Seniman Muda Indonesia Raih 19 Medali pada Seni Pertunjukan Dunia di AS

Portal Teater – Seniman muda Indonesia berhasil menyabet 19 medali pada pagelaran dunia seni pertunjukan World Championship of Performing Arts (WCOPA) ke-23 tahun 2019 kategori anak-remaja (11-15 tahun) pada 12-23 Juli di Long Beach, California, Amerika Serikat.

Ini makin menandai era kebangkitan dunia kesenian Indonesia di kancah internasional. Tentu, hal itu mesti didukung oleh penciptaan ekosistem kesenian yang berkelanjutan.

Belakangan ini kita mendengar kabar tentang musisi rap Indonesia yang sedang on fire di negeri Paman Sam, Rich Brian, yang mendapat keistimewaan dari Presiden Joko Widodo karena deretan lagunya memuncaki tangga teratas Itunes dunia dalam kategori hip-hop.

Rich Brian juga menorehkan prestasi karena dirinya menjadi cover iklan Spotify yang terpampang di New York Times Square. Ini jadi bukti kalau masih banyak pasa seniman muda yang mampu membanggakan publik seni tanah air di kancah internasional melalui karya-karya mereka.

Akhirnya muncul lagi para anak muda berbakat lainnya yang juga berhasil meraih 19 medali dalam perhelatan WCOPA 2019 di AS. Setidaknya ada empat belas anak yang mewakili Indonesia dalam pagelaran tersebut.

Adapun ke-14 anak muda Indonesia itu berasal dari Jakarta, Tangeran, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Utara. Di sana mereka bersaing dengan 65 negara lainnya dalam bidang seni pertunjukkan seperti penyanyi, penari, aktor, musik, dan modeling.

Putra-putri Indonesia tersebut secara konsisten unggul di kategori vokal Pop, RnB, Soul/Jazz, Gospel, Open all style, bernyani sambil bermain musik, dan bermain musik.

Tentu saja ini menambah daftar panjang pemuda Indonesia yang berhasil berprestasi secara internasional di bidang kesenian.

Menurut Direktur Nasional WCOPA Indonesia Feibe Pusung dalam pernyataannya pekan lalu, prestasi tersebut merupakan hasil kerja keras para duta tanah air di bidang seni untuk berunjuk diri di hadapan para kompetitor berkelas dari negara lain.

“Sebagai Direktur Nasional saya memberi penghargaan setinggi-tingginya kepada kontestan yang sudah meraih medali dan berprestasi di bidangnya,” katanya.

Ke depan, ia berharap adanya dukungan pemerintah agar ada keberlanjutan proses penciptaan karya seni Indonesia bagi anak-anak tersebut, apalagi dengan bekal pengalaman internasional tersebut yang  dapat terus diasah menjadi lebih baik dalam setiap penampilannya di masa mendatang.

Karena perhelatan internasional tersebut berlangsung tiap tahun, maka pihaknya berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah untuk World Championships of Performing Arts 2020.

Boleh dibilang, pencapaian Indonesia ini menurun bila dibandingkan dengan ketika pertama kali mengikuti pagelaran ini di tahun 2015 yang berlangsung pada 13-18 Juli di Long Beach, California, AS.

Waktu itu, Indonesia berhasil manyabet 30 medali: 9 medali emas, 9 medali perak, dan 12 medali perunggu dari sejumlah nomor kompetisi, antara lain dalam bidang vokal, instrumen, tari, serta modeling, dan berhasil meraih sejumlah gelar juara dan medali.

Adapun Eunika Debora Setiadarma yang memainkan instrumen musik piano waktu itu berhasil meraih gelar World Champion Instrumentalist. Sementara Kyla Christine Hambali dari kelompok Junior, serta Tiffany Geraldine Putri dan Vion Vinata dari kelompok Senior berhasil menyabet Industry Award.

Selain itu, Kyla Christie Hambali (junior) dan Tiffany Geraldine Putri (senior) menyabet Overall Winner Medal, yaitu penghargaan bagi peserta terbaik dari seluruh kategori usia.

Dengan keikutsertaan sejak 4 tahun lalu, saat ini Indonesia telah berhasil mengumpulkan 80 medali dari keunggulannya dalam seni pertunjukan berskala internasional itu.

Tahun depan, WCOPA akan diadakan di Disneyland, California, AS, pada 24 Juli-2 Agustus, sehingga akan menarik lebih banyak kontestan untuk berunjuk diri.

*Daniel Deha

Baca Juga

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

Terkini

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Memaknai Medium dalam Konteks Praktik Seni Kontemporer Lintas/Nir-Medium

Portal Teater - Seni kontemporer hari-hari ini acap kali bergerak sedemikian bebas dari satu bentuk ke bentuk lain, dari satu praktik ke praktik lain, dari...