Siap “Go International”, Pekan Kebudayaan Nasional Jadi Ornamen Turistik

Portal Teater – Kebudayaan tidak lagi semata-mata menjadi sistem nilai, kepercayaan, bahasa, atau penanda identitas yang kaku, stabil dan terlokalisasi.

Seiring perkembangan industri dan migrasi bangsa-bangsa, kebudayaan akhirnya mesti bergerak dari pijakannya menjadi artefak atau ornamen turistik.

Menurut Pieterse, kebudayaan sebagai sesuatu yang terikat pada tempat dan berorientasi ke dalam harus mulai belajar tentang kebudayaan sebagai proses belajar translokal yang berorientasi ke luar.

Kebudayaan dan identitas budaya tidak lagi dipahami sebagai tempat, tapi sebagai sebuah perjalanan, di mana orang bertemu sebagai pelancong di sebuah tempat.

Kita patut mengakui, sekarang apa yang alamiah sudah pudar dengan adanya globalisasi. Pola-pola gerakan penduduk dan pemukiman sejak kolonialisme dan masa sesudahnya, meningkatkan perbenturan, pertemuan dan percampuran antar budaya.

Inilah yang kemudian disebut sebagai hibriditas budaya, faktum di mana terjadi pergeseran-perubahan kode budaya, karena tiap subjek menganut lebih dari satu penanda identitas budaya.

Respon Pemerintah

Merespon gejolak perubahan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy berniat menjadikan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) sebagai event berskala internasional.

Dalam proses perkembangan itu, pemerintah sendiri akan menjadi kegiatan ini sebagai wisata budaya yang inklusif bagi siapapun dari seluruh dunia.

Artinya, kita sudah mulai berani melepaskan identitas budaya kita dan meleburkan diri dengan pelbagai macam kode budaya baru yang masuk ke tanah air oleh para turis.

“Ini akan menjadi event internasional, sehingga dalam waktu dekat akan terus dipromosikan menjadi bagian wisata budaya,” katanya di Jakarta, Minggu (6/10), mengutip Antara.

Seperti halnya Pasadena di Amerika Serikat, pemerintah melihat ada ruang di mana budaya Nusantara bisa terekspos lebih luas di ranah global.

Basis Hukum dan Finansial

PKN sendiri merupakan implementasi dari salah satu agenda strategi pemajuan kebudayaan yang telah disepakati Kongres Kebudayaan Indonesia tahun lalu.

Kesepakatan itu bersandar pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Budaya.

Berpijak pada dasar itu, pemerintah menyediakan ruang bagi keberagaman ekspresi budaya serta mendorong interaksi budaya guna memperkuat kebudayaan Nusantara yang inklusif.

Secara finansial, pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) penyelenggaraan di tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi.

Tahun depan, pemerintah berencana menaikkan DAK kebudayaan, dan berupaya mengumpulkan dana perwalian atau dana abadi dengan target Rp10 triliun selama lima tahun ke depan.

Direktur Kebudayaan Kemendikub Hilmar Farid menandaskan, untuk mencapai target-target tersebut, semua pihak mesti terlibat, termasuk pegiat kebudayaan dan Pemda.

Perkenalkan Budaya Tradisional

Menghidupkan kembali budaya-budaya tradisional tidak selalu berarti kita kembali ke kondisi-kondisi masa lalu, lalu dianggap primitif, buruk, atau stereotipe lainnya.

Meski kita hidup pada era masakini, kita tidak pernah terlepas dari tradisi. Karena tradisi inilah yang mengatur, mengarahkan dan membentuk daya cipta kreatif dan inovatif masyarakat.

Indonesia sendiri memiliki banyak kebudayaan tradisional, yang merupakan tradisi masyarakat di tiap-tiap daerah. Dan kekayaan budaya kita ada justru karena kita merawat tradisi tersebut.

Menteri Muhadjir melihat PKN sangat tepat memelihara tradisi itu, yakni dengan mengenalkan ragam permainan tradisional.

“Kita ingin menggali permainan-permainan anak, permainan-permainan yang ada di masing-masing daerah. Ini belum banyak. Tahun depan saya kira akan jauh lebih banyak,” katanya.

Bahkan, dalam acara sosialisasi PKN lewat kegiatan Car Free Day (CFD) di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, sang Menteri sempat mencoba bermain gasing dan taplak gunung.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Direktorat Kesenian Dihilangkan, “Quo Vadis” Kerja Kesenian?

Portal Teater - Komitmen dan konsistensi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk memajukan kebudayaan di Indonesia benar-benar diuji lewat kebijakannya merombak struktur dan...

Teater Lorong Yunior Eksplorasi Kreativitas Anak Lewat Lakon “Sang Juara”

Portal Teater - Teater Lorong Yunior  mengeksplorasi kreativitas anak-anak lewat pementasan drama musikal "Sang Juara" pada Minggu (19/1) di Gedung Kesenian Jakarta. Lakon ini mengangkat...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...