Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam penghargaan sebagai “ABDI ABADI” dari Federasi Teater Indonesia (FTI) malam itu rasanya melayang-layang di antariksa bagai astronot hilang kendali.

Apalagi disebutkan bahwa gelar ini adalah untuk yang pertama kali diberikan kepada seorang seniman teater, sebuah pemberian atau penghargaan yang tidak seperti biasanya.

Cukup menghabiskan waktu panjang bagi FTI bersidang untuk mencari sebutan yang tepat sebagai penghargaan kepada seorang seniman teater yang seumur hidupnya hanya mengabdi pada teater.

Berhari-hari, bahkan bertahun-tahun lamanya saya selalu terperangah setiap mengingat peristiwa bersejarah tersebut, yang tak kunjung menemukan jawabannya.

Yang pasti hal ini memberi asupan semangat yang semakin menyala menghangatkan jiwa raga saya untuk tak berhenti berkarya.

Sungguh tak ternilai penghargaan ini. Namun ini juga disertai sebuah tanggung jawab yang juga sangat berat untuk terus menerus memberi bukti nyata bahwa saya memang layak menerimanya.

Kata “abadi” tentu saja memiliki konsekuensi yang harus dijalani hingga hari akhir sehingga pengabdian berhenti selamanya.

Barangkali inilah yang menjadi jawaban kenapa kegelisahan terus bermunculan setiap selesai melakukan kegiatan dalam teater.

Patung yang saya letakkan di meja ruang kerja seolah memandang dengan senyuman, dan mendesiskan pertanyaan: “apalagikawan?”

Memang taka ada orang lain yang akan mempertanyakan hal ini. Barangkali yang menyerahkan piagam tersebut, juga yang menghadiri acara sudah tak pernah ingat lagi bahwa pernah berada di sebuah acara yang memiliki nilai sejarah teater Indonesia.

Barangkali juga hanya saya sendiri yang selalu ingat karena digedor terus menerus diingatkan bahwa saya adalah “abdi abadi”.

Sebuah bintang terang bernama “abadi” ini telah disematkan di dada dan bukan sebatas pajangan atau aksesoris.

Ia lebih mahal dari pajangan walau dari emas berlian termahal. Pajangan tidak akan menimbulkan pertanyaan, misalnya: mengapa sampai menyandang bintang “abadi”?

Jika saya ikuti pengembaraan imajinasi saya, mungkinkah penghargaan ini memiliki pesan tersirat yang begitu luas?

Misalnya, ini mensaratkan sebuah pesan kepada siapapun yang memiliki tanggung jawab besar dalam keikutsertaannya melaksanakan tujuan kemerdekaan bangsa.

Atau, sebuah pesan kepada siapapun yang telah bersusah payah hingga mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mengikuti Pilkada, Pilpres, atau menjadi Dewan Perwakilan Rakyat.

Demikian pula pesan yang akan terus memburu janji-janji kampanyenya sehingga terpilih karena banyak pendukungnya.

Kalau benar demikian, maka kebanggaan ini bisa menjadi peringatan bagi para penyandang jabatan yang langsung berhubungan dengan nasib kesejahteraan rakyat .

Sebuah peringatan agar selalu ingat pada tugas dan kewajiban yang diembannya; peringatan bahwa jabatan itu bukan menjadikannya sebagai majikan namun justru menjadi “abdi”.

Sangat mungkin pemberi penghargaan “abdi abadi” tidak ada pemikiran sejauh itu karena memang sudah ranah di luar kesenian.

Namun daya nalar dan imajinasi saya justru merasakan serta melihat bahwa ada banyak di luar seni dan kesenimanan yang justru memiliki ruang dan waktu untuk sebuah pengabdian yang menuju masyarakat yang adil makmur.

Mereka bukan berada di panggung-panggung kesenian karena keberadaannya tentulah berada di tengah 267 juta rakyat, tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Beberapa dokumentasi penerimaan penghargaan "Abdi Abadi" dari FTI di GBB TIM Jakarta, 26 Desember 2016. -Dok. Teater Keliling.
Beberapa dokumentasi penerimaan penghargaan “Abdi Abadi” dari FTI di GBB TIM Jakarta, 26 Desember 2016. -Dok. Teater Keliling.

Tanpa Garis Batas

Lalu apa hubungannya jika saya yang menerima penghargaan yang cukup berat dari FTI tersebut?

Ternyata gerak langkah seni teater sangat diperlukan bahkan tiada kata henti untuk hadir di panggung-panggung hati para pemimpin, para pejabat, wakil rakyat dan juga kepada rakyat baik yang telah merasa sejahtera ataupun yang masih melata.

Menjadi seniman yang hadir menjadi jembatan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Jembatan antara rakyat dan wakilnya, antara pemegang senjata dengan yang dijaga, antara pemegang uang dengan yang memerlukan.

Karena keberadaan rakyat akan “abadi”, sementara pemimpin dan wakil rakyat akan selalu berganti, maka jembatan yang bernama “abdi abadi” menjadi sangat penting.

Jembatan yang selalu membawa sirene peringatan agar tetap berada di jalur tujuan kemerdekaan 1945.

Saya begitu merasakan kedashyatan dari penghargaan ini. Sesuatu yang luar biasa dalam hidup saya.

Karena itulah, saya selalu beranggapan dan meyakini bahwa panggung seniman teater tidak sebatas di panggung teater namun telah tersedia di panggung manapun di luar, dan harus diisi.

Saya teringat ucapan Arifin C. Noer ketika Gubernur Ali Sadikin harus turun takhta karena sesuai undang undang hanya bisa dipilih 2 kali.

Arifin mengatakan bahwa kita harus berani dan mampu melihat keluar tembok Taman Ismail Marzuki (TIM). Jangan lagi terbuai dengan kemudahan yang sudah dinikmati.

Dari pernyataan sang maestro teater inilah saya kemudian yakin bahwa panggung di luar TIM memang memerlukan kehadiran teater.

Terima kasih Bung Radhar Panca Dahana, Ketua FTI, yang telah menyematkan bintang peringatan, yang terus mendorong saya agar harus turun ke bumi dan tidak lagi melayang bagai astronot.*

Rudolf Puspa di ruang kerjanya. -Dok. Teater Keliling.
Rudolf Puspa di ruang kerjanya. -Dok. Teater Keliling.


Selamat merayakan HUT ke-73 maestro Rudolf Puspa (lahir 29 Juni 1947). Tetap sehat dan semangat dalam berkarya.

Terima kasih telah berkontribusi membagikan pengalaman berteater sebagai bentuk literasi teater kepada publik Indonesia lewat tulisan di portalteater.com selama ini. Jiwa yang muda dan energik tak pernah mati, bahkan selalu tumbuh meski telah usia lanjut.

Salah satu putrinya, Sesarina Puspita, menulis sebuah catatan yang istimewa tentang ayahnya beberapa waktu lalu:

“Dia sutradara, serius sekali dia, di atas meja penuh dengan naskah. Di dinding tertempel banyak sekali poster pertunjukan karyanya. Sesekali terdengar gumamnya tanda semangatnya membuat naskah, dan sesekali terdengar suara ketikan keyboard komputer terdengar menderu penuh semangat. Ia kadang mengeluarkan bersin, kadang batuk-batuk tak kuat bergadang. Sesekali aku pernah terbangun di malam hari, kadang beliau masih di hadapan monitor, masih sibuk dengan naskahnya. Tidak bergeming, tidak bersuara, tidak melakukan aktivitas apa- apa. Kadang aku berpikir, mungkin begitulah tipe orang yang tidur kelelahan sambil membelalakkan matanya.”


*Rudolf Puspa adalah sutradara senior teater. Mendirikan Teater Keliling tahun 1974 dan turut membesarkan nama Teater Keliling di ranah teater Indonesia. Tahun 2016, ia dianugerahi penghargaan “Abdi Abadi FTI 2016” dari Federasi Teater Indonesia. Menetap di Jakarta dan telah menghabiskan waktunya untuk berkarya di bidang teater dan literasi teater bersama anak-anak muda ibukota. Ia dapat dihubungi melalui email: pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...