Soliloquy “Selfie in Three Minutes”: Siapakah Kamera?

Portal Teater – Sejak handphone dilengkapi fasilitas kamera, aksi-aksi performatif di bawah durasi 1 menit merupakan perkembangan baru pada bentuk status para pemilik akun media sosial. Umumnya menggunakan foto selfie, aplikasi tik-tok maupun bigo.

Aksi-aksi ini membuat setiap detik dunia gagasan bergerak dan terdistribusi ke ranah luas dengan cakupan global.

Karya mereka bisa kita baca sebagai serpihan-serpihan pengetahuan, maupun sebagai literasi untuk mengkritisi peran media masakini dalam berbagai proses pembentukan maupun pengelupasan relasi-relasi kuasa. Karena itu bisa menjadi progresif.

Sebagian kita yang lain mungkin lebih melihat status-status yang bersifat performatif itu sebagai hiburan. Fungsi yang juga memang sama pentingnya.

Semua postingan status merupakan tontonan yang setiap saat bisa kita nikmati sebagai serpihan-serpihan data dengan berbagai kandungan informasi yang bisa diurai sebagai pengetahuan.

Salah satu pembentukan status-status di media sosial itu, yaitu metode selfie, digunakan Tilik Sarira untuk sebuah program mereka “Selfie in Three Minutes” yang berbasis digital.

Membawa metode ini ke ranah penciptaan seni, merupakan usaha pembentukan platform masa kini yang menarik dilakukan Tilik Sarira.

Menggoda praktik-praktik seni yang biasa hidup dalam budaya tempat yang fisikal, ke ruang digital di mana panggung berubah menjadi monitor atau layar desktop yang dua dimensi.

Godaan yang dilengkapi dengan metode selfie sebagai produk dari medium baru, maupun aturan main kepada para peserta dan output hasil keseluruhan program sebagai sebuah kerja kolaborasi.

Program ini menjaring 32 peserta. Di antaranya peserta dari Malaysia, Meksiko, Jerman, Argentina, Hungaria. Peserta paling jauh di Indonesia berasal dari Papua.

Yang menarik peserta dari luar Indonesia sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia, dan sebaliknya peserta dari Indonesia sebagian menggunakan bahasa Inggris.

Tangkapan layar karya Alejandro Gzz.
Tangkapan layar karya Alejandro Gzz.

Program ini diluncurkan sebagai platform performance online menggunakan recording video dan audio yang terpisah.

Perintah yang ditawarkan berpusat pada praktik selfie atas kebiasaan sehari-hari dalam rumah yang tak teramati dalam batas durasi 3 menit.

Temuan atas kebiasaan yang tak teramati ini, kemudian menjadi pusat praktik pengulangan hingga menghasilkan bentuk rangkaian performatifitas.

Latar belakang peserta, baik dari dunia tari, musik, senirupa, teater, sastra maupun performance art sangat menentukan bentuk akhir dari karya-karya mereka.

Hasil karya ini tayang online dalam tiga edisi (12-14 Juni 2020) di Instagram, melalui akun @anomalistproduction dan @tiliksarira dengan judul “Soliloquy”.

Dalam setiap edisi, karya tersebut akan hadir sebagai leburan dari sejumlah karya melalui proses editing video.

Berdasarkan peleburan ini, Tilik Sarira menyebut proyek ini sebagai kolaborasi, di mana setiap karya peserta adalah materi yang berkonstibusi terhadap masing-masing edisi penayangan program sebagai bentuk akhirnya. Disutradarai S. Sophiyah K.

Tulisan ini lebih memfokuskan amatan atas apa yang bisa dipetakan dari karya-karya 32 peserta tersebut. Dan bukan membaca bagaimana karya-karya tersebut setelah dilebur menjadi 3 edisi.

Dalam durasi 3 menit (walau sebagian ada yang lebih), hampir seluruh peserta berusaha memetakan struktur karya agar lebih bisa memproduksi informasi maupun gagasan, dan sebagian kecil bergerak dalam konstruksi yang sama dari awal hingga akhir.

Menonton Tahanan dalam Rumah

Konteks wabah corona membuat kita bisa menyaksikan sebuah realitas baru di mana orang-orang hidup sebagai tahanan dalam rumahnya sendiri.

Hampir seluruh karya memperlihatkan situasi yang tegang, mencekam dan agak gila. Salah satu peserta, BaBam menyebutnya dengan satu kalimat pedih dan marah: “Aku muak!”

Tangkapan layar karya Zen Al Ansory.
Tangkapan layar karya Zen Al Ansory.

Kegelisahan yang mencekam sebagai tahanan rumah ini, juga tampak keras pada karya Alejandro Gzz, Sadiq M. Jamil, Yuliana Menes, Zen Al Ansory, Catalina Urtubey, Nia Khalisa, Ressa Rizky Mutiara dan Hana medita.

Mereka menghadapi situasi “Menunggu Godot” dalam ketegangan “kenapa menunggu — siapa yang ditunggu — untuk apa menunggu — sampai kapan menunggu”.

Waktu tiba-tiba menjadi begitu panjang di dalam rumah di tengah bayangan tentang dunia luar yang kini dibatasi sebagai bahaya wabah.

Alejandro Gzz memilih ruang kamar mandi yang kecil, merepresentasi ruang mencekam sel tahanan.

Duduk di sebuah kursi plastik untuk jongkok berwarna merah, membaca buku, minum vodka dan air dari shower terus mengucur membasahi tubuhnya.

Karya ditutup dengan meletakkan buku di atas kepala dan ikut terguyur air kucuran dari shower.

Buku juga digunakan oleh Ressa Rizky Mutiara sebagai materi karya. Kebosanan membaca kemudian dipecahkan dengan mengambil handphone dan memilih musik dari aplikasi tik-tok secara acak, pertunjukan berakhir dengan membersihkan kamar mandi.

Kebosanan yang menjadi pijakan dramaturgi pada karya Alejandro, pada karya Ressa dilihat sebagai situasi yang bisa dipecahkan dengan tindakan lain. Motif kesadaran sehari-hari memutuskan motif artistik pada karya Ressa.

Duduk, berdiri, berbaring, rebah, nongkrong, menengok ke jendela maupun melipat tubuh di atas kursi atau sofa berlangsung pada karya Zen Al Ansory, Hana Medita dan Pupu GLS.

Setelah menggunakan hand sanitizer ke seluruh tubuhnya hingga rambut, Zen Al Ansory duduk, berdiri, berbaring, rebah, nongkrong, menengok ke jendela dan menghasilkan gerak stakato, kemudian pada gilirannya menjadi dasar untuk gerak performatifitas maupun koreografi yang dilakukan Zen

Memproduksi struktur gerak sebagai patahan-patahan pola bentuk antara duduk dan rebah.

Struktur seperti ini berlangsung lebih minimalis pada karya Hana Medita dan Pupu GLS, dan terjadi lebih sebagai konstruksi performatif antara tubuh dan kursi.

Pilihan latar teralis jendela yang bergaris-garis pada karya Zen, efektif dalam merepresentasi ruang isolasi.

Selfie dan Konstruksi Media Sosial

Metode selfie dalam media sosial tumbuh sebagai konstruksi untuk membentuk identitas fiksi tentang aku dalam pencitraan warga pemakai internet.

Metode ini berkelindan dengan praktik-praktik performatif yang sudah berlangsung lama pada cara-cara kita membentuk identitas yang kita bayangkan.

Praktik tersebut umumnya terkait pada kebiasaan kita menggunakan cermin, sisir, maupun apa yang menjadi pusat perhatian di sekitar wajah, seperti rambut dan kacamata.

Konstruksi performatif identitas ini tetap berlangsung sebagai konstruksi pada umumnya dalam karya Afdhalul Wafiq Qusyairi dan Sasqia Ardelianca, juga menghasilkan struktur yang sederhana.

Praktik selfie bagi Afdhalul merupakan ruang privat bersama rumah dan cermin yang fungsinya memang dilihat sebagai bentukan bayangan bahwa “aku sempurna”.

Pada karya Sasqia untuk memproduksi garis struktur dalam gerak tangan antara rambut dan kaca mata di wajahnya.

Wanggi Hoed dan Taufiq Azhar yang mengggunakan akun Tulangkata, membawa praktik selfie ke teknik lain.

Hoed menggunakan mime untuk memproduksi berbagai karakter mimik pada wajahnya yang dibalur putih sebagaimana dengan praktik seni mime umumnya, sementara Taufik menggunakan gelas sebagai metafor aku.

Keempat karya mereka tampak hadir sebagai praktik fungsi selfie dalam masyarakat. Yaitu bagian di mana ideologi selfie dalam konstruksi media sosial memang berkelindan sebagai pembentukan “aku adalah identitas fiksi” dalam relasi warga internet, dengan berbagai tujuan maupun fungsinya, dan pembayangan kamera sebagai mata dunia.

Tangkapan layar karya Mohammad Wail Irsyad.
Tangkapan layar karya Mohammad Wail Irsyad.

Praktik selfie dibuat sebaliknya oleh Mohammad Wail Irsyad dengan mengarahkan kaca pembesar ke kamera.

Namun yang terekam tetap wajah Wail, dan kamera tetap tidak tersentuh sebagai objek selfie.

Aksi ini memang tidak mengembangkan struktur untuk membawa peran kaca pembesar sebagai medium pengamatan maupun medium untuk selfie.

Karya Wail menghasilkan sebuah selfie mencekam pada bidang wajah dengan ekspresi tertentu, merepresentasi ruang isolasi dari dunia luar dengan tatapan penjara.

Tatapan Kritis atas Ideologi Selfie

Menggunakan teknik monokrom dalam editing video, Khairil Anwar memecahkan ideologi selfie menjadi “aku majemuk”.

Dunia selfie dalam media sosial adalah berakhirnya aku-tunggal menjadi aku-majemuk yang setiap saat berubah.

Tapi mungkin untuk sebagian orang memang mempercayai identitas sebagai bentuk dinamis antara “aku” dengan “apa yang aku lakukan pada setiap harinya”.

Khairil Anwar hampir satu-satunya peserta dalam program ini yang dengan sadar menganggap isolasi dalam rumah membuatnya nyaman dan memberikan ruang kerja yang lebih fokus. Situasi yang menurutnya akan dipertahankan walau corona telah berakhir.

Karyanya memberikan konstribusi tersendiri dalam program ini pada caranya “menemukan kembali rumah” secara kreatif melalui konteks isolasi wabah.

Pada karya videonya, Khairil menghadirkan sosoknya menjadi tiga sosok dengan pakaian yang sama dan ruang yang sama, dan laptop sebagai latar depannya.

Pola pembelahan diri yang berbeda dilakukan oleh Sadiq M. Jamil dengan memasang adegan mandi yang sama sebagai dua belahan bidang pada bidang karya.

Tangkapan layar karya Khairil Anwar.
Tangkapan layar karya Khairil Anwar.

Kalau Khairil mengubah isolasi justru sebagai platform kerja di dalam rumah, Timur Budi Raja mengarahkan pemahaman isolasi terhadap diri kita sendiri, menghasilkan semacam evaluasi yang arahnya bisa melebar.

Baik sebagai gugatan bahwa kita perlu membaca tentang diri yang terisolasi dan membuat kita mandek, maupun isolasi konstruksi sejarah yang membuat kita tidak memiliki batas dalam menentukan orientasi maupun terbentuknya budaya korupsi sebagai tafsir liar atas pernyataan dalam karyanya.

Timur menyampaikannya sambil membuat kopi dan bermain gitar dengan sebuah aquarium di ruang tamu rumahnya.

Dan memang Timur lebih menempatkan teks sebagai performance dibandingkan dengan videonya.

Isolasi terhadap diri sendiri merupakan proses institusionalisasi kepercayaan atau keyakinan yang kadang tidak kita sadari telah membentuk dan mengarahkan orientasi-orientasi pandangan kita.

Karya Kristo Mulyagan dengan adegan batuk-batuk memperlihatkan bagaimana kini kita tiba-tiba takut kepada batuk.

Padahal sebelum wabah, batuk merupakan hal yang biasa terjadi pada siapa pun di Indonesia yang beriklim tropis.

Atau pada karya Hadi Riot yang justru tidak bisa melepaskan diri dari isolasi dunia luar. Yaitu dari kenangan dia yang selalu gagal menjalin hubungan intim dengan perempuan idamannya, kemudian memilih dua kain pel busuk sebagai personifikasi hubungan gagal ini dalam karyanya.

Ikatan dunia luar ini juga masih menyeret Peri Sandi Huizche pada kenangan akan situasi menyebalkan ketika kampus melarang terjadinya sebuah diskusi yang berlangsung dalam lingkungan kampus.

Dua Titik Tolak

Ada dua titik-tolak dalam program ini yang perlu mendapat perhatian peserta, yaitu praktik selfie dan “kebiasaan sehari-hari yang tak teramati”.

Titik-tolak yang kedua-lah yang paling tidak banyak disentuh para peserta, padahal berpeluang memberi pengetahuan spesifik pada kita di luar aktivitas-aktivitas tabu yang mungkin dilakukan.

Salah satu kebiasaan tak teramati ini menjadi dasar pada karya Anne Kötter yang menggunakan cairan dan lelehan.

Awalnya sebuah objek di atas dengkulnya. Objek ini mirip bunga atau tanaman yang mulai layu.

Objek kemudian dipindahkan ke dalam mangkuk gelas, lalu dituang air jernih ke dalamnya. Reaksi antara objek dan cairan kemudian mengubah warna cairan menjadi kebiruan.

Anne Kötter menyusun struktur karyanya sebagai pembagian fotografis di mana bagian-bagian grafis pada setiap bentuk yang dipilih, menjadi titik-tolak untuk pengembangan struktur karya.

Tangkapan layar karya Anne Kötter.
Tangkapan layar karya Anne Kötter.

Bentuk-bentuk grafis yang dipilih berkisar pada munculnya bentuk baru antara bagian tertentu pada tubuhnya ketika mulai didekatkan dengan mangkuk berisi cairan itu.

Lelehan menghasilkan pembagian visual dari karya melalui bentuk-bentuk tubuh (leher, bahu, batas antara pakaian dengan kulit tubuh, mata, rambut maupun telinga di mana tubuh dibuat sebagai potongan-potongan grafis yang tidak utuh).

Lelehan jadi narasi untuk mendorong tema “setiap yang masuk akan kembali keluar, dan setiap yang keluar akan menemukan kembali jalan masuk”.

Pendekatan Anne Kötter terhadap kebiasaan sehari-hari yang tak teramati, juga terjadi pada karya Lucia Petranyi yang menggunakan materi air dan wadahnya.

Menampung air dalam sebuah gentong plastik kemudian memindahkannya kembali ke ember, mungkin tidak pernah dialami Anne di negerinya.

Tema ini diangkat melalui sebuah aksi performatifitas memindahkan air dari gentong ke ember, lalu ke ember lainya dengan teknik pemindahan menggunakan slank, gayung dan sedotan.

Tangkapan layar karya Lucia Petranyi.
Tangkapan layar karya Lucia Petranyi.

Tema tersebut dilakukannya untuk mendorong narasi bahwa “laku itu tidak semata-mata untuk dilakukan, tetapi juga untuk merasa melakukannya”.

Sebuah agenda yang bisa jadi mendapat perhatiannya ketika berada dalam kebiasaan yang tidak pernah dialami di negerinya, atau wabah membuat agenda ini mulai terperhatikan.

Walau kerja artistik yang dilakukan Lucia tidak terlalu spesifik dibanding karya Anne Kötter yang membutuhkan perhatian khusus dalam mengamatinya.

Erangan Kafka dalam Rumah

Metamorfosis, novel pendek yang pernah ditulis Kafka dan terkenal hingga kini, merupakan karya yang lahir tahun 1915.

Tahun yang diapit dua wabah global, yaitu Flu Rusia (1889) dan
Flu Spanyol (1918), juga berlangsung di tengah berkecamuknya Perang Dunia I (1914-1918).

Novel ini merepresentasi bagian awal modernisasi berubahnya hubungan-hubungan baru dalam masyarakat dengan munculnya berbagai kantor yang menjalankan bisnis baru.

Tokoh utama dalam novel ini merupakan representasi perubahan masyarakat agraris dengan masyarakat industri, di mana setiap pagi dia harus keluar rumah ke kantor, dan setiap hari harus berhubungan dengan orang-orang baru.

Perubahan ini menciptakan ruang traumatik yang setiap hari harus dilaluinya di luar rumah, di tengah ancaman dimarahi bos di kantor.

Hingga suatu hari, sang tokoh menemukan dirinya telah berubah menjadi serangga yang bergulingan bersama dengan taiknya sendiri di dalam rumah.

Karya Kafka yang juga dikategorikan sebagai karya awal dari realisme magis ini, sering digunakan sebagai metafor untuk situasi-situasi yang ekstrem, seperti isolasi wabah yang kini kita hadapi.

Dunia luar dengan orang-orang baru yang kita hadapi setiap hari, adalah dunia absurd dalam novel Kafka itu. Absurditas dunia luar ini kini kita alami melalui corona.

Namun absurditas ini terjadi setelah semua yang kita lakukan hampir tidak bisa kita pisahkan dengan banyak hubungan di luar, yang berbeda dengan masyarakat agraris yang memang tidak terlalu banyak hubungan dengan dunia luar.

Transportasi maupun komunikasi dalam masyarakat agraris memang belum berkembang seperti sekarang, di mana kita juga tidak tahu apa artinya pesawat terbang setelah corona ini?

Situasi isolasi dalam rumah yang kita hadapi kini, mirip dengan serangga Kafka sebagai metafor.

Situasi yang membuat kebiasaan sehari-hari mendapatkan identitas baru dan terbuka untuk kita evaluasi, karena kita menjadi lebih memiliki kesempatan untuk merasakannya tidak semata-mata sebagai kebiasaan atau sebagai yang rutin dilakukan.

Bahwa setiap yang rutin tetap sebuah rangkaian kompleks yang penuh informasi, dengan banyak kebiasaan yang telah kita lembagakan di dalamnya.

Ketika kita menyapu, misalnya, kita tidak perlu lagi bertanya dan belajar lagi bagaimana caranya menyapu, karena memang telah kita lembagakan sebagai institusi sehari-hari.

Kebiasaan sebagai amatan berlangsung pada karya Joko Kurnain dengan memasak dan membersihkan dapur sebagai seorang lansia yang bekerja sendiri dalam rumah.

Pengamatan berlangsung dengan memunculkan kesadaran bahwa setiap gerak merupakan rangkaian antara yang menggerakkan dan yang digerakkan.

Ario Mahardika membawa kebiasaan sehari-hari menjadi sebuah indeks dalam membangun koreografi maupun ritme karya: antara tubuh gendut dan kursi plastik meleot ketika diduduki, antara karya drawing yang terpasang di dinding dengan seekor belalang, antara memberi makan kucing dan makan untuk diri sendiri, antara angin dan debu pada kipas angin dengan foto wajah kucing.

Ario memadukan elemen-elemen materi ini sebagai kerja kurasi dalam memilih materi yang digunakan pada karya dalam mendorong informasi maupun tugas yang dikelola setiap hari di rumah.

Kemudian menjadi pijakan untuk tidak terlalu mudah menyalahkan orang lain maupun keadaan.

Tangkapan layar karya Ario Mahardika.
Tangkapan layar karya Ario Mahardika.

Kebiasaan menjadi semacam poros bagaimana kebudayaan beroperasi setiap hari, terutama melalui bentukan budaya makan seperti yang dilakukan Ario maupun Joko Kurnain.

Pada karya Habib ur Rehman Khan yang terkesan berbahasa Arab, yang dimunculkan adalah kebiasaan makan bersama di mana hidangan dihamparkan di atas karpet atau permadani.

Tampak kaki-kaki orang yang berlalu-lalang di antara piring-piring makanan ketika memilih makanan yang akan dinikmatinya, di antara berbagai suara orang ngobrol sambil makan atau berdecak menikmati rasa makanan.

Karya Rehman Khan ini merupakan satu-satunya karya selfie yang menggunakan orang banyak.

Pada karya Brian Suebu, kebiasaan mencuci (terkesan dilakukan di sebuah danau yang indah), baju dan celana yang telah dicuci justru untuk langsung dipakai kembali dan bukan dijemur. Karya Brian ini juga merupakan satu-satunya karya yang diproduksi di luar rumah.

Karya SueKi Yee, Ferry C. Nugroho, Guffy Perdana dan Pupu GLS membuat koreografi berdasarkan pilihan gerak atas aktivitas tertentu seperti dari melipat pakaian, menyambung kaos kaki dengan kaos kaki lain, mengambil bentuk gerak menyapu, memberi warna pada kuku, atau membuat bentukan baru pada wajah manekin.

Dasar gerak itu menjadi konstruksi maupun struktur pada performatifitas koreografi yang mereka lakukan.

Tangkapan layar karya SueKi Yee,
Tangkapan layar karya SueKi Yee,

Pada karya Guffy Perdana, pewarnaan pada kuku digunakan untuk mendorong pesan pencarian pada ruang abu-abu, di mana warna tunggal atau warna dominan yang menegatifkan warna lain bukanlah warna. Setiap warna terjalin dengan warna lain.

Pesan verbal untuk hati-hati menggunakan kata sifat dalam menilai orang lain. Perlawanan atas bisingnya verbalisme di sekitar korpus politik identitas, berlangsung sebagai aksi performatif dalam karya BaBam yang berangkat dari gerak membuat puding.

Pengelolaan Informasi Materi dan Medium

Hampir seluruh karya menggunakan materi sehari-hari dalam berbagai fungsi yang digunakan baik sebagai peralatan artistik, dasar dalam menentukan pola gerak performatifitas yang dilakukan, pengelolaan informasi yang dikandung materi dalam menciptakan struktur, maupun sebagai cara untuk mempertebal bahwa karya berlangsung di dalam rumah dan bukan di panggung.

Pada karya Catalina Urtubey, misalnya, dia menari dan menggunakan tiga materi sehari-hari dalam ruang tamu: rokok, gelas minum dan hio.

Informasi yang dikandung masing-masing materi diabaikan. Tapi masing-masing materi berfungsi untuk membatalkan tarian sebagai tontonan dan penonton memang tidak ada.

Pembatalan ini digunakan di mana dalam rangkaian adegan gerak yang dilakukannya, tiba-tiba Catalina duduk di lantai, minum dari sebuah gelas, merokok atau membakar hio.

Bayangan sebuah pertunjukkan tari pada karyanya ini, segera diruntuhkan untuk kembali pada dasar ruang bahwa semuanya berlangsung sendiri di dalam ruangan tamu.

Hal yang dilakukan Catalina sama dengan membawa kesadaran atas medium, bahwa karya berlangsung di rumah tanpa penonton, sebagai bagian dari karya.

Sementara pada karya BaBam, bingkai dibuat dengan tegas untuk performance mendapatkan batas makna yang akan disampaikannya.

Tangkapan layar karya BaBam.
Tangkapan layar karya BaBam.

Tubuh performance dibingkai melalui pilihan kostum dalam identitas hibrid antara imajinasi di sekitar diva dan boneka yang memantulkan bayangan pertunjukan opera komedi.

Namun kostum ini, juga dengan sarung tangan warna kuning menyolok, digunakan untuk sebuah rangkaian membuat puding.

Beberapa gerak tangan mendapatkan bingkai performatifitas yang tebal dengan menggerak-gerakkan tangan dan dipercepat melalui kerja editing video.

Setelah puding jadi justru dihancurkan kembali, seolah-olah sebagai proses dimana puding dikembalikan menjadi materi dasar seperti pada awal pertunjukan sebagai tepung. Dan puding tidak bisa kembali menjadi tepung.

Semuannya tampak menjijikkan dan memuakkan, seperti pesan yang memang ingin disampaikan BaBam dalam karyanya ini.

Kurasi atas materi yang digunakan BaBam, yaitu tepung untuk puding, dikonstruksi melalui banyak materi pendukung agar puding hadir secara performatif.

Materi-materi pendukung ini tidak hanya bentuk visual seperti kostum, sendok dan nampan. Tapi juga jalinan warna yang provokatif.

Kurasi materi karya seperti ini, berpengaruh dalam membentuk struktur, hingga terjadi gesekan produktif antara materi dan media, karena setiap materi dalam performatifitas tertentu, berpotensi berubah menjadi media.

Kesadaran akan ruang digital sebagai bentuk “media dalam media”, muncul dalam karya Gabriella Fernandez yang menggunakan sosok gitar sebagai subyek (boneka) dalam karyanya; Mawang S.I. menggunakan wajah sebagai performence visual maupun sebagai alat musik; dan Mita Kultsum memainkan boneka dalam tradisi wayang.

Kurasi atas materi sebagai pilihan tidak biasa dalam dunia sehari-hari di rumah, memang hanya terjadi pada karya Anne Kötter yang menggunakan objek seperti tanaman layu, menggunakan mangkuk dan cairan untuk menghasilkan struktur grafis sebagai performance.

Pengelolaan atas medium, bahwa performance ini berlangsung di ranah digital dengan memindahkan seluruh basis seni yang digunakan ke dalam kamera, juga hanya terjadi pada karya Khairil Annwar melalui editing video. Kenapa?

Program ini, di mana persyaratan karya adalah pemilihan fokus pada temuan kebiasaan sehari-hari yang tak teramati, bisa jadi ikut menggeser perhatian peserta untuk mengelola medium transformasi karya yang digunakan (yaitu kamera) sebagai “mata dramaturgi” yang bisa dilacak melalui korpus new dramaturgy.

[Bisa lihat tulisan Rebecca Rouse, A New Dramaturgy For Digital Tecnologhy in Narrative Theater (Georgia Institute of Technology, 2013) dan Arung Wardhana: “Transportasi” Budaya Populer di Panggung Teater SIM (sutera.id)].

Hampir seluruh karya dalam program ini, memang menggunakan kamera semata sebagai alat recording. Tidak memunculkan pertanyaan: siapakah kamera?

Apakah kamera mewakili mata penonton (berapa orang penonton, berapa kamera yang dibutuhkan). Apakah kamera mewakili sudut-sudut ruang, mengubah kamera sebagai kerja arsitektur ruang? Apakah kamera mewakili cahaya atau gerak?

Apakah kamera adalah siapa aku?

Surabaya, 13 Juni 2020.

Baca Juga

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...