Seteguk Kopi untuk Penonton di Bulungan

Portal Teater – Sekelompok anak muda duduk mengitari meja hidangan. Di atasnya ada gelas-gelas kopi, makanan ringan, nasi uduk, bungkus rokok, korek gas, dan properti lainnya yang biasanya banyak dibawa kaum hawa.

Ada yang aktif mengobrol, ada pula yang diam memandang smartphone-nya. Tersenyum-senyum atau menggidik temannya ketika ada berita atau video menarik. Sementara kopi panas dan asap rokok seakan mengepul bersamaan ke sekelilingnya.

Sekiranya lebih dari sepuluh meja dengan deretan kursi merapat pada tungkai meja-meja itu. Ada meja yang berada di bawah tenda beratap, tapi lebih banyak meja lainnya tanpa atap, alias terbuka.

Malam itu adalah malam minggu, persis di penghujung bulan Februari. Tidaklah mengherankan bila sekelompok anak muda ini memilih mejeng di luar rumah atau kosan mereka setelah seminggu mereka kuliah atau bekerja, atau kedua-keduanya.

Yang menariknya, mereka seakan enggan untuk pergi ke mall, atau tempat hiburan, seperti kebanyakan anak muda Jakarta lainnya. Di Bulungan, mereka menemukan ada aura kekeluargaan yang jarang ditemukan di sudut lain ibukota.

Bisa ditaksir usia mereka berada di sekitar 17-20-an. Masih energik dan masing ingin besenang-senang dan menghabiskan waktu bersama sahabat terdekat.

Gelanggang Remaja Bulungan, di Jakarta Selatan, menjadi satu pilihan terbaik untuk menghabiskan waktu kualitatif mereka. Perempuan maupun laki-laki. Barangkali ada yang menjadikannya sebagai tempat pacaran atau sekedar bersua.

Suasana begitu cair dan ramai lagi kondusif. Mereka duduk berpasang-pasangan. Ada juga yang berkelompok dan banyak.

Warung-warung makan yang tersedia di dalam kompleks itu memang sengaja dihadirkan untuk menarik minat anak-anak muda ini untuk mencairkan kota Jakarta yang beku dan berkabut.

Tidak hanya malam minggu, di malam lain, mereka berduyun-duyun mendatangi tempat ini. Jumlah kedatangan mereka tak bisa ditaksir. Ada yang banyak, sehingga berdesakan dan memilih duduk di atas bangku-bangku kayu, tapi kadang juga sepi.

Saya yang duduk bersebelahan dengan anak-anak muda ini, memilih tempat yang lebih nyaman, yaitu di bawah tenda beratap. Di sana saya semeja dengan beberapa anak muda lainnya. Mereka umumnya masih kuliah.

Mereka bukanlah hanya anak-anak asli Jakarta, tapi ada yang datang jauh-jauh dari Jombang, Surabaya, atau Jawa Tengah, Sumatra, dan beberapa daerah lainnya, untuk melanjutkan pendidikan mereka di ibukota.

Sebuah pemandangan yang tidak hanya baru, tapi juga luar biasa. Belum pernah saya melihat hal serupa terjadi di Taman Ismail Marzuki (TIM), atau di situs atau studio kesenian lain di ibukota. Di Bulungan, ada sesuatu yang berbeda.

Ketika hujan mengguyur Jakarta malam itu, mereka tidak membuat mereka lekas bergegas, tapi makin menghangatkan pertemanan di antara mereka.

Teras Gedung Pertunjukan, Gelanggang Olahraga, warung makan, dan tenda-tenda di sekitarnya dipakai sebagai pelindung sementara. Mereka kembali merapat ke meja-meja itu ketika hujan reda. Dan obrolan masih berlangsung hingga dini hari.

Sekelomppok anak muda menghabiskan malam minggu mereka di Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan, Sabtu (29/2) malam. -Dok. portalteater.com
Sekelomppok anak muda menghabiskan malam minggu mereka di Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan, Sabtu (29/2) malam. -Dok. portalteater.com

Ruang Alternatif

Sembari melihat-lihat mereka, saya membuka obrolan dengan Toto Sokle, Ketua Simpul Interaksi Teater Selatan (Sintesa). Ia mengatakan, Gelanggang Pertunjukan Bulungan dirancang khusus menjadi ruang alternatif pertemuan anak-anak muda ini.

Gagasan itu bermula dari kegelisahan Sintesa melihat manajemen perteateran di Jakarta yang masih belum terkelola secara rapi. Terutama manajemen mengelola penonton.

Salah satu musisi terbaik Festival Teater Jakarta (FTJ) itu memandang, penonton teater masakini perlu dipelihara dan dijaga agar mereka bertransformasi menjadi menjadi penonton yang loyal terhadap karya pertunjukan.

Hal itu sejalan dengan hasil penelitian Sri Bramantyo Abdinagoro dalam paparannya pada FTJ 2019 lalu. Bahwa grup-grup teater perlu merawat penontonnya. Untuk mencapai tujuan itu, mereka harus memiliki strategi untuk menariknya.

Tidak hanya itu. Mengumpulkan sekelompok anak-anak muda pada sebuah arena yang dekat dengan gedung pertunjukan seperti di Bulungan, juga merupakan salah satu cara untuk mendekatkan dan memperkenalkan penonton milenial dengan karya pertunjukan.

Sebagaimana penuturan Toto, anak-anak muda tersebut bukanlah sekelompok milenial yang datang begitu saja ke tempat itu. Mereka sudah memiliki keterhubungan dengan tempat dan ruang di sekitarnya.

Karena itu, ketika ada pertunjukan, seperti adanya program Pesta Raya International Festival, atau pertunjukan-pertunjukan lainnya, penonton yang telah terindentifikasi itu dengan mudah masuk ke dalam gedung pertunjukan.

Di sudut yang lain, sekelompok anak muda bercengkrama penuh keakraban di Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan, Sabtu (29/2) malam. -Dok. portalteater.com
Di sudut yang lain, sekelompok anak muda bercengkrama penuh keakraban di Gelanggang Bulungan Jakarta Selatan, Sabtu (29/2) malam. -Dok. portalteater.com

Segelas Kopi Gratis

Jika tempat atau studio kesenian di Jakarta pada umumnya membebankan tiket, penonton di Bulungan pada umumnya, seperti penonton pada program-program Dewan Kesenian Jakarta, tidak dikenakan biaya masuk, alias gratis.

Justru Sintesa sebagai programer menyediakan segelas kopi untuk semua penontonnya. Sebuah manajemen yang secara ekonomis boleh dibilang keliru karena merugi.

Namun, Toto menerangkan, segelas kopi gratis itu tidak sebanding dengan nilai pertemuan dan interaksi yang terjadi di antara para penonton sebelum dan sesudah sebuah karya pertunjukan dipentaskan.

Malah, kopi-kopi yang diminum gratis oleh penonton itu tidak setara dengan pendapatan yang diterima Sintesa ketika mereka bekerjasama dengan para pelaku ekonomi kreatif untuk membuka warung dan stand di dalam kompleks Bulungan.

Tambahan pula, jika dihitung secara ekonomi, peneriman yang didapat dari sewa parkir pun jauh lebih besar dari anggaran untuk menghidangkan, misalnya, ratusan gelas kopi seharga Rp1000/cup secara gratis kepada penonton pada tiap pertunjukan.

Adapun kopi-kopi gratis itu dihidangkan kepada penonton di teras gedung pertunjukan Bulungan, terpisah dari meja-meja dan warung-warung yang berada di belakangnya.

Mencermati interaksi dan suasana yang begitu hangat di Bulungan, mengingatkan saya pada TIM Jakarta, sebuah pusat kesenian yang saat ini sedang direvitalisasi.

Hampir pasti suasana demikian akan terjadi juga ketika TIM Baru nanti menyediakan juga pusat-pusat kuliner dengan fasilitas yang lebih lengkap.

Namun, ruang terbuka yang hangat dan akrab, di mana anak-anak muda, terutama penonton, dapat bercengkrama sambil menikmati segelas kopi tidak lagi ditemui.

Yang ada di sana adalah potongan-potongan MacDonald’s, KFC, dan beragam produk modernisme global lainnya. Produk-produk lokal semisal kopi luwak, tidak lagi didapati.

Lalu saya membayangkan, apakah di TIM Baru nanti, pemerintah juga menyediakan tiket dan kopi gratis gratis untuk anak-anak muda ini, yang menurut survei Sri Bramantyo, menjadi “penonton utama” pada semua pertunjukan seni di Jakarta.

Atau, jangan-jangan, sistem pengelolaan TIM Baru justru membebankan penonton, yang dengannya makin menjauhkan anak-anak muda karya pertunjukan.

Karena itu, manajemen penonton yang mulai diterapkan Sintesa di Bulungan, dapat menjadi pilot project bagi semua pusat kesenian yang bernaung di bawah pemerintah dan juga lembaga independen untuk menggaet dan memelihara penontonnya.

Di mana seni pertunjukan atau industri budaya mulai terkoneksi dengan sektor ekonomi kreatif dan perilaku konsumsi generasi milenial masakikni.*

Baca Juga

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Dewan Kesenian Inggris Luncurkan Rp2,9T Untuk Sokong Industri Seni

Portal Teater - Dewan Kesenian Inggris atau Arts Council England (ACE) telah meluncurkan paket tanggap darurat senilai £160 juta atau setara Rp2,9 triliun (kurs...

Terkini

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ITI Ajak Insan Teater Berbagi Karya Lewat Media Daring

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) merebak seantero dunia. Ratusan negara telah terpapar virus yang datang bagai ledakan asteroid ini. Sementara ratusan ribu umat...

Corona Meluas, Teater Katak Tunda Pementasan “Zeus and The Olympian God”

Portal Teater - Mencermati transmisi virus corona (Covid-19) yang makin luas di Indonesia, Teater Katak mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas produksi pertunjukan "Zeus and The...

Tujuh Program Studiohanafi Ditunda Karena Corona

Portal Teater - Meluasnya penyebaran virus corona, di mana saat ini tercatat sudah 27 provinsi di Indonesia terpapar dan mungkin akan menghantam seluruh penduduk,...