Tampil Di Asia Orchestra Week 2019, JCP Akan Mainkan Karya Anak Bangsa

Portal Teater – Ada yang spesial dalam konser musik orkes kota Jakarta City Philharmonic (JCP) edisi ke-24, Rabu (25/9) malam di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Tidak hanya menjadi konser reguler, JCP kali ini menjadi “showcase” menuju perhelatan Asia Orchestra Week 2019 yang digelar di Jepang, 5-8 Oktober 2019.

JCP diundang oleh Asosiasi Orkestra Simfoni Jepang dan akan menggelar konser pada 7 Oktober 2019 di Tokyo Opera City Concert Hall, Jepang.

“Jakarta City Philharmonic diundang oleh Asosiasi Orkestra Simfoni Jepang untuk tampil di Tokyo. Kita akan tampil pada periode awal Oktober 2019,” ujar Aditya Pradana Setiadi, musikolog, pada lecture singkat jelang konser JCP.

Didukung dan diiniasi oleh Japang Foundation sebagai ajang pertukaran budaya, event itu menjadi panggung internasional pertama JCP serentak panggung pertama di luar kota Jakarta.

Head of Task Force JCP Anita Dewi Puspita mengatakan, keikutsertaan JCP dalam ajang itu akan menjadi proyek eksperimental JCP tampil di panggung internasional.

Undangan untuk tampil pada Asia Orchestra Week 2019 tersebut pertama kali datang ketika tahun lalu ia berangkat ke Jepang untuk mempelajari manajemen orkestra. Undangan tersebut diorganisasi oleh Japang Foundation.

“Tahun lalu saya ke Jepang. Saya mau belajar manajemen orkestra di Jepang. Jadi setelah itu, mereka bilang mereka mau undang kita untuk tampil di sana. Saya kira ini semacam mimpi. Padahal kan JCP baru tiga tahun,” ungkapnya.

Komite Musik DKJ dan penampil konser orkes kota JCP #24 di Teater Besar, TIM Jakarta, Rabu (25/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Komite Musik DKJ dan penampil konser orkes kota JCP #24 di Teater Besar, TIM Jakarta, Rabu (25/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Dua Komposisi Musik Anak Bangsa

Karya-karya yang ditampilkan di Jepang adalah juga karya-karya yang dimainkan pada malam konser JCP tadi malam, termasuk dua karya komponis Indonesia: Matius Shan Boone dan Dadang Saputra.

Pengaba utama JCP Budi Utomo Prabowo mengungkapkan, di Jepang JCP akan menampilkan karya-karya yang menjadi identitas kebudayaan Indonesia. Hal mana telah menjadi konsep dasar pembentukan JCP yakni untuk membawa nuansa keindonesiaan melalui musik.

“Program yang akan dibawa ke Tokyo adalah program yang akan tampil malam ini. Saya selalu berusaha membuat tema tentang Indonesia dalam tiap konser,” terangnya.

Karya Matius yang bakal dimainkan di Jepang adalah “Empat Citra Lautan Pertiwi”. Komposisi ini terdiri atas empat nukilan pendek, yakni Prahara Topa Mengguncang Pantai, Pendar Bulan Keperakan di Atas Laut, Pasang-Surut dan Angkara Ombak Danawa.

Inspirasi komposisi ini berasal dari ketertarikan personal komponis asal Magelang, Jawa Tengah, itu terhadap laut, khususnya Samudra Hindia.

Bagi lulusan Universitas Pelita Harapan dan Musikhochschule Lübeck, Jerman itu, fenomena laut selalu membangkitkan kekuatan mistis alam, sebuah perasaan tak terperikan yang diungkapkan melalui tekstur dan warna orkestra dalam musik.

Matius, yang saat ini sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Birmingham, Inggris menguraikan, citra pertama karyanya mendeskripsikan kekuatan destruktif angin topan yang diwakili oleh suara perkusi dan kompleksitas format musik yang sulit diprediksi.

Citra kedua membangkitkan pendaran cahaya bulan keperakan, berkilauan di atas laut, yang disugestikan oleh pewarnaan tekstur suara geletar dan tremolo.

Citra ketiga adalah dinamika pasa dan surut ombak di pantai, sementara citra keempat memperlihatkan kekuatan turbulensi gelombang laut yang diamplifikasi oleh padatnya pengaplikasian tekstur orkestra.

Pengaba Budi Utomo Prabowo pada pentas musik JCP #24 di Teater Besar, TIM Jakarta, Rabu (25/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Pengaba Budi Utomo Prabowo pada pentas musik JCP #24 di Teater Besar, TIM Jakarta, Rabu (25/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Selain karya Matius, JCP akan memainkan pula karya Dadang Saputra, komponis muda kelahiran Madiun, Jawa Timur, berjudul “Potret Dangdut”. Karya ini lebih bersifat eksploratif. Di mana alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini membaca dangdut dari perspektif berbeda, dari ranah estetik dan realistis.

Eksplorasi yang dilakukannya melalui beberapa cara, yaitu pertama, melalui aspek intra-musikal, yakni berupa melodi, irama, harmoni, gaya musikal dan instrumentasi. Dalam tahap ini Dadang memotretnya melalui instrumentasi orkestra Barat.

“Saya tidak memiliki batasan aturan baku dalam karya ini; alur tema dari awal sampai akhir memang tidak konsisten,” katanya mengutip Katalog JCP #24.

Tahap kedua, ia mencoba membaca dangdut secara baru. Bahwa musik dangdut bukan sekedar menyuarakan kesenian “an sich”, tapi berkaitan erat dengan kompleksitas persoalan di sekitarnya: problem sosial, politik, ekonomi, dan budaya.

Pada nomor karya komponis Barat, JCP akan memainkan karya Wolfgang Amadeus Mozart, “Konserto Piano Keduapuluhempat dalam C Minor, K. 491”, dan Jean Sibelius “Simfoni Ketujuh dalam C Mayor, Op. 105”.

Ajang Pembuktian

Di Indonesia hari ini, kita melihat kemunculan aneka warna spektrum musik orkestra. Misalnya Erwin Gutawa Orchestra, Twilite Orchestra, Magenta Orchestra (repertoar populer) dan Okerstra Kanon Jakarta, Orkestra Simfoni Jakarta, serta Jakarta Sinfonietta (kanon klasik).

Sementara JCP sendiri boleh dikatakan masih seumur jagung, karena baru berdiri dan mengadakan konser perdana pada November 2016. Tidak seperti grup orkestra lainnya.

Meski demikian, dalam rentang waktu tiga tahun, JCP dianggap mampu menghadirkan repertoar musik klasik dunia kepada masyarakat Jakarta, dan telah mendapat sambutan luas dari publik musik lintas kalangan. JCP sendiri telah memiliki tempat di hati penontonnya.

Hal itu terbukti, dalam tiap konser bulanan JCP, selalu dipadati oleh penonton, terutama kaum milenial, yang memang sedang melompati batas-batas teritori kultural, untuk merebut musik-musik berkelas (pop dan klasik) dunia.

Stephanie Onggowinoto pada konser musik JCP #24 di Teater Besar, TIM Jakarta, Rabu (25/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.
Stephanie Onggowinoto pada konser musik JCP #24 di Teater Besar, TIM Jakarta, Rabu (25/9). -Dok. Eva Tobing/DKJ.

Di Jepang nanti menjadi momentum pembuktian diri bahwa JCP dalam pembinaan kualitas musik orkestra sudah memang melewati proses-proses elementer.

Budi Utomo Prabowo sebagai pengaba utama akan berkolaborasi dengan Stephanie Onggowinoto (solois piano) yang permainannya disanjung “sejernih kristal dan bercahaya”.

Stephanie baru-baru ini meraih gelar Diploma Artis Seni Pertunjukan dari Royal College of Music (RCM) London sebagai pemenang Penghargaan Alida Johnson.

*Daniel Deha

Baca Juga

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...