Resmi Dibuka, JILF Hadirkan Puluhan Penulis, Penerbit dan Komunitas Sastra

Portal Teater – Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 resmi dibuka Selasa (20/8) malam di Teater Besar Taman Ismail Marzuki Jakarta. Festival sastra internasional perdana di Jakarta yang digagas Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini menghadirkan puluhan penulis (sastrawan), penerbit dan komunitas sastra lintas benua.

Ketua Komite Sastra DKJ, yang sekaligus Direktur Festival dan Kurator JILF 2019, Yusi Avianto Pareanom mengatakan, dalam festival perdananya, panitia JILF menghadirkan 55 penulis, 26 penerbit, dan 21 komunitas sastra.

Para sastrawan, penerbit dan komunitas sastra tersebut datang dari berbagai belahan benua, antara lain dari Afrika Selatan, Botswana, Filipina, India, Inggris, Jerman, Malaysia, Mauritius, Palestina, Singapura, Siprus, Somalia, Thailand, dan Turki.

Dalam sambutannya Yusi menggarisbawahi, kekhasan festival yang mengusung tema “Pagar” ini menitikberatkan pada pembacaan karya sastra antarnegara Selatan, yaitu negara Asia dan Afrika.

Ia berharap festival ini menjadi wahana terciptanya ekosistem sastra global yang kuat, terutama dalam hal memberi kesempatan untuk lebih saling mengenal karya dan penulis di wilayah terebut.

“Saya harap ke depan kita bisa memproduksi sesuatu yang menarik, original, memprovokasi pemikiran, dan bisa dibagi,” katanya.

Ketua Komite Sastra DKJ dan Direktur Festival JILF 2019 Yusi Avianto Pareanom. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Ketua Komite Sastra DKJ dan Direktur Festival JILF 2019 Yusi Avianto Pareanom. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Menurutnya, selama ini khalayak pembaca Indonesia masih sangat asing dengan penulis dan karya dari negeri Selatan. Sebaliknya, mereka pun sama asingnya dengan sastra Indonesia. Maka festival ini dibuat untuk memecah kebekuan dan keasingan serta pagar yang hampir tidak terjembatani itu.

Dibuka dengan Pidato Kunci Shibli

Titik berat gagasan yang diproduksi dalam gelaran JILF 2019 ini sungguh-sungguh tampak dalam seremoni pembukaan tadi malam. Salah satunya adalah dengan adanya Pidato Kunci oleh sastrawan muda Palestina Adania Shibli yang berjudul “I Am Not To Speak My Language”.

Pidato Kunci itu dibuka terlebih dahulu dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan oleh Plt. Ketua DKJ Danton Sihombing, Yusi Avianto Pareanom (Direktur Festival JILF), dan Ibu Sri Hartini (Sekertaris Jenderal Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI).

Adania Shibli menyampaikan Pidato Kunci dalam seremoni pembukaan JILF 2019. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Adania Shibli menyampaikan Pidato Kunci dalam seremoni pembukaan JILF 2019. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Dalam pidatonya, Shibli menggambarkan pengalaman hidupnya di Palestina, serta pengekangan dan pembungkaman bahasa Arab oleh rezim kolonialis (Israel).

Melalui pembungkaman, kolonialisme bukan hanya menghasilkan kejijikan terhadap bangsa terjajah, tetapi juga terhadap bahasa mereka.

“Undang-undang Kebangsaan Israel 2018, selain mengesahkan Israel sebagai negara-bangsa orang Yahudi, juga melucuti bahasa Arab dari kedudukannya sebagai bahasa resmi di Israel atau Palestina di samping bahasa Ibrani, dan menurunkan derajatnya menjadi status khusus,” paparnya.

Musisi muda asal Yogyakarta, Frau. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Musisi muda asal Yogyakarta, Frau. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Selain Pidato Kunci oleh Adania Shibli ada juga penampilan musik oleh musisi muda Frau dari Yogyakarta.

Terciptanya Ekosistem Sastra Global

Sri Hartini dalam sambutannya mengatakan, festival ini adalah wadah bagi kaum muda untuk menggemakan sastra yang dapat memajukan kebudayaan Indonesia di skala internasional.

“Ini menunjukkan bagaimana sastra berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas,” katanya.

 

Sekertaris Jenderal Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Sri Hartini.-Dok. Eva Tobing/DKJ.
Sekertaris Jenderal Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI Sri Hartini.-Dok. Eva Tobing/DKJ.

Menurutnya, karya sastra tidak hanya menjadi milik negara atau entitas di mana karya itu lahir atau ada. Sebab di era globalisasi saat ini, sastra telah menjadi milik kepunyaan masyarakat global dan ekosistem sastra adalah ekosistem global.

Sastra yang merupakan salah atu media pemajuan budaya bertujuan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia. Ini menunjukkan bagaimana karya sastra dapat berinteraksi dengan lingkup yang lebih luas.

Danton Sihombing pun menandaskan, Komite Sastra DKJ mengagas JILF 2019 dengan tujuan membawa kesusastraan wilayah Selatan di dunia internasional. Karena sejauh ini wacana kesusastraan internasional selalu didominasi oleh negara-negara di bagian Utara.

“Bagaimana membuka pagar-pagar antar selatan dengan dunia internasional,” katanya dalam sambutan pembuka JILF.

Plt. Ketua DKJ Danton Sihombing. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Plt. Ketua DKJ Danton Sihombing. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Didukung Pemprov DKI Jakarta

Gelaran JILF tahun ini, dan untuk selanjutnya, mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Hal itu tampak dari keikutsertaan Pemprov DKI Jakarta sejak festival ini digagas oleh Komite Sastra DKJ.

Dalam acara konferensi pers JILF 2019 pada awal bulan ini, Gubernur Anies Baswedan menyatakan dukungan dan secara luas menjalin kerjasama dengan DKJ untuk menjadikan Jakarta sebagai salah satu pusat kesenian dunia.

Selain ingin menjadi Jakarta sebagai salah satu pusat ekosistem sastra dunia, Gubernur Anies berharap festival ini menjadi tempat lahirnya budayawan dan sastrawan kelas dunia.

Karena, menurutnya, bibit perkembangan sastra dapat bertumbuh dengan baik hanya jika lahir dari ketersediaan wahana atau ekosistem yang memadai dan inklusif.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri dan memantau langsung seremoni pembukaan JILF 2019. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri dan memantau langsung seremoni pembukaan JILF 2019. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Sementara pada malam pembukaan JILF 2019, Gubernur Anies pun ikut hadir memeriahkan seremoni pembukaan sekaligus menyaksikan langsung kemegahan desain perhelatan JILF.

*Daniel Deha

Baca Juga

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...