Sukses Pentaskan “Sako Jung”, Teater Refrain Layak “Go International”

Portal Teater – Hadir sebagai salah satu peserta Festival Teater Tubuh Payung Hitam 2019 di Bandung, kelompok teater Refrain asal SMAS Katolik St. John Pail II Maumere dari kabupaten Sikka, NTT, tampil memukau audiens melalui pementasan teatrikal tubuh berjudul “Sako Jung” pada Rabu (24/7) pekan lalu.

Keberhasilan ini mengulangi prestasi serupa kelompok teater lokal ini setelah sebelumnya juga berhasil pentas karya yang sama pada pagelaran Teater Pelajar Nasional 2018 di Surabaya, pada 25 Oktober 2018.

Dengan kesukesan tampil di pentas festival teater nasional ini, teater Refrain dianggap sudah siap untuk terjun ke level yang tinggi di panggung pertunjukan teater internasional.

Menurut Kepala SMAS Katolik St. John Paul II Rm. Fidelis Dua, Pr, kedua festival yang diikuti anak-anak binaannya akan menjadi kesempatan terbaik bagi mereka untuk mengembangkan bakatnya di bidang teater.

Melalui pementasan teater “Sako Jung”, kata Rm. Fidel, anak-anak tersebut mampu belajar menjadi aktor yang hebat dari kelompok-kelompok teater yang terkenal dan hebat di tanah air.

“Ini batu loncatan untuk boleh mengikuti festival teater internasional di manca negara,” katanya sebagaimana dilansir Pos Kupang online, Rabu (31/7).

Pendiri Teater Payung Hitam Bandung Rahman Sabur pun memberikan apresiasi tinggi kepada kelompok teater Refrain dan memberikan harapan lebih agar kelompok teater ini bisa mengeksplorasi karya-karyanya di panggung-panggung yang lebih tinggi.

Apresiasi tersebut berlasan, karena teater Refrain melalui pentas “Sako Jung” berhasil menampilkan dimensi teatar antropologi yang sesungguhnya, terutama dengan memberi penekanan pada eksplorasi tubuh atau gerak yang diiringi musik trandisional yang khas.

Angkat Nilai Kebudayaan

Sutradara dan penulis naskah Maria Ludvina Koli menceritakan, penggarapan “Sako Jung” mengutamakan gerak tubuh, nyanyian dan tanpa banyak dialog.

Hal itu dimaksudkan untuk menghadirkan kembali kerja keras yang dibangun oleh para pendahulu dalam mengelolah tubuh tanpa kenal lelah dan tahan banting.

Dalam kelangsungan hidup dan berinteraksi, tubuh menjadi bahasa awal manusia. Lewat tubuh, kebersamaan yang kokoh dalam ikatan kerja antarkerabat dalam berkebun terinterpretasikan.

Sementara mengenai pesannya kepada publik, Iin menjelaskan, pentas “Sako Jung” merupakan sebuah cerita tentang tradisi dan budaya yang dibangun para pendahulu dalam aktivitas berkebun melalui bebunyian, gerakan tubuh, dan syair-syair lagu kuno.

Menurutnya, di dalam bunyi-bunyi, gerakan, dan syair-syair tersebut tersimpan ciri khas kebudayaan dan tradisi masyarakat lokal yang kaya akan nilai-nilai kebersamaan, kerja keras dan gotong royong.

“Teater “Sako Jung” mengingatkan kita bahwa tubuh manusia adalah modal membangun kekuatan, kebersamaan dan upaya untuk bertahan hidup. Sekuat apa pun manusia, ia membutuhkan sesama untuk bekerja sama,” katanya.

Guru Seni Budaya SMAS Katolik St. John Paul II Maumere, itu juga mengatakan pementasan “Sako Jung” tidak semata-mata mempromosikan budaya kabupaten Sikka keluar daerah atau menjual eksotika kedaerahan.

Menurutnya, pesan lain yang disampaikan dari pementasan ini adalah tentang sakralitas tanah. Bagi masyarakat di manapun, tanah adalah aset paling dasariah yang harus dijaga dan dirawat. Karena di atas tanah inilah manusia berpijak serentak memberi kehidupan pada manusia.

Sebagai sesuatu yang substansial bagi manusia, tidak jarang terjadi perebutan dan klaim kepemilikan tanah oleh sebagian besar masyarakat yang pada puncaknya dapat berakibat pada sengketa atau konflik-konflik.

Di Flores sendiri, sengketa tanah ini telah menjadi salah satu isu sosial penting dalam tata kelola pemerintahan dan adat-istiadat. Hampir semua suku atau etnis lokal mengklaim diri sebagai pemilik hak atas tanah. Klaim-klaim tersebut, selain terjadi di level komunitas kecil, kerapkali juga terjadi pada lintas batas antar daerah/kabupaten.

Bagi masyarakat Flores, konflik tanah jarang diselesaikan dalam waktu singkat karena, selain tidak cukup memiliki data dan bukti sejarah tentang kepemilikan tanah, tetapi juga karena masyarakatnya masih lekat dengan ego sektoral dan klaim-klaim primordial yang berakar dari warisan budaya feodalisme.

Festival Teater Tubuh

Festival Teater Tubuh 2019 ini diselenggarakan oleh kelompok Teater Payung Hitam yang berlangsung sepanjang 23-28 Juli 2019 dengan menampilkan 10 kelompok teater terpilih. Tidak seperti biasanya, festival ini berlangsung di ruang terbuka ampitheatre Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.

Sebagaimana terpampang dari temanya, festival ini dimaksudkan agar para aktor lebih banyak mengolah unsur gerak tubuh dan kekuatan fisik, sehingga lakonnya tidak mengalir lewat narasi kalimat atau percakapan antar pemain.

Menurut Rahman, Festival Teater Tubuh ini tidak bertema sosial dan lingkungan. Pertunjukannya diciptakan dengan gaya pemanggungan masing-masing penampil. Tubuh menjadi media utama dalam pementasan.

“Gerakan tubuh adalah bahasa universal,” katanya.

Pada hari pertama, Teater Api Indonesia dari Surabaya membuka festival dengan lakon berjudul “Max”. Karya ini merupakan saduran dari naskah One Flew Over The Cuckoo’s Net yang disutradarai Luhur Kayungga.

Setelah itu tampil kelompok Lab Teater Tubuh Bandung dengan judul “Kuda Lumping Urban”

Di hari kedua, teater Refrain SMAS St. John Paul II Maumere tampil dengan lakon berjudul “Sako Jung”. Setelahnya tampil pemain wanita dari Teater Payung Hitam dengan judul “Dewi Dewi”.

Selanjutnya, pada malam ketiga, Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang Sumatera Barat tampil dengan mengusung lakon berjudul “Bangku Kayu” dan “Kamu yang Tumbuh di Situ”.

Usai pementasan pertama itu, Teater Payung Hitam dengan sutradara Rachman Sabur pun membawakan lakon “Mantra Tubuh”.

Di hari keempat, Teater Payung Hitam kembali tampil dengan judul lakon “Tubuh Garam”, bergantian tempat dengan teater dari Yayasan Lanjong Kalimantan Timur berjudul “GWS”.

Pada puncaknya, berlangsung sarasehan Festival Teater Tubuh dengan pembicara Afrizal Malna, Halim HD, Jakob Sumardjo. Pada hari itu, Teater Payung Hitam kembali hadir mementaskan lakon berjudul “Universitas Kaspar”.

Teater Payung Hitam

Menurut ulasan Silvester Hurit, Teater Payung Hitam merupakan salah satu kelompok teater modern. Ia didirikan oleh Rahman Sabur pada 1982, di Bandung. Sepanjang usia 37 tahun, kelompok teater ini telah memproduksi lebih dari 80 pertunjukan. Payung Hitam hingga kini identik dengan teater tubuh (non-verbal).

Payung Hitam telah menjelajahi kota-kota di tanah air dan berpentas di berbagai festival bergengsi di luar negeri. Bahkan karya berjudul Katakitamati telah didokumentasikan dalam bentuk CD-Rom oleh Curriculum Corporation untuk digunakan sebagai media pendidikan seni di SMA South Victoria, Australia, dengan judul Asia Through Asian Eyes.

Mula-mula, Payung Hitam sering mementaskan drama realis karya para penulis Indonesia, sebelum akhirnya mereka mulai melakukan berbagai eksplorasi untuk mencari dan menemukan bentuk ekspresi dan gaya pementasan yang paling relevan.

Puncak kejayaan komunitas seni ini terjadi melalui pementasan “Kaspar” (1994) dan “Merah Bolong Putih Doblong Hitam” (1997), sebuah karya teater karya non-verbal.

Menurut Saini KM, identitas Payung Hitam itu tidak lepas dari pengaruh pendirinya sebagai penyair liris yang intens di awal karier kesenimanannya. Kecenderungan Rahman yang menghindari penghamburan kata dalam sajak-sajaknya kemudian bertransformasi dalam karya-karya teaternya yang kuat akan citra serta lambang visual, auditif dan kinetik.

Bagi Rahman, tubuh adalah teks hidup yang lahir di ruang panggung yang bicara lebih banyak dari sekedar verbalitas kata-kata.

Sebagai kelompok teater yang lahir pada masa rezim Orde Baru, Payung Hitam kerap mengumbar kebobrokan rezim dalam karya pertunjukannya. Misalnya melalui pentas “Masbret” adaptasi dari Macbeth karya Ionesco (1994) dan “Tiang ½ Tiang” (1999).

Di akhir-akhir kekuasaan sang rezim otoriter, Payung Hitam pun masih berjibaku untuk memparodikan model kekuasaan itu dan praktek politik (demokrasi) yang amburadul dalam karyanya berjudul “Katakitamati” (1998) dan “Teater Musik Kaleng” (1996).

Selain itu, Payung Hitam juga melakukan perlawanan terhadap keangkuhan elit dalam karyanya, sepert “Anzing” (2007).

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru, Payung Hitam mulai fokus kepada alam serta lingkungan, terutama berkait dengan gejala kehancuran ekosistem dunia. Melalui pentas-pentasnya tersirat intimitas yang hangat dan unik terhadap semesta kehidupan terutama terhadap batu, tanah (lumpur), akar (pohon) dan air.

Meski demikian, kelompok teater ini kemudian memanifestasikan dirinya sebagai pegiat teater tubuh melalui karya “Puisi Tubuh Yang Runtuh” (2009), karya yang menandai suatu awal perjalanan baru kontemplasi ketubuhan Payung Hitam. (Dari berbagai sumber)

*Daniel Deha

Baca Juga

“Panembahan Reso” di Era Media Digital

Portal Teater - "Panembahan Reso" karya W.S. Rendra yang disutradarai Hanindawan akan dipentaskan pada 25-26 Januari 2020 pukul 19.30-22.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Kuningan,...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Buku Pematung Ternama Dolorosa Sinaga Diluncurkan Akhir Bulan Ini

Portal Teater - Buku pematung kenamaan Indonesia Dolorosa Sinaga segera diluncurkan akhir bulan ini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Buku yang mengulas karya patung...

Terkini

Buka Lembaran 2020, Kineforum DKJ Putar Lima Film Keluarga

Portal Teater - Kineforum, salah satu sayap program Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka lembaran tahun ini dengan mempersembahkan "FAMILIAL", sebuah program untuk...

ORArT ORET Semarang Gandeng SCMC Gelar Konser Edisi Ke-2 “Barokan Maneh”

Portal Teater - Komunitas ORArT ORET Semarang kembali menjalin kerjasama dengan  Semarang Classical Music Community (SCMC), menggelar konser musik klasik pada Jumat (24/1) di...

Tolak Komersialisasi TIM, Para Seniman Gelar Diskusi “Genosida Kebudayaan”

Portal Teater - Menolak komersialisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta, sejumlah seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM menggelar diskusi publik di Pusat Dokumentasi...

Pemerintah Alokasikan Rp1 Triliun Dana Perwalian Kebudayaan 2020

Portal Teater - Pemerintah mengalokasikan Dana Perwalian Kebudayaan bagi pegiat seni budaya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 sebesar Rp1 triliun. Alokasi...

Tur Keliling ASEAN, Kreuser/Cailleau Singgah di Jakarta dan Surakarta

Portal Teater - Selama bulan Januari dan Februari 2020, komponis Jerman Timo Kreuser dan pembuat film Prancis Guillaume Cailleau melakukan tur keliling Asia Tenggara...