“Sharing dan Showcase Disabilitas” Akhiri Rangkaian Program DTP 2019

Portal Teater – Program Djakarta Teater Platform (DTP) 2019 resmi ditutup hari ini, Sabtu (20/7) di Gedung Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta (IKJ), pukul 16.00 WIB.

Penutupan ini ditandai dengan sharing dan showcase kolaboratif antara dua kelompok dance teater asal Inggris: Corali Dance Company dan Impermanence Dance Theatre, bersama dengan penari dan pengajar disabilitas dari GIGI Art of Dance serta mahasiswa IKJ.

Hadir dalam acara penutupan ini antara lain: Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, British Counsil Indonesia, The Japan Foundation, IKJ, manajemen Impermanence dan Corali, kelima kelompok teater partisipan Indonesia, media dan penonton.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama IKJ Suzen HR. Tobing dalam sambutan penutupan menyatakan, Komite Teater DKJ telah lama menjalin kerjasama yang inklusif dengan IKJ, khususnya dengan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) dan Fakultas Film dan Televisi (FFTV).

“IKJ dan Komite Teater telah lama bekerjasama, terutama Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Film dan Televisi,” katanya.

Ke depan, ia berharap agar kerjasama tersebut terus ditingkatkan dan menjaring lebih banyak pegiat seni Indonesia dan luar negeri untuk menghidupkan berbagai wacana dan gagasan produksi kesenian tanah air.

Namun sebelum resmi menutup program DTP 2019, ia menaruh penghargaan yang tinggi kepada para penari disabilitas dari GIGI Art of Dance yang boleh menyuguhkan sebuah performa kesenian yang luar biasa meski baru berupa showcase di hari terakhir kegiatan.

Menurut Suzen, showcase tersebut membuktikan bahwa karya kesenian bisa diproduksi oleh siapapun, termasuk kaum disabilitas yang terbatas secara fisik dan pengetahuan. Selain itu, hal itu menunjukkan bahwa anak-anak dan kaum disabilitas pada umumnya bisa berkarya lebih besar dari sekedar menari.

“Anak-anak disabilitas Indonesia bisa berkarya. Mereka tidak terbatas oleh pengetahuan dan fisik, tetapi mereka bisa berkarya lebih besar,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengucapkan terima kasih kepada para mentor, baik dari Impermanence, Corali dan GIGI maupun dari IKJ yang telah membimbing dan mengajarkan banyak hal kepada anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sehingga bisa mengeksplorasi kemampuan inheren mereka di panggung kesenian.

Bagi Suzen, tidak mudah membimbing anak-anak dengan “kemampuan berbeda” karena hal itu tentu membutuhkan semangat melayani dan cinta kasih yang besar.

“Terima kasih kepada para mentor. Mereka telah melatih dengan kasih sayang, dengan penuh cinta,” tuturnya.

Showcase “Art and Disability”

Mentor Corali Housni “DJ” Hassan (34 tahun) memulai showcase “Art and Disability” dalam penutupan program DTP 2019 dengan mengatakan bahwa apa yang akan mereka pentaskan merupakan hasil latihan mereka selama empat hari residensi inklusif (16-19 Juli).

Dalam residensi tersebut, mereka telah bersama-sama mengajarkan berbagai metode dan skil untuk menggali dan mengeksplorasi kemampuan anak-anak disabilitas dari GIGI. Ada banyak kejutan yang mereka lihat selama hari-hari itu, misalnya kemampuan imajinatif dan ide-ide anak-anak tersebut dalam membuat koreografi tarian berdasarkan foto-foto atau pengalaman mereka.

“Dalam pertunjukan ini, kami akan memperlihatkan apa yang telah kami pelajari bersama,” katanya.

Ada 14 penari dalam showcase kolaboratif tersebut, yang terdiri dari 7 orang mentor (6 orang masing-masing dari Impermanence, Corali, dan GIGI serta 1 orang dari IKJ) dan 7 orang penari disabilitas GIGI.

Mula-mula, mereka membuat gerakan mengkoneksikan bagian tubuh dengan tarian. Tampak di panggung mereka berpasang-pasangan untuk membuat gerakan koneksi tubuh tersebut, entah pada bagian tangan, kaki, kepala atau atau anggota tubuh lainnya.

Untuk membuktikan rasa akan koneksi tubuh tersebut, mereka mengundang 12 penonton untuk melakukan gerakan yang sama, di mana mula-mula tangan penonton diletakkan di atas tangan mereka. Dengan itu, kedua belas penonton itu memimpin gerakan tertentu sesuai imajinasi masing-masing. Demikian sebaliknya, para penari memimpin gerakan yang diikuti oleh penonton tersebut.

Pada segmen berikutnya, mereka melakukan gerakan ‘kepemimpinan, di mana seorang penari memimpin kelompok penari sambil melakukan gerakan tertentu yang diikuti oleh penari lain di belakangnya. Gerakan-gerakan ini menunjukkan bahwa, para penari telah terhubungan seperti burung yang terbang di angkasa membentuk formasi tertentu tanpa pernah terpisah dari formasi tersebut.

Kemudian, Kaka dan Afra, dua anak disabilitas dari GIGI, memimpin kelompok tarian itu dengan koreografi yang mereka ciptakan sendiri selama residensi sebelumnya. Tampak keduanya begitu percaya diri mengarahkan teman-teman dan para mentornya untuk mengikuti gerakan mereka.

Selain menari-nari, mereka juga memperlihatkan kepada penonton foto-foto atau media yang mereka gunakan sebagai bahan untuk menciptakan gerakan. Masing-masing mereka menghampiri barisan penonton dan disambut oleh tepukan tangan meriah dari penonton sebagai bentuk penghargaan atas karya mereka.

Di segmen berikutnya, ada juga pemutaran film pendek berdurasi sekitar 4 menit. Film dokumenter itu menceritakan tentang perjalanan residensi selama empat hari di Studio TOM FFTV IKJ. Saat film diputar, para penari mengambil posisi duduk searah dengan penonton.

Showcase ini berlangsung kurang lebih selama 50 menit. DJ, di akhir penampilan bersama itu memberikan ucapan terima kasih kepada semua penonton yang disambut dengan sorakan riuh dari barisan penonton.

Para penari dalam showcase kolaboratif pada puncak kegiatan DTP 2019.
Para penari dalam showcase kolaboratif pada puncak kegiatan DTP 2019.

Antara Haru dan Harapan

Sorakan terdengar dari barisan penonton ketika penari-penari menyelesaikan segmen-segmen tarian mereka. Tepukan tangan itu bukan sekedar memberikan penghargaan terhadap penampilan mereka, tetapi sekaligus mensaratkan dua hal utama, yakni keharuan dan harapan.

Penonton begitu terharu terutama karena kemampuan anak-anak disabilitas tersebut mampu tampil secara luar biasa, meski belum maksimal mengeluarkan kemampuan-kemampuan mereka. Keharuan juga muncul karena mereka bisa berkolaborasi dengan seniman-seniman profesional semisal Impermanence dan Corali, dua kelompok seni Inggris yang telah melalang buana ke panggung internasional.

Selain itu, keterharuan juga muncul ketika DJ dan Josh menyampaikan bahwa ternyata anak-anak disabilitas telah banyak membuat kejutan selama proses residensi dan latihan mereka. Meski singkat, tetapi mereka mampu menciptakan karya yang luar biasa.

Di atas rasa terharu itulah tergantung sejumput harapan publik akan pengembangan kesenian disabilitas di Indonesia. Komite Teater DKJ sendiri tahun ini telah memulai gagasan segar untuk menyediakan platform di mana produk kesenian disabilitas ini mesti mendapat sentuhan.

Demikian pula dengan beberapa penonton yang, selain mengapresiasi kemampuan anak-anak disabilitas, tetapi juga menyampaikan harapan agar karya anak-anak disabilitas Indonesia perlu dikembangkan secara lebih baik.

Harapannya, dengan proyek kolaborasi bersama dengan seniman luar negeri, anak-anak disabilitas dari semua golongan dapat terus berkarya mengekspresikan kemampuan-kemampuan mereka.

DTP sebagai Laboratorium Penciptaan

Program DTP sendiri merupakan sebuah gagasan yang dicetus oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta untuk menghidupkan kembali wacana produksi gagasan dalam berkarya di bidang kesenian. Melalui DTP, Komite berupaya merancang bangunan “laboratorium” penciptaan karya seni kontemporer dengan memberi penekanan paada tataran gagasan atau ide.

Di sisi lain, DTP juga menjadi sebuah platform untuk praktik-praktik teater mempertaruhkan nilai tukarnya antara riset, pertanyaan dan kebebasan. Dengan demikian, DTP memberikan tawaran partisipasi terbuka dan pertukaran nilai di dalamnya dengan menciptakan ekosistem yang ramah bagi keterbukaan publik dan pasar sebagai basis penciptaan.

Tahun ini, program DTP mengangkat tema “Kekuasaan dan Ketakutan” dan diselenggarakan dalam kerangka kerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo), British Council Indonesia dan The Japan Foundation serta Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

*Daniel Deha

Baca Juga

Komite Seni Rupa DKJ Gelar Diskusi Buku Tiga Kritikus Seni Rupa

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar Diskusi Buku Seri Wacana Kritik Seni Rupa dari tiga kritikus seni rupa Indonesia...

Direktorat Kesenian Dihilangkan, “Quo Vadis” Kerja Kesenian?

Portal Teater - Komitmen dan konsistensi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk memajukan kebudayaan di Indonesia benar-benar diuji lewat kebijakannya merombak struktur dan...

Bamsoet Ajak Milenial Nonton “Panembahan Reso” Mahakarya Rendra

Portal Teater - Masterpiece dramawan WS Rendra, "Panembahan Reso", akan dipentaskan ulang oleh kolaborasi GenPI.Co, JPNN.Com, Ken Zuraida, dan BWCF Society. Lakon yang menjadi buah...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...