Seperti Hidup Corona dalam Teks Kematian

Oleh: Arung Wardhana Ellhafifie*

Portal Teater – Menonton pertunjukan Ferry C. Nugroho dalam ujian Tugas Akhir Seni Program Magister Institut Seni Indonesia Surakarta, pada Selasa (17/3) di Black Box Theatre ISI Surakarta, dengan batas virus corona yang juga cukup merobek dinding kebebasan setiap manusia di negeri ini, termasuk di Surakarta, sekelebat saya dihadapkan dengan keterbatasan itu dalam sebuah pertunjukan.

Pada mulanya saya disinyalir akan nonton dari ruang kontrol lampu karena dibatasi dengan 10 orang penonton saja selain para Penguji, Kaprodi, Staf Jurusan, dll., namun  kenyataannya saya bisa masuk ke ruang tamu Ferry yang saya tidak pernah tahu sebelumnya karena dinding yang ‘robek’.

Saya mengenalnya hanya pada beberapa pertemuan, meski di antara kami tidak saling kenal, dan juga mengetahui dari media yang sudah ‘robek’, seperti menjadi kereografer IDF 2016, dan pernah terlibat dalam platform Teater Garasi: Cabaret Chairil, 2019).

Kalau saya ingin merobek batas dindingnya, mungkin saya berusaha mengenalnya tanpa tahu namanya, dan bercerita panjang lebar soal seks, corona, maskulin, dan feminin, hingga batas-batas yang bisa kita ‘robek’ semaunya.

Salah satu simulasi lainnya dalam presentasi pertunjukan Ferry C. Nugoroho sebagai tawarannya dalam performativitas. -Dok. AWE.
Salah satu simulasi lainnya dalam presentasi pertunjukan Ferry C. Nugoroho sebagai tawarannya dalam performativitas. -Dok. AWE.

Batas Ruang Tamu Di antara Kita Di mana?

Pertanyaan yang mungkin bisa lacak kembali arsip kita mengenai ruang tamu masing-masing, atau watak kerja dari sebuah ruang, yang mungkin kita bisa robek, karenanya tidak perlu dicari jawaban.

Saya ingin melacak saja dengan memanggil ingatan terhadap tulisan Hans-Thies Lehmann, profesor pertunjukan di Wolfgang van Goethe, Jerman (lih. Hans-Thies Lehmann: Postdramatic Theatre. 

Penerjemah Karen Jurs-Munby (2006) menyebut bahwa karya seniman Polandia, Tadeusz Kantor, apa yang dilakukannya jauh dari aksi dramatis karena menggabungkan ragam bentuk seni antara teater dengan performance, happening, seni lukis, seni pahat, seni benda dan seni ruang angkasa, dan, yang terakhir, refleksi dalam teks-teks teoretis, tulisan-tulisan puitis dan manifesto.

Saya juga mencatat dalam karyanya bisa mungkin cara kerja dramaturgi yang dilakukan Lessing sebagai manajer sastra pun bisa diolah kembali dalam rangka penyatuan sekumpulan cabang seni seperti halnya manuskrip-manuskrip seni.

Kolase-kolase seni yang dihadirkan dengan memorik tubuh senimannya dalam segala urutan periodisasi yang bisa ulang alik antara memorik masa kecil, sekarang, remaja, jelang kematian, atau pembacaan di masa depan atau bisa disebut imajinasi kematian yang ada dalam kerangka kepala kita.

Ferry mencoba mengungkap kembali perjalanan historisnya selama menempuh studi di ISI dengan membuat bagan-bagan ruang seputar kampus, Taman Budaya Jawa Tengah, event, tempat kos, dll., maupun membuat skema pengetahuan bisnis, ekonomi, budaya berdasarkan interaksi sosialnya yang semuanya dipresentasikan oleh para peraganya.

Ia menggabungkan watak kerja presentasi dengan penawaran sebuah produk di sebuah ruang tamu; di mana juga memuat permainan, tari, kelihaian, kewaspadaan, hiruk pikuk sosial yang terjadi di kampus.

Mengutip Victor Turner, antropolog Amerika Serikat, menyebutnya dengan drama sosial (diskriminatif, bullying, ketertekanan, keterpencilan, kekosongan) yang semuanya dirangkum pada satu nama ruang batas.

Batasan ruang duduk yang tersekat, batasan ruang dalam dua kotak atau tiga kotak, batasan dalam lemari dan di luar lemari, batasan rumah susun berpenghuni dengan rumah susun yang baru, termasuk batasan ruang kamar tidur dengan kamar mandi memiliki batasnya sendiri.

Ada tawaran produk seni yang diajukannya kepada publik layaknya Tadeusz Kantor dengan cara lain; tetapi masalahnya ada banyak paradoks dalam kinerjanya yang mungkin bisa dilacak kembali dari hal yang sederhana.

Barangkali catatan ini sangat berbeda jauh dengan para penguji. Yang jelas saya melihat Dr. Dr. Eko Supriyanto, S.Sn., M.F.A, Dr. Silvester Pamardi, S.Kar., M.Hum., Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum., dan Zulkarnaen Mistortoify, M.Hum., ada dalam batasan itu.

Saya seketika ingin melacak kembali hasil risetnya, karena pertunjukan ini berbasis riset, meminjam istilah Lehmann disebut sebagai pertunjukan postdramatic.

Menurut Lehmann, postdramatic merupakan sebuah kinerja yang dihasilkan dari suatu sikap seseorang melalui pertunjukan di mana drama merupakan bagian dari komponennya, bukan sebuah drama yang terancang dengan konvensinya.

Praktik-praktik drama dalam realitasnya berdiri sebagai objek yang dikelola, diteliti, dan diselidiki sebagai representasi maupun interpretasi dari satu keadaan yang sudah tercipta sebelumnya. Dari historiografi sampai ke biografi.

Jangan-jangan Ferry terjebak dengan arti batas yang dipertanyakannya melalui mata kuliah studio; dengan melakban satu perfomer ke performer lainnya tanpa memikirkan ada berapa banyak batas yang sudah dirobek maupun yang belum.

Atau Ferry sedang mempertanyakan kembali di antara robekan dan yang tidak dirobek melalui ruang tamunya yang sebenarnya sudah banyak menciptakan paradoks di setiap perlintasan kinerjanya, yang akan saya lacak di bagian berikutnya.

Entah apakah hal ini sudah dilacak sebelumnya, atau memang tidak ingin dilacak, padahal sebetulnya pertunjukan yang disajikan berpotensi untuk merobek-robek batas dalam skala yang lebih luas hingga hal yang sempit sekalipun.

Batasan antara Ruang Tamu dengan Peristiwa

Merujuk pada pemikiran Markus Hallenslebe (2010:9), saya melakukan pembacaan performativitas pertunjukan yang signifikan pada karya Ferry.

Sebab ada komunikasi tubuh yang dihadirkan berupa konfirmasi kebenaran, review pengalaman, ‘muntahan’ dari tahapan proses mulai ia tidak bisa menari sampai jadi penari hingga sebagai pengkarya.

Kemudian ada juga pernyataan dalam pernyataan lainnya yang membutuhkan reaksi secara langsung (tidak harus berinteraksi dengan yang bertamu), bukan menggunakan sistem simbol layaknya bahasa.

Saya ingin me-recall ingatan akibat pantulan dari pertunjukan Ferry (hampir serupa pendekatannya dengan penyutradaraan Bambang Hidayat pada 2017 lalu, sekalipun Bambang hanya pada peluangnya, Ferry sudah mewujudkannya).

Saya juga hubungkan dengan satu mural Auschwitz (dengan gambar balerina, dan penggunaan gambar tari lainnya, memberikan contoh yang menarik sejauh mereka mengacu pada tubuh sebagai dasar dan bahan untuk penciptaan artistik) yang bisa mungkin dilakukannya untuk performativitas pertunjukan (lih. Guntur, 2016).

Sayangnya tubuh Ferry yang muncul dalam ruang tamunya seperti ‘tawanan’ perang wacana atau narasi yang hadir di dalam kemelutnya pernyataan, kaitannya peran pemilik ruang tamu yang tampak ragu dengan wacana yang hadir.

Saya sebagai tamu yang sudah ‘merobek’ dinding sudah disuguhkan dengan konvensi kembali. Entah mengapa, komunikasi tubuh terhadap publik seperti mengalami tekanan dalam performativitas.

Maka penting diketahui sebagai pelaku pertunjukan untuk memahami keinginan-keinginan yang hendak diinformasikan ke hadapan publik. Bukan hanya terpacu pada bentuk yang ada di dalam kepala dan cenderung membingungkan.

Sebetulnya Ferry sudah terbebas dari ‘batas’ tersebut, yang menurut saya, menarik.

Di sisi lain, sekalipun ‘tawanan perang’ atau tahanan di Auschwitz (ataupun kamp-kamp lain) juga mempraktikkan seni seperti balet klasik dan segala macam bentuk tarian lainnya dengan ketertekanan, tapi komunikasi sangat aktif dalam tubuhnya.

Namun Ferry mengalami keterbalikannya yang tampak pasif dari timbre, injeksi, ritme yang dihadirkannya sebagai ‘tuan rumah’.

Padahal dalam performativitas pertunjukan sangat memerlukan komunikasi fisik yang aktif, figur metaforis dan gerakannya bisa saling menyatu (integrasi) antar peraga/simulator, yang pada pertunjukan Ferry hampir seumuran (21-25 tahunan), sangat memungkinkan penandaan dari tubuh yang reaktif, dari segala macam problematika wacana pembongkaran ‘batas’ yang hendak diinginkan.

Secara konteks, Ferry sedang memperlakukan ruang tamunya sebagai ruang yang pasif kah? Atau ruang tamu dalam peristiwanya sekalipun saya selaku tamu tidak harus aktif dalam verbalitas, tetapi bisa lebih hadir dalam kehadirannya. Saya seperti hadir yang tidak hadir.

Pertunjukan ini menurut saya tidak tepat dibuat mengambang karena ruang tamunya sudah membungkus dalam keinginan untuk ‘merobek’ dinding.

Bisa mungkin Ferry sebagai pengkarya tidak pernah memikirkan hubungan pertunjukannya dengan performativitas yang sangat membutuhkan reaksi (sekalipun para tamu hanya diam, tapi aktif dalam pikiran, testimoni, maupun pendapat terhadap ujaran-ujaran yang sudah disampaikan melalui pertunjukannya).

Atau mungkin juga pertunjukannya tidak ada kaitannya dengan performativitas jika memang dikaitkan dengan ‘tubuh ketertekanan’ yang memang tidak punya kuasa terhadap teks, termasuk kuasa terhadap teks-teks Corona yang menjadi penyakit kemanusiaan di saat ini.

Batas Dokumen Corona sebagai Arsip

Erika Fischer-Lichte, profesor teater pada University of Berlin (lih. Mladen Ovadija, 2011:76), menjelaskan bahwa penciptaan identitas yang dimaksudnya adalah orientasi pengaruh terhadap penonton yang berdasarkan satu kesamaan pengalaman.

Transformasi fungsi pengamatan kita tidak dapat dilakukan kalau perspektifnya sebagai performatif.

Saya sejujurnya merasakan memiliki satu pengalaman yang sama dengan tindakan yang dihadirkan di atas panggung seputar wacana batas dalam mata kuliah Studio hingga mlaku-mlaku di ruang lingkup yang bisa dikatakan kecil, mungkin juga tamu lainnya juga memiliki pengalaman yang sesuai.

Para performer juga mampu memberikan spasial antara tindakan yang dipraktikkannya dengan saya sebagai tamu.

Mereka sudah mampu memberikan saya kepada satu ilusi pertunjukan tentang adanya kumpulan-kumpulan peristiwa historis yang masih dinikmati, tetapi ada juga peragaan yang tidak dapat memberikan satu memorik terhadap pengalaman yang diceritakan Ferry.

Muncul pertanyaan lain pada Fischer-Lichte: dapatkah persepsi dalam tindakan performatif mampu menciptakan identitas? Hal ini berhubungan dengan estetika pertunjukan dalam material performatif yang dikemukakannya memosisikan penonton di antara hubungan representasi dan pertunjukan itu sendiri.

Pengalaman saya sebagai tamu akan terbantu oleh para peraga (pembantu tuan rumah) dalam proses pendokumentasian secara teks (simulator), visual, proses keterhubungan kerja, keterikatan, dan saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya.

Apakah memang ada kesengajaan tidak menggunakan peristiwa kerja ruang tamu dengan pertimbangan lainnya? Entah!

Performatif akhirnya dengan segala macam tindakan dalam identifikasi memberikan kedudukan yang sama dengan performernya.

Tidak ada batasan yang dimaksud dalam tindakan performatif antara pengamatan dari subjektivitas penonton dengan kinerja performer adalah terjadinya kesamaan sikap.

Sekali lagi ruangnya sudah terobek sekalipun masuk pada sirkulasi batasan tersebut. Barangkali pemecahannya terletak pada ruang lingkup yang spesifik atau sebaliknya secara global hingga ditarik pada spesifikasi batasan yang paling privat.

Layaknya saya akan mempertanyakan di mana batasan dokumen virus Corona sebagai arsip yang sudah hadir dengan pasien yang terdampak dan mengalami teks kematian?

Atau pasien yang masuk pada ketakutan teks kematian? Atau berapa hari lagi kita menghitung agar teks kematian virus Corona betul-betul tidak hadir di dunia ini?

Nah, maka banyak pula berbagai macam presentasi di antara batas dokumen corona dan orang-orang yang sehat, sejauh mana batasan Corona bisa menyerang manusia yang sehat? Atau seberapa ketahanan tubuh menolak Corona, dst.?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini biasa lahir dari sebuah pertunjukan performatif yang dibahas oleh Fischer-Lichte.

Karena itu sekali lagi untuk mengakhiri catatan ini, bagi saya penting sekali data-data riset pertunjukan karena karakter performatif akan mempengaruhi kerja dramaturgi; operasi sistem kerjanya dan bagaimana tata pengolahannya.

Sekalipun Ferry paham betul apa yang hendak diinginkannya, tetapi tampaknya sifat mengambang pada pertunjukan ini rasanya kurang pas.

Di mana daya jelajah robekannya tidak terlalu dalam yang membuat kita aktif dengan segala macam statement, ulasan, sikap, maupun uneg-uneg layaknya seorang tamu (yang baru kenal atau yang lama kenal) terus hidup. Ini sama halnya kita selalu disibukkan antara batasan dokumen corona dengan teks-teks kematian ke depannya.

Saya pun sangat menyayangkan analisis Edward T. Hall dengan teori prosemiknya yang hanya dihadirkan sebagai kendaraan yang berlalu lintas, dan bukan sebagai ‘pisau bedah’ dari pertunjukan ini, mungkin juga bisa membedah jantung virus Corona.

*Penulis adalah pengamat muda teater, saat ini sedang menempuh Studi Pascasarjana pada Institut Seni Indonesia Surakarta.

Baca Juga

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

“Dini Ditu” Teater Kalangan: Menjahit Publik di Ruang Digital

Portal Teater - Kehadiran pandemi virus corona barangkali tak pernah dipikirkan atau diramalkan, meski ada teori konspirasi yang menyeruak belakangan bahwa Bill Gates telah...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...