Tafsir Bebas “Badai Sepanjang Malam”: Peran Gender dan Manifestasi Dialog

Portal Teater – Sanggar Teater Biru (STB) Jakarta memainkan lakon “Badai Sepanjang Malam” karya Max Arifin pada perhelatan Festival Teater Jakarta Timur 2019. Naskah yang ditulis tahun 1988 ini menemukan relevansinya melalui tafsir bebas dalam pertunjukan oleh STB Teater Jakarta.

Pertunjukan yang memunculkan lapisan yang lebih nyata, dari dialog antara Jamil dan Saenah. Menonton tafsir bebas ini, setidaknya ada dua poin penting yang ingin ditinjau kembali pada tulisan ini.

Secara visual, pertunjukan ini membagi komposisi panggung secara horizontal, dengan menempatkan Ibu Guru Ratna dan suaminya di bagian tengah belakang, sementara ruang bagian depan digunakan untuk menampilkan serombongan pelajar.

Para pelajar inilah yang menjadi visualisasi pada layer cerita, pemantik konflik batin Ibu Ratna. Meskipun, penempatan bagian peran yang memiliki banyak dialog di bagian tengah belakang panggung menimbulkan konsekuensi, vokal pemain tidak terdengar lantang.

Edwin Wilson mengatakan, seni mempunyai daya pilih. “Selectivity is a key principle of all art; it is through this means that it can achieve a clarity, an order…”

Pertunjukan “Badai Sepanjang Malam” dari STB Jakarta ini memilih memunculkan persoalan pelajar yang dibebani tanggung jawab untuk bekerja oleh orang tua dan lingkungan mereka, sementara ada pula pelajar dari strata lain yang memiliki privilese untuk bersekolah.

Para tokoh pelajar diberi porsi yang tebal dengan properti kotak kayu yang dibentur-benturkan ke lantai panggung secara ritmik dan repetitif; membuat kegaduhan yang mengganggu dan berisik.

Kotak-kotak kayu tampak sebagai simbol beban pekerjaan yang harus dipikul oleh para pelajar, sementara hasrat belajar mereka menggebu.

Komposisi ini menunjukkan bahwa pertunjukan ini mengedepankan persoalan yang faktual di masyarakat. Inilah fungsi dari tafsir bebas.

Pemunculan layer ini justru memperkuat konteks cerita dan relevansi dari naskah asli yang ditulis Max Arifin pada 1988, yang berisi dialog-dialog panjang, diskusi intelektual antara Jamil dan Saenah yang dibumbui kutipan dari Erich Fromm dan Leon Uris.

Dengan itu, penonton sampai pada pemahaman bahwa konflik batin yang terjadi pada karakter didasari atas kondisi yang faktual.

Reposisi Subjek

Pertunjukan ini menukar peran laki-laki dan perempuan. Pada naskah asli, Jamil si suami adalah guru, dan Sainah si istri mendampinginya dinas ke pedalaman. Sementara pada pertunjukan, Ratna si istri yang adalah guru, dan si suami yang mendampinginya bertugas ke pedalaman.

Penukaran peran ini menjadi menarik karena dalam konsep peran gender yang merupakan konstruksi sosial, istri yang bertugas dan suami yang turut, bukanlah sesuatu yang lazim dalam masyarakat yang memegang adat patriarki yang cenderung menempatkan perempuan untuk memegang peran sebagai objek, pasif dan berfungsi reproduktif.

Namun, karakter Ibu Ratna bukanlah perempuan yang submisif dan berada pada posisi subordinat pada pernikahan.

Ini adalah kesadaran pertunjukan untuk melepaskan dominasi laki-laki, menjadikan hubungan Ratna dan suaminya sebagai hubungan yang setara sekaligus tanpa takut menunjukkan maskulinitas laki-laki yang manusiawi dan menyentuh sisi emosional.

Pada pertunjukan ini, tokoh suami mampu mencapai pengejawantahan emosi melalui emotional support kepada istrinya. Sementara, Ratna adalah tokoh perempuan dengan karakter yang cerdas dan jelas memiliki kemampuan di bidangnya.

Hal ini yang jelas digambarkan sejak awal pertunjukan, Ratna berpakaian wisuda lengkap berdiri di tengah panggung sementara di depannya melintas perempuan penari dengan kain tenun tradisional. Pertunjukan ditutup dengan Ratna seorang diri menggergaji kotak-kotak kayu.

Penafsiran bebas tak bisa lepas dari perbandingan akan naskah aslinya. Penulis naskah bisa saja meletakkan perspektif pada cerita dan karakternya, tapi tugas penafsir adalah memberikan konteks dan kondisi yang nyata dalam pertunjukan.

Dalam “Badai Sepanjang Malam” versi Teater Biru, sutradara dan pemain memiliki argumen yang kuat untuk menafsirkan substansi cerita.

Menonton pertunjukan ini, penonton tidak dipaksa khusyuk mengikuti rangkaian dialog, tetapi diajak untuk membuka lapis demi lapis imajinasi, melalui visualisasi adegan dan simbol-simbol yang mudah dicerna.

*Tulisan ini pernah dimuat pada https://offstageblocking.wordpress.com (10 Oktober 2019).

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...