Sintesa Gagas Festival Lintas Disiplin Internasional Pertama di Jakarta

Portal Teater – Simpul Interaksi Teater Selatan (Sintesa) menggagas festival lintas disiplin seni internasional pertama kalinya di Jakarta. Program ini digagas mulai 2020 dan diberi nama Pesta Raya International Festival.

Ketua Sintesa Toto Sokle mengatakan, gagasan dasar pembentukan festival internasional ini adalah untuk menciptakan tata kelola seni pertunjukan secara baik untuk semua disiplin ilmu seni, tidak hanya di Jakarta tapi juga nasional dan global.

Mula-mula festival ini pernah dirayakan pada 1994. Namun dalam perkembangannya tidak menunjukkan kinerja yang baik. Baru pada 2015, program ini kembali digiatkan.

Empat tahun berjalan, program ini masih bertaraf lokal. Terakhir diadakan pada 2018, program yang semula bernama Pesta Raya Sintesa ini baru diadakan secara nasional ketika melibatkan kelompok seni dari Pontianak dan Madura.

Musisi senior itu menerangkan, gagasan program ini bertolak dari kegelisahan sejumlah seniman akan menyempitnya ruang-ruang kreatif dan kesejarahan di Jakarta.

Sepanjang tahun 2019, Sintesa telah mengadvokasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta agar memperhatikan ruang-ruang kreatif bagi seniman.

Sebab banyak seniman atau pelaku kreatif yang mengeluh karena sudah kehilangan banyak ruang yang memungkinkan mereka untuk latihan dan bereksplorasi.

“Ada pemikiran tentang menciptakan kanal yang biasanya untuk membuat kolaborasi kita mesti keluar, kita kembalikan ruangnya di sini menjadi titik pertemuan, baik untuk kolaborasi, atau segala macam persinggungan tentang karya,” katanya di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, Sabtu (29/2).

Toto Sokle. -Dok. Tewel Seketi
Toto Sokle. -Dok. Tewel Seketi

Mulai tahun ini, program ini dijalankan secara internasional dengan tidak hanya khusus bagi seni pertunjukan teater, tapi juga memasukan lintas disiplin lain seperti tari, musik, ekonomi kreatif dan direncanakan akan ada pertunjukan wayang.

Seniman dari Thailand, Taiwan, Singapura dan Filipina yang saat ini sedang menjalani residensi seni di Sanggar O Bogor, Jawa Barat, akan membuka tirai Pesta Raya International Festival secara resmi pada Sabtu (28/3) nanti.

Melalui pertunjukan Five to Midnight para seniman mancanegara itu akan berkolaborasi dengan seniman Jakarta, antara lain Dendi Madiya dan beberapa lainnya. Karya kolaborasi itu dipentaskan dua hari sejak 27 Maret 2020.

Seminggu sebelumnya, Teater Ghanta akan mementaskan karya berjudul “Pengajian Tubuh” di Gedung Pertunjukan Bulungan dengan sutradara Yustiansyah Lesmana. Pertunjukan ini juga akan digelar di ruang terbuka Taman Ayodya, Jakarta Selatan.

Sejak Januari 2020, pertunjukan-pertunjukan pre-festival telah diadakan sebagai pemanasan menjelang pembukaan festival yang tahun ini mengusung tema “Berdikari”.

Akhir pekan lalu, Sabtu (29/2), Komunitas Seniman Bulungan (KSB) menggelar pertunjukan. Komunitas ini adalah himpunan seniman senior seperti Noorca M. Massardi, Radhar Panca Dahana, dan kerabat seniman seusia mereka yang kembali bernostalgia di panggung teater.

Toto menuturkan, selain menggelar pementasan di gedung pertunjukan, beberapa pertunjukan dalam program ini digelar di ruang terbuka seperti Taman Hang Tuah, Lapangan Banteng, dan Taman Ayodya.

Jadwal Pesta Raya International Festival 2020. Dok. Sintesa
Jadwal Pesta Raya International Festival 2020. Dok. Sintesa

Distribusi Gagasan

Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta Afrizal Malna dalam sebuah konferensi pers bulan lalu pernah mengatakan, Jakarta saat ini sudah tidak dapat menampung lagi pertunjukan aneka kelompok seni dari berbagai disiplin ilmu.

Karena itu, penyair yang cukup berpengaruh itu menyarankan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu memikirkan untuk membentuk studio-studio kota yang tersebar di wilayah administrasi ataupun distrik.

Seperti halnya dengan pemerintah Hong Kong yang pada tahun 2022 nanti akan meresmikan puluhan gedung pertunjukan serentak di beberapa titik di seluruh kota.

Namun yang ada di Jakarta malah gedung-gedung pertunjukan tidak diurus dengan baik oleh pemerintah. Di lima wilayah kota administrasi ada Pusat Seni Budaya, namun pengelolaannya hanya untuk urusan pragmatik, dan belum sebagai ruang kreatif.

Gagaasan Pesta Raya International Festival sejalan dengan ide pengamat teater itu. Sebagaimana kata Toto, festival ini diadakan untuk mendistribusikan gagasan sekaligus untuk menampung kelompok-kelompok seni untuk menggelar karya mereka.

Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta menurutnya tidak dapat lagi menampung karya para seniman yang secara kualitas masih berada di bawah klasifikasi kelompok seni grade satu atau dalam seni teater disebut teater senior.

Sebab, kelompok seni yang tampil di TIM Jakarta adalah kelompok yang benar-benar sudah cukup mapan secara gagasan maupun manajemen.

Dan Pesta Raya, kata Toto, merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan kelompok seni eksperimental dan manula agar mereka diberi ruang yang cukup representatitif untuk berkarya.

Selain kelompok-kelompok seni dan kreatif muda, para seniman senior dan grup teater senior pun diberi kesempatan untuk tampil.

Hal itu mengingat, banyak teater senior di Jakarta yang mati suri, bahkan mati total, hanya karena tidak ada lagi ruang pertunjukan yang representatif untuk karya-karya mereka.

Toto menyebutkan seperti misalnya Teater Sae dan Teater Siluet yang hingga hari ini tidak pernah lagi muncul ke publik setelah mereka berjaya di era 1990-an dan 200-an.

“Program ini untuk mengedukasi atau memberikan pembelajaran kepada penonton ketika nantinya dalam sebuah kota yang sebesar Jakarta ini, ketika sebuah grup teater grade satu hanya dipertontonkan di satu titik, nah grade yang lain mau ditampilkan di mana,” terangnya.

Karena itulah, melalui program internasional ini, Sintesa berikhtiar untuk menjadikan Gelanggang Bulungan sebagai salah satu kawasan satelit untuk menopang TIM dan titik temu para pengkarya untuk bertukar informasi dan berbagi gagasan.

“Karena ini terlalu berat, makanya dulu kalau kita melihat dulu ketika tahun 1968 TIM didirikan, tahun 1970, Bang Ali mendirikan gedung ini. Ini untuk menopang kaki-kaki di bawah TIM,” ungkapnya.

Pertunjukan pre-festival Pesta Raya International Festival, Sabtu (25/1). -Dok. Tewel Seketi
Pertunjukan pre-festival Pesta Raya International Festival, Sabtu (25/1). -Dok. Tewel Seketi

Lima Program

Pesta Raya 2020 memiliki lima program, yang terdiri dari dua program utama, dua program pendukung dan satu program khusus.

Toto menjelaskan, program utamanya adalah Pesta Raya itu sendriri dan Tanda Cinta. Pesta Raya menjadi puncak dari semua kegiatan yang diadakan Sintesa.

Sementara Tanda Cinta adalah bentuk penghargaan bagi tokoh seni di Jakarta, dan bahkan nantinya bersifat global diberikan kepada seniman mancanegara.

Program pendamping ada dua program, yaitu Program 35 dan Sintesa Membaca. Program 35 adalah sebentuk kelas mengajar dan pelatihan yang diadakan pada tiap pukul 15.00-17.00 WIB dalam setahun sesuai kalender yang telah ditentukan.

Tema yang dibahas dalam program beragam, ada yang berbicara tentang ekonomi kreatif, studi keaktoran, penyutradaraan, sound system pertunjukan, dll.

Program Sintesa Membaca adalah ruang yang lebih kecil dari Program 35 yang bisa berbentuk pantomim, musik kamar, atau bisa menampung program-program lain sesuai isu yang dibicarakan Sintesa merespon perkembangan seni di Jakarta.

Program khusus yang akan diadakan Sintesa adalah Lempar Gagasan, yaitu medium untuk mengumpulkan penggagas-penggagas kreatif untuk bertemu dengan para penggiat seni, sehingga terjadi pertukaran gagasan.

“Program ini semacam pasar gagasan,” ungkap Toto.*

Baca Juga

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...