Portal Teater – Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akhirnya menyelesaikan seluruh rangkaian diskusi menuju pagelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) yang akan berlangsung sepanjang 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Dalam diskusi terakhirnya (ke-7), Komite Sastra mengusung tema “Litearture of Batavia: From The Closest”. Diskusi ini mencoba menyoroti permasalahan sastra Betawi, apakah dinilai dari asal-usul pengarang atau kandungan isi tulisannya.⁣⁣

Diskusi ini berlangsung di Ruang Pertemuan Balai Kota, Jakarta, Rabu (31/7), dengan menghadirkan dua pembicara: Ben Sohib dan JJ Rizal, yang dipandu oleh moderator Ratih Kumala⁣⁣.

Menurut Ben Sohib, s⁣astra Betawi banyak mengandung unsur humor, ketajaman lidah, keterusterangan, keterbukaan, egalitarian. Karakter khas ini merupakan habitus dan nilai-nilai yang mengakar dalam kehidupan keseharian masyarakat Betawi.⁣⁣

Masyarakat Betawi (atau Batavia pada masa lalu) kita tahu merupakan komunitas etnis yang terlindas oleh kekuatan ekonomi kapitalis di ibukota. Saat ini mereka lebih banyak memilih tinggal di pinggiran kota Jakarta, alih-alih hak-hak mereka telah dirampas oleh kaum borjuis yang berdiri di atas tembok-tembok beton dan jari-jarinya mencakar langit.

Sebagai sastrawan keturunan Arab-Betawi, Ben melihat sastra Betawi saat ini mesti menduplikasi model penyajian kesastraan ala Sherman Alexie, penulis Amerika Serikat keturunan Indian, yang kaya tawa-humor di tengah berkelindannya kisah perih yang menindas kaumnya.

Karena kompleksitas permasalahan itu, bagi Ben, terjadi hampir di semua kebudayaan dan komunitas apapun dan di manapun.

Dalam karyanya berjudul “Candu Bernama Tradisi”, Alexie dengan lincah menyuarakan keperihan nasib komunitasnya–yang terlindas oleh modernitas dan rasis–tidak dengan nada sendu penuh harapan.

Justru, ia menyajikan sebuah cerita yang memantik rasa lucu. Ironi dan humor gelap yang nyaris tidak lepas dari tulisannya, seakan-akan ingin menguapkan kemarahan, frsutrasi hidup dan perlakuan perih akibat kekalahan.

Bagi Ben, penyajian cerita kepedihan lewat humor-humor gelap ini justru menjadi cara paling elegan dan sehat dalam merespon pahitnya kenyataan.

“Humor semacam itu, meniscayakan kejujuran dalam memandang kerasnya fakta, dan mensyaratkan kelapangan dada untuk sanggup menertawai diri sendiri,” katanya.

Lebih dari itu, Alexie juga tidak terjebak dalam kemarahan dan ratapan yang banal, melainkan dengan pengungkapan yang segar, di mana kegeraman diubah menjadi hal yang lucu. Kesegaran semacam ini diperlukan dalam kahzanah kesusastraan, juga dapat dijadikan sebagai katarsis sosial atau autokritik.

Akhirnya, Ben memandang, ekspresi kultural Betawi, termasuk Arab-Betawi, menyimpan potensi untuk dirayakan dalam wilayah tersebut. Karena humor, tawa, keterbukaan, egalitarian sudah menjadi nilai-nilai inheren yang melekat dalam kehidupan masyarakat Betawi.

Namun demikian, seperti dalam petikan judul di atas, Ben di sini mencoba menawarkan sebuah cermin baru bagi para sastrawan untuk memotret sedekat mungkin hidup masyarakat Betawi untuk menghadirkan narasi kesastraan yang khas dengan dengan kompleksitas kehidupan mereka.

Itu berarti, dalam pengembangan khazanah kesusastraan, setiap anggota komunitas (sastrawan) Betawi dapat merekam kompleksitas kaumnya dalam aneka narasi, baik kemarahan yang vulgar, atau keperihan yang terbalutkan humor ala Alexie.

Tujuh Diskusi Menuju JILF 2019

Setidaknya ada tujuh kegiatan diskusi pre-festival JILF 2019 yang telah diadakan menjelang perhelatan festival sastra internasional perdana ini.

Diskusi pertama diadakan pada 27 April 2019 dengan tema “Writing Off Internet” di Beranda Rakyat Garuda, Pinang Ranti, Jakarta. Diskusi kedua diadakan pada 16 Mei 2019 dengan mengusung tema “Themes To Go South” bertempat di Bentara Budaya Jakarta.

Sementara dalam diskusi pre-festival ketiga, Komite Sastra mengusung tema “Write Like A Man” pada 22 Juni 2019 di POST Bookshop, Kebayoran Baru, Jakarta. Kemudian pada akhir bulan, diadakan lagi diskusi ke-4 dengan mengusung tema “Indonesian (N Literature) For Sale” pada 29 Juni 2019 di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta.

Sebulan menjelang festival JILF, lagi-lagi Komite Sastra mengadakan kegiatan diskusi sebanyak tiga kali dalam sebulan. Pada diskusi ke-5 (13 Juli), Komite mengusung tema “Reporting Fiction” yang berlangsung di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Kemudian, pada 25 Juli, dilangsungkan diskusi pre-festival ke-6 bertemakan “Southern Canon” di Galeri Cipta III TIM Jakarta. Dan pada akhirnya, diadakan diskusi ke-7 bertemakan “Litearture of Batavia: From The Closest” yang berlangsung di Ruang Pertemuan Balai Kota, Jakarta, Rabu (31/7).

*Daniel Deha