Seniman, Jalan Yang Jarang Dilalui

Portal Teater – Lakon “Jalan Yang Tak Ditempuh” yang dipentaskan Teater Satu Lampung pada malam keempat Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 mendapat “standing ovation” dari penonton yang memenuhi Gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (23/8).

Sutradara dan penulis teater Iswadi Pratama begitu brilian dan detail menggarap naskahnya yang terilhami dari puisi klasik karya Robert Frost “The Road Not Taken” (1916) tersebut. Frost adalah salah seorang penyair Amerika Serikat yang paling besar dan itu terbukti dengan empat kali menerima penghargaan Pulitzer.

Frost dalam puisinya ingin menyindir dan menertawakan Edward Thomas, sahabatnya yang galau terhadap jalan yang dipilihnya pada suatu sore di musim gugur ketika mereka berjalan-jalan.

Ketika sampai di suatu persimpangan jalan, Edward mengeluhkan bahwa mereka harusnya mengambil suatu jalan, tetapi pada akhirnya mengambil jalan lain. Setelah pulang, Frost menulis puisi itu sebagai candaan atau sindiran terhadap sahabatnya itu.

Kepiawaian Iswadi tidak hanya terletak pada kemampuan menggambarkan dilema seorang tokoh/aktor (Edward) terhadap pilihan, tetapi bagaimana ia menempatkan sosok protagonis-simbolis Viribus pada tiga medan dan dialektika waktu untuk mempertanyakan dan mengutuki pilihannya menjadi seniman pada usia mudanya.

Gambaran kegalauan dan dilema seniman itu dihadirkan Iswadi melalui pemeranan aktor-aktor terbaiknya: Ema Luthfiani, Tria Wijayanti dan Desi Susanti.

Dialog Viribus Dengan Dirinya

Seolah ingin keluar dari kungkungan narasi puisi Frost, Iswadi dengan lihai menggantikan tokoh Edward dengan seorang pengarang bernama Viribus yang sudah berusia 50 tahun menjadikan dirinya sebagai tokoh utama dalam ceritanya.

Viribus dalam cerita ini diperankan oleh tiga aktor dalam tiga dialektika waktu yang berbeda: pada usia 50 tahun (diperankan Desi Susanti), usia 30 tahun (diperankan Ema Luthfiani) dan usia belasan tahun atau setingkat umur anak-anak SMA (diperankan Tria Wijayanti).

Sebagai seniman paruh baya yang telah menghasilkan banyak karya, terutama puisi, Viribus (50 tahun) berusaha berdamai dengan dirinya terutama penyesalannya telah memilih jalan sebagai seniman pada usia remaja (SMA).

Representasi penyesalan itu dihadirkan melalui dialog atraktif dan pertengkaran antara Ema dan Tria. Pertengkaran itu tidak pernah berhenti sampai akhirnya Viribus yang telah tua memutuskan untuk berdamai dengan penyesalan-penyesalan masa mudanya.

Pada dasarnya, semua percakapan antartokoh itu merupakan dialog Viribus dengan dirinya sendiri sebagaimana terungkap pada akhir cerita dari lakon berdurasi 48 menit tersebut. Hal itu juga terlihat jelas dari junkta-posisi antar aktor yang memerankan tokoh Viribus.

Seni Sebagai “Jalan Yang Lain”

Masih terinspirasi puisi Frost, lakon Teater Satu Lampung ini menempatkan Viribus yang berusia 30 tahun menyesali dan mengutuki mengapa dulu ketika masih SMA ia memilih menjadi seniman.

Hampir semua buku karya para seniman dunia dan Indonesia terkenal dilahapnya. Bagi Viribus, puisi adalah ekspresi kebebasan purna, sebebas kecintaannya pada puisi. Di atas meja belajarnya, tiada buku lain selain tumpukan buku para pujangganya.

Jalan yang dipilih Viribus remaja ini berbeda dari jalan lain yang jarang dipilih teman-temannya di sekolah. Di mana kebanyakan teman-temannya bercita-cita bekerja sebagai PNS, Anggota Dewan, dan sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan itu dalam tatanan sosial masyarakat dilihat sebagai pekerjaan yang memiliki masa depan dan menjanjikan secara finansial.

Sementara bekerja di bidang kesenian, tidak ada pertimbangan akumulasi keuntungan materi atau finansial. Kerja kesenian adalah sebuah pekerjaan untuk peradaban. Viribus, berusaha memberontak terhadap kemauan orangtuanya dan orang-orang yang ingin mempekerjakannya sebagai pegawai pemerintah.

Meski ia tidak pernah tahu bagaimana ujung jalan yang dipilihnya, Viribus barangkali akan berkata dengan sedikit bangga ketika teman-teman dan orang-orang sekitarnya bertanya, “jalan ini jarang dilalui orang, maka saya menempuhnya”.

Sayangnya, jalan yang dipilih Viribus membuat mendatangkan penyesalan panjang ketika ia berusia 30 tahun. Selain keluarganya berantakan, Viribus belum bisa merasakan buah dari segala kecerdasan dan idealisme yang menggebu dalam dirinya. Saat itulah ia mempersalahkan idealisme masa remajanya.

Viribus melihat seni tidak lagi berguna bagi hidupnya; seni tidak bisa membereskan persoalan-persoalan kesehariannya. Tidak seperti teman-teman seusianya yang karirnya menanjak pada 30-an, Viribus justru berkutat dengan ragam persoalan yang hampir tidak dapat diselesaikannya: keluarganya.

Namun pada akhirnya, Viribus menyadari bahwa puncak dari semua pencarian dalam hidupnya, yaitu dalam ekspresi keseniannya adalah Tuhan. Wujud religiusitas Viribus dihadirkan Iswadi di akhir lakon melalui pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang menggelikan, “mengapa sepi ini tidak segera berakhir”. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung di langit-langit pemikiran anak manusia.

Pada titik itulah, lakon ini ingin menghadirkan ruang di mana seorang anak manusia mestinya mencari apa yang paling tinggi dalam hidupnya: bukan materi, bukan uang, bukan harta, tetapi Tuhan. Dan itu hanya bisa dicapai atau didekati melalui aktivitas kesenian: berpikir, merenung, merefleksikan kedalaman realitas dan segala muasalnya.

Tentang Teater Satu

Di dunia teater di Indonesia, nama Teater Satu Lampung sudah tidak asing lagi, bukan saja karena tercatat sebagai salah satu kelompok teater terbaik di Indonesia saat ini, tetapi juga karena perannya yang besar dalam menumbuhkembangkan perteateran di Lampung dan Indonesia.

Boleh dikatakan, Teater Satu Lampung saat ini menjadi salah satu laboratorium teater di Indonesia. Banyak anak muda dari beberapa daerah di Indonesia yang belajar teater di Teater Satu. Ada pula beberapa peneliti yang melakukan penelitian di Teater Satu. Geliat perteateran di Lampung bisa dikatakan tidak lepas dari peran Teater Satu.

Teater Satu didirikan oleh Iswadi Pratama dan Imas Sobariah pada 18 Oktober 1996. Selain keduanya, anggota lainnya bernama Isnaeni Muhimah atau akrab disebut Ema. Pada bulan yang sama mereka menyelenggarakan Festival Monolog se-Lampung yang menjadi momen deklarasi Teater Satu.

Saat itu Ema berhasil meraih predikat Penampil Terbaik dengan membawakan monolog Prita Isteri Kita karya Arifin C. Noer meski kelompok teater ini baru dibentuk.

Produksi pertama Teater Satu Lampung adalah Lysistrata karya Aristophanes (1997). Keberhasilan lakon teater ini menambah anggota Teater Satu dari satu menjadi 20 orang dan terus bertambah hingga kini.

Mulai tahun 2008, Teater Satu Lampung menjadi Mitra Hivos untuk menyelenggarakan tiga projek utama: Panggung Perempuan Sumatera, Jaringan Teater Sumatera, Festival Seni Sumatera. Ketiga proyek utama ini ditujukan untuk mendukung dan mengembangkan kelompok-kelompok teater di Sumatera dalam bidang artistik dan manajemen.

Dalam lingkup internal, Teater Satu Lampung menyelenggarakan program-program peningkatan wawasan anggota berupa: workshop penyutradaraan, workshop pemeranan, workshop artistik, workshop manajemen panggung dan organisasi.

Tahun 2012, Teater Satu Lampung berhasil meraih penghargaan Pentas Teater Terbaik 2012 dari Majalah Tempo melalui pentas “Anak yang Dikuburkan” karya Sam Shepard. Penghargaan yang sama dicapainya pada tahun 2008 dari Malajah Tempo.

Saat ini, kelompok teater ini sedang menggarap naskah “Kursi-Kursi” karya Eugene Ionesco untuk pembukaan Festival Teater Jakarta (FTJ) bulan November mendatang.

Puisi Robert Frost

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

*Daniel Deha

Baca Juga

Tandai HUT Ke-5 JIVA, Galnas Pamerkan Karya 19 Seniman Muda

Portal Teater - Menandai lima tahun Jakarta Illustration Visual Art (JIVA), Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran seni rupa sepanjang 8-27 Januari 2020. Pameran bertajuk...

Sambut Imlek, Mahasiswa UNJ Pentaskan Seni dan Budaya Tionghoa

Portal Teater - Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Sabtu (25/1) akhir pekan ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa...

Komit Bangun Kebudayaan, Bupati Tubaba Gelar “Megalithic Millennium Art”

Portal Teater - Pembangunan kesenian dan kebudayaan di Provinsi Lampung belakangan ini terus bertumbuh. Aktivisme itu tidak hanya digiatkan oleh seniman dan komunitas/sanggar seni,...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...