Sastra Betawi, Antara Kerja Lintas Kesenian dan Kebudayaan

Portal Teater – Sofie, Raisa dan Syaiful, ketiganya masih berumur 15 tahun, tampak antusias mendengar pemaparan sastrawan Chairil Gibran Ramadhan di Lobby Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (6/8). Ketiganya adalah siswa SMKN 2 Jakarta, jurusan multimedia.

Berasal dari sekolah kejuruan, itu tidak menghalangi niat mereka untuk ikut hadir dalam perbincangan menyoal sastra Betawi. Dalam lokakarya bertemakan “Cerpen Betawi” itu, mereka tidak sendirian, tapi ditemani oleh guru mereka, Drs. Rustadi, guru Bahasa Indonesia.

Mereka mengakui, khazanah kesusastraan sangat jauh dari kehidupan mereka. Belum banyak yang mereka ketahui tentang sastra, begitu pula dengan sastra Betawi. Meski mereka sendiri adalah anak-anak muda asli Betawi, lahir dan besar kota ibukota.

Tapi berbeda dengan Raisa dan Syaiful, Sofie ternyata sangat mencintai dunia sastra. Ia sering menulis cerita pendek (cerpen), puisi, bahkan sempat menulis naskah novel, meski tidak pernah diselesaikannya lagi.

Matanya berkaca-kaca ketika ditanyakan tentang pengalamannya menulis karya sastra. Sofie, anak muda yang hidup di tengah pusaran kosmopolitan global ini ternyata di dalam jiwanya tersimpan mutiara seni yang butuh ekosistem untuk dimekarkan.

Lantas, Sofie, seperti karakter khas orang Betawi umumnya, begitu terbuka, ceplas-ceplos mengemukakan niatnya untuk mengangkat cerita tentang kehidupan masyarakat dan kompleksitas permasalahan komunitasnya ke dalam karya film, bila ia, dan kedua temannya, berada di tingkat akhir SMK.

Saat itu, mereka dituntut agar bisa memproduksi film pendek sebagai tugas akhir. Raisa, begitu juga Syaiful, mengangguk-angguk kepala menyatakan persetujuan.

Mereka bercerita, sebagai siswa jurusan multimedia, kerja mereka tidak terlibat langsung dengan karya sastra. Tapi ternyata ada juga kerja kesenian di sana, yaitu mendesain film berdasarkan naskah-naskah drama, novel atau cerita-cerita pendek yang telah ada.

Itu berarti kerja mereka sebenarnya tidak terpisah dari mata rantai kerja kesenian. Toh, untuk memproduksi film, mereka perlu perenungan, pemahaman akan skenario, dan kemampuan visual agar setidaknya dapat masuk ke dalam kerja kesenian itu. Era sekarang, instalasi multimedia adalah prospek baru praktik kesenian.

Rustadi dan ketiga siswanya dalam workshop "Cerpen Betawi" di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Selasa (6/8).
Rustadi dan ketiga siswanya dalam workshop “Cerpen Betawi” di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Selasa (6/8).

Lebih Mengenal Budaya Betawi

Sofie, Raisa dan Syaiful mengaku sangat senang menjadi utusan sekolah dalam kegiatan Pekan Sastra Betawi di tahun perdananya ini. Selain betemu langsung dengan para sastrawan terkenal Betawi, mereka menjadi lebih dekat mengenal budaya Betawi dalam beragam acara dipentaskan. Terutama, dengan keikusertaan mereka dalam lokakarya sastra Betawi.

Rustadi, guru mereka, pun mengaku senang dengan kegiatan workshop ini. Sebagai orang yang suka pada dunia sastra sejak masa kuliah, khususnya menulis puisi, Rustadi mengungkapkan bahwa ia belum begitu mengenal budaya dan karya sastra Betawi. Karena itulah di sekolahnya, ia hampir tidak pernah mengajar sastra Betawi.

Selain karena ia tidak begitu mengenal budaya Betawi, karena berasal dari Yogyakarta, ia juga hanya mengikuti silabus yang hanya menyangkut para sastrawan terkenal Indonesia. Hal itu juga berlaku di hampir semua lembaga pendidikan di Indonesia.

Sebagi peminat sastra, Rustadi pun meneguhkan komitmennya untuk menerapkan sistem pembelajaran yang lebih kontekstual di kelasnya. Apalagi, mayoritas siswanya di sekolah adalah anak-anak Betawi.

“Saya juga tertarik mendalami dan mengupas sastra Betawi. Karena ini akan memberikan kahzanah tersendiri terhadap sastra Betawi. Apalagi anak-anak kami mayoritas merupakan orang Betawi,” ungkapnya.

Rustadi mengamini apa yang dikatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan: Indonesia mempunyai minat baca yang tinggi, tapi kualitas membacanya sangat rendah.

Hal itu terbukti dalam cara belajar anak-anaknya di sekolah. Bilamana mereka diminta untuk membaca buku di perpustakaan, sekolah, ada kecenderungan umum anak-anak tidak membaca buku, tapi membaca apasaja di handphone mereka.

Begitu pula ketika anak-anak didik diminta untuk membaca buku di kelas. Tampak bahwa mereka cukup kaku untuk membaca teks dengan baik. Inilah dampak langsung dari kebiasaan membaca teks (buku) melalui gadget yang dibaca dalam diam, dan tidak melalui ucapan.

Rustadi berharap, kegiatan Pekan Sastra Betawi ini dapat membangkitkan khazanah Betawi, tetutama menumbuhkan minat baca orang-orang Betawi, termasuk anak-anak didik sebagai generasi muda.

Para peserta workshop diminta untuk menulis cerpen dalam workshop "Cerpen Betawi" di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Selasa (6/8).
Para peserta workshop diminta untuk menulis cerpen dalam workshop “Cerpen Betawi” di Lobby Teater Kecil TIM Jakarta, Selasa (6/8).

Tidak Melulu Orang Betawi

Keinginan Rustadi untuk lebih mengenal budaya dan sastra Betawi benar adanya, dan patut diapresiasi. Karena sejak dulu, sastrawan yang menulis tentang kisah orang-orang Betawi dan kebudayaannya tidak melulu orang Betawi asli.

Mereka adalah orang non Betawi, yang hidup di Betawi dan malah menulis cerita tentang Betawi dengan sangat baik. Itu berarti sastra Betawi dalam tataran ini lebih merupakan sebuah kerja kultural, yang penulisnya tidak serta merta terikat secara kultur dengan komunitas Betawi, tapi malah merupakan orang dari kebudayaan yang berbeda, yang telah terasimilasi dengan budaya Betawi.

Hal itu dituturkan Sam Mohtar (60 tahun), dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Misalnya, SM Ardan penulis cerita “Nyai Dasimah” dari Medan dan Aman Datuk Madjoindo, penulis “Si Doel Anak Betawi”, yang kemudian menjadi film “Si Doel Anak Sekolahan”, yang berasal dari Supayang, Sumatra Barat. Kebangkitan lenong, topeng Betawi, dan lain-lain tidak lepas dari jasa besar Aman Datuk.

“Novel “Si Doel Anak Betawi” yang ditulis orang Padang yaitu Aman Datuk Majoindo ini menggunakan dialek Betawi dan budaya Betawi,” katanya.

Sam Mohtar, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Jakarta dalam workshop "Cerpen Betawi", Selasa (6/8).
Sam Mohtar, dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Jakarta dalam workshop “Cerpen Betawi”, Selasa (6/8).

Setelahnya, barulah muncul beberapa penulis asli Betawi semisal Firman Muntako, yang menulis menggunakan latar dan kebudayaan Betawi dan mensketsakan kebudayaan dan masyarakat Betawi. Dia orang betawi yang mengangkat cerita orang Betawi.

Sekarang baru muncul beberapa yang lainnya, misalnya Chairil Gibran Ramadhan, Nur Zen Hae, yang menulis narasi tentang Betawi dalam bahasa Indonesia, atau menggunakan dialek Betawi dalam dialognya, tapi tetap mempertahankan bahasa Indonesia dalam narasinya.

Babe Sam menilai, bagi mereka yang berminat dalam penulisan cerpen Betawi, punya peluang untuk kencari konflik yang menarik untuk ditulis. Misalnya konflik pembangunan, di mana sekarang ini terjadi perebutan ruang antara masyarakat Betawi dengan kaum perantauan atau masyarakat urban.

“Karena konflik pembangunan seperti penggusuran kampung Betawi yang terjadi pada masa Gubernur Ali Sadikin, tidak lagi relevan saat ini,” terangnya.

*Daniel Deha

Baca Juga

Juni Nanti, Museum Nasional Pamerkan 1.500 Koleksi Museum Delft

Portal Teater - Museum Nasional Indonesia berencana memamerkan 1.500 benda-benda budaya koleksi eks Museum Nusantara Delft, Belanda, pada Juni mendatang. Mengutip historia.id, pameran benda-benda hasil...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Terkini

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Di Antara Metode Penciptaan dan Praktik Kerja Berbasis Riset

Portal Teater - Pada 17-18 Januari 2020, Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya (STKW) menggelar Ujian Komposisi Koreografi dan Kreativitas Tari Jenjang 3 Jurusan Seni...

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...