Rukun Pewaras, Sejarah Topeng, Nilai-Nilai, dan Upaya Terus Tumbuh

Portal Teater – Sekilas tentang Topeng Dhalang Sumenep. Konon, topeng dikatakan sebagai bentuk kesenian yang paling tua. Merujuk kepada penggunaan topeng pada masa lalu oleh penganut Animisme dan Hinduisme dalam melakukan ritus kehidupannya. Terutama ketika terjadi dis-order manusia dengan alam, seperti terjadi paceklik, bencana alam ataupun wabah penyakit.

Pada masa itu topeng berfungsi sebagai media berhubungan dangan alam ghaib, dengan sang hyang penguasa jagat, dengan roh-roh nenek moyang. Pertunjukan topeng dipercaya dapat menjadi alat efektif untuk berkomunikasi dengan hal tersebut agar diberi kedamaian dan dapat mengusir roh-roh jahat yang mengganggu.

Menurut babat Madura yang ditulis pada abad ke-19, kesenian topeng dhalang merupakan bentuk teater rakyat paling populer di pulau Madura. Topeng dhalang diperkirakan muncul pada masa awal abad ke-15 di Desa Proppo, kerajaan Jambwaringin Pamekasan pada pemerintahan Prabu Menak Senaya.

Menurut kisah, Prabu Menak Senaya inilah yang pertama kali membawa topeng di wilayah Madura. Karena ditemukan bukti keberadaan topeng di daerah Proppo, yang kemudian dijadikan model pembuatan topeng (tokop) dalam figur-figur (tokoh) pewayangan.

Mengingat hubungan Madura dengan kerajaan Singosari dan Majapahit, tak dapat dipungkiri bahwa topeng dhalang adalah kelanjutan dari teater topeng Jawa Timur tersebut. Oleh karenanya ada yang menyebut bahwa topeng dhalang sudah ada sejak abad ke-12 dibawa oleh Adipati Arya Wiraraja, seorang pangeran Hindu dari Singosari Jawa Timur, dikirim oleh Raja Kertanegara sekitar tahun 1270.

Akan tetapi dalam perkembangannya topeng Madura memilih nasibnya sendiri, menemukan bentuk dan karakternya sendiri. Terlebih ketika masuknya agama Islam ke pulau Madura. Terjadilah akulturasi model dan bentuk pementasannya. Unsur cerita yang dipentaskan banyak mengalami perpaduan, dengan masuknya unsur-unsur dakwah, dengan memasukkan nilai-nilai spritual, nilai-nilai moral, nilai-nilai spritual yang berlandaskan ajaran keislaman.

Model penggarapan topeng (tokop–bahasa Madura) dihubungkan dengan hasil modifikasi para wali, terutama bentuknya yang dibedakan dengan wajah manusia asli, lebih khusus lagi kesederhanaan bentuknya.

Dalam hal ini, topeng Madura juga sering disebut sebagai bagian dari perkembangan wayang kulit. Ketika orang menganggap wayang dari kulit sudah tidak lagi dapat memenuhi selera kreativitas mereka, maka mereka mengganti media kulit menjadi media manusia.

Berdasar bukti ada wayang kulit (di daerah Marengan) yang sekarang sudah punah. Menurut dugaan, disebabkan oleh hal itulah, wayang kulit di Madura hilang (tidak lagi dipertunjukkan).

Pada abad ke-18 topeng mengalami perkembangan yang signifikan dengan dimasukkannya sebagai bentuk kesenian istana. Di dalam istana bentuk topeng yang semula kasar, ragam hias dan warna dimodifikasi kembali. Bentuk dan kehalusan ukirannya diperindah, begitu pula dengan seni karawitan (klenengan) pengiringnya, seni pedalangan dan sekaligus pemangggungan/pementasan.

Pada masa itu adalah juga merupakan perkembangan sastra Madura. Diperkuat dengan hubungan kerajaan Madura dengan Mataram semakin kuat, sehingga pengaruh Mataram juga tidak dapat dielakkan. Perkawinan antara seorang keluarga kerajaan Mataram dengan keluarga Madura, yaitu Pangeran Paku Buwono VII (1830-1850) dengan salah satu putri raja Madura (Bangkalan) semakin mengokohkan jalinan kekeluargaan dua kerajaan ini.

Karena mertuanya senang dengan topeng dhalang, Paku Buwono VII memberikan seperangkat topeng lengkap dengan busana dan perlengkapannya. Kehadiran topeng hadiah dari Solo ini juga dianggap sedikit banyak memberi warna pada seni topeng Madura, terutama kehalusan ukirannya.

Seiring dengan situasi keraton Sumenep yang tidak selalu stabil, begitupun dengan keberadaan kesenian di istana, termasuk juga kesenian topeng dhalang. Sehingga dengan berkurangnya pengaruh kaum bangsawan, topeng dhalang kembali kelingkungan rakyat dan berkembang pesat.

Pada masa kemerdekaan, Topeng dhalang kembali berkembang luas. Kembalinya topeng dhalang dari kesenian istana ke lingkungan rakyat. Secara otomatis juga membuat topeng dhalang kembali mengalami perubahan karakter.

Seperti disebutkan oleh Sutrisno (1981-1982; 24-29,61; dalam Bouvier, 2002:112) yang menitikberatkan pada peran Bahasa pada seni topeng dhalang Madura; di keraton, yang digunakan adalah dialek Jawa Timur, sedangkan di desa yang di gunakan adalah bahasa Madura. Penggunaan bahasa Madura membuat topeng dhalang juga mengalami perubahan yang signifikan.

Memasuki dekade 1960-an topeng dalang kembali mengalami masa surut. Hal ini disebabkan banyaknya tokoh-tokoh topeng yang meninggal dunia, sedangkan tokoh-tokoh muda belum lahir. Setahun kemudian 1970-an topeng dhalang kembali bangkit.

Berbeda dari Topeng Bali dan Jawa

Perkembangan bentuk topeng (tokop) di Madura berbeda dengan topeng yang ada di Jawa, Sunda dan Bali. Topeng atau tokop atau tatopong yang dipakai topeng Madura pada umumnya lebih kecil bentuknya. Seukuran tangan orang dewasa. Topeng Madura umumnya tidak bisa menutup seluruh wajah penari topeng, terutama dagu, maka gerak dagu dalam setiap pementasan tidak dapat di sembunyikan. Justru hal tersebut menjadikan estetika tersendiri.

Penggambaran bentuk muka pada topeng dhalang juga terlihat pada warna topeng (tokop). Untuk tokoh yang berjiwa bersih dan suka berterus terang digunakan warna putih dan penuh kasih sayang (Yudistira), hitam, untuk tokoh arif bijaksana, bersih dari nafsu duniawi (tokoh Krisna). Untuk penggambaran anggun berwibawa digunakan warna putih dengan ornamen kuning emas (tokoh Subadra) sedangkan tokoh antagonis, licik jahat berwarna merah.

Ciri khas yang paling spesifik dari topeng dhalang Sumenep adalah penggunaan gungseng (gongsai, giring-giring) di pergelangan kaki penari. Tentu saja penggunaan gungseng ini tidak hanya sebagai hiasan melainkan sebagai sebuah alat bantu yang ekspresif sekaligus sebagai alat komunikasi para penari. Di samping sebagai alat komunikasi, dipakai sebagai kode untuk setiap perubahan gerakan dalam cerita.

Misalnya bunyi sreng panjang berarti aserek, dan bunyi kroncang-kroncang berarti para pemain sedang berjalan. Dan suara gunseng inilah yang membuat topeng dhalang terasa lebih mistik.

Kalau dilihat lebih jauh, seni pertunjukan topeng dhalang ini adalah perlambang bagi sifat manusia. Itu semua terlihat dari banyaknya topeng yang menggambarkan karakter dan sifat manusia dilihat dari bentuk dan warnanya. Biasanya topeng dhalang ditampilkan dalam sebuah cerita-cerita yang banyak digali dari kisah Ramayana, Mahabarata dan cerita wayang (pra dewa-dewa) menurut Suryanto.

Wilayah kabupaten Sumenep sebagai sebuah tempat kelahiran topeng, percampuran
kebudayaan yang tinggi, sistem sosial, ekologis, politik dan sosial ekonomi, memiliki bentuk dan gaya pertunjukan topeng dhalang yang berbeda-beda pada masing-masing wilayah ke- camatannya, yang menjadikan topeng dhalang Sumenep menjadi khas dan unik.

Beberapa kecamatan yang meiliki kelompok topeng dhalang di kabupaten Sumenep di antaranya; kecamatan Dasuk, Batang-batang, Gapura dan Kalianget. Setiap kelompok tersebut memiliki perbedaan dan keunikannya masing-masing.

Biasanya berangkat dari latar sosial, antropologi dan budaya masyarakatnya, perbedaan tersebut terlihat pada gerak tari (tandhang), iringan (kalenengan/karawitan), bentuk tokop (topeng) dan tata busana.

Model-model Topeng Dhalang Rukun Pewaras. -Dok. Mahendra
Model-model Topeng Dhalang Rukun Pewaras. -Dok. Mahendra

Keunikan topeng dhalang Sumenep tentu saja banyak dipengaruhi oleh ragam etnik dan budaya Sumenep. Dimana bentuk kesenian topeng ini adalah wujud pertemuan gaya kesenian Jawa Tengah ( Solo, Yogyakarta) Jawa Timur Selatan (Ponorogo, Tulungagung, Blitar) dan gaya kesenian Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Banyuangi, dan Situbondo).

Perpaduan itu membuat beberapa gerakan tari ini mengandung unsur dinamis dan musik iringan perpaduan dari berbagai etnik khususnya Jawa dan Bali.

Topeng dhalang Sumenep memiliki dua versi, yaitu versi Slopeng dan versi Kalianget. Yang setiap versi memliki keunikan dan kekhasannya masing-masing. Namun seperti banyak disebut oleh para pemerhati, topeng dhalang Slopeng (Dasuk) lebih tua. Terlihat dari bentuk tarian, tokop dan tata busana topengnya.

Dan di antara sekian kelompok yang memili- ki karakter pertunjukan yang khas dan unik, sampai saat ini masih terus hidup dan tumbuh, terus mengalami inovasi baik dalam penggara- pan/pementasan adalah Rukun Pewaras.

Topeng Dhalang Rukun Pewaras

Di antara Topeng dhalang yang unik dan terus hidup dan berkembang sampai saat ini adalah topeng dhalang Rukun Pewaras. Sebuah kelompok topeng yang berada di Desa Slopeng Dusun Tenggina Kecamatan Dasuk kabupaten Sumenep.

Berangkat dari ekotipe tegalan dan pesisiran, topeng dhalang Rukun Pewaras mempunyai corak yang dinamis. Rukun Pewaras terus mengalami perkembangan yang menarik dan berbeda dengan kelompok topeng yang lain. Dari spririt tegalan lahirlah gerak-gerak organik dan spontan, sedangkan dari pesisiran lahirlah nalar perlawanan topeng dasuk ini; sebagai topeng rakyat.

Keberadaan topeng dhalang Rukun Pewaras masih terus produktif melakukan pertunjukan topeng dan terus melakukan regenerasi, baik memberikan pelajaran tari, menerima studi kampus dan pelajar, melakukan kolaborasi dan lain sebagainya. Sebagai sebuah bentuk kecintaan dan kebanggaan akan tradisi dan budaya Sumenep. Untuk itu mereka terus melakukan upaya inovatif agar topeng semakin diterima.

Jika di awal disinggung sejarah menulis topeng dhalang berasal dari Pamekasan, Menurut Suryanto dan Sutipno (pimpinan Topeng Rukun Pewaras), topeng dhalang asli dari Sumenep, sebab topeng dhalang tidak hanya ‘tarian’ melainkan ‘bercerita’. Sedangkan di Pamekasan hanya bentuk tarian topeng saja, disebut topeng Getta’.

Berdasar pada pertunjukan tarian topeng getta’ yang masih ada di Pamekasan sampai sekarang. Disebutkan topeng dhalang lebih dekat dengan Wayang topeng, sehingga para pelaku topeng Dasuk di lain kesempatan menyebut topeng dhalang sebagai wayang topeng. Itulah sebabnya, mereka meyakini bahwa bahwa topeng dhalang asli Sumenep.

Mengingat bentuk pertunjukan/pementasannya yang memuat cerita, memerankan tokoh, berangkat dari cerita panji, Ramayana dan Mahabharata, dan seluruh cerita diatur oleh seorang sutradara (dalang).

Jika melihat perkembangan topeng, sejarah topeng dan masih bertahannya kelompok topeng di Slopeng Dasuk, maka dapat dipastikan bahwa topeng dhalang Dasuk sudah berkembang di sana sebelum evolusi paling akhir dari topeng keraton Sumenep.

Perkembangan topeng ini tidak lepas dari upaya masyarakat topeng untuk menghidupkannya. Spirit kerakyatan topeng dhalang Dasuk sangat terasa dalam suasana pertunjukan. Baik dari pilihan gerak, bentuk topeng, warna dan tata busana juga pilihan bahasa (dialog). Itu semua seperti sebuah perlawanan atas bentuk topeng daerah lain yang lebih kepada keraton.

Misalnya, tari ghambuh, menurut Supakra merupakan kesenian ritual pedesaan. Dia berbeda dengan tari branyak yang biasa dimainkan oleh kelompok topeng dhalang Kaliangat.

Evolusi teknik ini, menunjukkan keberadaan topeng yang lebih tua dari pada penggunaan gamelan, menunjukkan betapa lama tradisi topeng ini. Iringan musikal konon pertama-tama terdiri dari suara dan alat perkusi berupa tempayan (colo’ ban kelmo’: mulut –acapela dan tem- payan).

Kemudian muncul ghalundhang (sebuah alat musik yang masih bertahan di okol) yang digunakan oleh kakeknya, baru muncul klenengan besse (gamelan besi).

Demikian pula topeng pertama dari bilah bambu yang diukir, sedangkan gelungan terbuat dari sejenis kertas kardus tebal dan rambut dari sisal ( serrat nanas) yang di warnai hitam. Cat topeng dibuat dari daun-daunan, tetapi kini cat dibeli di toko.

Terakhir kain penyekat antara dhalang dan pemain musik di satu pihak, dan pemain topeng di pihak lain, tiada lain adalah kelambu biasa seperti yang banyak ditemukan pada tempat tidur di perdesaan, dan bukan kanvas bergambar; mengikuti pola pertunju- kan loddrok (ludruk, ketoprak) tanpa topeng di Jawa. Ditambahkan oleh Metro, pada awalnya busana (kostum) topeng juga terbuat dari kulit pohon dan kulit binatang.

Konon, Topeng dhalang Rukun Pewaras sudah ada sejak tahun 1817, dengan nama Rukun Moncar Are, diidentikkan dengan nama pencetusnya yaitu Moncari (matahari terbit). Muncari menciptakan sebuah tarian khas tari Kelono Tunjung Seto sebagai tari pembuka sebelum lakon cerita topeng dhalang dimulai. Dan tari ini menjadi sebuah tarian yang khas dan terus dimainkan oleh topeng dhalang Slopeng.

Kemudian, secara turun temurun diwariskan kepada anak cucunya. Menurut Suryanto (dalang muda, generasi ke-7 Rukun Pewaras), setelah di bawah kepemimpinan bapak Muncari, Rukun Pewaras mengalami beberapa pergantian nama dan pimpinan (ketua sanggar).

Setelah meninggalnya bapak Muncari dilanjutkan oleh putrannya bapak Mardisa dan berganti nama menjadi Rukun Pendowo. Setelah wafatnya Mardisa kelompok topeng ini dilanjutkan oleh putranya yaitu Luhbanjir dan berganti nama dengan Se Banjir.

Selanjutnya dilanjutkan oleh putra Luhbanjir yaitu bapak Busaha. Busaha memiliki putra bernama Muhni. Namun kesenian topeng dhalang tersebut setelah kematian Busaha tidak diturunkan ke- pada putra beliau, karena masih terlalu muda.

Maka dari itu, Busaha menyerahkan kepada saudaranya atau adik kandungnya sendiri yaitu Bapak Supakra yang dianggap lebih mampu menjaga dan melestarikan warisan budaya tersebut. Supakra mengganti nama kelompok topeng dhalang tersebut dengan nama Rukun Perawas.

Pada masa kepemimpinan Supakra ini, di era tahun 1980-an sampai 1990-an, topeng dhalang mengalami kejayaannya.

Irmawati (2004:137) menyatakan bahwa pada saat itu Topeng dhalang Sumenep (slopeng) melanglang buana ke belahan benua Amerika, Asia dan Eropa. Kota-kota besar yang disinggahi yaitu London, Amsterdam, Belgia, Prancis, Jepang dan New York (AS). Dan mendapatkan sambutan dan apresiasi yang tinggi diberbagai tempat tersebut. Kesenian topeng dhalang ini menjadi kesenian turun-temurun dari generasi ke generasi.

Satahun setelah wafatnya Supakra (1992), topeng dhalang Rukun Perawas, karena tuntutan permintaan tanggapan/pertunjukan topeng, dan adanya sedikit gesekan politik desa, akhirnya kelompok Topeng Perawas dipecah menjadi dua kelompok; satu kelompok tetap mempertahankan nama Rukun Perawas dan satu lagi saudaranya memberi nama Rukun Pewaras.

Rukun Perawas dilanjutkan oleh Suraji yaitu putra dari Supakra dan diikuti oleh saudaranya Suwandi dan Metro serta beberapa keponakannya. Sedangkan Rukun Pewaras dipimpin oleh Mas’id saudara satu adik bungsu dari Supakra yang diikuti oleh Masruna yang merupakan anak kedua Supakra dan Muhni, putra Busaha.

Saat ini topeng dhalang Rukun Perawas dipegang Bapak Metro (sebagai ketua), adik Suraji. Sedangkan Rukun Pewaras diwariskan kepada putranya yaitu Bapak Adi Sutipno, tepatnya 1995. Begitulah kedua kelompok topeng dhalang slopeng ini terus aktif sampai saat ini dan melakukan tanggapan (pertunjukan/pementasan) dimana-mana.

Di slopeng sendiri tercatat pernah ada organi- sasi topeng di luar dari silsilah keluarga di atas. Tapi masih terbilang sebagai famili jauh; pada tahun 1997 berdiri Rukun Pewaris di bawah pimpinan Mas Taip, kemudian Rukun Sutrisno pimpinan Mattasin, yang karena permasalahan regenerasi dan kurang diminati oleh masyarakat akhirnya dua kelompok ini bubar.

Ada perbedaan yang mencolok antara topeng Slopeng dengan topeng dhalang di tempat lain di Sumenep. Terutama terlihat dari bentuk dan warna topeng (tokop, tatopong), gerak tari (tandhang), dan juga pembabakan di dalam pementasan topengnya.

Semisal Gatot Kaca warna putih, akan tetapi di Kalianget berwarna merah. Perbedaan tersebut karena tentu saja dipengaruhi oleh nalar pesisiran, sehingga gerak dalam topeng dhalang Slopeng sering disebutkan lebih dekat dengan gerak-gerak kasar dan kaku, sedangkan seperti Kalianget lebih halus dan gemulai (tari-tarian).

Juga dalam gerak, menurut Suryanto selaku dalang muda Rukun Pewaras, menyatakan bahwa yang membedakan gerak tari topeng di Kalianget lebih halus (tari-tarian, kekeratonan) sedangkan Rukun Pewaras lebih ke gerak kaku keseharian.

Dilihat dari ragam tari yang ada dalam topeng dhalang, begitupun Rukun Pewaras masih menjalankan bentuk pakem tari topeng yang disebut tandhang; Tandhang alosan (gerak tari halus) biasanya diiringi gending puspo warno, Tandhang Gambhu (branyak-jawa, gerak pertengahan) biasanya diiringi gending gunung sari, jula juli atau baskalan, Tandhang kasaran atau tandhang ghalak biasanya diiringi gending gunjhing mereng.

Aneka bentuk Topeng Dhalang Rukun Pewaras. -Dok. Mahendra
Aneka bentuk Topeng Dhalang Rukun Pewaras. -Dok. Mahendra

Rukun Pewaras sudah melakukan banyak inovasi di dalam garapan topengnya, dengan manambahkan tari-tarian (tari pembuka topeng) sebagai hiburan dan untuk lebih menarik penonton. Dengan prinsip yang penting tidak merubah tandhang (pakem gerak tari) menurut Sutipno.

Falsafah Hidup Topeng

Topeng (tokobhi gan kopeng, artinya: tutup sampai telinga) dengan maksud bahwa wajah manusia itu adalah aurat. Sehingga karena wajah adalah aurat maka ia harus ditutupi, agar kita tidak mengalami rasa malu. Karena dari wajah kemudian fitnah bisa terjadi. Ini juga sejalan dengan falsafah orang Madura yang menyebut rasa malu dengan ‘tak andik mua‘ (tidak punya muka). Oleh karenanya dalam topeng dhalang muka ditutupi, menurut Sutipno.

Dengan ditutup wajahnya (dengan Tokop) juga seperti mengisaratkan bahwa hidup hanyalah memerankan apa yang sudah dituliskan oleh sang dalang (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai satu bentuk kesadaran bahwa manusia hanya menjalankan takdirnya sebagai hamba. Seperti para wayang memainkan perannya dalam lakon kehidupan. Menjalani hidup dengan penerimaan total (ikhlas).

Untuk dapat menjalani semua takdir yang telah disekenario oleh Tuhan, tentu saja diperlukan sikap ikhlas, dan sabar dan itu semua tergambar dari lubang mata topeng yang kecil. Sehingga jika orang yang tidak hati-hati dan sabar, ia tidak akan bisa bergerak dengan bebas saat memainkan topeng.

Hal aurat itulah, yang menurut Sutipno, sebab mengapa pemain topeng tidak ada pemain perempuan. Karena dalam pandangan Islam, wajah perempuan adalah aurat dan perempuan bisa menjadi fitnah bagi laki-laki.

Tentu saja pandangan ini dibentuk oleh bagaimana pandangan Islam terhadap perempuan. Akan tetapi dalam perkembangannya, sekarang topeng dhalang dalam rangka menarik penonton, diawal sebelum tari klono mereka menambahkan tari-tarian (giruan) hanya sebagai hiburan semata.

Tetapi munculnya penari perempuan juga bukan sebuah keharusan, artinya ada kemungkinan untuk mengganti dengan pemeran laki-laki jika pada suatu waktu ada kendala. Berati perempuan dalam konteks tari pembuka bukan merupakan pakem. Sedangkan dalam cerita tetap saja memakai laki-laki, dan biasanya peran perempuan dimainkan oleh penari yang muda.

Pertunjukan adalah en-maenan (permainan). Pandangan ini menarik untuk dibicarakan lebih jauh. Bahwa apa yang diperjuangakan di dalam pentas, tidak semata bagusnya pertunjukan (mendapat aplaus meriah, banyak undangan dan seterusnya) melainkan yang lebih penting dari semua itu adalah bagusnya tingkah laku atau prilaku (tengka bahasa Madura).

Sebab dalam konteks masyarakat Madura, tengka tidak ada gurunya; ia didapat dari pelajaran hidup. Sehingga dari topeng ini diharapkan kita akan mendapatkan pelajaran pitutur yang bagus (manis cacana), gerak yang santun (alos gulina) sehingga dalam pergaulan sosial kita dapat diterima oleh masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakatnya.

Sepenting amanfaat ka se alen (yang penting bermanfaat bagi yang lain).

Ungkapan ini menurut Suryanto adalah spirit bahwa hidup seharusnya bermanfaat. Begitupun dalam kerja topeng. Spirit bermanfaat ibarat sebuah pohon pisang, yang sebelum mati dia harus berbuah. Dan setelah ditebang, tumbuh tunas kembali dari batangnya.

Seluruh falsafah itu semakin jelas tergambar dalam kerja organisasi topeng Rukun Pewaras, yang memperlakukan seluruh anggota topeng sebagai keluarga. Tentu saja sebagai sebuah keluarga relasi yang dibangun adalah keutuhan, saling membantu dan semua dikerjakan secara bersama-sama. Kebersamaan seperti sebuah managemen kelompok yang membuat topeng terus bertahan dan tumbuh berkembang.

Gagasan, Gaya dan Usaha-Usaha yang Dilakukan

Gaya pertunjukan Rukun Pewaras, yang diturunkan dari bapak Supakra Sebanjir, dalam (Bouvier; 112) disebutkan sebagai pewaris tradisi-tradisi seni topeng rakyat, yaitu kesenian yang berkembang di luar keraton Sumenep, atau pewaris tradisi keraton yang lebih kuno dari tradisi-tradisi yang masih berlaku di daerah Sumenep.

Gaya itu dapat dikatakan kurang halus. Koreografi gaya itu lebih dinamis dan kurang berhias. Sedangkan Semar dan para punakawan memainkan peran yang lebih besar dan bahkan sering bersahutan langsung dengan penonton (di luar skenario dalang).

Seluruh gagasan itu tergambar jelas dalam gerak topeng yang merupakan unsur utama dalam tari. Supriono (2014: 33) menyatakan bahwa gerak merupakan bahasa komunikasi yang luas dan bervariasi dengan kombinasi dari beberapa unsur, dan terdiri dari beribu kata gerak. Sehingga dalam tari gerak tidak hanya dipakai untuk melakukan tarian, melainkan gerak dalam tari merupakan sebuah ungkapan yang memiliki makna dan arti yang berhubungan dengan keadaan alam dan kehidupan manusia.

Gerak dalam topeng dhalang Rukun Pewaras menggunakan tubuh keseharian, sesuatu yang diambil dari pengalaman tubuh keseharian mereka dalam menjalani kehidupannya. Tubuh keseharian menarik untuk dilihat sebagai se- buah capaian pengucapan gerak dalam sebuah pertunjukan topeng dhalang Slopeng. Sebab ia seperti melakukan antitesa atas gerak topeng yang diidentikkan dengan keraton; yang halus dan berhias.

Tentu saja semua itu dibentuk oleh gerak-gerak tegalan, dan juga gerak pesisiran. Dan pendekatan gerak keseharian ini memudahkan para pemainnya dalam melakukan tari juga mempermudah penonton dalam menangkap makna dan pesan-pesan yang tersirat dalam pertunjukan/pementasan topeng.

Bagaimana seorang penari topeng dhalang melakukan pendalaman karakter geraknya? Kita tidak bisa membayangkan bagaimana seorang petani/nelayan yang sehari-hari kerja di sawah/tegalan berecocok tanam, memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja keras menanam bercocok tanam ditegal, harus melakukan gerak tari.

Tentu saja tubuh sebagai medan tegangan pengalaman keseharian dengan peran yang di hadirkan seolah mendapatkan tegangannya di dalam gestikulasi gerak. Stilisasi dan simbolisasi tubuh tidak berada diluar gerak keseharian. Melainkan sepenuhnya keseharian setiap penarinya. Sehingga seperti disampaikan oleh Suryanto, gerak dalam topeng di Slopeng benar-benar dirinya (diri pelakunya), bukan ‘peran’.

Oleh karenanya dalam melakukan gerak tari, setiap tokoh sudah memiliki karakter sendiri. Tubuh yang kekar, ya begitulah adanya. Misalnya peran perempuan, mesti di mainkan oleh pemain yang paling muda.

Gerak kasar, dinamis dan keseharian adalah pilihan yang sangat menarik. Dilihat secara antropologis, bagaimana sebuah gerak diproduksi dengan tubuh keseharian. Sehingga ‘kejujuran gerak’ sangat penting. Bukan semata-mata gerak yang diindah-indahkan. Sebab sejatinya sebuah gerak harus lahir sebagai keseluruhan tubuh aktornya. Di sanalah fungsi pengalaman mendapatkan ruangnya dalam gerak.

Pertanyaannya bagaimana seseorang harus hadir sebagai tokoh (peran)? Ketika seorang penari topeng tampil di atas pentas, maka mereka sebenarnya sedang menjalani sebuah peran, artinya ia sebagai tokoh. Dan perah ini secara sadar, saperti setiap hari kita menjalani peran dari satu tokoh ke tokoh lain; dari anak menjadi teman, kadang anak, kadang musuh, kadang bapak dan seterusnya.

Begitulah seorang tokoh adalah aktualisasi dari seluruh peran-peran yang dijalani tersebut. Maka spontanitas harus dimiliki oleh seorang penari topeng dhalang. Sebab pertunjukan topeng dhalang mempunyai keleluasaan tema dan dan cerita. Sehingga komunikasi denga penonton dan kontektualisasi cerita dengan situasi lingkungannya sangatlah organik.

Seorang penari topeng dhalang mempunyai impulsivitas dan spontanitas gerak yang sangat baik. Sehingga bisa saja karena pertunjukan semalam suntuk, di antara menunggu peran untuk tampil mereka tidur, dan ketika bagian tampil dibangunkan dan secara otomatis mereka menari.

Impulsivitas itu didapat dari seluruh pengalaman kehidupannya sehari-hari. Sebagai petani tubuh mereka seperti tanah, liat dan lentur sehingga mudah menyerap seluruh kisah/cerita dan semua itu hadir sebagai dirinya sendiri. Berbeda dengan topeng Kalianget misalnya yang gerak tari topengnya, cendrung tari-tarian (unsur pemeranannnya) sangat kuat.

Keseharian, juga dirasakan dalam bahasa dalang. Di dalam menyusun dialog-dialog dalang topeng Rukun Pewaras juga menggu- nakan bahasa keseharian. Mereka memakai bahasa yang bebas, tidak harus berada dalam tingkatan bahasa, kadang kala dalam percaka- pan yang ekspresif mereka bisa misuh dengan bahasa kasar.

Kelir/panggung pementasan juga ternyata ikut mempengaruhi cara pertunjukan mereka. Jika dulu sebuah pertunjukan topeng dhalang bisa pentas di emperan/halaman rumah, dengan seluruh keterbatasan panggung, di mana kelir (dekorasi panggung) bisa hanya dengan memakai kalambu (kain yang biasa dipakai untuk korden atau tutup ranjang).

Kini kelir juga merupakan elemen perubahan topeng yang secara estetik ikut memperkaya topeng. Begitu pun dengan model panggung prosenium yang dibuat dari rejing, membuat mereka semakin gagah dengan seluruh kesederhanaan mereka.

Perubahan panggung dari awalnya di emperan, di halaman dan tegalan, menjadi kelir/pang- gung pementasan ini disebut sebagai tiga sisi menguasai penonton, atau tiga sisi dikuasai penonton. Ketika dulu topeng pentas di halaman atau di lapangan tanpa dekorasi, mereka menyebut tiga sisi menguasai penonton.

Tetapi sekarang ketika panggung menjadi procenium, mereka sebut tiga sisi dikuasai penonton. Karena penonton bisa melihat dari mana saja, sedangkan pemain benar-benar seperti dikepung tatapan penonton.

Penonton dalam hal ini, bukan saja orang yang datang untuk menyaksikan pementasan. Melainkan juga tuan rumah. Seperti layaknya topeng dhalang lestari karena terus ada masyarakat yang menghidupinya. Undangan pernikahan, atau ruwatan (rokat pandhaba, atau rokat desa, dll) adalah sebuah arena di mana mereka ikut membantu tradisi topeng tetap hidup dan berkembang.

Oleh karena itu strategi penguatan jaringan penonton ini bi- asanya dilakukan atas kekeluargaan dan saling percaya. Begitu pun penonton sebagai penonton. Mereka juga berfungsi sebagai bahan cerita (perluasan/pengembangan ide cerita).

Cerita yang diangkat, konteks peristiwanya, penajaman konfliknya, dan nilai-nilai (dakwah) yang disajikan dan menjadi penekanan, akan terkait langsung dengan sosial budaya politik masyarakat penanggapnya. Di sinilah penonton topeng dhalang harus dilihat dari dua sudut pandang; pertama sebagai konsumen (penanggap) dan kedua sebagai penonton (audiens yang hadir sebagai penonton).

Kelono Tunjung Seto

Salah satu keunikan dan perbedaan Rukun Pewaras dengan topeng di daerah lain, adalah maha karya leluhur mereka yaitu tari Kelono Tunjung Seto. Sebuah tari pembukaan pementasan topeng yang dikisahkan merupakan rangkuman gerak dari seluruh gerak topeng dhalang.

Tari Kelono Tunjung Seto ini diciptakan oleh leluhur mereka pendiri topeng dhalang Slopeng yaitu bapak Muncari yang kemudian secara turun-temurun diwariskan kepada penerusnya. Bahkan dulu sempat yang menarikannya hanya keturunannya saja.

Akan tetapi sekarang teri Kelono juga sudah diajarkan dan ditarikan oleh penari-penari yang bukan trah keturunan Rukun Pewaras. Dengan pertimbangan untuk menyebarluaskan dan semakin mempopulerkan topeng dan tari kelono tunjung seto.

Sampai saat ini tari Kelono Tunjung Seto masih terus ditarikan sebagai pembuka topeng Rukun Pewaras. Lebih lagi tari Kelono Tunjung Seto ini juga sudah seperti sebuah pakem tari topeng, yang tidak hanya ditarikan di acara pementasan topeng dhalang, melainkan juga dapat ditarikan di berbagai acara seperti penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.

Tarian ini, menceritakan makna lahirnya manusia ke dunia dan perjalanan hidupnya di bumi. Tunjung artinya bumi, dan seto artinya putih. Kelono tunjung seto dapat diartikan sebagai kisah perjalanan manusia dari pertama menginjakkan kaki di bumi hingga dewasa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijaksana.

Di dalam kisahnya tari Kelono Tunjung Seto dalam pertunjukan topeng selalu memanggil empat jin yang menjaga empat penjuru arah mata angin, timur, barat, selatan uatara. Ke empat jin ini sebagai lambang 4 nafsu manusia; lawwama, (angkara murka), amarah (mudah marah), sufiyah (nafsu birahi), mutmainnah (keagamaan, kebenaran dan kejujuran).

Namun yang selalu hadir hanya satu jin. Itulah sebabnya, tari Kelono Tunjung Seto dalam pertunjukan topeng disebut “Jin papat klono pancer” dengan arti bahwa seorang manusia harus mampu menyeimbangkan keempat nafsunya untuk menjadi manusia sempurna.

Periset bersama Dhalang dan pemain Topeng Dhalang Rukun Pewaras. Sumber Foto: Mahendra

Prosesi Pertunjukan Topeng Dhalang Rukun Pewaras

Setiap pertunjukan/pementasan topeng dhalang Rukun Pewaras memiliki model pertunjukannya sendiri. Biasanya dibuka dengan gending-gending atau biasa disebut ghiruan.

Jika pentas dalam acara mantenan, setelah ghiruan dilanjutkan dengan prosesi temangan (temang manten). Sebuah prosesi kejungan, suluk dan tembhang yang merupakan nasihat dan petuah-petuah bagi kedua mempelai. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan topeng, yang biasanya dibuka dengan tari klono tunjung seto. Sebuah tarian seperti sudah dibahas di atas.

Kemudian dalang mulai membuka jalannya cerita dengan pemaparan prolog/panorama. Disusul dengan suluk dan tembhang alunan tembang ini menghantar penonton kepada inti cerita yang akan dipentaskan. Suluk dalam dialog dalam topeng memakai bahasa Madura. Tetapi dalam suluk pembukaan kadang menggunakan bahasa Jawa kuno.

Dalam prosesi pertunjukan setiap tokoh yang menggerakkan adalah dalang. Ki dalang juga sekaligus pemimpin klenengan/gamelan, menyajikan suluk, mengucapkan dialog. Semua pemeran tokoh (lakon) tidak ada yang berbicara kecuali punakawan. Dalang dalam hal ini duduk di samping atau di belakang layar.

Lakon atau kisah yang diceritakan, sarat dengan pesan-pesan kebaikan dan kebenaran, kisah percintaaan, intrik kekuasan, adegan heroik, dan perang saudara dengan beragam petuah dan filosofi hidup. Di sinilah justru uniknya topengt dhalang ketika gerak dan tarian, membuat pertunjukan menjadi berbeda; ada nuansa ekspresif dan mistis. Penonton tidak merasakan bahwa mereka hanya bergerak dan seluruh dialog dan kisah dalang yang menceritakan.

Terakhir biasanya ditutup dengan rokat (ruwatan) jika si penanggap mempunyai hajat untuk meruwat anaknya misalnya, atau pekarangan rumah, atau rokat tase’ atau rokat desa. Prosesi ruwatan (rokat) ini kadang menjadi kisah sendiri terpisah dari inti cerita topeng sebelumnya.

Periset bersama para pemain Topeng Dhalang Rukun Waras. -Dok. Mahendra.
Periset bersama para pemain Topeng Dhalang Rukun Waras. -Dok. Mahendra.

Teater Tradisi Masyarakat Pinggiran

Topeng dhalang hidup sampai sekarang dari undangan dan tanggapan masyarakat. Jadi secara tidak langsung masyarakat justru yang ikut menghidupi kesenian topeng dhalang.

Meski kita tahu untuk mengundang kelompok topeng dalang diperlukan biaya tidak sedikit, kisaran 6-10 juta untuk daerah desa setempat, untuk luar daerah atau pulau, 20-30 juta, tetapi mereka dengan setia tetap menanggap dan merayakannya.

Menurut mereka, menanggap topeng dhalang tidak hanya sebagai hiburan semata melainkan juga sebagai doa (rokat) atas yang mahakuasa. Topeng dhalang bagi masyarakat desa tidak hanya semata tontonan akan tetapi juga tuntunan, yang dipercaya di sana mereka akan mendapatkan pelajaran hidup dan petuah-petuh kehidupan.

Sebagai seni pertunjukan rakyat, teater topeng dhalang dipentaskan untuk memeriahkan berbagai acara, upacara perkawinan, selamatan desa, dan petik laut, khaul (peringatan yang berhubungan dengan tokoh) serta ritual rokat. Adapun kisah yang dimainkan akan disesuaikan dengan hajatannya. Misalnya jika ruwatan untuk anak tunggal maka mengambil kisah tentang Pandhaba.

Saat ini tercatat ada beberapa kelompok topeng yang masih bertahan dan terus eksis dan melestarikan topeng dalang, baik di Kalianget ataupun Desa Slopeng Dasuk. Salah satu di antaranya Rukun Pewaras.

“Tragedi Pancala”: Topeng Dhalang Rukun Pewaras

Kisah “Tragedi Pancala” diambil dari petilan kisah wiracarita tokoh Pandawa. Di mana kisah “Tragedi Pancala” sendiri adalah kisah intrik kekuasaan dengan konflik percintaan. Seolah, kekuasaan tidak bisa dilepaskan dari penaklukan atas perempuan.

Dalam banyak kisah, perkawinan pada saat itu adalah bagian dari strategi kekuasaan dalam rangka penaklukan, juga sebagai pertahanan kekuasaan. Perkawinan yang sejatinya sebuah prosesi sakral dalam kisah sering kali dijadikan ajang perebutan kekuasaan semata.

Begitulah konflik abadi Kurawa dan Pandawa menjadi sebuah perlambang atas konflik manusia sampai saat ini.

Alkisah, tersebutlah, Raja Parang Gubarjo yang lamarannya kepada putri kerajaan Pancala ditolak oleh prabu Drupada. Saat itu juga membuat Raja Parang Gubarjo murka. Karena merasa dipermalukan, Raja Parang Gubarjo marah besar dan merasa dilecehkan, untuk itu dia bertekad akan menculik Srikandi dari kerajaan Pancala.

Dirancanglah strategi untuk menculik Dewi Srikandi, sampai pada saatnya dibawa larilah dewi srikandi. Sementara mengetahui hal itu, Arjuna sebagai tunangan Dewi Srikandi berusaha mengejar dan menangkap si penculik. Akhirnya Arjuna dapat menyusul dan bertemu dengan si penculik.

Terjadilah pertarungan sengit. Namun dalam pertarungan tersebut, Arjuna kalah. Di tengah situasi yang tidak menguntungkan tersebut, Bima datang menyusul. Akhirnya, kedatangan Bima merubah keadaan. Terjadilah pertarungan sengit, Bima dapat menaklukkan Raja Parang Gubarjo, sehingga raja Parang Gubarjo tewas.

Atas kemenangan tersebut, bergembiralah seluruh penduduk kerajaan Pancala karena putri mereka akhirnya dapat kembali ke kerajaan dan selesailah tragedi yang menimpa kerajaan mereka”.

Dan setiap konflik yang terjadi mengajarkan kita untuk terus percaya bahwa kebenaran akan menang dan kebathilan pasti akan kalah.

Tentang Rukun Pewaras

Rukun Pewaras adalah sebuah organisasi seni pertunjukan tradisi Wayang Topeng bertempat di Desa Tenggina, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumemep. Organisasi nirlaba ini bersifat kekeluargaan, dan dalam bentuk pertunjukannya menggunakan peraga manusia memakai topeng, berperan sebagai wayang-wayang, media untuk memerankan tokoh seperti pewayangan dengan membawakan cerita dari versi Ramayana dan Mahabharata.

Sedangkan untuk pengiring pertunjukan menggunakan alat musik Gamelan Jawa Laras Selendro. Dan sebagai pembawa cerita dalam pertunjukan dibawakan oleh seorang dalang dengan menggunakan bahasa Madura sebagai narasi dan dialog pertunjukannya. Durasi pertunjukan semalam suntuk.

Dalang Rukun Pewaras bernama Suryanto, atau lebih dikenal dalam kelompok topeng dhalang sebagai Ki. Ian Pewaras Luh banjir. Lahir di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, 3 juli 1984. Menikah denga Fitri dan memiliki seorang anak.

Selain sebagai dalang (sutradara) topeng dhalang, ia juga sebagai komposer musik karawitan dan peraga (topeng). Dia adalah seorang multi talenta, darah seni sudah diwariskan secara turun temurun dalam keluarganya.

Sebagai generasi ke-7 keluarga topeng dhalang Rukun Pewaras. Semua kemampuan itu ia dapatkan sebagai bakat alam. Hampir seluruh keterampilannya dalam seni topeng dhalang didapatkan secara otodidak.

Sudah banyak pertunjukan topeng dhalang yang diikutinya, juga melakukan kerja-kerja ko- laboratif dengan sekolah-sekolah (baik Sumenep atau Jawa Timur) juga lembaga pendidikan seni (STKW, Unesa Sendratasik maupun Institut Seni Indonesia (ISI)) baik sebagai tutor atau komposer karawitan atau sebagai dalang.

Tercatat ada beberapa prestasi yang pernah didapat, di antaranya:

– Sebagai penata musik terbaik festival karya tari tradisional Kabuapaten Sumenep (FKT 2007)
– Sebagai Pengrawit Festival Upacara Adat di Sumenep (2008)
– Sebagai Pemusik Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara di Jakarta (2010)
– Mendapatkan penghargaan sebagai seniman berprestasi terhadap pengembangan seni dan budaya di Jawa Timur (2016)
– Sebagai penata musik pada pertunjukan 400 orang Tari Kolosal ‘Keris’ hari jadi kabupaten Sumenep (2014)
– Penata musik terbaik Festival karya Tari Jawa Timur (2017)
– 10 Penata Musik terbaik Festival karya Tari Jawa Timur (2018)

Tim Kerja

Supervisor: Adi Sutipno S.Pd (ketua Sanggar Rukun Pewaras)

Pimpinan Produksi: Abu Tapa Luhbanjir Dalang/Sutradara : Ian Pewaras Luhbajir (Suryanto)
Pengrawit: Abu tapa, Suli, Musa’I, Latif, Ahmad, Udan W

Pemain: Sugiyanto, Atmuni, Matsuro, Supriyadi, Mashuri, Rosihan, Fauzi, Buhari

Bahan Bacaan:

Irmawati, Rosida (2004) Berkenalan dengan kesenian Madura, Surabaya: SIC.

Bouvier, Helena (2002). Lebur! Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hasanah, Raudlatul (2014) Analisis Struktur Tari Ghambuh Pamungkas Desa Slopeng Kabupaten Sumenep, Tugas akhir Studi S1 Seni Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Wiyanti, Nurma (2017) Tari Klono Tunjung Seto, Program Studi Pendidikan Tari dan Musik Fak. Sastra Universitas Negeri Malang.

Nurcahyo, Henri, -Ed (2009) Konservasi Budaya Panji. Malang: Dewan Kesenian Jawa Timur dan Bayu Media Publising.

*Penulis adalah salah satu periset dalam program Pekan Teater Nasional (PTN) 2019 di Samarinda. Naskah ini diambil dari Katalog PTN 2019.

Baca Juga

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...