Redefinisi Sistem Tubuh, Media, dan Bunyi dalam Ekosistem Teater yang Bergeser

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie*

Portal Teater – Ada hal yang menarik pada perhelatan Parade Teater Kampus Seni Indonesia (PTKSI) ke-8 yang berlangsung sejak tanggal 24-28 November di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Event itu merupakan bentuk pelacakan ulang yang sering dipertanyakan banyak seniman teater seperti Afrizal Malna (Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta), dan juga ditanyakan kembali oleh teman-teman kampus seni:

Kenapa teater ditinggalkan para aktornya maupun sutradaranya? teater itu sedang berada di ekosistem mana ya? adakah yang salah dalam teaternya? kenapa teater kehilangan minatnya? atau jangan-jangan kita tidak pernah punya tradisi sesungguhnya? dan lain sebagainya.

Selasa, 26 November 2019, ISI Yogyakarta dan Institut Seni Padangpanjang memanggungkan proses kreatifnya dalam event tersebut.

Dari pemaparan kedua grup teater kampus itu lewat biografi penciptaan setelah pertunjukan (sekalipun tidak jelas istilahnya pada malam itu, yang jelas diskusi sehingga seperti menjadi debat kusir juga), saya menyimpulkan bahwa keduanya berada di wilayah hubungan sistem tubuh, media, dan bunyi pada ekosistem teater hari ini.

Media sebagai Tradisi Hari Ini

Membaca tradisi dijadikan pijakan kreatif atau tema PTKSI tahun ini, bagaimana teman-teman teater kampus seni memandang tradisi dalam kaitannya dengan teater postmodern belakangan ini.

Tentu di kepala saya terlintas pertanyaan: bagaimana Ludruk, Bantengan, Besutan, Randai, Lenong, Longser, Mamanda, Janger, Ketoprak sebagai praktik kerja dalam teater postmodern atau sebagai bahan inovatif (akulturasi, elaborasi, dll.) yang nantinya menjadi kerangka dramaturgi tersendiri sebagai kajian dan analisis dalam bentuk sebuah jurnal.

Salah seorang panitia menyebutnya sebagai dramaturgi nusantara. Namun pada kenyataannya ISI Yogyakarta melihat dari kaca mata lain, di mana tradisi sebagai kebiasaan, bukan sebuah warisan budaya yang selama ini sering kita pahami dan tentunya selalu bergerak karena terus dilacak kembali yang kemungkinan kita di nusantara ini tidak punya tradisi yang sungguh asli milik kita.

Media hari ini yang berupa surat kabar, sound system, film, televisi, sosial media (Instagram, Facebook, Youtube, dll.), infra merah, robotik, dan lain sebagainya dijadikan sebagai praktik kerja teman-teman ISI Yogyakarta dalam meredefinisi teater hari ini yang bergeser ekosistemnya.

Mereka tampak putus asa dengan problematika teaternya sendiri sebelum membicarakan banyak hal seperti masalah sosial, politik, dan ekonomi.

Di satu sisi mereka menyadari pergeseran hal tersebut yang cukup ‘cerdas’ dalam memberikan tawaran.

Sepakat dengan salah satu penonton yang mengganggap bahwa itu bukan sebuah problem, termasuk persoalan tema yang diusung sekalipun juga bukan problem serius yang seakan-akan dicari-cari konfliknya.

Justru menjadi problematika adalah bagaimana kita memperlakukan pikiran secara sehat dan waras untuk bekerja dalam menyikapi hal ini, kaitannya dengan penonton, di mana Festival Teater Jakarta 2019 yang sedang berlangsung 12-29 November 2019 mengusung tajuk Drama Penonton.

Sri Bramantoro Abdinagoro di Katalog menulis “Memelihara Penonton Teater” yang berangkat dari hasil risetnya. Kemudian pada pembuka katalog FTJ 2019 Danton Sihombing (Plt. Ketua Dewan Kesenian Jakarta) menulis “Menonton Penonton“.

Dalam tulisannya Danton menyebut bahwa teknologi mentransformasi praktik kecil yang semula melalui cermin menjadi ruang baru bagi individu untuk membangun citra dan persepsi di ruang publik, maka terbitlah selfie.

Bahkan salah satu mahasiswa ISBI Sulawesi Selatan mengusulkan: bagaimana kalau seandainya ada jurusan penonton (entah itu film, teater, tari, rupa, musik, dll.), yang memang setiap waktunya akan terus bergerak dipengaruhi banyak faktor khususnya revolusi industri di era postmodern ini.

Saya membaca ketika sebuah media sudah dijadikan tradisi baru: bagaimana kita memproduksinya agar problem teater itu selesai (jika dilacak ulang sungguh-sungguh ada problem), atau jangan-jangan di planet Saturnus, Neptunus, dan Mars yang ditawarkan teman-teman ISI Yogyakarta juga tidak memberikan apapun dalam ekosistem di bumi kita hari ini.

Malah semakin membuat saya sebagai penonton awam yang masuk ke dalam gedung pertunjukan besoknya juga akan malas dan tidak mau mengenal yang namanya teater.

Betapa semakin celakanya kita, ketika terus dipertanyakan kembali malah semakin membuat “Drama Penonton” bertambah tajam konfliknya dan memerlukan banyak cara maupun strategi untuk mengakhiri kisahnya sendiri.

Ketika tawarannya adalah media sebagai tubuh pertunjukan untuk menyelesaikan problem teater yang ditinggalkan penonton maupun orang-orangnya, malah semakin dijejali kembali aktor sebagai tubuh pertunjukan yang mungkin jauh kualitas aktingnya dari aktor-aktor Youtube (melalui web series), televisi, maupun film.

Salah satu hasil pelacakan kenapa teater ditinggalkan (tentu masih banyak alasan lainnya) adalah malasnya menghafal naskah yang banyak dialog dan malasnya mengolah konsitensi tubuh sepanjang pertunjukan.

Bisa mungkin media menjadi tubuh pertunjukan yang bisa berfungsi sebagai transportasi kita bekerja hari ini. Media sebagai alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentang planet lain, seperti Saturnus, Neptunus, dan Mars yang bisa kita lebur dengan imajinasi kita.

Kemungkinan dramaturgi naskah akan mengacu pada hubungan media elektronik dengan fiksi ilmiah yang akan hidup bersamaan sistem pengaturan kita ada seiring kerjanya dengan demografinya, mengutip uraian Ugeng T. Moetidjo (kurator seni) dalam diskusi “Naskah Drama, dan Dramaturgi Naskah” pada Rabu (20/11) di Lobby Teater Kecil, TIM Jakarta.

Artinya kita kekurangan cara mengatur tawaran kreatif yang bisa mungkin lebih menarik bagaimana media bekerja, entah itu tawaran 3D, CGI (lih. Rebecca Rouse: A New Dramaturgy For Digital Technology in Narrative Theatre) yang menggambarkan planet lain dalam bayangan Mars, Neptunus, dan Saturnus dengan dolby digitalnya.

Bahkan tawaran bahasa secara verbal dan perdebatan di atas panggung tidak berkutat pada persoalan seniman teater yang dianggap sudah dibunuh oleh pekerja film maupun tetek bengeknya dalam teater.

Kita semua sudah melihat kenyataan pergeseran itu, tapi seakan tidak diakui sehingga tidak menjadi satu kesatuan antara media dengan aktor, padahal sisi lainnya sudah menggunakan sound system, lampu kerlap kerlip, mic condensor, dll., yang juga kepunyaan dari yang namanya teknologi.

Kita seperti kekurangan naluri kreatif untuk menyusun kinerja dalam lokakarya di sebuah ekosistem, seolah-olah seni tidak bisa menjawab apa pun dalam ekosistemnya.

Kita tidak melakukan tindakan kerja yang riil dalam praktik dramaturgi (meminjam ungkapan Yustiansyah Lesmana (sutradara Teater Ganta), salah satu narasumber diskusi tersebut selain Ugeng dan Dendi Madiya, sutradara Artery Performa).

Kita terlalu terjebak mempertanyakan penonton tanpa betul-betul melacak ulang memori internal atau eksternal, dan menggunakan indeksikal atau menafsir dengan indeks (rujukan) yang tepat untuk mempraktikkan kerja media (teknologi) sebagai tubuh pertunjukan.

Yang juga akan menimbulkan banyak pertanyaan ketika aktor tidak mempraktikkan kerjanya secara tepat dan efektif dalam menyatukan tubuh pertunjukan, sebagai tradisi baru hari ini.

Dan mungkin bijaksananya adalah ungkapan penonton pada malam itu: penonton ya penonton yang sekiranya menonton dan bisa di-share melalui media sosial, yang juga akan menemukan penontonnya sendiri jika pertunjukan benar-benar tepat sasaran kreativitasnya.

Tubuh, Gerakan Silat, dan Bunyi sebagai Dramaturgi

Sedikit me-review penjelasan Eko Supriyanto (koreografer) dalam mata kuliah bahan dan alat di pascasarjana ISI Surakarta, bahwa tubuh, naskah, suara sebagai bahan kita dalam teater untuk menghasilkan karya, dan alat (untuk membuat karya) bisa dilakukan dengan banyak skema, salah satunya adalah skema praktis seperti workshop, masterclass, yang menggiring cara kita bekerja.

Penjelasan ini yang saya jadikan landasan berpikir untuk membaca pertunjukan teman-teman ISI Padangpanjang, selain dari tulisan Mladen Ovadija berjudul Dramaturgy of Sound, Rae Earnshaw: Art, Design, and Technology Collaboration and Impelementation.

Secara cerita yang diangkat memang sebuah pilihan dari sikap kultural yang dipengaruhi oleh sosiologis dan lain sebagainya, di mana dendam atas kematian ayah yang terbunuh merupakan cara yang harus ditempuh sekalipun perempuan kultural di Padang cukup punya sifat baik hati tanpa membunuh lelaki yang sudah membunuh ayahnya sendiri.

Saya tidak tahu jelas: apakah itu sebuah pilihan sikap teman-teman ISI Padangpanjang (membiarkan ‘bangsat’’pergi atau memang karakteristiknya cukup berkompromi dengan lelaki ‘bangsat’ yang sudah menyebabkan kematian.

Hal yang menarik menurut saya adalah nilai tawar yang hendak dihadirkan ke publik bagaimana sistem tubuh, gerakan silat, dan bunyi sebetulnya menjadi satu kesatuan pertunjukan untuk merespon tema tradisi pada PTKSI kali ini sekaligus masuk pada Drama Penonton yang diusung FTJ 2019.

Dunia elektronik yang digunakan untuk memproduksi suara (lagu) dengan sound system cukup bekerja secara efektif di malam itu, di mana digitalisasi bekerja dari sistem analog.

Tapi sayangnya nampak semacam keraguan memperlakukan media teknologi hanya sebagai pendukung atau memang sebagai tradisi hari ini yang dikombinasikan dengan spirit yang dianggap tradisi sebelumnya sebagai akar atau pondasi dalam berkebudayaan.

Pertunjukan sudah dibuka dengan pemutaraan potongan-potongan adegan melalui screen semacam teaser film untuk menggiring kita masuk ke dalam peristiwa.

Saya kira suara yang diproduksi dari dunia digital nantinya sebagai tawaran untuk menggabungkan tubuh, gerakan silat, dan bunyi melalui mulut maupun kain yang digunakannya para performer (yang memakai kostum sama semua pemain layaknya menonton pertunjukan tari pada umumnya).

Sempat sekilas di kepala saya terlintas: apakah mungkin cara berpikir, operating system gagasan (dramaturgy of sound) bekerja yang lahir dari tubuh, kain yang dipakai, lantai permukaan, akustik ruang, dinding gedung, atau suara dari media dolby digital sendiri.

Bagaimana bunyi menjadi cara kerja estetik yang bisa menggambarkan story perempuan yang tersakiti atas kematian ayahnya, tanpa harus menggunakan kalimat secara verbal, tapi bagaimana bunyi menjadi bahasa estetik sekaligus artistik dari sebuah pertunjukan dengan dukungan organis lagu-lagu yang khas.

Saya rasa akan tampak cara berpikir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah dilakukan ISI Yogyakarta.

Saya sempat berpikir jangan-jangan pertunjukan kedua akan memberikan jawaban yang asyik dengan memproduksi tubuh, gerakan silat, dan bunyi sebagai demografi kelompok masyarakat teater hari ini yang sedang mencari penonton.

Ternyata proyektor (screen) dengan media film hanya diperlakukan sebagai teaser, bukan menjadi tawaran teater film dokumenter bunyi, atau teater sinematografi (lih. Hans-Thies Lehmann: Postdramatic) yang mungkin juga jadi satu kesatuan untuk memberikan nyawanya satu dengan lainnya, bukan hanya sekadar pendukung di mana gerakan silat hadir untuk dekorasi pertunjukan.

Gerakan silat secara organis setiap tubuh kultural bisa memungkinkan menjadi tindakan kerja sebagai bahasa untuk berkomunikasi antara satu dengan lainnya ketika berbicara hasrat birahi, sakit hati, emosi, dendam, dan kompromi bisa jadi sebagai pilihan kita.

Meminjam istilah Roci Marciano (kabuh: kata tubuh) dalam tesis penciptaannya, hal itu bisa direproduksi dengan cara lain untuk mengkombinasikan bunyi-bunyi tubuh, media, panggung, dan apa saja yang bisa disatukan dalam sebuah pertunjukan hari ini.

Akhirnya sekali lagi Drama Penonton, atau Menonton Penonton, yang tampak pada ekosistem akademisi seni di PTKSI semakin kesulitan jikalau terjebak pada narasi-narasinya saja tanpa melakukan praktik kerja dalam teater dan indeks inovasi ekosistem akademisinya itu sendiri.

Mengutip tulisan Alberto Ali (Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta) yang menjelaskan dalam industri budaya, “inovasi” dalam berbagai bidang, kini merupakan salah satu indeks untuk mengukur perkembangan kota.

Artinya satu indeks yang tepat untuk mengukur kualitas dari parade teater kampus seni Indonesia itu sendiri, bukan sekadar ajang seremonial yang menciptakan tradisi baru tanpa memberikan ruh dalam ekosistemnya.

Seni tidak bisa melakukan praktiknya dalam bermasyarakat maupun berfungsi penuh yang akhirnya nanti beralih; bahwa apa saja akan dipandang seni karena seninya sudah kehilangan akal dan kewarasannya.

Barangkali seni juga akan semakin dekat dengan penonton jika menganggap orang berpidato, ustadz ceramah, dokter hewan melakukan penyuluhan, maupun dokter umum melakukan studi sosial, sebagai seni.

Diharapkan ke depan setiap orang tua lebih terbuka jika ada anak-anaknya masuk ke ruang lingkup pendidikan seni ataupun seni murni, sehingga seni semakin hidup dalam drama penonton hari ini dan masa yang akan datang.

*Penulis adalah dramaturg; mahasiswa pascasarjana penciptaan teater di ISI Surakarta.

Baca Juga

Teater Lorong Yunior Eksplorasi Kreativitas Anak Lewat Lakon “Sang Juara”

Portal Teater - Teater Lorong Yunior  mengeksplorasi kreativitas anak-anak lewat pementasan drama musikal "Sang Juara" pada Minggu (19/1) di Gedung Kesenian Jakarta. Lakon ini mengangkat...

Juni Nanti, Museum Nasional Pamerkan 1.500 Koleksi Museum Delft

Portal Teater - Museum Nasional Indonesia berencana memamerkan 1.500 benda-benda budaya koleksi eks Museum Nusantara Delft, Belanda, pada Juni mendatang. Mengutip historia.id, pameran benda-benda hasil...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...