Rudolf Puspa: Karya Seni adalah Pemberian Total Seniman

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Hidup di negara Indonesia Raya yang telah berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustrus 1945 seharusnya mengenal kekuatan sejarah dan budaya, selain sumber daya alamnya yang begitu beragam.

Perbedaan suku, ras, agama, budaya justru menjadi satu kekuatan ketika mengental menjadi satu kesatuan dan persatuan seperti yang termaktub dalam sila ketiga Pancasila.

Dari beragamnya ajaran, ada satu yang saya percaya kita pernah dengar, yakni “memberi jauh lebih baik dari pada meminta”.

Begitu membaca pepatah tua ini, yang langsung tergambar adalah memberi dalam pengertian materi.

Ketika bicara soal materi maka tidak sedikit yang timbul dalam benaknya balasan apa yang akan diterima.

Jamak pemikiran kapitalis sudah sangat dominan menguasai alam pikiran manusia ketika bersinggungan dengan apa yang masuk dalam perhitungan materi.

Bahkan ajaran tradisi lama dari etnis tertentu sudah sering kita dengar “lu jual gua beli”. Dari ajaran luar ada pula yang dikatakan “take and give”, yang perlu kamar lain untuk membahasnya.

Oleh karena memberi berselimut unsur-unsur keuntungan pribadi dalam segala bentuknya, seperti rasa bangga, puas, tepuk tangan banyak orang, pujian maka merasa perlu saat memberi dibuatkan seremoni yang dipublikasikan secara meluas.

Sebelum ada televisi dan media sosial, publikasi masih menggunakan berita di Koran atau majalah dan radio. Hal ini penting karena menyangkut jabatan si pemberi.

Apakah mereka itu pejabat pemerintahan, perusahaan, lembaga sosial baik dari dalam maupun luar negeri.

Mereka umumnya memiliki kepentingan bagi kelangsungan jabatannya, perusahaannya, lembaga sosialnya.

Saya pernah diberi tahu bahwa banyak pemberi donasi punya syarat agar pemberian mereka bisa masuk berita di televisi.

Maka sering yang akan dibantu harus diteliti, apakah layak masuk ke pemberitaan di TV atau tidak. Kini sering kita dengar istilah: “tidak ada makan siang gratis”.

Jika kita mencoba menukik lebih jauh di luar pemikiran materialistik tentu arti “memberi” akan menjadi sangat berbeda.

Manusia bukan hanya miskin harta, lelah fisik, tapi ada kebutuhan yang menyangkut miskin rohani, lelah batin yang sering terasa lebih menjadikan penderitaan lahir tak terjawab.

Berapa banyak sudah korban kekerasan perang, pertikaian antar suku, pemilihan kepala daerah hingga presiden yang berdarah-darah, kerusuhan pertandingan sepak bola dan seterusnya yang banyak kita baca dan lihat dari siaran media sosial.

Belum lagi korban akibat bencana alam yang tak terduga. Mereka terutama anak anak dan ibu-ibu yang lebih membutuhkan bantuan bagi penyembuhan trauma dan berakibat pada melemahnya kekuatan daya pikir, daya hidup sehari-harinya.

Gudang-gudang bertumpuk bantuan sosial: sandang, pangan dan papan, yang pada awalnya tampak banyak korban berdesakkan untuk mengambilnya.

Namun kemudian menjadi sepi tak bergairah karena tumbuh rasa kehilangan yang sangat menyakitkan yakni gairah untuk hidup, bekerja, bersekolah yang berperan penting bagi menumbuhkan kepercayaan diri sehingga menemukan karakternya kembali dan sadar bahwa hidup bukan bergantung dari pemberian.

Semangat merebut kemerdekaan telah menjadi karakter bangsa sehingga ada rasa malu meminta-minta.

Rudolf Puspa bersama cucunya, Alexandria Kahagani di sela-sela latihan teater. -Dok. Rudolf Puspa.
Rudolf Puspa bersama cucunya, Alexandria Kahagani di sela-sela latihan teater. -Dok. Rudolf Puspa.

Seni: Sepenuhnya Memberi

Sebagai seniman, saya merasakan bahwa dalam situasi kejiwaan seperti ini kehadiran kesenian sangat dibutuhkan.

Saya melihat dan merasakan sendiri bahwa berkesenian tak luput dari kegiatan “memberi.” Untuk apa hasil karya yang dikerjakan tiada henti kalau bukan untuk diberikan?

Walau saya tetap menghormati seniman yang memang berkarya bagi kepuasan dirinya; tak perlu pameran, tak perlu penonton pertunjukkannya, tak perlu pendengar musiknya.

Saya lebih memilih berpemahaman bahwa karya seni adalah hasil karya manusia maka sang seniman akan memberikan ke sesamanya yang bernama manusia.

Seni rupa, tari, teater, musik, sastra, film adalah cetusan jujur dari hati. Suara hati, kata hati, nyanyian hati, cerita hati tentulah akan menyapa hati orang lain yang melihat, mendengar, membaca yang selanjutnya akan terjadi pertemuan dialog dari hati ke hati.

Inilah kebutuhan dasar manusia sejak lahir yakni berkomunikasi. Jutaan orang bisa berkumpul di lapangan terbuka nonton musik, memenuhi gedung-gedung teater baik yang berkapasitas 100 hingga 5000 orang, nonton konser simponi klasik, balet, tari atau baca cerpen, puisi atau mengunjungi pameran seni rupa, patung.

Berjingkrak mengikuti alunan musik, tertawa mendengar kalimat-kalimat lucu pemain teater komedi dan bisa bercucuran air mata merasakan kesedihan peran yang menderita dan berbagai bentuk histeria penikmat karya seni muncul dan itu sebuah kenikmatan, kebahagiaan.

Mereka pulang tidak bawa barang apapun karena yang mereka “dapat” adalah kebutuhan batin yang barangkali tidak ada hitungan kapitalistiknya.

Dan sang seniman sendiri mendapatkan kepuasan bahwa telah memberi sesuatu yang berharga yang sukar dinilai secara finansial. Maka terciptalah apa yang disebut “saling memberi”.

Menurut Rudolf Puspa, sistem pendidikan dapat menjadikan teater sebagai wadah untuk mendukung gerakan literasi. Foto: Komedi Don Juan karya Molierre saduran Teater Keliling dalam pentas di DKJ tahun 2022. Pertunjukan ini merupakan kolaborasi dengan Teater Bangkit FKUI. -Dok. Rudolf Puspa.
Menurut Rudolf Puspa, sistem pendidikan dapat menjadikan teater sebagai wadah untuk mendukung gerakan literasi. Foto: Komedi Don Juan karya Molierre saduran Teater Keliling dalam pentas di DKJ tahun 2022. Pertunjukan ini merupakan kolaborasi dengan Teater Bangkit FKUI. -Dok. Rudolf Puspa.

Inspirasi Gelora Kemerdekaan

Kemerdekaan Indonesia didapatkan dari pergerakan anak bangsa yang “saling” bergandengan, “saling” menyatupadukan paduan suara yang dahsyat waktu itu “merdeka atau mati” sepertinya masih kuat dijadikan inspirasi kita dalam merawat dan mengisi kemerdekaan.

Salah satu kegiatan yang bagi saya terasa sangat akan memiliki arti bagi menyongsong kehidupan baru yang sedang di siapkan adalah “memberi” berdasarkan satunya visi yakni bersama mensejahterakan, mencerdaskan bangsa.

Pasti akan segera terwujud jika kita mau sedikit banyak melengserkan ego kita dan berpikir positif bagi 270 juta rakyat sebangsa-setanah air.

Luangkan waktu untuk melihat dalam hati kita rasa benci, kecewa, curiga, baper yang mudah dibakar kekuatan negatif untuk bertindak kasar, menebar hoaks, fitnah yang hanya menimbulkan kerusuhan dan kerugian materi maupun jiwa.

Kembali kepada para seniman yang secara naluriah dikenal memiliki hati yang jujur dan kepekaan artistik sehingga mampu melihat, merasakan realita yang sedang terjadi dan selanjutnya mengolah menjadi sebuah karya yang mampu menjadi katarsis massal.

Kedahsyatan seniman adalah menyadari bahwa menjadi katarsis tidak untuk turut hanyut dalam penderitaan tapi justru menjadi cermin yang tidak menyilaukan sehingga siapapun yang bercermin akan melihat baik buruk dirinya.

Lalu senyum sang cermin pun akan memberi kekuatan sehingga berani merubah keburukan dan memperkuat kebaikan.

Daya estetika seni adalah dalam hal menyentuh, menyapa, berbisik, berdendang yang berdaya kasih sehingga segala kebatilan akan teredam baik secara pelan-pelan ataupun cepat tergantung berapa kuat kerak-kerak jahat itu melekat di hati.

Seniman bekerja dengan hati dan bukan sebuah konspirasi dengan kekuatan-kekuatan yang memiliki agenda kepentingan sosial politik dengan menggunakan tangan seniman.

Ajaran yang telah lama kita kenal yang hampir terlupakan bahwa “memberi jauh lebih baik dari meminta” tentu dapat kita genggam dan tuangkan ikut memberikan bantuan ikhlas bagi tujuan kemerdekaan bangsa yakni mensejahterakan dan mencerdaskan bangsa serta turut menjaga perdamaian dunia.

Bantuan nyata yang dapat dan memang dibutuhkan adalah “memberi” ide, gagasan, kritik positif, solusi untuk mengatasi segala penghalang yang menjadikan gerakan mencapai tujuan kemerdekaan terhambat atau berjalan terbata-bata.

Inilah “memberi” yang jauh dari bau kapitalistik atau sosial politik yang diberi bumbu manis seolah-olah wajar tanpa pretensi bahwa “tidak ada makan siang gratis”.

Jikalau kita memberi “makan siang gratis” tentunya bukan kepada orang perorang tapi kepada 260 juta rakyat.

“Memberi” bukan karena punya kedudukan atau perusahaan kaya atau lembaga sosial tapi karena adanya kecintaan pada kemerdekaan bangsa Indonesia agar tidak kehilangan “Raya”-nya.

“Memberi” merupakan laku dari roh kehidupan bangsa yang sudah ada sejak diperjuangkan keberadaannya yakni “gotong royong”. Merdeka memberi.

Salam literasi.

*Rudolf Puspa adalah pegiat senior teater. Saat ini menetap di Jakarta. Di usia yang tak lagi muda, Rudolf tetap produktif di teater dengan menyutradarai pementasan Teater Keliling dan terlibat dalam pengembangan literasi teater di kalangan anak-anak muda, terutama di sekolah-sekolah di Jakarta.

Baca Juga

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...