Portal Teater – Pertunjukan “Setengah Kompleks-X” oleh Teater Alamat memukau dan menggemaskan 600-an penonton di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Minggu (14/7), pukul 20.00 WIB. Dengan lakon ini, Teater Alamat ingin memotret sebagian problem kehidupan yang ada di masyarakat kita saat iini.

Pertunjukan ini disutradarai oleh Budi Yasin Misbach yang dibantu oleh asisten sutradara Raden Abdul Kohar, dan diperankan oleh 12 pemain. Para pemain itu adalah: Para Muhammad Muamar Khadafi, Umyati Puspita Sari, Anang Pratama, Srimpi Pamulatsih, Bilal, Pinasti Nuring Hapsari, Mudrika Risaliva, Dedes Woro Hapsari, Andika Pratama, Alamsyah, Nur Huda, Novi Astria, Mega Bintang Triyani, Ongky Susu dan Madin Tyasawan.

Berbeda dari pementasan Djakarta Teater Platform hari-hari sebelumnya, kali ini Teater Alamat menghadirkan 4 model perumahan blok jenis cluster berukuran 3×4 meter di atas panggung. Dari model rumah itu, ditaksir seharga Rp750.000 per bulan.

Bagi masyarakat ibukota dan kota-kota besar lainnya, model rumah itu mengingatkan kita akan bentuk-bentuk perumahan cluster atau KPR yang ada di pinggiran kota, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, atau Bogor.

Ada tiga konstruksi rumah yang sama, sedang yang lainnya merupakan rumah bertingkat. Dua rumah dihuni oleh sepasang suami istri (sisi kanan panggung), sementara kedua rumah lain dihuni oleh masing-masing seorang janda beserta anaknya dan tiga karyawan laki-laki muda.

Tiap penghuni memiliki pekerjaan berbeda dengan kode rumah yang berurutan; dari X1 hingga X6. Namun dalam pertunjukan ini, hanya ditampilkan keempat blok rumah (X1-X4), sementara dua lainnya berada di “setengah kompleks” yang berbeda.

Suami Blok X1 senang memelihara burung. Hobinya dengan burung menjadi keharusan untuk membeli burung-burung lain yang ia suka. Ia bekerja sebagai karyawan pabrik dan tinggal sendiri karena istrinya sering pulang kampung. Mereka memiliki seorang anak yang masih balita.

Ketika si istri datang dari kampung, ia curiga melihat kandang burung suaminya, di mana jumlah burung maupun kandangnya bertambah. Namun suaminya mengelak ketika si Istri bertanya tentang hal itu. Burung menjadi persoalan dalam rumah tangga penghuni rumah itu.

Di blok X2, hidup sepasang suami-istri. Sang suami sering dicurigai memiliki hubungan dengan wanita lain. Pertengkaran malam hari menjadi tontonan dan hiburan menarik di antara jendela dan pintu-pintu penghuni blok lainnya.

Kecemburuan terjadi, karena sang suami menyembunyikan pesan-pesan rahasianya dengan wanita lain. Selain marah-marah, si istri pun menangis karena ternyata sudah dua kali ia memergoki suaminya bersama wanita lain.

Di blok X3, hidup seorang wanita yang adalah seorang janda. Ia bercerai dengan suaminya, meski mereka sudah memiliki anak-anak yang sudah dewasa.

Karena sendirian, ia menjalin hubungan asmara dengan seorang duda (Asep) penghuni blok X4. Blok X4 adalah sebuah rumah yang dijadikan mess karyawan yang dihuni oleh tiga orang lelaki. Ketiganya sama-sama bekerja di sebuah perusahaan.

Namun ternyata ada juga laki-laki (Anwar) di blok X4 yang secara diam-diam menyukai janda itu. Perselisihan terjadi di antara sesama penguhuni blok X4, karena Anwar merasa bahwa cintanya direbut oleh temannya sendiri.

Karena kecewa, Anwar pun meninggalkan mess dan mencari hunian lain. Sebelum pergi, ia mengobrak-abrik mess yang menimbulkan kecurigaan dari kedua temannya, bahwa ia telah keluar dari mess itu.

Di bagian lain, perempuan-perempuan dari blok X5 dan blok X6, mendatangi para penghuni nlok X lainnya, karena merasa bahwa ada yang ingin menguasai dalam urusan kran air. Mereka meluapkan kemarahan dan mengecam tindakan para penghuni blok X.

Penguasaan terhadap kran air kemudian menjadi aliran persoalan para penghuni “Setengah Komplek-X”.

Dimana Realisme Mesti Didudukkan

Pertunjukan ini digarap sejak awal tahun 2019. Sementara naskahnya ditulis sendiri oleh Budi Yasin. Selama proses latihan, realitas yang dipresentasikan merupakan endapan dari pengalaman masalalu dan sederet pengalaman yang ditangkapnya beberapa tahun belakangan.

Budi Yasin, seperti dalam pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, selalu menggarap karyanya melalui pendekatan realisme, meski ia sendiri sulit menempatkan dirinya sebagai seorang realis. Tetapi bahwa dalam karya-karyanya selalu menonjolkan representasi realitas harian masyarakat, ia berkeyakinan, itulah realisme.

Ada banyak ruang interpretasi yang disediakan Budi Yasin melalui dalam pertunjukan ini. Sebagaimana pengakuannya, ia ingin publik bebas menafsirkan kebermaknaan lakon sesuai dengan pengalaman individual ataun kolektif yang menyertainya.

Di luar konteks pemanggungannya, Budi Yasin ingin publik meraba-raba sekaligus memaknai pemilihan judul “Setengah Kompleks-X”. Dengan “X”, Budi Yasin juga ingin melibatkan publik ke dalam karyanya. Konsonan “X” bagi Budi Yasin adalah “subjek” manusia yang memiliki relevansi pengalaman.

Sementara frasa “Setengah Kompleks”, tidak hanya ingin mendefinisikan ‘setengah bagian” dari sebuah pemukiman (perumahan), tetapi juga dapat berarti sebagai “setengah” dari kompleksitas kehidupan masyarakat yang tidak secara utuh dan total dihadirkan ke ruang pertunjukan.

Artinya, melalui pertunjukan ini, Budi Yasin, hanya ingin menampilkan secuil narasi dari begitu banyak problem yang dialami masyarakat pinggiran kota. Misalnya, termasuk soal asimilasi kebudayaan, identitas dan otonomitas.

Namum, setidaknya ada sebagian tema penting yang diungkapkan dalam pementasan ini. Misalnya, untuk mengangkat kompleksitas problematika masyarakat, yang dalam konteks perumahan cluster disebut sebagai masyarakat urban: mulai dari problem terpaan revolusi industri hingga problem sosial dan humanis.

Representasi kehidupan itu dihadirkan melalui suara dan variasi bunyi seperti pesawat dan mobil untuk menunjukkan bahwa pemukiman atau kompleks tersebut tidak jauh dari kota, sebuah habitat di mana mobilitas dan distribusi modal mengalir begitu cepat.

Di bagian lain, Budi Yasin juga mempresentasikan bunyi dari sebuah bengkel pertukangan las untuk menunjukkan bahwa masyarakat urban adalah entitas yang turut diterpa kemajuan industri dan revolusi teknologi. Orang tidak lagi mengandalkan tenaga manual, tetapi dengan teknologi, segala sesuatu dikerjakan oleh mesin.

Melangkah lebih jauh lagi, Budi Yasin juga ingin memperlihatkan problematika relasi sosial dan keintiman seksual sebagai sesuatu yang bukan lagi ditutup-tutupi, tetapi mesti disibak ke atas permukaan; mitos tentang ketabuan seksual tidak lagi berlaku dalam ciri kehidupan masyarakat urban.

Di sini, wacana seksualitas tidak lagi diletakkan dalam kerangka modernis, tetapi Budi Yasin ingin mendudukkan wacana ke ruang publik yang lebih inklusif.

Budi Yasin juga melihat, ternyata dengan desain perumahan model cluster, di mana ruang privasi sebuah keluarga menjadi gamblang bagi orang-orang sekitar, kerapkali problem perselingkuhan dan percintaan menjadi sesuatu hal yang makin lazim. Interaksi dan kedekatan bisa menimbulkan jarak emosional tertentu yang mendorong mereka terperangkap ke dalam relasi percintaan.

Karena berbicara tentang konteks pemukiman jenis cluster, yang umum terjadi di wilayah ibukota dan beberapa kota besar lainnya, maka barangkali representasi performatif pertunjukan ini belum sepenuhnya mewakili realitas kemanusiaan universal.

Namun, dengan “Setengah Kompleks-X”, karya ini ingin mengembalikan kesadaran manusia akan banyak nilai yang pudar bahkan hilang dalam tata sosial kemasyarakatan kota (Budi Yasin mengambil lokus refleksi naskahnya dari model kehidupan Jakarta).

Karena itu, Budi Yasin ingin membalikkan paradigma masyarakat melalui representasi karakter kehidupan sosialitas, humanis dan harmoni yang tercipta di antara para penghuni cluster. Sebab terpaan revolusi industri dan modernisme telah menjebak masyarakat universal ke dalam praktik-praktik anti-sosial. Dalam pertunjukan Impermanence Dance Theatre sebelumnya, karakter anti-sosial itu disimbolkan melalui “Baal”.

Lalu, di mana sejatinya pendekatan realisme dalam pementasan ini mesti didudukkan. Afrizal Malna dalam diskusi biografi penciptaan sebelum pementasan “Setengah Kompleks-X” mempertanyakan soal itu. Menurut Afrizal, di era media baru, apakah realisme menyediakan ruang di mana publik tidak hanya menangkap kehidupan representatif mereka di atas panggung, tetapi serentak dapat bercakap-cakap (baca: “meraba-raba”) realitas itu sendiri.

Atau, dengan menghadirkan elemen-elemen material seperti televisi, suara pesawat, bunyi klakson, bunyi token listrik, dll, aktor pada saat yang sama bertindak sebagai representasi publik itu sendiri?

Di sinilah letak distraksi pendekatan realisme dalam dramaturgi media baru, yang menggabungkan pelbagai media ke dalam medan pertunjukan.

Budi Yasin sendiri tidak membawa narasi besar realisme, meski karakter pertunjukannya sangat realis. Namun, barangkali yang perlu juga dipikirkan adalah bagaimana meletakaan relasi aktor di antara simpul teks, konteks dan publik.

Elemen Material sebagai Pelaku

Sebagaimana William Shakespeare yang mementingkan kekuatan dialog, Budi Yasin dalam karyanya ini menonjolkan aliran dialog. Dialog yang tercipta bukan saja di antara para aktor, tetapi ia dengan jeli memanfaatkan elemen-elemen material seperti bunyi pesawat, bunyi token listrik, kendaraan bermotor, rumah, kandang burung, televisi, air, dan pintu.

Melalui elemen-elemen itu, ia letakkan layaknya seorang aktor yang ikut berdialog dan menciptakan aksi-reaksi di atas panggung. Malah, suara dan bunyi-bunyi itu menjadi “subjek” yang berkuasa atas kehidupan para aktor itu sendiri.

Misalnya, ketika terdengar bunyi token listrik, semua penghuni merasa ketakutan bilamana suara itu dihasilkan dari meteran pra-bayarnya yang kehabisan pulsa listrik. Tetapi tidak sekedar takut, tetapi malah menjadi “hantu” yang mengganggu aktivitas dan kenyamanan para penghuni. Tuduh-menuduh menjadi persoalan baru di antara mereka.

Demikian pula dengan bunyi kran air dan mobil yang menimbulkan perselisihan baru di antara para penghuni. Bunyi itu tidak hanya menjadi pelaku yang ikut menciptakan narasi dialog di antara aktor, tetapi juga dialog antara aktor dengan bunyi-bunyian.

Teater Alamat

Teater Alamat didirikan pada tanggal 17 Januari 2009 , merupakan sebuah teater independen yang terbentuk dari beberapa alumni teater SMAN 94 Jakarta. Nama ALAMAT adalah sebuah singkatan dari “Anggota Lama SMA Sembilan Empat”.

Anggota Teater Alamat awalnya dikhususkan untuk para alumni ekstrakulikuler Teater SMA N 94 yaitu Teater NonaTetra yang masih ingin berkarya didunia seni, khususnya seni teater.

Namun seiring berjalannya waktu, kini Teater Alamat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para generasi muda yang ingin ikut bergabung. Sejak 2010, Teater Alamat mengikuti Festival Teater Jakarta, mendapatkan berbagai penghargaan dan menjadi senior dari Festifval Teater Jakarta tahun 2016.

Budi Yasin Misbach

Budi Yasin sudah terlibat dalam seni teater sejak 1984 bersama teater RIMA. Ia mengajar di beberapa teater sekolah negeri dan swasta. Beberapa kali terlibat dalam pertunjukan bersama Teater-teater senior di Jakarta.

Selain itu, ia juga aktif dalam kegiatan Kepanitiaan di Festival Teater Wilayah maupun tingkat DKI Jakarta.

Ia pernah menjabat sebagai pengurus di INDRAJA ( Ikatan Drama Jakarta Barat ) selama kurang lebih sepuluh tahun (2003-2013). Saat ini masih aktif sebagai pengajar ekstrakulikuler teater di dua sekolah: SMAN 94 Jakarta, SMK 1 Cengkareng.

Budi Yasin menulis sendiri naskah drama untuk hampir sebagiian besar pertunjukan Teater Alamat. Beberapa naskahnya terbit di beberapa antologi naskah drama.

Pada tahun 1993, ia mendirikan Teater LOT dan meraih Juara III di wilayah Jakarta Barat. Kemudian pada tahun 2009, bersama para alumni teater sekolah mendirikan teater berbasis umum yang bernama Teater Alamat.

Sampai saat ini menjadi penulis dan sekaligus sutradara. Bersama Teater Alamat, ia banyak mendapat penghargaan-penghargaan baik di tingkat wilayah dan tingkat provinsi. Saat ini Teater ALAMAT memiliki beberapa teater binaan sekolah.

*Daniel Deha