman-teman, untuk mengenal lebih dekat sang kurator, karya-karya dan pembacaan-pembacaan orisinalnya atas naskah-naskah drama Indonesia, jangan lupa datang dan saksikan sendiri selama pekan kegiatan DTP 2019 pada 8-20 Juli, di Lobby GBB TIM Jakarta.

Dalam diskusi nanti, Rebecca akan mengupas tuntas polemik “Ruang Riuh” dan masa depan naskah drama Indonesia.

*Daniel Deha

Berikut cuplikan video dari naskah-naskah drama yang dipamerkan di “Ruang Riuh” pada pagelaran DTP 2019.

Baca Juga

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...