Seni Pertunjukan, Networking & Hostel Zen

Seni Pertunjukan, Networking dan Hostel Zen

Laporan Afrizal Malna dari Yokohama 2017

Ini perjalanan pertama saya ke Jepang. Musim dingin sebentar lagi akan berakhir. Apa bedanya musim dingin di Eropa dan di Asia? Pertanyaan ini hanya sebuah lintasan untuk pertanyaan lain: kalau di Asia juga punya musim dingin, tidak hanya tropis, kenapa kita masih bicara Barat dan Timur? Setiap musim melahirkan mata rantai yang khas dengan peradaban dan kebudayaan. Lintasan-lintasan seperti ini saya biarkan hidup dalam pikiran saya, sama dengan melintasnya beberapa gerakan seni modern Jepang yang sempat saya kenal: Guthai, Butoh, Mono-ha, maupun puisi Haiku. Butoh adalah juga sebuah inspirasi, ketika saya masih menulis teks-teks pertunjukan untuk Teater Sae pada tahun 90-an. Teks yang saya tulis untuk hadir sebagai “teks-yang-cacat”, tetapi canggih untuk “membingungkan” skema-skema kesadaran kita.

Sampai di Narita, bandara Tokyo, hari sudah jam 5 sore. Bentuk-bentuk alfabet dari huruf Kanji Jepang mulai menarik perhatian saya. Huruf dengan garis-garis arsitektural yang puitis. Setiap huruf hadir seperti sebuah ikon atau bahkan sebagai sebuah logo. Faktor bahasa sering membuat saya cemas setiap melakukan perjalanan keluar. Tetapi juga selalu menarik perhatian, terutama untuk merasakan hidup “di luar bahasa”. Memisahkan apa yang saya amati dengan apa yang saya pikirkan. Menggunakan tubuh untuk menerima dan mengamati setiap kehadiran di luar bahasa. Untuk urusan-urusan praktis, dunia makna yang harus diikuti, saya akan banyak dibantu Sartika Dian Nuraini yang bisa berbahasa Inggris dan Jerman, belum bahasa Jepang.

Perjalanan ke Yokohama menggunakan kereta, detik demi detik, tumbuh dan berlalu bersama datang dan perginya para pekerja Tokyo yang baru saja pulang kerja dalam di setiap setasiun perhentian kereta. Rata-rata mereka berpakaian baik dengan fashion masa kini, khas masyarakat pasca ekonomi. Mereka cenderung menghindari terjadinya pertemuan tatapan mata, atau memiliki sikap etik untuk tidak saling memandang. Di luar kereta, udara bertambah dingin bersama hujan gerimis yang tipis.

Kami sampai di Yokohama jam 7 malam. Melintasi gerimis, mencari taxi di luar setasiun. Berada dalam taxi, saya seperti masuk ke dalam dunia film-film klasik. Interior taxi dibuat manis, romantis, seperti dalam rumah, dengan jok mobil terbungkus kain berenda, sopir taxi menggunakan busana rapi dan topi khas mirip nakhoda kapal. Perjalanan menuju Hostel Zen dan lampu-lampu kota mulai menyala. Hostel Zen terletak di Matsukage-cho, Yokohama City, Prefektur Kanagawa 3-chome, 10-5.

 

Matsukage-cho

Saya sangat menyukai nama tempat kami menginap: Hostel Zen (ホテルの禅). Untuk saya, Jepang dan Zen merupakan dua istilah yang selalu bertemu dalam ruang mistis antara seni, sastra, filsafat sebagai pencarian dalam ruang vertikal. Mishima dengan novelnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Kuil Kencana, merupakan bacaan masa remaja saya yang membuat saya mulai berkenalan dengan ruang vertikal yang khas Zen ini. Dalam sebuah symposium TPAM (BankArt, Yokohama, 11 Februari 2017) mengenai pengaruh Butoh di Korea Selatan, terutama Tatsumi Hijikata (pembicara Pijin Neji, Rody Shimazaki, Seo Dong-jin), sempat menyinggung pengaruh Mishima pada Tatsumi Hijikata. Saya menikmati symposium ini, karena bisa mendengar pembicaraan dalam bahasa Korea, Jepang dan Inggris sebagai suara maupun bunyi.

Hostel Zen terletak di Matsukage-cho. Saya tinggal di lantai 4, dan harus menaiki tangga 4 lantai setiap pergi maupun memasuki hostel. Setiap unit hostel yang bersih ini, terdiri dari 4 kamar dengan 1 kamar mandi dan 1 toilet. Setiap ruang memiliki lukisan yang lumayan berkarakter, tidak pasaran. Setiap lantai juga memiliki ruang terbuka untuk merokok. Semua pelayan hostel bersikap ramah kepada orang Asing, kulit putih maupun hitam. Sarapan sudah dimulai dari jam 7 sampai jam 10 pagi: roti, telur, pisang dan jus. Kami bisa membuat teh maupun kopi di dapur, atau memasak apa pun yang kami bawa dari luar hostel. Ini sudah seperti sebuah apartemen bersama.

Di Matsukage-cho tidak sulit untuk membeli kebutuhan yang mendesak, karena di kawasan ini terdapat sebuah mini market (lawson) yang menjual macam-macam kebutuhan sehari-hari, bahkan makanan dengan mie maupun nasi. Ada beberapa mini market di Yokohama, di antaranya Eleven dan Family Mart yang juga ada di Jakarta. Setiap pagi, kami berjalan ke BankArt yang terletak di Kaigan-dori (Naka-ku, Yokohama), tempat acara TPAM (Tokyo Performances Art Meeting) berlangsung.  Perjalanan kaki dengan durasi sekitar 20-25 menit. Perjalanan setiap hari ini selalu menyenangkan, karena di pagi dingin, cahaya matahari membanjiri jalan dan langit biru, sebelum kemudian cahaya menghilang setelah siang. Dan angin dingin dari laut mulai menyergap tanpa cahaya matahari, langit mulai kelabu. Angin dingin yang berhembus, hampir selalu keras, kadang sangat keras yang bisa menggoyangkan tubuh kita saat berjalan.

Matsukage-cho sebuah kawasan yang rata-rata dihuni orang tua. Sebuah lingkungan dimana saya bisa mengikuti kegiatan orang tua berjemur di pagi hari, berjalan, mencoba otot-otot pada dengkul, bercengkrama, atau orang tua yang sendirian di antara suara burung-burung gagak yang berterbangan di atas bangunan yang rata-rata memiliki lima sampai tujuh lantai. Seperti halnya rata-rata lingkungan di Yokohama, kawasan ini selalu bersih walau tidak ada tempat sampah yang disediakan pemerintah. Tempat sampah sendiri adalah sampah. Kadang terdengar suara ambulan untuk kemungkinan ada orang tua yang sakit atau meninggal. Di antara mereka juga ada yang bermain di taman anak-anak, seolah-olah mereka memang sedang kembali sebagai kanak-kanak lagi.

Hampir selama 12 hari di Yokohama (9-22 Februari), saya menikmati situasi ini, membuat saya tidak terlalu datang sebagai turis. Tetapi setiap pulang tengah malam, setelah menyaksikan pertunjukan yang rata-rata memang sampai larut malam, kami terpaksa menggunakan taxi, karena malam bertambah dingin, kadang kadang gerimis datang bersama salju tipis yang segera menghilang setelah jatuh di atas aspal jalan.

 

TPAM dan BankArt

Ketika Japan Foundation memberikan saya penghargaan untuk bisa mengikuti TPAM 2017, saya senang tetapi juga sekaligus ragu. Pertama, saya sangat senang bisa mengikuti kehidupan seni kontemporer Asia untuk seni pertunjukan, networking, managemen, pengelolaan sebuah festival dan pasar seni pertunjukan. Tetapi kedua, saya sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, belum memiliki platform untuk program-program yang bersifat internasional. Keterbatasan ini terkait dengan kebijakan pemerintahan kota Jakarta yang memang belum memiliki perhatian khusus terhadap kehidupan seni pertunjukan kontemporer. Rendahnya perhatian ini, kini kian terasa untuk bisa membuat program yang berbanding dengan fenomena seni pertunjukan internasional. Kehidupan teater maupun seni pertunjukan di Jakarta, terkesan asyik sendiri dan tidak perduli dengan perkembangan seni pertunjukan Asia maupun Eropa. Kondisi kehidupan seni pertunjukan di Jakarta (juga Indonesia) seperti ini, sangat berbahaya untuk bisa membuat ekosistem, pemetaan maupun regenerasi seni pertunjukan di Indonesia.

TPAM didefinisikan sebagai “TPAM (Performing Arts Meeting in Yokohama) is a space where professionals from various places in the world who explore the possibility of contemporary performing arts exchange through performance and meeting programs to gain information, inspiration and network for the creation, dissemination and vitalization of performing arts. Established in 1995 as Tokyo Performing Arts Market and moved in 2011 to the “Creative City” Yokohama. Reinforcing its focus on Asia and having started to involve itself in Asian co-production, TPAM is internationally recognized as one of the most influential performing arts platforms in Asia.” (https://www.tpam.or.jp/2017/en/#panel-2516-1-0-0)).

Ruang seperti itu tidak terbayang bisa terjadi di Jakarta, walaupun Jakarta memiliki program “Art Summit”, yang juga tidak menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Acara TPAM (yang terdiri dari berbagai pertunjukan teater, tari dan musik; berbagai pertemuan, diskusi maupun kerja sama), tersebar di beberapa tempat di Yokohama: KAAT Kanagawa Arts Theatre, Yokohama Museum of Art, Yokohama Red Brick Warehouse Number 1, BankART Studio NYK, YCC Yokohama Creativecity Center, ZOU-NO-HANA Terrace and Amazon Club. Beberapa pertunjukan lain berlangsung di Tokyo. Berbagai kurator, produser, manager, kalangan media massa, seniman, para pengamat, akademisi, penerbit, fotografer, videografer, webgrafis, publik umum, berdatangan ke forum ini. Mereka datang dari Asia, Eropa maupun Amerika, tidak terlalu tampak dari Afrika.

Pusat kegiatan berlangsung di BankArt Studio NYK. Ini merupakan sebuah bangunan tiga lantai yang berdiri di tepi kanal menghadap dermaga dimana Komodor Matthew Perry pernah membuat perjanjian Kanagawa, 1854. Membuat Yokohama menjadi kota pertama yang terbuka untuk dunia internasional dan menjadi kosmopolit. Dermaga untuk mengalirnya ekspor kapas, besi, mesin, benang, sutra dan katun. BankArt terletak tidak terlalu jauh antara Museum Maritim, Museum Arsip dan kawasan Cina Town. Pada hari libur, kalau kita melewati Museum Arsip, di samping bangunan ini kita bisa menyaksikan orang-orang tua, perempuan dan lelaki, melukis di bawah cahaya matahari musim dingin dengan kemampuan melukis yang baik. Dan hampir setiap setelah makan siang, saya menikmati kopi yang enak di kafe Tullys, karena di kafe ini kita bisa merokok.

Lantai pertama BankArt berfungsi sebagai tempat regristasi perserta TPAM maupun urusan tiket pertunjukan, toko buku untuk berbagai buku seni dari berbagai negara (terutama Jepang), kafe, dan sebuah ruang untuk instalasi karya Tadashi Kawamata dengan material garis-garis kayu yang terakit dari dinding hingga ke langit-langit ruang dan suara digital. Ini merupaka instalasi permanen di bangunan ini. Berada dalam ruang instalasi ini, kita seperti berada dalam hutan keheningan, dimana hutan memang sudah berubah menjadi “bangkai kayu”. Sebuah karya yang menjadi situs utama bangunan ini sebagai sebuah lembaga kesenian. Kecuali ruang instalasi, ruang lain di lantai bawah (walau dengan fungsi berbeda) tidak memakai dinding pembatas. Ini membuat sirkulasi untuk arus tamu terasa cukup nyaman.

Lantai dua digunakan untuk pameran (video profil seniman-seniman seni pertunjukan Asia dari berbagai negara, termasuk Indonesia), juga digunakan untuk diskusi, berbagai pertemuan dan perpustakaan. Lantai 3 untuk pertunjukan (tanpa panggung). Setiap lantai memiliki balkon untuk merokok. Seluruh bangunan menggunakan panel-panel yang bisa digerakkan dan efektif untuk membuat perubahan fungsi-fungsi ruang, untuk pameran maupun setting pertunjukan.

Untuk bisa mengikuti TPAM, kita melakukan regristasi melalui internet, dan dikenakan uang pendaftaran. Dari regristasi ini, kita akan mendapatkan IDE card yang berguna untuk mengikuti berbagai program, dan dengan pembayaran tiket yang berbeda lagi untuk program-program pertunjukan. Beberapa program, misalnya untuk presentasi program yang kita bawa dan kita tawarkan ke publik TPAM, kita harus membayar sebagai semacam “sewa program” atau “sewa meja”. Tanda bahwa regristasi kita diterima oleh TPAM, sangat berguna untuk pembuatan visa ke Jepang. TPAM berlangsung dari 11 – 19 Februari 2017. TPAM terutama ditopang oleh The Japan Foundation, Kanagawa Arts Foundation dan Yokohama Arts Foundation.

 

TPAM Exchange dan beberapa Isu publik

Sebuah ruang baru sedang diciptakan melalui teknologi digital maupun fasilitas internet masa kini. Google sedang membawa kita ke kanal-kanal informasi yang kaya dan berlapis-lapis, tetapi sekaligus juga kita tidak tahu “apakah ada seseorang (seorang google) sedang membawa kita ke sebuah arah”. Ini merupakan sebuah ruang presentasi baru buat kita-semua. Dan TPAM mengajukan pertanyaan: “apa isu bersama kita yang paling panas sekarang ini, tetapi kita tidak merasakan panasnya”. Ini jadi semacam “keynote” untuk berbagai pembicaraan yang berlangsung di forum-forum TPAM.

Produksi wacana dalam TPAM dibagi dalam beberapa program yang disebut sebagai TPAM Exchange: Grup Meeting, berlangsung per 30 menit. Rata-rata dihadiri oleh producer, manager, kurator festival, beberapa direktur pusat kesenian, lembaga dana untuk projek-projek seni. Termasuk dari Yogyakarta, Wok The Rock (Artist / Co-director, Yes No Klub, Indonesian Netaudio Festival, MES 56) yang menawarkan program “Artist Exchange, Networking and Collectivism in Interdisciplinary Works in Yogyakarta, Indonesia”. Grup meeting ini, di antaranya dari Scotlandia, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Polandia, Yunani, Perancis, Australia, India, German, Vietnam, Filipina, Brazil, Cina, Austria, Mesir, Thailand, Kamboja maupun Taiwan. Mereka menawarkan berbagai program pertunjukan, festival maupun workshop, residensi, co-producer. Di dalamnya terdapat Japan Foundation, Asia Centre, Tokyo Art Center (yang memberikan grant untuk projek-projek seni maupun sosial), termasuk jaringan ON-PAM (Open Network for Performing Arts Management).

Program Speed Networking lebih sepesifik, berlangsung antar dua belah pihak yang menawarkan kerja sama program maupun networking. Untuk Asian Dramaturgs Network, di antaranya Helly Minarti, Seno Joko Suyono dan Shinta Febriani dari Indonesia, hadir sebagai pembicara. Program ini membicarakan kerja-kerja dramaturg masa kini di Asia, maupun konsep dramaturgi hasil riset dari seni pertunjukan modern atau tradisi. Shinta, misalnya, membicarakan dramaturgi tubuh-Bugis dari tradisi Bissu di Sulawesi. Dalam program ini hadir juga Peter Eckersall sebagai pembicara. Peter pernah memberikan workshop “dramaturgi baru” di Jakarta, dalam rangkaian program Arts Summit 2017. Juga Arco Renz, salah seorang kurator Europalia 2018 untuk Indonesia. Forum ini banyak membicarakan kinerja dramaturg yang bekerja dalam lingkup lintas budaya maupun budaya yang berbeda. Asian Dramaturgs Network sendiri berbasis di Singapur, dan mendapatkan ruang dalam salah satu program TPAM. Saya sempat bertemu dengan manager MudA (yang pentas di Festival Teater Jakarta, Desember 2016).

Dalam Symposium, Ong Keng Sen (directur Singapore International Festival of Arts), misalnya, memunculkan isu etis konservatif dalam masyarakat Singapur masa kini yang kian tertutup terhadap tabu-tabu. Kebebasan kesenian di Singapur kini berhadapan dengan produk-produk hukum yang kian banyak diproduksi untuk mengatur atau membatasi kesenian, dan yang langsung mengancam terhadap keberagaman maupun keberanian dunia seni dalam memasuki wilayah apologis maupun streotip doktrin di sekitar tabu. Kian banyaknya produk-produk hukum untuk membatasi kesenian, memperlihatkan bagaimana konstruksi makna untuk kehidupan publik terlalu banyak diambil alih oleh hukum, sama seperti halnya yang dilakukan oleh agama.

Keisuke Sakurai (koreografer) dan Tadashi Uchino (pengamat teater), membicarakan hubungan sebab-akibat antara bencana alam yang pernah terjadi di Jepang, dan konteks politik tahun 90-an. Pada dekade ini, bencana paling berpengaruh adalah bocornya nuklir. Seni pertunjukan yang paling memperlihatkan pengaruh ini adalah Butoh. Tadashi Uchino juga sempat menyampaikan bahwa bagaimana pun Asia itu bukan Barat. Dan pencapaian seni pertunjukan dari generasi masa kini, dianggap tidak sebaik generasi 90-an. Pandangan ini memang khas datang dari generasi Tadashi Uchino. Di Indonesia sama dengan generasi era Orde Baru. Sebuah pandangan yang melakukan semacam black-mail ke generasi masa kini, tanpa melihat jaman yang sudah banyak berubah. Generasi yang juga masih percaya bahwa Barat dan Timur adalah sebuah kebenaran, bukan sebuah bungkusan yang tercipta karena konteks kolonialisme dan modernisme.

 

Seni pertunjukan: Kamera Psikoanalis dan Ibuku Sakit

Pertunjukan (tari, teater, musik) terbagi dalam dua program: TPAM Fringe dan TPAM Direction. Karena kerja saya di Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta lebih banyak melakukan kurasi untuk beberapa program teater, menonton pertunjukan menjadi tujuan utama saya dalam TPAM. Membuat platform yang bisa digunakan untuk berbagai cara pandang seni pertunjukan dalam teater, masih merupakan prioritas saya di komite. Kinerja untuk melakukan networking masih sangat terbatas dalam arti program maupun kapasitas Dewan Kesenian Jakarta untuk memperluas ruang kerjanya. Kami misalnya belum memiliki program yang spesifik berskala internasional dan belum memiliki staf untuk urusan-urusan internasional. 90 % Program masih berbahasa Indonesia, walau Dewan Kesenian Jakarta sudah berusia 49 tahun, mungkin termasuk sebuah lembaga seni tertua di Asia Tenggara. Berbeda, misalnya, dengan Kominitas Seni Salihara yang setiap tahun memang sudah memiliki festival seni pertunjukan yang berskala internasional. Satu-satunya program Dewan Kesenian Jakarta yang berskala internasional: Jakarta Biennal yang kini bekerja sama dengan Ruang Rupa. The Japan Foundation maupun Goethe Institut merupakan mitra kerja yang panjang dalam perjalanan program-program berskala internasional dalam seni pertunjukan yang dilakukan Dewan Kesenian Jakarta.

Tahun 2020 mendatang, Hong Kong Arts Centre akan meluncurkan 20 gedung pertunjukan. Hal ini disampaikan Anna CY Chan (Pimpinan Dance at the West Kowloon Cultural District Authority) dalam salah satu program TPAM:  “From Conversation to Co-production “. Tahun-tahun mendatang, seni pertunjukan di Asia Tenggara maupun Asia tampaknya akan banyak memproduksi isu di sekitar jaringan kerja, co-produksi, jaringan managemen, jaringan dramaturg, program-program laboratorium maupun residensi dan berubahnya politik di kawasan ini dengan masuknya Cina dalam investasi maupun pasar yang massif. Seni pertunjukan akan menjadi media utama dalam isu politik kawasan ini, karena seni pertunjukan memang memiliki muatan majemuk untuk kerja-kerja lintas budaya, dan akan mendapatkan bahasa baru dalam tubuh-multi-kultur melalui narasi lintas bahasa di mana Asia, terutama Indonesia, memiliki keberagaman budaya maupun bahasa yang sangat kaya dan unik.

Aktivisme program-program seni pertunjukan Jepang, Taiwan, Korea Selatan lebih dulu aktif dalam kawasan ini, kemudian menyusul Singapur, Thailand, Vietnam dan Filipina. Di luar Indonesian Dance Festival (IDF), Arts Summit dan Jakarta Biennal, Indonesia lebih banyak hadir sebagai peserta dalam jaringan kerja maupun politik seni di kawasan ini.

Di tengah kehadiran Hong Kong yang akan meluncurkan 20 gedung pertunjukan, beberapa pertunjukan dalam program TPAM justru berlangsung di tempat-tempat yang sudah ada, seperti di toko buku, galeri, apartemen atau di sebuah kamar hotel. Pertunjukan membatasi penonton sesuai dengan kapasitas ruang. Pertunjukan Boddy Meeting, misalnya, yang berlangsung di artmania cafe gallery yokohama, menggunakan dua lantai galeri yang sangat kecil, hanya untuk 11 orang penonton. Pertunjukan ini dimainkan oleh 3 orang berdasarkan pengalaman tinggal dalam ruang kecil apartemen-apartemen di Tokyo. Mereka bertiga mendistribusi kembali berbagai percakapan yang sempat mereka dengar dari pembicaraan orang lain di kereta maupun ruang-ruang publik lainnya. Pertunjukan ini sangat minimalis, menghadirkan benda sehari-hari yang kecil-kecil seperti sebuah mangkok, sebuah gelas, alat penumbuk biji kopi, sebuah piring, dompet, alat pemutar musik, untuk memperlihatkan kian tercekiknya fasilitas pemukiman di Tokyo oleh komersialisasi lahan. Penonton hanya berjarak sekitar 40 CM untuk melihat aktor bermain. Kita seperti sedang menonton tetangga yang sedang membuat konfigurasi percakapan. Pertunjukan disutradarai Mami Yamada.

Pertunjukan dengan narasi-narasi biografis, juga berlangsung pada pertunjukan Fujiyama Annette: ENIAC. Pertunjukan dengan dua orang pemain ini, mempertanyakan kembali apa arti Butoh untuk generasi masakini. Pertunjukan yang lebih bersifat presentasi performatif ini, menggunakan scren sebagai bagian dari tubuh-pertunjukan, memainkan dua layar antara Butoh sebagai kanon seni pertunjukan di Jepang dengan kehidupan sehari-hari Annette. Cukup sedih ketika menghadapkan kinerja Butoh dengan ibu Annette yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Annette sendiri pernah mengikuti beberapa program di Jakarta, Yogyakarta, Bali dan Kalimantan.

Bentuk-bentuk presentasi performatif memang sedang menjadi fenomena dalam seni pertunjukan masa kini, terutama teater dan tari. Tetapi belum mendapatkan ruangnya di Indonesia.

Pertunjukan lain kian banyak melakukan pencampuran media atau lintas media, terutama media digital maupun film. Pertunjukan “Watching U…” karya Ching-man Lo dari Hong Kong, menggunakan film untuk mempertanyakan “apa sebenarnya yang-nyata itu?” Pada bagian awal pertunjukan, penonton layaknya seperti berada dalam ruang untuk penonton film. Seorang psioanalis muda sedang melakukan riset mengenai kecenderungan kehidupan pribadi seseorang yang berbeda antara kehidupan publik dengan kehidupan pribadinya. Untuk kebutuhan risetnya, ia menggunakan strategi menyawakan apartemennya kepada orang lain. Tetapi kamar dan dapur apartemennya telah dipasang kamera tersembunyi. Melalui kamera ini, ia bisa merekam perilaku menyimpang dari kehidupan pribadi para penyewa.

Strategi ini kemudian terbongkar dan membuat sang penyewa apartemen marah lalu melempar kamera yang tersembunyi itu. Adegan kemudian berubah, panel untuk menayangkan film didorong ke sisi samping ruang pentas, dan pertunjukan terlihat sebagai ruang yang nyata. Tapi dalam momen ini pula, pertanyaan mengenai “apa yang nyata” menjadi inti pertunjukan. Karena ketika semua terlihat, yang-nyata dari kehidupan pribadi ikut tersembunyikan kembali. Kehidupan tersembunyi dari dunia pribadi di sini dihadapkan dengan kamera tersembunyi sebagai praktek psikoanlisis dalam dramaturgi pertunjukan.

Pertunjukan spetakuler yang menggunakan media film, datang dari pertunjukan Apichatpong (Thailand): Fever Room, berlangsung di di KAAT (Kanagawa Arts Theatre Yokohama). Pertunjukan ini menempatkan penonton di panggung pertunjukan, sementara kursi penonton justru digunakan sebagai ruang pertunjukan. Aktor utama dalam pertunjukan ini adalah cahaya dan permainan layar film dengan muatannya masing-masing. Saya tidak menyaksikan pertunjukan ini, karena kehabisan tiket.

KAAT merupakan sebuah fasilitas gedung pertunjukan di Yokohama yang mirip dengan mall, terdiri 3 lantai. Setiap lantai digunakan untuk pertunjukan. Pertunjukan tari BALABALA karya Eko Supriyanto, yang merupakan tamu utama dalam TPAM, juga berlangsung di KAAT. Termasuk pertunjukan musik Senyawa (Wukir) yang menggunakan media baru dalam musik.

Pertunjukan Tower, di BankArt, juga sebuah karya lintas media yang berdasarkan video Tower sebagai sebuah pabrik karya Teppei Kaneuji. Dalam pertunjukan, karya ini ditulis ulang oleh Shin Fukunaga dan dimainkan oleh dua orang pemain yang terlihat. Sementara pemain tidak terlihat bekerja di dalam tower untuk memproduksi berbagai hal dan dikeluarkan melalui lubang-lubang yang terdapat dalam tower. Lubang-lubang itu di antaranya mengeluarkan asap, air, cairan kental, busa. Mengeluarkan benda-benda seperti tambang, balon, bola-bola pingpong warna-warni. Di tengah parbrik yang canggih itu, terlihat paradoks terjadinya gradasi penurunan kualitas budaya yang dimainkan dua orang aktor. Pertunjukan yang pada gilirannya memperlihatkan pabrik yang menjadi medan produksi manusia, tetapi kemudian ikut menentukan kehidupan mekanis manusia yang menggerakkannya. Pertunjukan ini tidak lagi memperlihatkan sikap heroik dalam merespon budaya industri, melainkan lebih memperlihatkan sisi-sisi kemanusiaan yang tidak ikut terlembagakan yang kadang kita sebut sebagai naif atau kekanak-kanakan.

Tokyo Notes karya Oriza Hirata, diadaptasi oleh Kishida Kunio kemudian dipentaskan oleh Taipei Voleur du Feu Theatre yang berbasis di Taiwan. Pertunjukan menggunakan loby Yokohama Art Museum. Loby yang luas ini, dengan lantai atasnya yang terlihat, sehari-hari digunakan sebagai ruang informasi, penjualan tiket museum, art-shop dan ruang display untuk beberapa patung koleksi museum. Dalam Tokyo Notes ruang ini diubah menjadi sebuah gedung pertunjukan, dan seolah-olah kita sedang menyaksikan sebuah shooting film yang sedang berlangsung dalam gedung museum ini. 20 Orang pemain dalam pertunjukan, bisa hadir dari sudut mana pun yang terdapat dalam bangunan. Datang dari lantai atas, menggunakan layer-layer bangunan maupun eskalator yang semuanya terlihat oleh penonton. Ini termasuk pertunjukan dalam TPAM yang menggunakan managejeman produksi yang besar. Pertunjukan memproduksi berbagai karakter yang dibawa oleh 20 orang aktor, tua, muda dan seorang anak kecil. Kadang juga berlangsung seperti sebuah fashion.

Without Signal!
dari Vietnam, termasuk pertunjukan tari yang saya tonton di loby KAAT. Vietnam tampak sedang menggeliat memasuki pasar seni pertunjukan Asia. Pertunjukan ini menggunakan media HP dan stang motor skuter sebagai media yang digunakan tubuh-penari, tetapi juga digunakan sebagai cahaya (HP) dan sebagai suara (stang skuter).

 

Pendeta Zen dan N.S Harsha

Saya kembali bertemu dengan dunia Zen ketika mengunjungi situs-situs kuil di Kita Kamakura dan di Kamakura. Mengggunakan kereta sekitar setengah jam dari Yokohama untuk sampai di kawasan ini. Dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore, kami hanya sempat mengunjungi 4 kuil dari begitu banyak kuil yang tersebar sebagai situs di kawasan bersejarah ini.

Perjalanan ini menjadi “ruang antara” atau “ruang jedah” antara masa kini (TPAM di Yokohama) dan masa lalu (kuil-kuil di Kita Kamakura dan Kamakura) dalam ruang dan waktu yang masih bisa kita alami. Perjalanan yang tidak hanya membuat saya bisa merasakan kembali kehidupan spiritual Jepang, arsitektur Jepang, material yang digunakan, Dewa-Dewa, jenis-jenis tanaman, berbagai seni kaligrafi, tetapi juga sistem pengarsipan Jepang yang mengagumkan untuk masa lalu maupun asal-usul mereka.

Di Kuil Kenchor-ji, saya menyaksikan patung sebagai sebuah versi dari ajaran Zen. Patung ini sangat khas, menggambarkan disiplin spritual seorang pendeta Zen yang ketat. Batas antara tubuh dan bukan-tubuh dalam praktek spritualitas Zen seolah-olah dipertanyakan kembali, diperlihatkan sebagai jalan penderitaan yang ektrim. Patung pendeta Zen ini dikostruksi sebagai tubuh-meditasi yang tinggal tulang-belulang dengan perut yang hampir bolong. Bentuk perut berlubang, karena kurang makan ini, mirip dengan bentuk-bentuk lingkaran dalam kodifikasi ajaran Zen untuk merepresentasikan “kekosongan”. Kuil Kenchor-ji, tempat patung ini berada, berdiri tahun 1814.

Praktek spiritual yang ekstrim ini berbanding terbalik dalam pameran retropeksi karya-karya N.S Harsha, seorang perupa dari India yang dianggap sebagai Aiweiwei-nya India, di Mori Art Museum, Tokyo, yang sempat saya hadiri. Karya-karya Harsha dianggap sebagai sebuah revitalisasi atas medium drawing, tetapi sekaligus juga sebagai pembacaan kritis terhadap tradisi Hindu dan kehidupan sehari-hari di India. Harsha menganggap agama terlalu banyak mengambil alih kodifikasi vetikal atas makna dalam kehidupan publik. Kodifikasi inilah yang dibongkar kembali dalam karya-karyanya. Harsha menggunakan media maupun material apapun, terutama untuk karya-karya instalasinya.

Medium gambar yang khas tradisi Hindu ini, yang tampak datar tanpa dimensi ruang maupun proyeksi (sedikit mengingatkan karya-karya seni lukis Bali maupun Wayang Beber), menjadi ruang baru tidak hanya untuk menyampaikan isu, tetapi juga menyampaikan cerita. Harsha bekerja mirip seorang pendongeng atau seorang sastrawan di atas kanvas. Sebagian karya-karyanya berukuran sangat besar, tetapi sebagian lain juga menggunakan ukuran-ukuran sangat kecil. Kehidupan buruh, petani maupun post-kolonial banyak menjadi tema dalam karya-karyanya. Mori Art Museum terletak dalam sebuah tower, di lantai setelah lantai 50, di Roppongi, Tokyo

Perjalanan pulang-balik antara masa kini dan masa lalu ini, kembali terjadi ketika saya mengunjungi Museum Arsip Yokohama yang menyimpan banyak artefak pembentukan kota Yokohama dan bagaimana Yokohama menjadi kota internasional sejak kedatangan Komodor Matthew Perry. Ditutup dengan kunjungan Yokohama Art Museum untuk menyaksikan koleksi karya-karya fotografi koleksi museum yang sedang dipamerkan bersama dengan pameran fotografi Kishin Sinoyama dengan poster khas dari karyanya yang menghadirkan ciuman mesra antara dua kebudayaan, Yoko Ono dan Jhon Lenon.

Yokohama Art Museum menghadirkan cukup banyak karya fotografi Jepang abad 19 dengan tema-tema yang memperlihatkan evolusi budaya yang berlangsung di Jepang. Tema-tema Perang Dunia 2, penderitaan setelah perang. Jepang harus membangun kembali setelah kehancuran akibat Perang Dunia, tubuh-tubuh cacat, rumah-rumah gubuk di tengah musim dingin, perempuan-perempuan yang menjadi pelacur untuk tentara-tentara Sekutu. Tema-tema perubahan yang evolutif ini, dilengkapi dengan karya-karya fotografi avand garde.

 

Apa yang harus diambil dari TPAM

Program TPAM memberi banyak informasi, praktek-praktek kesenian, aplikasi program maupun grant, jaringan, bentuk-bentuk kerja sama, pasar seni pertunjukan. Tetapi apa yang bisa dikaitkan dengan kehidupan kesenian di Indonesia, terutama Jakarta?

Berdasarkan kapasitas saya di Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, maupun kapasitas Dewan Kesenian Jakarta sendiri, saya tertarik untuk mengundang beberapa dramaturg muda dan teater-teater muda Jepang untuk regenerasi seni pertunjukan di Jakarta. Regenerasi seni pertunjukan di Jakarta berlangsung dengan pembacaan yang tidak terlalu komporatif. Ini terjadi di antaranya karena langkanya program-program seni pertunjukan dari luar Indonesia. Kalau pun ada, lebih banyak dari media tari dan musik, dibandingkan dari media teater.

Saya tertarik untuk mengundang Mami Yamada atau Fujiyama Annette untuk melakukan residensi di Jakarta. Komite Teater kini memiliki program baru: “Djakarta Teater Platform”. Sebuah program yang bersifat laboratorium bersama. Mami Yamada atau Fujiyama Annette menurut saya cukup tepat untuk bisa menjadi dramaturg dalam program ini. Membuat residensi di Jakarta sekitar 1 bulan, kemungkinan melakukan kolaborasi, dan mementaskan salah satu nomor pertunjukan mereka di akhir program.

Djakarta Teater Platform tahun ini mengkurasi 5 kelompok teater dari Jakarta dan Bandung. Setiap bulan mereka pentas selama 2 hari untuk masing-masing dua kelompok teater secara berurutan. Program ini juga dilengkapi dengan membuka klas-klas dramaturgi.

Keramahan Jepang, tidak hanya bisa kita temukan di jalan yang tetap berusaha menjawab pertanyaan kita, walau sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Tetapi juga dalam pesawat ANA. Saya tidak tahu, apakah etik ini juga hasil bentukan Restorasi Meiji, 1868.

 

Afrizal Malna, Jakarta 6 Maret 2017

 

Baca Juga

Presentasi Fotografi Performans di Masa Krisis

Portal Teater - 69 Performance Club, sebuah platform seni performans yang digagas Forum Lenteng (Jakarta), kembali menyapa publik seni lewat fotografi performans. Seni performans ini...

Mendata Pelaku Industri Kreatif Terdampak Corona di Ibukota

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul semua lini kehidupan manusia saat ini. Wabah global ini tidak hanya menghantam sektor ekonomi, politik, atau...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Terkini

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Jokowi: Glenn Fredly Lebih Dari Seorang Musisi

Portal Teater - Presiden Joko Widodo menyampaikan kabar duka atas berpulangnya musisi gaek Glenn Fredly pada Rabu (8/4) malam. Glenn diketahui meninggal karena penyakit...

Pasien Terinfeksi Covid-19 di Indonesia Tembus 3.000 Orang

Portal Teater - Pemerintah Indonesia pada Rabu (8/4) siang merilis data perkembangan terbaru kasus virus Corona di tanah air. Seperti hari-hari sebelumnya, grafik temuan...

Solidaritas Tanpa Batas Pekerja Seni

Portal Teater - Industri seni adalah salah satu sektor yang ikut terpukul lantaran merebaknya virus Corona (Covid-19). Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh...