Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater – Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus dijadikan sebagai tindakan suci, yang memungkinkan aktor dapat menjadi ‘avatar’ dari peran yang mereka mainkan di atas panggung.

Mengutip tulisan seorang sarjana India ketika menulis tentang lakon “Bulha” karyanya yang dipentaskan selama 18 tahun berjudul” Ketika Teater Menjadi Kuil”, Nadeem mengingatkan pentingnya membawa teater sebagai seni pertunjukan ke ranah spiritual.

Dengan demikian, teater tidak semata-mata praktik pertunjukan seni, namun yang juga perlu menciptakan teater sebagai kuil dan kuil sebagai ruang pertunjukan.

Dalam pengamatannya terhadap beberapa pertunjukan di Asia Selatan, ada beberapa aktor yang menciumi lantai panggung sebelum mereka memasuki ruang pertunjukan. Ada semacam penyatuan antara budaya dengan pengalaman spiritual.

Ketua Teater Ajoka, salah satu teater terkenal dan cukup tua di Pakistan, itu pun menggarisbawahi pentingnya kembali menjalin hubungan simbiotik antara aktor dan penonton, masa lalu dan masa depan dalam sebuah karya teater.

“Bersama-sama kita dapat menemukan dimensi spiritual teater dan membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini, mengarah ke masa depan yang merupakan takdir semua komunitas; orang percaya dan tidak percaya, aktor dan orang tua,
dan cucu mereka,” katanya mengutip laman World Theatre Day.

Terlahir dari keluarga Islam dan menaruh minat pada tasawuf, meski secara pribadi berideologi sekuler, Nadeem memandang teater memiliki peran mulia dalam memberi energi dan memobilisasi umat manusia untuk keluar dari jurang kehancuran.

Dengan kondisi dunia yang carut marut di mana menyembulnya fanatisme, kebencian, dan kekerasan, adu domba antarnegara, perang, nuklir dan pemanasan global, maka kita perlu mengisi kembali kekuatan spiritual lewat teater.

“Kita perlu melawan sikap apatis, lesu, pesimisme, keserakahan, dan pengabaian terhadap dunia tempat kita hidup ini,” paparnya.

Transformasi Spiritual Aktor

Dalam pembukaan pesannya pada malam yang amat istimewa tersebut, Nadeem berterima kasih International Theatre Institute (ITI) karena telah memperhatikan dan mengenal perkembangan teater di Pakistan, salah satu negara konflik di Asia Selatan.

Selama proses kreatifnya puluhan tahun, Nadeem memiliki pengalaman bagaimana kerja teater membawanya kepada hal-hal spiritual, terutama pengalaman transformasi spiritual aktor yang membawa perubahan besar bagi kerja teater.

Ia menceritakan, pernah suatu waktu seorang lelaki tua bersama cucunya mendatangi aktor memainkan peran Sufi Agung (Bulleh Shah) dalam drama “Bulha” dan meminta untuk memberkati cucunya yang sedang sakit.

Si aktor kaget dan mengatakan bahwa dia bukan Bulleh Shah, si Sufi Agung. Dia hanya memainkan peran sebagai sufi.

Orang tua itu mulai menangis dan terus mendesak agar memberkati cucunya karena ia tahu cucunya akan sembuh dia aktor itu melakukannya.

Akhirnya aktor tersebut meluluskan permintaan sang Kakek lalu memberikati anak muda itu. Sekonyong-konyong orangtua itu merasa puas lalu berkata: “Nak, Anda bukan aktor, Anda adalah reinkarnasi dari Bulleh Shah, Avatar-nya.”

Sejak itulah, konsep pertunjukan “Bulha” dan lain-lainnya menjadi sama sekali baru, karena mereka telah mendapatkan sebuah pengalaman baru bahwa aktor menjadi dapat menjadi reinkarnasi dari karakter yang ia gambarkan dalam pertunjukan.

Terinspirasi dari kisah tersebut, si aktor tampak memiliki energi baru yang menggebu-gebu. Ia menulis dua buku puisi, dan para kru produksi dan aktor lainnya bekerja dengan semangat yang sama sekali berbeda; semangat seorang sufi.

Sakral vs Profan

Nadeem mengatakan, ada pembagian yang tegas antara hal sakral dan profan di Pakistan. Untuk kaum profan, tidak ada ruang untuk mempertanyakan agama, seperti halnya di negara-negara Barat yang sangat sekuler seperti Swedia atau Norwegia.

Sementara bagi penganut sakralitas, tidak ada kemungkinan debat terbuka atau gagasan-gagasan baru. Bahkan, pendirian konservatif menganggap seni dan budaya di luar batas kesakralan. Sehingga para aktor yang tampil seperti kucing dalam karung.

Pertama-tama mereka harus membuktikan kredensial mereka sebagai Muslim yang baik dan warga negara yang patuh dan juga berusaha memastikan bahwa tarian, musik, dan teater ‘diizinkan’ dalam Islam.

Sejumlah besar kaum Muslim yang taat karenanya enggan merangkul seni pertunjukan meskipun unsur-unsur tarian, musik dan teater hidup dalam kehidupan mereka.

Pada saat itulah sembul kegelisahan para pekerja seni untuk membawa hal-hal sakral dan profan pada tahap yang sama, terutama dalam pertunjukan.

Dramanya berjudul “Bulha”, sebuah drama tentang kehidupan dan perjuangan Bulleh Shah, seorang Sufi Agung dan penyair yang dihormati, ditolak oleh Dewan Lahore karena dinilai bukan sandiwara tetapi hanya biografi.

Namun, ketika drama itu dipentaskan di tempat lain, Goethe Institute, salah satunya, para penonton melihat dan menghargai simbolisme dalam kehidupan dan puisi penyair itu. Mereka sepenuhnya dapat mengidentifikasi diri dengan hidup Bulleh dan melihat paralelnya dengan kehidupan mereka sendiri.

Begitu juga di India, pintu bagi teater Ajoka yang dipimpin Nadeem masih terbuka. Selama tur Ajoka dari Punjab India pada 2004, penampilan mereka diterima ribuan audiens di pedesaan dengan hangat.

Di Pakistan, katanya, sejak rezim militer negara itu selama puluhan tahun, terutama sejak masa perang tahun 1948, kebebasan ruang kesenian menjadi amat terbatas.

Para pekerja seni dipaksa untuk membagi secara merata apa yang menjadi kepatuhannya terhadap negara dan agama.

Biografi Nadeem

Nadeem, 73 tahun, diketahui telah menulis lebih dari 50 drama asli dalam bahasa Punjabi dan Urdu dan beberapa adaptasi dari drama Bertold Brecht.

Karya-karyanya dianggap baik karena relevan secara sosial. Dia mahir menggabungkan tema sosial dan politik kontemporer dengan bentuk tradisional dan warisan rakyat untuk menghadirkan teater yang menghibur dan merangsang secara intelektual.

Kadang-kadang karyanya menyoal hal-hal tabu seperti ekstremisme agama, kekerasan terhadap perempuan, diskriminasi terhadap minoritas, kebebasan berekspresi, iklim, perdamaian dan tasawuf.

Di Pakistan, tema-tema ini tidak mudah dipentaskan lantaran praktik otoritarianisme rezim militer yang berkuasan selama puluhan tahun. Ia bahkan sejak kecil menjadi pengungsi ketika masa perang, dan pernah menjadi tawanan politik di Inggris.

Beberapa lakonnya membahas isu-isu Pemisahan Asia Selatan dan berbagi warisan budaya daerah. Musik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari produksi teaternya.

Selain dipentaskan di Pakistan dan India, ada puluhan dramanya yang telah dipentaskan di seluruh dunia, antara lain: Bulha di Hammersmith Theatre (London, UK), Tramway (Glasgow, Skotlandia, UK), Helsignor (Denmark), dan Amrika Chalo (Washington, AS).

Ada juga Bala King di Black Box Theatre (Oslo, Norwegia), Burqavaganza di Bravo for Women Theatre (San Francisco), Acquittal at Highways di Santa Monica dan Theatre Row (New York), Dara di Lyttleton Theatre London (UK) dan Universitas North Carolina, dan Chapel Hill (USA).

Saat ini, Nadeem mengajar seni menulis di dua perguruan tinggi di Pakistan, yaitu Institut Seni Pertunjukan Ajoka dan Institut Seni dan Budaya Lahore.

Pesan Hatedu 2020 disampaikan melalui kanal televisi dan diksaksikan seluruh insan teater dunia. Berbeda dari tahun sebelumnya, Hatedu 2020 tidak dirayakan melalui tatap muka, melainkan lewat media daring menyusul pandemi global virus Corona.*

Baca Juga

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Teater di Ruang Digital

Portal Teater - Bencana bukan alam sedang menghinggapi sebagian besar negara di dunia dan Indonesia termasuk kebagian. Wabah yang disebut Covid-19 sedang bergentayangan dan belum...

Terkini

Rudolf Puspa: Kiat Terus Berkiprah

Portal Teater - Sebuah catatan sekaligus menjawab pertanyaan seorang ibu, guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Jakarta, membuat saya segera membuka tembang lama...

“Mati Konyol”: Paradoks, Retrospeksi, Kegamangan

Portal Teater - Pintu rekreatif tulisan ini dibuka dengan pertanyaan dari seorang awam, tentang apa uraian dramaturgi, dramaturg, dan drama. Bagaimana ciri, konvensi, guna,...

Menolak Mati Konyol di Era Konyol

Portal Teater - Uang, teknologi, status sosial, jabatan, pangkat, citra, dan popularitas, barangkali adalah serangkaian idiom yang menghiasi wajah kehidupan manusia hari ini. Menjadi...

Buntut Corona, FDPS 2020 Disajikan dalam Format Digital

Portal Teater - Festival Drama Pendek SLTA (FDPS) 2020 yang digagas Kelompok Pojok direncanakan diadakan pada April kemarin. Buntut pandemi virus corona merebak di Indonesia...

Seni Berkekuatan Daya Getar

Portal Teater - Seni adalah kekuatan yang memiliki daya getar. Bertahun-tahun aku dibimbing pelukis Nashar untuk mempelajari kesenian tanpa ingat waktu, lapar dan kemiskinan. Aku...