Portal Teater – Residensi inklusif selama empat hari yang bertemakan “Art and Disability” pada pagelaran Djakarta Teater Platform 2019 telah berakhir hari ini, Jumat (19/7). Residensi ini menghadirkan 4 mentor dari Corali Dance Company dan Impermanence Dance Theatre dan diikuti oleh penari dan pengajar disabilitas dari GIGI Art of Dance Jakarta.

Selama berproses dalam proyek kolaborasi ini, ada banyak hal yang dicapai oleh peserta yang memiliki “kemampuan berbeda” (different ability) tersebut. Selain latihan-latihan pengenalan identitas dan potensi-potensi kekuatan peserta, residensi ini juga telah menjadikan kepercayaan diri anak-anak binaan GIGI tersebut bertumbuh.

Hal itu diungkapkan oleh Cita, salah seoang pengajar dan penari dari GIGI Art of Dance, pada sela-sela kegiatan di Studio TOM FFTV Institut Kesenian Jakarta, Jumat (19/7).

Sebagai pengajar, ia merasakan ada hal baru yang didapatkan anak-anak selama terlibat dalam kegiatan ini. Yaitu bahwa mereka dapat mengeksplorasi ide dan imajinasi mereka sendiri tanpa harus diarahkan atau diajarkan.

“Kami kaget ternyata mereka ada ide-ide yang bagus,” ungkapnya.

Bagi Cita, ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kepercayaan diri yang luar biasa, karena kemampuan itu belum pernah muncul ke permukaan selama pengajaran mereka di GIGI. Apalagi dengan mentor atau guru yang sama sekali baru dan berbeda bahasa, tetapi anak-anak binaan mereka bisa menemukan kekuatan baru di dalam diri mereka.

“Yang paling kelihatan adalah mereka percaya diri. Ini kan orang baru, tetapi mereka percaya diri,” imbuhnya.

 

Housni "DJ" Hassan dari Corali memperagakan model gerakan tarian pada hari pertama residensi.
Housni “DJ” Hassan dari Corali memperagakan model gerakan tarian pada hari pertama residensi.

Cita menceritakan, selama kegiatan residensi, anak-anak mereka benar-benar ditantang untuk mengeluarkan semua kemampuan mereka, terutama tantangan untuk dapat menghasilkan karya sendiri.

Hebatnya, mereka sangat cepat memahami tiap instruksi mentor, yang tidak diserap melalui kemampuan bahasa semata, tetapi bagaimana mereka harus merespon dengan gaya komunikasi yang sama sekali lain.

Cita telah bergabung di GIGI selama 7 tahun. Di sana, mereka mengajarkan banyak metode latihan, termasuk misalnya dengan membuat tarian atau pose tertentu. Artinya ada ruang bagi mereka untuk berkreasi.

Tetapi menurut pengakuannya, melalui residensi ini anak-anak down syndrom justru mampu menciptakan koreografi sendiri, meski diarahkan oleh guru yang berbeda. Ini menjadi sebuah kesadaran baru untuk mengembangkan lebih jauh kekuatan-kekuatan tersembunyi anak-anak disabilitas.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, selama berproses bersama dengan Corali dan Impermanence, terjadi pertukaran gagasan untuk menerapkan berbagai metode latihan yang tepat bagi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Artinya, selain ada metode dan skil-skil baru yang diterapkan keduat kelompok seniman dari Inggris tersebut, mereka juga menerapkan beberapa metode yang biasa diajarkan di GIGI.

“Di sini kita juga sharing, supaya kesenian di Indonesia juga harus berkembang. Semua kita punya ide baru yang saling mendukung,” katanya.

Sutradara Impermanence Josh Ben-Tovim menjadi salah satu mentor dalam residensi inklusif "Art and Disability".
Sutradara Impermanence Josh Ben-Tovim menjadi salah satu mentor dalam residensi inklusif “Art and Disability”.

Karena itu, ia berharap agar terjadi kesinambungan kegiatan-kegiatan yang berupaya mengembangkan kesenian disabilitas sebagaimana digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta. Karena melalui wadah ini, semua anak disabilitas bisa mengeksplorasi ide dan kemampuan mereka.

“Ini bagus sekali. Mereka banyak eksplorasi ide-ide seperti ini. Kalau bisa sih semuanya ikut,” tutupnya.

Sebagai informasi, kegiatan residensi ini merupakan salah satu bagian penting pada program DTP tahun ini karena Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ingin membangun sekaligus memperkuat praktik-praktik kesenian disabilitas Indonesia yang selama ini belum mendapat perhatian serius.

Kegiatan ini merupakan salah satu portofolio kerjasama Komite Teater DKJ dengan British Council Indonesia. Tahun ini, lembaga yang fokus pada pertukaran kebudayaan antara Inggris dan Indonesia itu berkomitmen untuk memperkuat kesenian disabilitas di Indonesia.

Direktur British Counsil Indonesia dalam acara konferensi pers pembukaan DTP 2019 di Lobby Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta.
Direktur British Counsil Indonesia dalam acara konferensi pers pembukaan DTP 2019 di Lobby Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta.

Tahun lalu, British Council telah menggagas salah satu kegiatan bertajuk “Festival Bebas Batas” untuk mengayomi kesenian disabilitas Indonesia. Kegiatan itu telah menjadi bagian penting dalam program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

*Daniel Deha