Sanggar Laguna dan Orang Muda di Antara Tumpukan Sampah

Portal Teater – Sanggar Laguna, kelompok teater asal Kepulauan Seribu Selatan menampilkan “Jaring Sampan” pada Kamis (28/11) malam. Pertunjukan yang digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta itu sarat akan pesan ekologis.

Para penonton yang juga pengunjung Festival Teater Jakarta (FTJ) 2019 disambut oleh sebuah imbauan anti-mainstream di atas panggung.

Video bertuliskan “Silahkan Buang Sampah Sembarangan!” dengan sampah plastik yang bergerak silih berganti tanpa henti, seolah menjadi satire yang tidak bisa dielakkan penonton.

Selain itu, sampah-sampah juga bertebaran di atas kepala penonton, ditempatkan dalam jaring penangkap ikan yang dipasang dari setiap sudut gedung pertunjukan. Beragam jenis sampah bahkan diminta dengan sengaja untuk dibuang di atas panggung.

Para aktor bintang tamu dari Sanggar Laguna Kepulauan Seribu dalam pementasan "Jaring Sampan" pada Festival Teater Jakarta 2019, Kamis (28/11) malam. -Dok. portalteater.com
Para aktor bintang tamu dari Sanggar Laguna Kepulauan Seribu dalam pementasan “Jaring Sampan” pada Festival Teater Jakarta 2019, Kamis (28/11) malam. -Dok. portalteater.com

Sanggar Laguna kemudian membuka pertunjukannya dengan sebuah video dokumenter yang mengisahkan buruknya masalah sampah di pulau-pulau.

Pencemaran lingkungan, sampah plastik yang sulit terurai, ketidakpedulian masyarakat, hingga biota laut yang semula melimpah berlahan berkurang dan bahkan hampir punah sama sekali menjadi adegan pembukaan.

Di tengah persoalan pelik itu, Kong Untung yang telah memasuki usia cukup senja menyadari bahwa masalah sampah di Pulau Untung Jawa sudah sangat memprihatinkan.

Kong Untung menjadi pelaku sejarah yang pindah dari Pulau Ubi ke pulau tersebut di akhir masa kekuasaan Belanda di Batavia.

Di penghujung usianya, ia mulai mendedikasikan sisa hidupnya untuk membersihkan sampah-sampah yang dibuang warga dan juga wisatawan.

Di tengah aktivitasnya itu, generasi muda dan semua penghuni pulau sibuk dengan urusan masing-masing.

Mencari ikan berubah menjadi aktivitas untuk sekadar mengisi waktu luang. Jualan bakso dan membuka warung kini menjadi mata pencaharian nelayan.

Sementara itu, jaring kini seolah beralih fungsi dari penjaring ikan menjadi penjaring sampah.

Aktor dan kru Sanggar Laguna dari Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, dalam pentas" Jaring Sampan", Kamis (28/11) malam. -Dok. portalteater.com
Aktor dan kru Sanggar Laguna dari Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, dalam pentas” Jaring Sampan”, Kamis (28/11) malam. -Dok. portalteater.com

Pesan Ekologis

Sanggar Laguna dalam pementasan “Jaring Sampan” disutradarai oleh Aditya Jusendra.

Dalam kelompok teater yang bermula dari kerja kolektif Bambang Prihadi dan Lab Teater Ciputat pada Februari 2019 ini, 70 persen komposisinya berisi anak-anak muda yang masih belia.

Mereka adalah anak-anak Karang Taruna Kelurahan Kelurahan Untung Jawa. Beberapa anggota lain juga merupakan anak-anak SMP dan SMA di wilayah tersebut.

Pementasan “Jaring Sampan” yang melibatkan banyak anak muda patut diapresiasi. Betapa tidak, persoalan lingkungan hidup selalu menjadi isu yang tidak seksi dibanding isu-isu lain di tanah air, terutama bagi generasi milenial.

Padahal, jika mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010 ada setidaknya 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Sekitar 4,8-12,7 juta ton diantaranya terbuang dan mencemari laut.

Indonesia sendiri memiliki populasi pesisir sebesar 187,2 juta yang setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48-1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut sudah mencemari lautan.

Data lain juga mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia. China memimpin dengan tingkat pencemaran sampah plastik ke laut sekitar 1,23-3,53 juta ton/tahun.

Padahal kalau boleh dibilang, jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa.

Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09-0,24 juta ton/tahun dan menempati urutan ke 12. Ini artinya, memang ada sistem pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia.

Aksi komikal para aktor Sanggar Laguna mengundang gelak tawa dari penonton lewat pentas "Jaring Sampan' di Teater Besar, TIM Jakarta, Kamis (28/11) malam. -Dok. portalteater.com
Aksi komikal para aktor Sanggar Laguna mengundang gelak tawa dari penonton lewat pentas “Jaring Sampan’ di Teater Besar, TIM Jakarta, Kamis (28/11) malam. -Dok. portalteater.com

Sanggar Laguna dalam hal ini mencoba menyingkap pola pikir penonton untuk berpikir melawan arus. Kampanye tentang masalah sampah yang selama ini biasa saja menjadi tidak biasa dan mudah diingat ketika berada di tangan Sanggar Laguna.

Keterlibatan anak muda dalam pertunjukan “Jaring Sampan”, secara tidak langsung membuat Sanggar Laguna menanamkan nilai-nilai positif yang bernilai lebih (magis semper) bagi aktor-aktor mereka.

Kerja kolektif yang menyinggung soal sampah bisa jadi cukup mampu memberi efek kejut bagi siapa saja untuk berbuat lebih, ketimbang bicara banyak. Kong Untung adalah pesan sekaligus catatan untuk itu.*

Baca Juga

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Promosi Teater kepada Pelajar, Mahasiswa IKJ Pentaskan “Pinangan”

 Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta akan mempersembahkan drama komedi "Pinangan" karya Anton Checkov (saduran Suyatna Anirun)...

Direktorat Kesenian Dihilangkan, “Quo Vadis” Kerja Kesenian?

Portal Teater - Komitmen dan konsistensi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk memajukan kebudayaan di Indonesia benar-benar diuji lewat kebijakannya merombak struktur dan...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...