Sofisme di Era Google dan Facebook

Portal Teater – Generasi millenial hidup di alam internet. Berkat demokrasi sejak era Reformasi (1998) dan situasi ekonomi yang relatif baik selama ini (1998-2018), generasi millenial bertumbuh dalam alam internet dengan segala keterbukaannya.

Alam hidup generasi milenial sangat berbeda dengan generasi yang tumbuh di Orde Lama (yang mengalami kelaparan dan kelangkaan pangan).

Berbeda juga dengan generasi saya yang tumbuh besar di Orde Baru. Kami mengalami ekonomi stabil, tidak pernah kelaparan, namun kami mengalami pemberangusan politik.

Sejak saya lahir sampai usia 30 tahun, saya hanya mengenal satu presiden. Kalau lima tahun sekali ada pemilu, berarti enam kali pemilu Soeharto (dengan kendaraannya bernama Golkar) menang terus. Baru tahun 1999 saya melihat ada presiden lain.

Dan setelah itu, demokrasi menjadi hal sehari-hari bagi kita. Secara rutin parpol berkontestasi secara demokratis, dan kita memiliki Presiden yang kekuasaanya dibatasi maksimal hanya dua kali.

Akankah demokrasi kita langgeng, apakah kebebasan yang relatif kita nikmati saat ini bisa berlanjut? Apakah tingkat ekonomi yang memungkinkan kita ber-internet dan mengakses dunia digital sekarang ini akan langgeng? Tidak ada jawaban yang pasti.

Kaum muda, kaum millenial memegang peranan penting untuk mampu menggunakan dunia digital guna memelihara demokrasi dan kesejahteraan kita semua.

Untuk itu, beberapa hal yang bisa kita diskusikan adalah soal Sofisme serta algoritma internet yang licin serta mesti diwaspadai dengan baik. Di banyak negara, hal-hal tersebut memiliki potensi besar melemahkan demokrasi.

I. Sofisme di Era Digital

Sofisme berasal dari kata sophisma (Latin, yang mengambil dari sophisma Yunani) yang arti aslinya “temuan yang cerdik”. Dari asal-usulnya, Sofisme terlekat dengan sejenis pengetahuan teknis (tekne), kecerdikan menyiasati hal teknis, mirip tukang bangunan saat berhadapan dengan kesulitan praktis.

Maknanya kemudian berkembang dari “kebijaksanaan dan orang bijak (dari sophia dan sophos)”  menjadi “akal-akalan, mengakali dalam arti menipu” (misalnya dalam cara berargumentasi yang kelihatan canggih, namun sebenarnya keliru atau menyesatkan).

Sofisme selalu dikaitkan dengan retorika yang memberi nilai tinggi pada efektivitas bahasa. Artinya, berbahasa itu bukan hanya omong ngalor ngidul, atau bicara rumit tapi bikin puyeng. Berbicara mesti efektif, hasil bicara bisa membujuk, mempersuasi dan menggerakkan pendengarnya.

Kepercayaan Sofisme pada efektivitas bahasa bahkan bisa mengadakan apa yang dalam pemahaman banyak orang tidak ada.

Platon dan Aristoteles mengritik Sofisme sebagai cara berpikir yang fallacious (salah, keliru) – artinya, cara berpikir ini bukan hanya salah tetapi juga dilandasi oleh maksud menipu.

Memang, bahasa Inggris membedakan antara fallacy dan sophism. Bila fallacy sekedar merujuk pada cara berpikir yang meski tampaknya benar tetapi sebenarnya keliru, maka sophism menunjukkan bahwa bukan hanya cara berpikirnya yang sesat melainkan juga adanya maksud untuk menyesatkan.

Di mata Platon dan Aristoteles, Sofisme adalah cara berargumentasi yang berpijak pada penampakan, bukan realitas (Robert, 2004:1198).

Di mata kaum Sofis, semua bersifat relatif. Yang terpenting adalah bagaimana wacana mempengaruhi pendengarnya. Efektivitas wacana tidak ditentukan oleh benar tidaknya wacana, melainkan apakah wacana itu persuasif atau tidak.

Sofisme sering didefinisikan sebagai art of persuasion, seni mempengaruhi. Retorika sendiri dipahami sebagai artificer of persuasion, teknikus persuasi (Platon, Gorgias 453a, DK 82 A 28).

Dan dalam seni ini, kaum Sofis mendapat julukan deinos, artinya “yang mengerikan, mengagumkan, layak ditakuti”.

Adjektif deinos menggambarkan pasukan yang menakutkan, binatang mengerikan, tetapi juga untuk menggambarkan dewi atau raja-raja yang dikagumi dan dihormati (Brisson, 1997: 99-100). Ada rasa kagum sekaligus ngeri di depan kelihaian teknik persuasi mereka lewat logos.

Nama Parmenides (dari Elea, Italia Selatan, lahir tahun 515 SM) dikenang sebagai pengawal Ontologi (wacana tentang Ada/Being). Ia menyatakan bahwa “hanya yang ada, ada; yang tidak ada, tidak ada”.

Parmenides (dari Elea, Italia Selatan, lahir tahun 515 SM)
Parmenides (dari Elea, Italia Selatan, lahir tahun 515 SM)

Pikiran bagi Parmenides hanya bisa mulai bekerja jika “ada sesuatu” yang dipikirkan. Kalau yang dipikirkan tidak ada, maka pikiran tidak bisa mulai berjalan. Bisakah kita berpikir tentang sesuatu yang “tidak ada”? Kalau kita memikirkan “ketiadaan (nothingnes)”, kita justru sedang meng-ada-kannya (nothingness dipikirkan menjadi something).

Kontradiktif bukan? Oleh karena itu, Parmenides dikenang sebagai orang yang menggagas bahwa pikiran dan ada sejatinya satu dan sama.

Atas dasar keyakinan itu, Parmenides tidak menerima gagasan tentang kemenjadian (becoming), bahwa sesuatu dulu tidak ada dan sekarang ada. Lho, bukankah di kandangku kemarin tidak ada anak ayam, tapi hari ini ada banyak anak-anak ayam. Bagaimana menjelaskannya, bukankah kemenjadian itu riil di depan mata kita, kemarin tidak ada anak ayam, sekarang ada anak ayam?

Di mata Parmenides, anak ayam itu tidak muncul dari ketiadaan. Ia muncul dari telur yang ada, dan telur juga muncul dari ayam yang ada, dan seterusnya ayam dan telur serta telur dan ayam.

Di mata Parmenides yang tidak ada tidak bisa dipikirkan, maka membicarakan “anak ayam kemarin tidak ada dan sekarang ada”  adalah opini yang keliru. Baginya, “hari ini ada anak ayam” dan ia berasal dari “telur yang kemarin juga ada”.

Gorgias (Sisilia, Italia Selatan, 485-380 SM) dikenal sebagai tokoh Sofis pengusung Retorika yang akan meradikalkan tesis-tesis Parmenides. 1) Bila pikiran memang sama dengan ada itu sendiri, maka 2) pikiranlah yang mengadakan segala sesuatunya.

Lantas apa itu realitas di luar diri kita? Adakah realitas di luar kita? Adakah ayam dan telur? 3) Jawabannya jelas: realitas di luar diri kita tidak ada, karena yang ada hanyalah pikiran kita yang mengadakan semua itu.

Gorgias meradikalkan sedemikian rupa tesis Parmenides sehingga ia menekankan supremasi pikiran manusia, dan menihilkan realitas. Dengan canggih ia menyatakan bahwa realitas itu sebenarnya tidak ada karena, sekali lagi, hanya pikiran kita yang mengadakannya.

Secara sederhana: realitas itu tidak ada, yang ada hanyalah persepsi manusia. Lewat persepsinya ia meng-ada-kan realitas, dan tidak ada hakim yang bisa mengatakan persepsi satu lebih benar dari persepsi lainnya karena tolok ukurnya (realitas) tidak ada.

Dalam fragmen berjudul On Not-Being or On Nature, Gorgias dikenal mengajarkan hal ini: a) nothing exists; tidak ada sesuatu, atau, yang ada hanyalah ketiadaan, b) that even if it exists, it is incapable of being apprehended (akatalepton); kalau pun ketiadaan itu ada, ia tidak bisa ditangkap (pikiran); c) that even if it can be apprehended, it cannot be communicated to another; kalau pun ketiadaan bisa ditangkap, maka ia tak bisa dikomunikasikan pada orang lain (Gilbert, 2003:35).

Kita ambil contoh yang sederhana berikut:

Dua orang yang berseberangan melihat angka 6 dan 9.
Dua orang yang berseberangan melihat angka 6 dan 9.

Mengikuti tesis Gorgias, kita bisa menganalisis sbb:
TESIS 1: tidak ada sesuatu, tidak ada realitas, yang ada hanyalah ketiadaan.
TESIS 2: kalau yang tiada itu dikatakan ada, ia tak bisa ditangkap.

  • Dalam kasus contoh di atas, kalau pun Anda beranggapan “tulisan berbentuk angka 6/9” itu ada, toh nyatanya tidak bisa ditangkap kan? Yang kiri/selatan menangkap 6 , yang sisi kanan/utara menangkap 9 , yang sisi barat dan timur menangkap apa lagi?
  • Sekarang gantilah tulisan yang diperdebatkan di atas dengan bendera hitam, hijau, kuning, dengan tulisan tertentu yang sekarang ini ramai diperdebatkan. Apakah itu bendera HTI ataukah bendera Khilafah ataukah bendera ISIS atau bendera Al Qaeda atau apa? Jadi meskipun bendera bertulisan tertentu itu dikatakan ada, nyatanya tidak bisa ditangkap kan?

TESIS 3: kalau yang tiada dikatakan ada dan Anda yakin bahwa itu bisa ditangkap, toh akhirnya menurut Gorgias, hal itu tidak akan bisa dikomunikasikan.

  • Tiap sisi mempertahankan sudut pandangnya, PERSEPSI-nya. Sisi kiri bilang 6  dan sisi kanan bilang 9 dan masing-masing merasa benar dalam posisinya sendiri. Mungkinkan terjadi komunikasi untuk mencari kesepakatan objektif? Impossible.

Gorgias sebagai seorang SOFIS membuat kita bingung dengan pertanyaan ini: jadi, realitas itu ada atau tidak? Penting nggak adanya tulisan, bendera, fakta? Bukankah itu semua pada akhirnya nggak ada, dan nggak penting juga, karena yang terpenting adalah PERSEPSI masing-masing (terlepas dari ada atau tidak adanya realitas).

Dari dari situ lantas muncul kesimpulan yang lebih menakutkan lagi. Kalau persepsi adalah nomor satu, dan realitas sejatinya nggak ada dan nggak penting, maka untuk lebih meyakinkan bahwa PERSEPSI-KU adalah yang paling benar, orang tinggal menciptakan alternative facts.

Tibalah di sini kita pada era di mana fakta itu ternyata hanya dianggap penting sejauh ia mendukung persepsi. Bukan sebaliknya.

Kalau umumnya orang yang baik-baik berusaha mencari kebenaran dengan mendiskusikan berbagai persepsi dengan kembali ke fakta, maka SOFISME dengan canggih memberi landasan pemikiran bahwa: 1) nomor satu adalah persepsi masing-masing, dan 2) sejauh perlu, fakta itu bisa diciptakan untuk mendukung persepsi.

Bagi SOFISME, nothing exists, artinya kalau harus bicara fakta, maka fakta itu bersifat sekunder, tidak memiliki realitas dalam dirinya sendiri. Fakta tak lain adalah konstruksi hasil persepsi.

Contoh Indonesia:

“Presiden Joko Widodo menyesalkan masih banyak masyarakat yang percaya isu hoaks mengenai dirinya di media sosial. Salah satu isu hoaks yang sering muncul yakni bahwa Presiden Jokowi adalah kader Partai Komunis Indonesia atau PKI. Menurut Jokowi, tidak sedikit masyarakat yang mempercayai isu tersebut. “Banyak yang percaya. Ada survei kita enam persen itu percaya lho. Enam persen itu 9 juta lebih, percaya,” kata Jokowi saat menghadiri pembukaan Kongres ke-20 Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) di Hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/10/2018).”

“Jokowi menunjukkan gambar saat Ketua PKI DN Aidit berpidato di suatu panggung. Di dalam foto yang sudah diedit itu, Jokowi berada di dekat DN Aidit. “Saya cek ini pidato tahun berapa sih? Tahun 55. Saya lahir saja belum, kok sudah ada di dekatnya ini,” kata Jokowi. “Ini yang namanya media sosial ini nakal-nakal,” tambah mantan Gubernur DKI Jakarta itu.”

Jokowi dituduh PKI.
Jokowi dituduh PKI.

Dari kasus Jokowi ini, kubu sebelah telah membangun PERSEPSI sejak kampanye pilpres 2014 (lewat Obor Rakyat) bahwa Jokowi adalah PKI. Tentu persepsi ini sangat menggelikan. Atau, kalau kita hendak serius sedikit, isyu ini sangat jahat dan penyebarnya pantas dibawa ke pengadilan.

Setelah Jokowi menjadi Presiden, tidak ada tindak lanjut dari isu PKI ini. Kini mendadak, saat kampanye pilpres 2019, mendadak PERSEPSI ini dibangun kembali bahwa Jokowi adalah PKI.

Untuk menyakinkan publik bahwa PERSEPSI itu benar, maka dibuatlah fakta alternatif sebuah foto di mana Jokowi muda tampak menghadiri pidato DN Aidit (pentolan PKI) di tahun 1955.

Foto rekayasa ini tentu menggelikan. Namun, bagi kubu sebelah yang telah memeluk PERSEPSI bahwa Jokowi PKI, foto rekayasa itu mejadi fakta pendukung untuk memperkuat opininya.

Contoh Amerika:

Pada saat pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45 di National Mall, Washington D. C., pada tanggal 20 Januari 2017, para wartawan cetak dan televisi serta jutaan pemirsa melihat dengan gamblang bahwa lapangan tidak terisi penuh.

Ada banyak ruang kosong yang menunjukkan bahwa orang yang menghadiri upacara pelantikan tidaklah sebanyak dua pelantikan Presiden AS sebelumnya.

Namun, beberapa hari setelah pelantikan itu, Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer dengan yakinnya menyatakan bahwa rakyat yang menghadiri pelantikan Donald Trump banyak sekali.

Klaim kubu Trump tentang massa yang mendatangi pelantikan Trump.
Klaim kubu Trump tentang massa yang mendatangi pelantikan Trump.

Para wartawan bingung: bagaimana mungkin orang berbohong tentang fakta yang jutaan orang melihatnya? Mengapa juga Gedung Putih harus berbohong untuk hal seremeh ini?

Dan lebih mengerikan lagi, Kellyanne Conway – salah satu top aide’s-nya Donald Trump – dengan lebih yakin lagi membela opini Sean Spicer. Di NBC News, Conway membela Spicer. Katanya: “Tentang jumlah penonton tersebut, Spicer tentu saja tidak berbohong. Ia hanya memberikan alternative facts”.

Wartawan senior NBC News yang mewawancarai Conway tentu jengkel: “Alternative facts are not facts. They are falsehood”.

Gambar asli menurut para Jurnalis adalah 2 foto di bawah ini.

Perbandingan massa pelantikan Obama (2009) dan Trump (2017)
Perbandingan massa pelantikan Obama (2009) dan Trump (2017)

Apa yang dilakukan para pembantu Trump sekarang mewabah di seluruh dunia. Orang suka sekali menciptakan fakta alternatif untuk menunjukkan bahwa persepsinya benar.

Tempe setipis ATM? Meski Anda pergi ke warung serta pasar dan tidak menemukan fakta tempe setipis itu, PERSEPSI kubu Prabowo-Sandi bahwa negara ini sedang krisis ekonomi parah di mana rakyat menderita dan ibu-ibu tidak bisa beli susu membuat mereka menciptakan fakta alternatif bahwa tempe kita setipis ATM.

Politik Genderuwo? Pun kalau Anda tidak berhasil menemukan di mana mahkluk bernama Genderuwo, meski mungkin Anda paling takut kalau sendirian di rumah, PERSEPSI Jokowi-Maaruf Amin bahwa kubu sebelah memakai politics of fear membuat para pendukungnya percaya bahwa Genderuwo memang ada.

“Sofisme adalah praktek budaya dominan saat ini. Kita tidak mampu menyepakati sesuatu. Kita tidak mampu sepakat untuk tidak sepakat. Kita tidak mampu menyepakati perbedaan antara argumen yang koheren (utuh) dengan akrobat retoris (Vaidhyanathan, 2018:14)”.

Namun jangan keliru mengidentifikasi persoalan. Persoalan utama saat Sofisme merajalela bukanlah bagaimana menemukan kebenaran. Persoalannya bukan bagaimana meng-counter kebohongan Trump (atau kubu capres tertentu) dengan memberikan alternatif kebenaran lainnya.

Persoalan utama kita saat ini adalah “siapa yang memiliki kuasa mendiktekan kebenaran, siapa yang membuat kita semua saat ini seolah-olah tidak peduli lagi pada kebenaran (Vaidhyanathan, 2018:13).”

Ada dua sumber yang membuat kita kehilangan nalar sehat dalam melihat segala hal saat ini. Pertama, dalam studinya di Amerika, Siva Vaidhyanathan (2018:15) menemukan bahwa semakin banyak orang Amerika percaya pada hasil search di Google sebagai sumber kebenaran.

Mereka tidak lagi peduli pada kanal-kanal resmi kebenaran (seperti koran cetak dengan investigasi yang sudah teruji, survei para ahli, pernyataan resmi pemerintah, atau lembaga ilmiah).

Bila info datangnya dari Google, apalagi dari info Google yang paling atas rangkingnya (di hasil search ada di paling atas), maka info itu dianggap lebih benar daripada semua pendapat lainnya.

Kedua, dari Facebook, orang lebih memberi perhatian tentang News Feed di akun mereka bukan pada isi dari yang di-share, melainkan “siapa yang nge-share berita tersebut”.

Dua korporasi paling besar dan paling kaya di dunia saat ini dipercaya publik sebagai sumber kebenaran. Google dan Facebook bukan hanya paling besar, paling kaya, tetapi juga paling berpengaruh dalam mendiktekan kebenaran bagi pemakainya (yang milyaran jumlahnya di muka bumi ini).

Merekalah yang mendiktekan apa yang mesti kita baca dalam soal politik, pendidikan, kesehatan, dan segala isu di dunia saat ini.

Sementara institusi-institusi tradisional seperti lembaga resmi agama, para pakar di berbagai lembaga penelitian, lembaga-lembaga demokratis dengan check-and-balance-nya yang puluhan dan ratusan tahun dibangun dan dipertahankan untuk langgengnya masyarakat yang plural dan toleran seakan sedang goyah dan krisis kepercayaan diri karena tidak diperhatikan lagi suaranya tentang kebenaran.

Orang tidak percaya lagi pada climate change. Fakta bahwa air laut terus menerus naik, dengan gampang tidak dianggap karena di kelompok tertentu ide ini tidak diterima.

Vaksin hasil studi dan penelitian puluhan tahun ditolak dengan entengnya, karena dianggap tidak sesuai dengan kenyamanan hati kelompok tertentu. Tiba-tiba bumi dianggap datar lagi.

Segala penelitian ratusan tahun tentang alam semesta seolah nggak laku lagi hanya karena teori konspirasi Big Science yang membohongi kita selama ini. Bila ide-ide di atas ditemukan di Google, apalagi dikatakan bahwa informasi tersebut ada di rangking atas, bila ide-ide tersebut di share di Facebook oleh semakin banyak orang, apalagi di-share di Twitter dengan skor tinggi, maka itulah yang benar.

Google dan Facebook adalah pemilik real power yang mendiktekan kebenaran saat ini.

“Social media are not the causes of revolutions and violence; they are rather a mirror of the power structures and structures of exploitation and oppression that we find in contemporary society (Fuchs, 2014:204).

Situasi ini mengerucut memunculkan sebuah TEKNOPOLIS: polis (kota/Negara) yang sepenuhnya didikte oleh penguasa-penguasa teknologi.

“Google and Facebook we have witnessed a global concentration of wealth and power not seen since the British and Dutch East India Companies ruled vast territories, millions of people, and the most valuable trade routes. Remarkably, and unlike the East India Companies, Google and Facebook have achieved this feat nonviolently and with only tangential state support. Like the East India Companies, they excuse their zeal and umbrage around the world by appealing to the missionary spirit: they are, after all, making the world better, right? They did all this by inviting us in, tricking us into allowing them to make us their means to wealth and power, distilling our activities and identities into data, and launching a major ideological movement—what Neil Postman described yet only predicted in 1992: technopoly (Vaidhyanathan, 2018:211-212).”

Dalam waktu singkat, Google telah mencapai apa yang berabad-abad diupayakan oleh VOC untuk menguasai wilayah seluas Nusantara. Dan hebatnya, Google melakukan penguasaan itu tanpa melakukan kekerasan apa pun. Justru orang sedunia yang berbondong-bondong menyukainya karena measa dibantu.

Dalam teknopolis, teknologi menjadi “illah” baru yang disembah. Segala hal hanya valid kalau via teknologi; hanya teknologi yang bisa memenuhi dengan puas segala kebutuhan kita; dan akhirnya kita melakukan semua apa yang diperintahkan (diminta) oleh teknologi.

Kita memasuki era disruption: lembaga lama, agama lama, tradisi lama, kebiasaan lama, tatanan lama dianggap “layak dibuang” karena tidak sesuai lagi dengan teknologi.

Belajar bukan lagi soal proses kita masuk dalam masalah, tinggal di dalamnya dan berdeliberasi, melainkan sekedar searching, copying dan pasting.

Agama menjadi oversimplified, portable dan menjadi kendaraan berbagai macam emosi dan ego identitas. Tiap pribadi manusia tinggal menjadi angka, bisa dihitung datannya, tak bisa mengelak dari pantauan mesin karena teknopolis tidak memberi alternatif.

Satu-satunya alternatif hanyalah teknologi, taklid buta padanya, percaya padanya sebagai penyelamat manusia.

(Akibat Negatif Medsos untuk Politik)

Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sangat optimis bahwa ciptaannya telah memajukan umat manusia, khususnya demokrasi.

“Di India, Perdana Menteri Modi meminta semua menterinya untuk membagikan rapat-rapat mereka lewat Facebook sehingga bisa langsung diberi masukan oleh rakyat. Di Kenya, seluruh desa-desa terorganisir dalam Grup Whatsapp. Dan dalam kampanye-kampanye politik saat ini – di India, Indonesia, seluruh Eropa dan Amerika Serikat – kami menyaksikan bahwa kandidat-kandidat yang memiliki follower paling besar dan paling engaged di Facebook memenangkan pemilihan. Sama seperti TV menjadi medium utama untuk komunikasi warga negara di tahun 1960-an, maka Media Sosial di tahun 2016 menjadi sarana untuk itu (keterlibatan warga negara dalam soal politik) (Vaidhyanathan, 2018:2)”.

Namun optimisme Zuckerberg tidak diikuti fakta di lapangan. Di Amerika Serikat, di Eropa (Polandia dan Hungaria), di Kenya dan di Indonesia kita menyaksikan – terutama sejak aksi 212 – naiknya aspirasi otoritarianisme dan pengikisan budaya demokrasi secara mengkhawatirkan.

Facebook secara langsung berperan dalam maraknya penyebaran wacana dan ide-ide primordial (suku, agama, ras, dan antara golongan). Suara bising dan polarisasi di Facebook serta Media Sosial membuat apa yang disebut deliberasi (proses musyawarah) tak dianggap serius lagi.

Otoritas ulama-ulama tradisional dan lembaga-lembaga demokratis lainnya digerus oleh cacophony (koor suara cempreng dan fals) rakyat netizen yang haus sensasi dan apa-apa yang berbau viral.

Misi Silicon Valley dalam bahasa yang indah merumuskan bahwa teknologi ciptaan mereka akan membuat rakyat makin saling terhubung, sehingga penyebaran pengetahuan memberdayakan (empower) rakyat (Vaidhyanathan, 2018:3).

Namun bagaimana mungkin, sejak Facebook diperkenalkan pada Februari 2004, pada saat ini, di 2016 yang terjadi justru: maraknya gerakan primordial bernafas suku-ras-agama, maraknya gerakan rasial kulit putih, maraknya ide-ide konspirasi yang aneh-aneh, penyebar luasan hal-hal buruk manusia (bunuh diri secara direct, pembunuhan orang lain secara direct oleh ISIS), propaganda dan rekrutmen teroris, dan makin wajarnya hal-hal sensasional yang menumpulkan akal sehat?

Facebook tidak menciptakan perpecahan. Facebook tidak menciptakan rasialisme atau primordialisme agama. Tidak. Semua itu sudah ada sejak dahulu kala.

Bila pada era-era demokratis dahulu kala, ada koran, ada pakar, ada lembaga-lembaga penelitian yang teruji dan terpercaya, ada ulama yang memiliki otoritas, pada saat ini – saat Facebook hadir – semua itu masih ada, namun dengan stabil tergerus tanpa daya.

Ada sesuatu dalam cara bekerjanya Facebook dan Google yang – entah bagaimana – bukannya membuat hal-hal baik menguat, melainkan sebaliknya, segala hal buruk tergaungkan dengan nyaring dan sangat cepat menyebar ke kepala masing-masing orang yang sekarang ini 2,2 milyar jumlah umat Facebook.

Entah bagaimana Facebook memudahkan fake news (berita bohong) lebih tersebar luas daripada berita-berita yang lebih rasional. Mengapa demikian?

Karena mesin Facebook didesain sedemikian rupa sehingga Facebook lebih memperhatikan pesan-pesan yang memiliki strong emotional registers, whether joy or indignation (Vaidhyanathan, 2018:5).

Pesan-pesan yang paling cepat menyebar luas di Facebook adalah cute puppies, cute babies, pesan-pesan ringkas dalam ujud daftar yang gampang diingat, gaya hidup, dan hate speech.

Aplikasi Facebook didesain sedemikian rupa sehingga ia akan cepat mendeteksi dan mempromosikan hal-hal yang sifatnya merangsang emosi kuat. Maksudnya bagaimana?

Cobalah Anda posting sebuah propaganda dengan pesan atau gambar yang membuat orang langsung bereaksi keras: entah membela atau menyerang. Misalkan, Pembakaran Bendera Bertuliskan Tertentu, atau Penganiayaan Anggota Kubu Capres Tertentu.

Mesin Facebook didesain untuk mengukur keterlibatan emosional Anda lewat klik yang Anda buat entah untuk like, share, comments. Semakin tinggi jumlah klik diterima, semakin pesan itu akan berada di rangking atas, menjadi viral.

Sebaliknya, berita atau postingan yang sifatnya adem, rasional dan argumentatif jarang mendapatkan reaksi, jarang mendapat klik. Artinya, ia tak menarik perhatian, dan tenggelam dalam sunyi.

Menurut Majalah The Economist tahun 2017, algoritma di media sosial diciptakan terutama untuk membuat orang “engaged” (terlibat) sehingga berlama-lama membaca sesuatu, menyebarkannya, dan mem-posting yang kurang lebih sama.

Orang ini akan ditawari untuk bertemu dengan orang lain dengan minat yang sama. Dan untuk memperdalam tingkat keterlibatan orang dalam ekosistemnya sendiri (misalnya ekosistem Kampretos atau Cebongers), maka dua sarana paling handal adalah: lelucon dan kemarahan.

“The algorithms that Facebook, Youtube and others use to maximize ‘engagement’ ensure users are more likely to see information that they are liable to interact with. This tends to lead them into clusters of like-minded people sharing like-minded things, and can turn moderate views into more extreme ones. (…) When putting these media ecosystems to political purposes, various tools are useful. Humour is one. It spreads well; it also differentiates the in-group from the out-group; how you feel about humour, especially if it is in questionable taste, binds you to one or the other. The best tool, though, is outrage. This because it feeds on itself; the outrage of others with whom one feels fellowship encourages one’s own. This shared outrage reinforces the fellow feeling; a lack of appropriate outrage marks you out as not belonging. The reverse is also true. Going into the enemy camp and posting or tweeting things that cause them outrage – trolling, in other words – is a great way of getting attention (4 November 2017:21)”.

Lelucon – terutama yang seleranya rada nyrempet-nyrempet nyindir salah satu kubu Capres – sangat berguna untuk membedakan “siapa kelompokku” dan siapa tetangga sebelah”.

Jika gambar meme lucu tentang Ratna Sarumpaet membuat Anda tertawa, dan teman Anda tertawa juga, maka ikatan percebongan Anda makin kuat.

Sebaliknya, jika meme lucu tentang Jokowi membuat Anda berderai air mata saking nggak bisa nahan perut, sementara salah satu teman di WA Grup mulai sewot, lalu Anda bisa memilah siapa teman sejati siapa teman selundupan.

Demikian juga dengan kemarahan. Postingan berita atau gambar yang scandalous akan membuat Anda marah dan cepat meneyebarkannya. Postingan foto atau berita teman Anda yang marah pada polisi karena ia diperlakuan tidak adil, dengan sendirinya membuat Anda mendadak langsung ikutan marah.

Anda berempati, Anda orang yang solider, Anda berada di garda pejuang keadilan bersama teman yang menderita ! Dan kalau di WA Group ada yang tidak peduli, Anda langsung mencatat orang-orang itu sebagai potentially from kubu sebelah.

Dua hal ini ditangkap dan menjadi pusat kerja algoritma medsos, karena dua hal ini yang membuat orang memberikan attention serta engaged berlama-lama di medsos. Posting-an berita yang rasional dan adem susah mendapatkan perhatian (apalagi di-share lebih lanjut).

Attention Anda ini yang kemudian dicatat oleh mesin algoritma untuk diperjualbelikan pada orang yang butuh mengiklankan produk tertentu.

Seorang penulis bernama Eli Pariser menengarai perilaku filter bubble untuk cara bekerja mesin bernama Google dan Facebook. Filter bubble artinya proses mesin yang memfilter kebiasaan-kebiasaan kita dalam berselancar di Google dan Facebook.

Kalau saya suka melihat siaran Youtube tentang bulu tangkis, atau musik dangdut koplo, atau Queen, maka kali lain saya masuk youtube, musik-musik atau sport seperti itu yang akan ditawarkan pada kita.

Kalau di Google saya senang mencari buku-buku filsafat, kali lain saya masuk Google, daftar buku-buku yang mirip dengan filsafat akan ditawarkan pada saya.

Mesin Google dan Facebook sangat pintar mencatat dan menengarai kebiasaan kita, sehingga secara otomatis ia akan menghadiahi kita dengan hal-hal serupa dan mirip saat kita masuk lagi ke mesin tersebut. Dengan cara seperti itu, terciptalah bubble, sebuah gelembung yang melingkupi diri kita.

Saat kita masuk internet kita ternyata diarahkan hanya dalam satu gelembung tertentu saja (yaitu wilayah yang menjadi minat saya sendiri). Dengan cara bekerja seperti itu, setiap kali seorang Kampretos masuk Google atau Facebook, hanya opini dan ide-ide kaum kampretos lainnya yang akan tersaji padanya.

Demikian juga dengan kaum cebongers. Akan sangat sulit membayangkan postingan kaum cebong ditawarkan dalam News Feed Facebook-nya seorang Kampretos. Orang makin terkotak-kotakkan dalam bubble masing-masing.

Tidak ada real encounter dengan orang atau ide lain; tidak ada risiko bertemu berita yang sama sekali di luar radar minat kita – seperti saat kita membuka selembar koran.

Mesin Google dan Facebook didesain sedemikian rupa sehingga ia menyentuh dimensi motivasi manusia, dan bukan dimensi rasionalnya. Facebook is great for motivation. It is terrible for deliberation (Vaidhyanathan, 2018:7).

Teknik ini mirip sekali dengan ilmu retorika yang digunakan para Sofis saat membujuk rayu rakyat. Dalam rezim demokrasi, dimana rakyat berkuasa, Platon menggambarkan rakyat seperti binatang buas (The Republic 493a-b) yang sudah ditebak kemauannya namun ganas dan siap mengerkah siapa saja yang salah pendekatan padanya.

Menurut Platon, para Sofis mirip para penjinak binatang buas. Di depan binatang seperti itu, tentu tidak ada gunanya menyentuh otak mereka. Tidak ada gunanya membuat argumen rasional.

Seorang Sofis paham betul karakter binatang buas. Ia mempelajari perilaku binatang buas dan paham bagaimana menaklukkannya: 1) beri dia kenikmatan-kenikmatan yang ia inginkan, agar ia tunduk pada Anda; 2) beri dia lecutan cambuk dan hal-hal menakutkan agar ia tunduk pada Anda.

Dengan mempermainkan dimensi epithumia (bagian jiwa yang ada di perut ke bawah, yang dominan berurusan dengan makan, minum dan seks, singkatnya uang), Sofis bisa menguasai binatang ganas. Buat apa? Tentu saja untuk ditaklukkan supaya Anda bisa menjadikan binatang itu objek permainan sirkus.

Dan lebih ironis lagi, para Sofis kemudian menyatakan dimana-mana bahwa ilmu mereka menaklukkan binatang itu namanya filsafat! Dengan nada autokritik, Platon lantas menulis bahwa di era Sofisme yang merajalela di rezim demokrasi Athena, “serangan paling hebat terhadap filsafat datang dari mereka-mereka yang memperaktekkannya (The Republic 489c)”.

Di tangan kaum Sofis, filsafat menjadi ilmu licin yang main pelintir kata mengadakan yang tidak ada dan meniadakan yang ada. Kalau para petani hidup dengan bercocok tanam, kaum Sofis – orang-orang asing yang berkeliaran di Athena – mencari penghidupan dengan bercocok tanam.

II. Mewaspadai Media Sosial (Facebook, Twitter) dan Internet (Google)

Media sosial adalah istilah yang kompleks yang merangkumi beberapa hal: a) alat komunikasi, b) alat menciptakan berbagai komunitas, c) secara sekunder bisa menjadi alat untuk bekerja sama.

Maksud kata sosial dalam media sosial merujuk pada: soal share pengetahuan (bahwa media yang kita gunakan ini adalah hasil kerja manusia secara keseluruhan), share komunikasi (bahwa media ini memang berkenaan dengan soal interaksi kita dengan sesama manusia), dan komunitas (karena komunikasi memfasilitasi terbentuknya kesamaan rasa-merasa yang memunculkan komunitas-komunitas).

“Social media is a complex term with multi-layered meanings. Facebook contains a lot of content (information) and is a tool for communication and for the maintenance creation of communities. It is only to a minor degree a tool for collaborative work, but involves at least three types of sociality: cognition, communication and community (Fuchs, 2014:5)”.

2.1 Sisi Positif Media Sosial

Ada banyak kegunaan Internet dan Facebook. Bagi para penggunanya, Facebook memberi banyak kegunaan yang tak terbantahkan. Facebook membantu Anda berkontak dengan keluarga dan teman-teman secara terus menerus. Jarak yang jauh dengan sekejap terlompati oleh Facebook.

Selain itu, orang mendapatkan sarana luar biasa untuk berkontak dengan mereka yang memiliki hobby sama, monat yang sama, keprihatianan yang sama. Lewat pertemanan-pertemanan itu, bisa jadi Anda terbuka matanya pada sebuah buku, atau album musik yang selama ini di luar radar perhatian Anda.

Kiriman video atau posting-an gambar dari teman di Facebook membuat Anda tertawa bahagia. Kiriman reflektif dari seorang teman tentang sebuah persoalan barangkali telah membantu membuka mata Anda tentang pentingnya suatu hal yang selama ini Anda lewatkan.

News Feed di Facebook barangkali secara tak terduga mengirim Anda berita dari koran LN yang ternyata bagus dan membantu Anda memiliki informasi yang tepat. Atau, mungkin Anda sangat terbantu oleh Facebook saat Anda berpartisipasi aktif dalam kampanye politik. Facebook dan Twitter memudahkan tugas Anda untuk berkontak dengan konstituen.

Saat Anda bepergian jauh, Facebook membuat Anda tetap terkoneksi dengan wilayah asli tempat tinggal Anda. Perdebatan, isu panas, atau up date mutakhir tentang pemilu di wilayah Anda tetap bisa diikuti meski Anda sedang berada di daerah yang ribuan kilometer jauhnya.

Mungkin, Facebook telah menghangatkan hati Anda karena pertemuan kembali dengan teman-teman lama. Berkat Facebook Anda bisa menemukan teman-teman masa kecil, sahabat-sahabat dekat saat sekolah SD, SMP atau SMA dulu yang Anda kira telah hilang selama-lamanya17.

Internet dengan Google-nya mempermudah segala upaya kita mencari informasi. Kita bisa mengetik sebuah paper sambil berselancar mencari informasi yang tepat mengenai suatu hal.

Hidup jauh terpisah di dunia ketiga tidak lagi menjadi halangan. Kita tetap bisa mencari informasi paling up date tentang buku-buku terbaru yang berkaitan dengan pekerjaan kita.

Bukan hanya informasi, gambar dan foto dari berbagai tempat yang dulu pernah kita kunjungi (namun lupa kita simpan di alat foto kita pribadi) bisa dengan mudah kita temukan kembali berkat Google.

Mencari barang, menjual barang, atau beriklan menjadi sangat gampang berkat Google. Peta dan perjalanan menjadi tidak menakutkan lagi. Semua ada dan bisa diakses di Google. Kita bisa pergi ke manapun tanpa khawatir.

Tak ada yang membantah bahwa kemajuan teknologi lewat Google dan Facebook telah mempermudah hidup kita dan meningkatkan kualitas hidup kita.

2.2 Sisi Negatif Media Sosial

Namun sisi gelap dari sarana teknologi terbaru ini juga tidak kalah mencoloknya. Mungkin ada suatu waktu di mana Anda merasa ketagihan untuk selalu mantengin internet, berselancar nggak jelas di Google atau di Youtube.

Anda menghabiskan waktu secara tidak produktif di Facebook dan Internet. Dengan akses yang lebih gampang lewat gawai Smartphone, kita semakin gampang addicted pada Internet dan Facebook.

(Terkoneksi ke Semua, kecuali ke Diri Anda Sendiri)

Nicholas Carr (https://www.youtube.com/watch?v=cKaWJ72x1rI) menulis buku tentang pengaruh negatif internet pada otak manusia (The Shallows: What is the Internet doing to our Brain).

Nicholas Carr menjelaskan pada kita tentang neuro-sains. Otak manusia selalu berubah sesuai dengan lingkungannya. Syaraf-syaraf kita bersifat plastis (neuro-plasticity), berinteraksi antara syaraf sekaligus berinteraksi dengan lingkungannya.

Sinapsis terbentuk di antara syaraf-syaraf neuron berkat interaksi kita dengan lingkungan di sekitar. Apabila kita membiasakan diri menggunakan Internet sehari-harinya, maka cara kerja internet (teknologi) dengan sendirinya mengubah otak kita.

Menurut Nicholas Carr, karena lingkungan yang baru, internet justru membuat otak kita lebih dangkal, lebih impulsif, selalu terorientasi mencari hal-hal yang membuat senang saja, mencari constant excitement (rangsangan-rangsangan terus menerus).

Hormon serotonin didorong terus-menerus untuk aktif. Perubahan-perubahan fisik pada otak bisa kita rasakan saat kita sedang manyun, tidak beraktivitas, sedang tidak memiliki kuota data, sedang tidak mengakses internet.

Pada saat-saat seperti itu, biasanya kita diterpa kegelisahan. Kita jadi resah, butuh stimulus tertentu agar otak kembali tenang. Bila internet tidak didapatkan dalam waktu cepat, kita menjadi orang kompulsif dan tidak sabaran.

Di era internet, saat kita membutuhkan sesuatu (alamat, nama orang, atau info tertentu) kita langsung ngeklik Google.

Hebatnya internet, dalam waktu sekejap kita diberi jawaban komprehensif: secara intellektual memuaskan, secara visual juga menarik serta sederhana. Dalam waktu sekejap, saat butuh sesuatu, klik, kita langsung diberi kepuasan. Click – response – and reward – serotonin (hormon rasa senang keluar).

Di era internet, orang dibiasakan dengan mekanisme neuron-hormonal seperti itu. Mesin komputer dengan internetnya telah mengubah otak untuk bekerja mengikuti “constant response and reward”. Otak kita berubah mengikuti pola seperti itu, dan otak menjadi tidak terbiasa untuk menjalani apa yang kita sebut “proses”.

Zaman dulu, saat tidak tahu siapa itu Moses Maimonides, saya harus sabar, menunda keingintahuan. Saya harus pergi ke perpustakaan, mencari katalog, menunggu petugas perpustakaan, meminjam buku, dan pelan-pelan membaca siapa itu Moses Maimonides.

Zaman dulu otak manusia dibiasakan untuk berproses, untuk menjalani ketidaktahuan dengan lebih tenang.

Anak-anak di era millennial cenderung tidak mengerti lagi “proses”. Saat ingin tahu, langsung buka gadget, klik-klik-klik, langsung mendapatkan jawaban. Mereka tidak terbiasa untuk menunggu, untuk berproses, sehingga lebih mudah terancam kegelisahan.

Mereka tidak paham lagi mengapa menunggu taksi di pinggir jalan itu asyik, seru, justru karena penuh ketidakpastian. Bagi anak milenial, ngapain nunggu gak jelas gitu, tinggal pesen Gojek atau Grab, selesai.

Karena orientasinya adalah “aku butuh ini…aku butuh itu…gadget harus memenuhi semua kebutuhanku…”, generasi milenial kurang terlatih skill sosial, kurang dilatih memiliki empati pada manusia lainnya.

Mampukah anak-anak milenial membedakan antara driver Gojek dengan aplikasi Gojek? Driver itu manusia yang memiliki perasaan, mungkin keluarga, dan seribu satu hal lainnya. Aplikasi Gojek adalah program komputer yang bisa Anda un-install detik kapan pun.

Dual hal di atas, soal stress (kegelisahan) dan berkurangnya empati pada orang lain, sebenarnya mencerminkan satu hal saja: orang tidak lagi paham dengan dirinya sendiri. Otak telah terbentuk sedemikian rupa untuk selalu mudah dipuaskan, sehingga perilakunya menuntut seperti itu.

Padahal kita tahu, hidup ini ruwet, ada hal-hal dalam hidup kita (semisal unsur emosi, unsur relasi, unsur nafsu-nafsu) yang tak bisa bekerja secepat click-and-response.

  • Saat Anda lapar, ada saatnya makanan sudah tersedia. Namun ada saatnya Anda harus menyiapkan dahulu kan? Bila makanan tidak segera tersedia, Anda langsung marah dan gelisah.
  • Saat Anda mau menghadap orang tua, guru atau dosen, ada tata cara, ada sopan santun yang harus dikedepankan bukan? Anda maunya langsung WA dan langsung dibalas juga saat itu juga. Bila WA tidak dibalas, Anda gelisah setengah mati.
  • Banyak hal dalam hidup ini tak bisa dijalankan secara “multi-tasking”. Kalau Anda sedang mulai serius pacaran dan duduk bicara dengannya, ya jangan sambil ngobrol online dengan orang lain, proses pacaran bisa gagal total.

Internet dan media sosial memang membuat orang bisa terkoneksi ke seluruh dunia. Namun risikonya juga jelas: Anda terkoneksi ke siapa pun di mana pun dan kapan pun Anda berada, kecuali dengan diri Anda sendiri.

Ketidakmampuan mengenal diri (bahwa hidup ini seringkali butuh proses, butuh waktu) membuat orang jadi gampang diterpa kegelisahan. Ketidakmampuan mengenal diri juga membuat orang tidak kenal “manusia lain” (menjadi tidak empatik terhadap situasi dan kebutuhan orang lain).

(Kehilangan Kreativitas)

Dunia internet dengan revolusi industri 4.0 menawarkan sejuta kesempatan untuk para generasi milenial. Namun tahukah Anda bahwa kesempatan itu hanya bisa diraih oleh mereka-mereka yang memiliki tradisi kreatif? Padahal orang hanya bisa kreatif kalau biasa sabar menjalani proses kreasi (proses penciptaan) yang tak pernah hanya bersifat copy-paste.

Cara kerja internet, menurut Nicholas Carr, hanya membuat kita memiiki short memory yang tidak terendapkan. Kita terbiasa cepat mendapat jawaban, lalu melupakannya lagi, karena percaya semua ingatan bisa ditemukan lagi di mesin.

Hal ini bertentangan dengan proses kreatif yang biasanya dimiliki manusia. Kita belajar, kita mengingat sesuatu dalam short term memory. Ingatan pendek ini lantas mengendap dan disimpan dalam long term memory.

Proses kreatif terjadi saat kita membiarkan semua long term memories saling berinteraksi di otak kita. Dan proses seperti ini yang dihapuskan oleh internet. Mengapa?

Saat kita butuh sesuatu, kita mencari jawaban di internet. Secara instan, kita disodori berbagai jawaban yang luar biasa hebat di internet (ada infografis, ada suara, ada animasi, dll).

Namun karena begitu kayanya alternatif jawaban yang disediakan, kita seperti kehilangan patokan. Kita tidak tahu lagi mana info yang tepat, mana info yang layak diikuti, mana info yang ngawur.

Kita mencoba melihat semuanya, dan kita seperti tersesat di situ. Dengan cara itu, kita dipenuhi “overloading short term memory”. Sedemikian cepat dan banyaknya informasi sehingga kita tidak sempat menyimpan dan memprosesnya.

Kita lantas berpikir: “ah, tidak usah diingat, toh di internet nanti kapan-kapan bisa saya lihat lagi.”

Bahaya internet adalah membuat kita tidak terbiasa lagi melatih otak bekerja. Sama seperti otot yang tidak pernah diajak olah raga akan membuat tangan, kaki dan badan kita mengalami atropi (mengecil), otak yang tak pernah dilatih juga akan melemah.

Otak menjadi tidak terlatih untuk berproses memilih short term memory untuk disimpan menjadi long term memory. Proses kreatif adalah saat kita mengolah memory kita sendiri, memilah dan menghubungkan satu dengan lainnya, sehingga lantas menemukan sesuatu yang baru.

Generasi milenial yang terlahir dengan internet perlu: a) berlatih memilah informasi (bahwa tidak semua informasi bisa diambil), b) menyimpan memori yang sudah terpilah di kepalanya sendiri, c) berlatih sabar mengendapkan memory, c) belajar exercising our brain. Sama seperti otot tangan, kaki dan badan kita harus digerakkan (exercice) supaya kita bertumbuh sehat, otak pun perlu latihan (exercice) agar sehat.

Manusia berakal sehat artinya: bisa memilah informasi (dan tidak menjadi agen penyebar informasi apa pun termasuk hoax), dan bisa turut menciptakan konten info yang bermanfaat bagi netizen lainnya (bukan hanya jadi konsumen di internet, tetapi juga produsen konten untuk internet).

Era revolusi industri 4.0 mengandaikan adanya generasi yang kreatif, yang memproduksi sesuatu. Untuk itu, kita perlu berlatih memusatkan atensi (perhatian) kita, pandai memilah, pandai mengolah data, sehingga lalu bisa menciptakan sesuatu yang baru.

Bila kita hanya sibuk multitasking melayani berbagai notifikasi di gadget, lalu kita hanya sibuk mencet sana sini mencari jawaban instant, di situ kita justru sedang kehilangan banyak waktu berharga untuk melatih otak kita kreatif.

Homo interneticus tidak berpikir lagi. Otaknya dibagi dua secara fisik: satu di manusia, satunya lagi di mesin. Dan ini benar-benar sudah tidak manusiawi lagi. Manusia kehilangan dimensi terunggulnya yang selama ini ia miliki sebagai zoon echon logon (makhluk rasional).

Seperti patung The Thinker karya Auguste Rodin, proses berpikir kreatif mengandaikan pose fisik tertentu. The Thinker digambarkan duduk sendirian, diam, tangannya menyangga dagu, dan wajahnya tampak serius memikirkan sesuatu. Ia sendirian (soliter) dan kontemplatif.

Itulah gambaran bagaimana bisa menjadi pemikir yang kreatif. Agak sulit membayangkan orang bisa kreatif kalau selalu terkoneksi ke seluruh dunia, sibuk multitasking mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sama, dan tidak bisa fokus ke satu hal.

(Mewaspadai Totaliterisme)

Ada suatu zaman di mana tidak ada internet, tidak ada Wikipedia, tidak ada Google, tidak ada Facebook. Zaman itu belum lama, kira-kira tahun 2000 kemarin (saat awal Reformasi).

Pada zaman itu, para penguasa adalah para pakar (knowledge is power) atau para centeng (preman dengan kekuasaan tak terbatas, might is right). Keluasan pengetahuan para ahli membuat rakyat percaya pada mereka untuk berfungsinya sebuah teknologi, alat, atau pemerintahan.

Kekuatan dan sumber daya tak terbatas membuat para centeng bisa mengatur apa pun sesuai kehendak mereka.

Sekarang adalah era internet dan media sosial. Untuk segala pertanyaan, Anda tidak lagi bertanya pada para ahli, karena mereka terlalu jauh dan sering tak terpahami omongannya, tetapi Anda bertanya paga pada Google dan Wikipedia. Para penguasa pun – entah itu para ahli maupun para centeng berduit banyak – tunduk pada internet yang merambah ke mana pun, menundukkan siapa pun.

Apakah pada zaman ini berarti kita masuk dalam sebuah era kebebasan, era kesetaraan, era di mana ilmu pengetahuan dan kekuasaan bisa diakses oleh siapa pun dari mana pun? Tidak.

Ada dua tesis yang cukup mengkhawatirkan saat ini. Internet dan Medsos bisa menjadi pengawal munculnya rezim totaliter.

Pertama, era internet dengan medsos dan algoritma di baliknya, di mana raksasa besar Google, Facebook dan Twitter praktis menjadi pemain tanpa kompetitor membuat kita jatuh dalam sebuah sistem yang dekat dengan Negara Totaliter.

Novel fiksi 1984 karangan George Orwell menjadi penanda bahwa kita sedang dalam iklim “kontrol total” oleh pemilik-pemilik perusahaan di atas. Mereka menjadi penguasa pengetahuan (knowledge is power) sekaligus centeng (might is right).

Kepintaran mereka mengutak-atik algoritma menjadikan kita “data” untuk diperjualbelikan demi bisnis yang hanya mereka yang tahu volume besarannya. Negara Cina yang mengontrol kehidupan warganya lewat internet dan medsos adalah contoh sistem totaliter yang mengadopsi sepenuhnya teknologi untuk menundukkan rakyatnya.

Kedua, era internet dan medsos tidak menciptakan Negara totaliter, tetapi hanya menyiapkan munculnya seorang pemimpin ngawur. Algoritma di balik Google dan medsos dibuat sedemikian rupa sehingga ia mengkalkulasi dan memberi tekanan pada apa yang “diperhatikan” oleh pengguna sarana itu.

Dan seturut analisis sejauh ini, apa yang menggerakkan orang terpaku perhatiannya pada Google dan medsos bukanlah hal-hal yang bersifat “rasional” melainkan apa-apa yang “lucu atau scandalos (membuat marah)”.

Akibatnya, orang terpaku di Google dan medsos bukan untuk sesuatu yang sifatnya “seimbang, rasional, objektif”. Ia terpaku untuk hal-hal yang “emosional”, dan semakin ia terpaku, semakin ia diharu-biru oleh mesin algoritma yang makin menyodorkan hal-hal seperti itu pada pemakai. Ia makin terkungkung dalam “gelembung perkawanan emosional”-nya.

Jika dulu ia pembaca Koran dan suka baca buku, medsos membuat orang-orang merasa tidak perlu lagi baca Koran dan buku. Bila seperti di Indonesia ini orang dari dulu tidak baca buku dan tidak baca Koran, maka ia makin nyaman sebagai “pengobrol emosional dengan sesama fans dalam kelompoknya”.

Apa jadinya bila masyarakat makin malas belajar, makin menghindari hal objektif, dan sesuka-sukanya sendiri? Demokrasi dan kebebasan serta kesetaraan yang dijalankan seperti itu akan menciptakan masyarakat yang malas dan tidak tanggung jawab.

Pilihan-pilihannya juga tidak terlalu ribet, apa pun dipilih asal membuatnya ia suka. Bila demokrasi menjadi anarki, maka orang seperti Trump pun dipilih dengan suka ria. Pemimpin yang ngawur mudah sekali naik takhta.

Bila rezim totaliter melarang rakyat membaca buku dan mengontrol pendapat rakyat, maka dalam demokrasi anarkis, rakyat yang malas justru tidak merasa butuh membaca buku.

Mereka lebih suka ikut opini kelompoknya yang ia sukai, yang tweet dan posting-nya serba pendek dan menggelembungkan emosi egonya. Rezim demokrasi anarkis menciptakan rakyat yang seenak gue; dan rakyat yang tak bertanggung jawab akan melahirkan pemimpin ngawur.

Indonesia menghadapi dua bahaya ini: 1) rezim totaliter di depan mata adalah ideologi khilafah (yang bila melakukan semua kontrol memakai teknologi akan memunculkan sebuah Negara totaliter yang menakutkan); 2) rezim demokrasi yang anarkis yang akan memunculkan pemimpin ngawur.

*Naskah ini diambil dari Laporan FTJ 2019 oleh Komite Dewan Kesenian Jakarta. Diberikan narasumber/penulis dalam diskusi FTJ pada 21 November 2018 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Baca Juga

PSBB untuk Jakarta, Bagaimana Nasib Daerah Lain?

Portal Teater - Pemerintah resmi menetapkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta. Keputusan ini dibuat untuk menekan transmisi virus...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...

Terkini

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Temuan Kasus Baru Melonjak Drastis

Portal Teater - Temuan kasus baru pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19) di Indonesia melonjak drastis pada Kamis (9/4). Otoritas melaporkan, ada 337 kasus baru...

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...