“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater – Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran “Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini diadakan sepanjang 12 Desember-15 Januari 2020.

Jika memang pameran ini tidak sekedar mengenang atau “mengingat-ingat” penulis kritik seni rupa terbaik Indonesia itu, maka ada satu pertanyaan yang perlu ditawarkan dalam perbincangan lebih lanjut, karena dalam diskusi-diskusi yang digelar, isu tersebut belum muncul.

Yaitu perihal bagaimana membudayakan, atau dalam terminologi Nirwan Dewanto (salah satu pembicara dalam diskusi buku Sanento): “menginstitusionalisasikan” wacana kritik seni rupa di Indonesia pada masa yang akan datang, terutama di era digital.

Sejak Sanento meninggal pada Mei 1992, hampir tidak ada lagi kritikus seni rupa yang memiliki standar tulisan yang setara dengan penulis kelahiran 1941 tersebut.

Saat ini kita memiliki satu penulis esai dan kritikus seni rupa yang cukup produktif (dan telah menerima beberapa penghargaan “lifetime”), yaitu Bambang Bujono. Sejak 1968, penulis ia telah menulis setidaknya 445 esai dan kritik seni rupa. Mayoritas tulisannya dimuat pada Majalah TEMPO.

Beberapa penulis yang lebih muda mencoba membentuk iklim penulisan esai seni rupa seperti para pendahulu mereka. Namun, acapkali, tulisan tersebut tidak melulu melalui pengalaman “menatap” yang dalam.

Beberapa lainnya memilih “menatap pada tempat lain”, demikian Nirwan mennganalogikannya dalam diskusi buku Sanento di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1) malam, merespon tulisan-tulisan yang “tidak menilai karya seni”, tapi lebih menghujani objek seni dengan teori atau wacana konseptual.

Diskusi buku "Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)" karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara: Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. portalteater.com.
Diskusi buku “Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)” karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara: Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. portalteater.com.

Dengan kondisi demikian, kita tidak dapat berharap banyak bahwa budaya kritik seni rupa akan bertumbuh, terutama untuk mendukung perkembangan ekosistem seni (rupa) di Indonesia di masa depan.

Apalagi, seperti kata Nirwan, kebanyakan lulusan pendidikan (tinggi) seni rupa saat ini lebih memilih jalan lain dengan menjadi kurator dan beberapa lainnya menjadi pelukis atau perupa.

Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran bersama, bahwa masa depan kritik seni rupa di  Indonesia akan suram, bahkan mati, setelah generasi yang lebih tua tidak bisa lagi menulis.

Di sisi lain, kritik seni rupa, seperti yang ditulis Sanento Yuliman, Oei Sian Yok dan Bambang Bujono, dikatakan cukup produktif pada masanya mengingat antusiasme publik merespon dan mengapresiasi tulisan-tulisan tersebut.

Sian Yok menulis untuk Star Weekly pada era 1950-an, media khusus orang-orang Tionghoa; Sanento menulisnya untuk Tempo, Kompas dan Pikiran Rakyat pada era 1960-an. Sementara Bambu, begitu sapaan Bambang Bujono, menulis untuk Tempo sampai saat ini.

Dari ketiga penulis ini, ada perbedaan karakter media dan orientasi penulisan. Sian Yok menulis sebagai materi liputan pameran seniman-seniman Tionghoa; Sanento menulis karena ia adalah seorang dosen, peneliti, pengamat seni rupa yang juga bekerja di media; dan Bambu menulis lantaran bekerja sebagai wartawan.

Nirwan dalam diskusi Rabu (15/1) mempertanyakan: apakah mungkin ada kritik seni rupa bila ketiga penulis ini tidak bekerja di media? Bagaimana kita dapat memetakan dan mengetahui secara pasti artefak seni rupa pada masa-masa itu jika tidak ditulis oleh ketiganya?

Ini bukan semata pertanyaan Nirwan, tapi juga menjadi pertanyaan yang menggantung bersama di langit-langit pemikiran generasi masakini.

Karena itu, penulis kritik seni rupa tidak lagi menjadi hak prerogratif seniman (dengan latar pendidikan seni rupa), tapi di kemudian hari dapat dilakukan oleh kurator, jurnalis dan pengamat seni rupa, yang mau melapangkan waktunya bagi pertumbuhan kesenian.

Asumsi ini tentu berangkat dari pengalaman yang mencatat bahwa tidak sedikit seniman besar di Indonesia adalah orang-orang yang tidak berpendidikan seni. Tapi mereka mau berkarya sebagai seniman, baik di bidang teater, seni rupa, tari, musik, dan seterusnya.

Peserta memadati ruang diskusi buku "Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)" karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara: Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Peserta memadati ruang diskusi buku “Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)” karya Sanento Yuliman di Galeri Cipta II, TIM Jakarta, Rabu (15/1). Pembicara: Iwan Meulia Pirous (kanan) dan Nirwan Dewanto (kiri)⁣, moderator: Hendro Wiyanto (tengah)⁣. -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Kritik Seni Rupa di Era Digital

Di era digital saat ini, satu pertanyaan lain mengemuka: bagaimana media-media masakini (media baru) mengakomodasi kritik seni, termasuk seni rupa?

Bambu dalam diskusi buku Selasa (14/1) sore mengatakan, rubrik seni pada Majalah Tempo saat ini sedang paceklik. Selain pembacanya sedikit (sekitar 3%), masyarakat saat ini cenderung mengkonsumsi informasi dari media besar untuk berita-berita penting, seperti politik, ekonomi atau hukum, dll.

Dengan itu, rubrik seni tidak tidak dapat dibranding untuk mendapatkan iklan. Sebab, untuk menarik minat pengiklan, sebuah rubrik minimal memiliki pembaca sebanyak 10% dari keseluruhan pembaca di suatu media.

Hal itu dibenarkan Efix Mulyadi, salah satu pensiunan wartawan. Dia mengatakan, strategi media saat ini lebih berorientasi profit, yaitu perihal informasi atau isu apa yang akan paling banyak dibaca masyarakat.

Karena itulah, sudah menjadi rahasia umum, pelaku media cenderung mengkapitalisasi isu untuk mengangkat rating atau clikbait. Isu seni pada takaran tertentu menjadi kurang diperhatikan.

Lantas, bagaimana semestinya kritik seni (rupa) memposisikan dirinya di dalam lingkaran kerja seperti ini. Sebab, pada dasarnya penulis kritik membutuhkan medium untuk menyampaikan gagasan dan wawasannya tentang kesenian.

Pada hematnya, kita tidak dapat menolak kenyataan bahwa seiring perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumsi informasi di kalangan khalayak, budaya kritik seni rupa kian suram, seolah memasuki masa pancaroba.

Digitalisasi media massa yang bekerja seturut logika pasar, tentu bekerja secara kontradiktif dengan kritik seni yang bekerja seturut logika budaya.

Dalam logika budaya (atau yang dikenal sebagai “waktu kultural”), orang tidak dapat dapat dipaksa untuk mencerna informasi atau bacaan bermutu seperti kritik seni, secara cepat dan tergesa-gesa.

Untuk membaca sebuah tulisan kritik, pembaca perlu waktu kualitatif untuk duduk sejenak, mengendap pengalaman dan pengetahuan, lalu mengunyah satu per satu kosakata yang muncul dalam sebuah tulisan.

Itu berbeda dengan perilaku membaca menurut logika pasar. Umumnya, perilaku konsumen atau khalayak pembaca di era ini hanya dengan melihat judul, gambar/foto, lead/intisari tulisan (biasanya ada diparagraf awal), lalu scroll sembari melihat hyperlink atau tautan berita lain yang diperlukan.

Perilaku membaca seperti inilah yang berbeda 360 derajat dengan kebiasaan membaca pada masa-masa lalu ketika internet tidak begitu mempengaruhi perilaku membaca masyarakat komunikasi.

Dari penggambaran ini kita boleh mengkategorikan dua dimensi pembaca kritik seni rupa secara berbeda. Pertama, tulisan kritik seni kemudian hanya dikonsumsi kalangan seniman, pegiat, peminat dan pencinta seni, dll.; dan kedua, kritik seni belum mendapat apresiasi yang luas dari publik.

Apakah dengan demikian, kita tidak membutuhkan kritikus seni di era media digital? Sudah ada studi independen penerbitan seni berbasis cetak, produksi seni (media) online, dan elektronik sastra, tapi belum ada sejarah kritik seni online.

Kritikus seni Jerry Saltz dari Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu pelopor kritik seni di media-media online saat ini, seperti Facebook, Twitter, blog, website, dan media baru (Charlotte Frost, 2019).

Menurut catatan Frost, platform paling awal yang cukup merepresentasikan gelombang kritik seni online adalah perpidahan dari ARTEXT ke Arts Wire pada era 1990-an di AS.

Bagi Frost, kritik seni online (digital) agaknya menjadi lebih dari suatu bentuk hibrida — karena kerap lebih terbuka atau partisipatif, cepat tersebar dan dapat menghasilkan dokumen yang tetap “hidup” dari sebuah karya seni. Itu kelebihannya.

Namun, yang terjadi di Indonesia, yang paling banyak mendokumentasikan karya seni adalah wartawan, dan belum menjadi pekerjaan seorang pelaku seni.

Hari ini kita melihat ada wartawan yang bersetia meliput kegiatan seni, apapun bidang seninya. Sebagai jurnalis, mereka perlu mewawancarai seniman untuk mendapatkan objektivitas tulisan; atau menanyai publik yang ikut menyaksikan sebuah pameran atau pentas karya seni.

Secara jurnalistik, tulisan wartawan tersebut telah memenuhi standar keberimbangan, objektivitas, dan keakuratan.

Namun, menurut Alia Swastika, salah satu pembicara dalam diskusi buku Bambu, Selasa (14/1), karya jurnalistik tersebut bukan sebuah bentuk kritik, tapi hanya sebentuk laporan.

Bagi Alia, seorang kritikus harus menilai secara subjektif sebuah karya seni rupa, misalnya. Seperti yang dilakukan Bambu, yang menulis tidak merujuk pada teori atau narasi besar, tapi berdasarkan pengalaman melihat sebuah karya seni rupa.

Tentu, secara esensial, kritik seni dan karya jurnalistik, adalah dua mata koin yang berbeda. Namun keduanya bisa dijalin bila ada satu medium yang dapat menjembataninya.

Di era digital, dengan segala kemudahan dan kecanggihannya, seperti asumsi Frost, sebenarnya tidak sulit merancang satu media khusus yang mempublikasikan kritik seni rupa, termasuk juga kritik-kritik seni yang lainnya.

Mengapa perlu dibuat secara spesifik, karena selain untuk menyasar segmentasi pasar atau pembaca khusus, medium tersebut dimaksudkan agar tulisan-tulisan kesenian (baca: kritik) tidak tumpang tindih dengan aneka rubrik lain, seperti rubrik politik, ekonomi, hukum, dll.

Perlu Dukungan Berbagai Pihak

Yang perlu juga diberdayakan saat ini adalah ketersediaan sumber daya manusia dan dukungan atau sponsorship.

Saat ini, tidak banyak lulusan kesenian mau menjadi penulis. Sebaliknya, yang mau bekerja sebagai penulis (seni) adalah orang-orang bukan tamatan ilmu seni yang boleh dibilang punya pengetahuan minim tentang seni. (Hal ini dapat diperdebatkan lagi).

Selebihnya, dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah, untuk memberdayakan penulis (kritik) seni (termasuk juga pegiat seni) belum signifikan.

Sebab, jika memang pemerintah menginginkan agar budaya kritik seni bertumbuh, maka ia harus mendanai satu lembaga atau wadah tertentu untuk melakukannya, terutama dalam menjamin ketersediaan SDM dan masa depan kesenian.

Sarasvati Art Communication and Publication (sarasvati.co.id), salah satu media berbasis Jakarta Barat secara mendalam menulis pameran seni rupa.

Tapi menurut cerita Selvi Agnesia, salah satu peserta pegiat seni di Galerikertas Studiohanafi, saat ini sudah tutup (lay off) karena ketiadaan sponsor. Artinya, secara jujur boleh dikatakan bahwa jaminan finansial para penulisnya tidak aman.

Di Yogyakarta, ada salah satu media yang mendokumentasikan berita-berita seputar pentas teater sejak masa pra-kemerdekaan hingga saat ini, namanya Seputar Teater Indonesia (seputarteater.wordpress.com), pun patut diapresiasi.

Meski bekerja secara independen, media-media ini cukup intens meliput dan mendokumentasikan kegiatan kesenian di Indonesia. Namun, satu kendala yang tidak dapat dihindari oleh pekerja independen, yaitu keterbatasan dana.

Pemerintah dan juga lembaga-lembaga donor, di satu sisi dapat hadir sebagai ‘penjamin’ untuk terus memberdayakan komunitas dan pekerja-pekerja independen tersebut.

Hanya itu yang dapat dilakukan untuk satu tujuan bersama: membu(di)dayakan penulisan kritik seni dan perkembangan ekosistem kesenian.*

Baca Juga

Forum Seniman Peduli TIM Gelar Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI

Portal Teater - Sejak November 2019, sejumlah seniman, budayawan dan pelaku budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM (FSPT) menggelar aksi 'silet movement'...

“CAGAK”: Berani Memilih Jalan yang Benar

Portal Teater - Jika seorang anak manusia dikondisikan untuk memilih salah satu dari dua pilihan beroposisi biner: kebaikan atau keburukan, maka ia akan memilih...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...