“Sketsaforia Urban”, Potret Tranformasi Kerja Kesenian Era Digital

Portal Teater – Ada banyak medium yang digunakan untuk memantulkan atau merepresentasikan bayangan realitas riil masyarakat. Salah satunya adalah melalui aktivitas kesenian menggambar sketsa.

Sebagai salah satu bentuk seni rupa, seperti juga seni-seni lainnya, sketsa dianggap cukup memadai untuk menangkap kesalingsengkarutan fakta dan data yang ada tersebar dalam masyarakat.

Praktik kesenian pun semakin dipermudah oleh kehadiran teknologi atau revolusi industri. Dengan era digital, seniman, dalam hal ini pembuat sketsa, leluasa menciptakan sketsa yang kemudian diunggal ke media sosial: Instagram, Facebook, Twitter, dll.

Sebagaimana diungkapkan kurator pameran: Bambang Bujono, Beng Rahadian dan Tegung Marono dalam catatan kuratorial, bahwa “sketsa urban” merupakan hasil kegiatan bersama, ramai-ramai, di suatu tempat, menyeket apa saja yang dilihat dan disukai.

Kemudian, para pembuat sketsa itu mengunggahnya ke media sosial. Aktivisme ini pun ditengarai menjalar secara global.

Penularan itu terjadi setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir, dengan gerak perubahan pola konsumsi media oleh khalayak, termasuk misalnya generasi milenial Indonesia yang cenderung mendokumentasikan aktivitas mereka di media sosial.

Pameran "Sketsaforia Urban" 2019. -Dok. galeri-nasional.or.id.
Pameran “Sketsaforia Urban” 2019. -Dok. galeri-nasional.or.id.

Virtual ke Aktual

Unggahan seniman atau pembuat sketsa di media sosial mereka, meski berdinding (wall), namun sebenarnya tidak ada batas-batas kultural yang jelas dan pasti di ranah virtual seperti itu.

Karenanya, Galeri Nasional Indonesia berniat membawa sketsa dari dunia maya (virtual) itu ke kenyataan sehari-hari (aktual) melalui pameran; dari pameran di Instagram dan Facebook ke ruang pameran nyata yang secara kultural ada batas-batas dinding yang nyata.

Pameran ini tidak sekedar untuk mendokumentasikan karya-karya seniman itu, tapi lebih dari itu, ingin menunjukkan bahwa hari ini, kerja seniman makin mudah dan punya akses yang luas.

Mengusung tajuk “Sketsaforia Urban”, pameran yang digelar sepanjang 12 September-12 Oktober ini juga bertujuan untuk menyalurkan bakat kesenian pada seniman muda Indonesia untuk berkarya secara baik di bidang kesenian.

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto menuturkan, pameran sebulan ini dapat membangun kerja sama berkelanjutan, dan memunculkan kegiatan serta aktivitas baru yang mendukung upaya demi mewadahi, sekaligus mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda.

Lebih dari itu, pameran bergengsi tersebut menjadi wadah di mana para seniman lintas komunitas dan usia dapat mengasah kemampuan mereka dalam menangkap kondisi perubahan zaman dan kehidupan sosial budaya Indonesia.

Daripadanya, para pekerja kesenian dapat memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan pembangunan dan peradaban bangsa.

“Semoga festival ini dapat memberikan pengalaman estetik yang menyenangkan, memberikan inspirasi, dan motivasi berkarya. Sehingga para generasi muda Indonesia dapat meneruskan keberlangsungan sketsa, sebagai media berkarya serta pencatat peristiwa, termasuk penggambaran kondisi sosial, ekonomi, politik, dan bidang lainnya yang memuat representasi penanda zaman,” katanya.

Ruang pameran di Galeri Nasional Indonesia Jakarta. -Dok. genpi.co.
Ruang pameran di Galeri Nasional Indonesia Jakarta. -Dok. genpi.co.

Juga di Kota-Kota Lain

Pameran ini tidak saja digelar di Jakarta, tapi juga di sembilan kota lainnya, seperti, Medan, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Pontianak, Makassar, Samarinda, Manado, bahkan di Tiongkok.

Seperti halnya di Jakarta, di berbagai kota tersebut juga diselenggarakan ragam kegiatan, seperti workshop, diskusi, sarasehan, tur, travel sketch, sketsa bersama dan performance (battle sketch).

Khusus untuk pameran di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, ditampilkan 12 arsip dan 616 karya sketsa dalam beragam medium, dari 122 pembuat sketsa atau yang dikenal sebagai sketchers, lembaga, dan komunitas penggerak sketsa terkini.

Dari jumlah tersebut, 76 karya dan 76 sketsais di antaranya merupakan yang lolos seleksi aplikasi terbuka dari 411 karya, 256 calon peserta, dari 17 provinsi di Indonesia.

Sedangkan 140 karya dan 34 sketsais di antaranya merupakan undangan yang dipilih berdasarkan
pertimbangan kuratorial. Sementara 400 karya di antaranya dari dua lembaga dan sepuluh komunitas sketsa di Indonesia.

Salah satu contoh urban sketch pemandangan Korea. -Dok. Urban Sketchers.
Salah satu contoh urban sketch pemandangan Korea. -Dok. Urban Sketchers.

Lembaga dan komunitas partisipan pameran ini, antara lain: Museum Seni Rupa dan Keramik–UP Museum Seni, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, KamiSketsa GalNas, Indonesia’s Sketchers, Urban Sketchers Indonesia, Bogor Sketchers, Sketchwalker, Sketchaholic, Sketch or Wasted, Deskovsketchers, Semarang Sketchwalk, Roedi Art Space, Dewan Kesenian Bekasi, Asosiasi Olah Raga Sketsa Indonesia (AORSI), dan Sketching Chángchūn for All.

*Daniel Deha

Baca Juga

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Terkini

Jelang Pameran, Julian Rosefeldt Kuliah Umum “Manifesto”

Portal Teater - Tiga hari menjelang pameran, seniman dan pembuat film asal Jerman Julian Rosefeldt akan memberikan kuliah umum bertemakan "Manifesto", judul dari karya...

FTP 2020: Ruang Bagi Generasi C Bereksplorasi

Portal Teater - Sepuluh tahun lalu, Dan Pankraz, peneliti dan Direktur Perencanaan/Strategi Pemuda pada DBD Sydney, Australia, pernah mengatakan, Generasi C (Gen C) bukanlah...

Lestarikan Budaya Betawi, Sudin Kebudayaan Jaksel Bina 60 Sanggar Seni

Portal Teater - Untuk memperkuat ekosistem kesenian kota berbasis komunitas, Suku Dinas (Sudin) Kebudayaan Jakarta Selatan memfasilitasi pembinaan bagi 60 sanggar seni di Hotel...

Dewan Kesenian Jakarta Minta Anies Kaji Ulang Revitalisasi TIM

Portal Teater - Menyusul polemik yang mengemuka di ruang publik, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) akhirnya meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengkaji ulang proyek revitalisasi...

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...