Portal Teater – Berikut ini catatan dan tanggapan Bambang Prihadi (sutradra Lab Teater Ciputat) tentang kerangka manajemen Festival Teater Jakarta.

Catatan ini dimuat pada Laporan Komite Teater Dewan Kesenian atas ijinan penulis yang kemudian disertakan dengan tanggapan Afrizal Malna, Ketua Komite Teater DKJ, dan Dendy Madya, sutradara Artery Performa.

Enam Catatan

Ada beberapa catatan yang diberikan Bambang Prihadi terkait penyelenggaraan FTJ, antara lain dipaparkan seperti berikut.

Pertama, ketika penyelenggaraan final FTJ kembali ke Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM) tahun 2007 dengan hadiah puluhan kali lipat dari sebelumnya, membuat harapan pelaku teater Jakarta bersemi lagi.

Saking antusiasnya, sejumlah penggiat FTJ sepakat memperbaiki aturan main FTJ yg selama tiga puluh tahun blelum pernah disesuaikan dengan kondisi hari ini.

Salah satu hasilnya adalah menghapus istilah senior bagi grup peserta yg tiga kali berturut-turut menang dalam FTJ. Hasil itu berdasar kesimpulan bahwa FTJ tidak mesti dilihat hanya sebagai pembinaan grup muda teater Jakarta melalui lomba.

Yang lainnya adalah banyak kelompok senior FTJ yang lama mati suri. Berharap dapat terlibat kembali meramaikan FTJ dan memberi tantangan kepada peserta FTJ baru. Lantas, FTJ menjadi ajang lebaran atau pertemuan tahunan lintas generasi.

Namun FTJ masa kepengurusan DKJ saat ini, masih belum menemukan pola penyelenggaraan. Walhasil aturan baru yang sudah disepakat pelan-pelan rontok, dan pada tiga tahun selanjutnya kembali ke aturan main awal.

Kedua, FTJ tahun 2011-2016 sudah mencoba membangun kerangka dan tim kerja yang cukup solid. DKJ ini mengemas FTJ sedemikian rupa dengan tema yang diniatkan untuk mengikat misi pencapaian artistik tertentu.

Meski tentunya diperlukan waktu untuk menguji aturan main yang telah dibangun dengan asosiasi wilayah sebagai representasi peserta tiap wilayah. Keseriusan DKJ untuk mengangkat citra FTJ bisa diindikasikan dengan keberhasilan lobby anggaran yang cukup fantastik, kemasan OK di acara 40 tahun FTJ, terbentuk tim kerja inti dan inventarisasi FTJ yang cukup banyak.

Ketiga, sayangnya evaluasi pasca FTJ di tingkat subtansi belum cukup menjadi perbaikan untuk penyelenggaraan FTJ setelahnya. Hal ini bisa disebabkan oleh (salah satunya) tidak terbentuk tim kerja solid berdurasi panjang yang bekerja dari penyisihan.

Komite Teater DKJ waktu itu hanya berharap dari kesolidan pengurus tiap asosiasi yang terlalu cepat berganti dan kurang memahami misi dari FTJ. Sementara Komite Teater hanya menanti di muara final sebagai lembaga pelaksana tanpa kenal atau mau bekerja mulai dari hulu.

Keempat, lebih menyayangkan lagi 2-3 tahun terakhir ini, FTJ kembali dikemas sedemikian rupa dengan beragam tema dan desain, tapi dengan soal yang masih sama dan posisi DKJ yang hanya melanjutkan pendahulunya.

Lebih mirisnya lagi justru tidak lebih baik dalam pelaksanaannya dengan DKJ masa sebelumnya.

Kelima, orientasi pembinaan yang menjadi concern dari kegiatan ini, lagi-lagi diberi beban ambisius oleh DKJ, demi kemasan event dan selera artistik tertentu.

Keenam, bila hari ini kita menerima apa yang dibuat Afrizal Malna dengan istilah kerangka manajemen FTJ 2018 dan proposal FTJ Generasi Z, tentu menarik untuk kita simak bersama.

Meski kekhawatirannya masih akan sama seperti sebelumnya, bahwa apa yang diharapkan tumbuh organik dari pendekatan top down hanya terwujud sekian mili persen dari mimpi seseorang.

Artinya, lagi-lagi tidak berjejak. Padahal sesungguhnya sudah ada jejak teknis kepanitian sebelumnya. Hanya tinggal bagaimana menyempurnakan.

Bukan sebaliknya, malah menghapus habis apa yang sudah tercapai sebelumnya di tingkat teknis manajerial sebagai ujung tombak dari suksesnya sebuah program.

Bagi saya itu kerja mubazir namanya. Mengulang dari nol.

Tapi baiklah kalau memang kita harus mulai lagi FTJ dengan selera now. Sebaiknya kita mulai dari istilah generasi muda, dengan pertanyaan, apa ukuran muda? Kalau sdh ada ukurannya, Apakah sudah terbakukan dalam aturan main yang disepakati semua pihak?

Lalu sudah tersosialisasikah hingga ke tingkat peserta, baik yang sudah lama bergulat di FTJ, yang timbul tenggelam maupun yang baru mau coba ber-FTJ?

Kalo “Generasi Z” menjadi tema dari FTJ kali ini (tahun 2018, red), bagaimana ia didorong untuk menjadi kegelisahan bersama para pelaku FTJ dalam membaca kenyataan mutakhir?

Kalau ia lebih dari sekedar tema, seperti menjadi spirit kerja kreatif dan bahkan untuk memutus rantai dominasi pelaku dengan cara pandang jadul (jaman dulu), bagaimana FTJ diposisikan dengan cukup proporsional?

Saya menghargai percikan pikiran Afrizal bagi teater masa depan, namun kiranya perlu merendah pada waktu, dan strategi yang tepat untuk menjadikannya tumbuh kuat berakar dalam dan berdahan rimbun nan tinggi.

Setelah sepuluh tahun FTJ dirayakan kembali di TIM, adakah kemudian yang berbeda dengan wajah perteateran kita hari ini? Apakah cukup memberi dampak pada pertumbuhan teater baru di Jakarta?

Perlu Kerja Berjejaring

Menimbang bahwa peserta atau pimpinan grup yang terlibat mayoritas usia 40-an dan tentu selama 10 tahun, mayoritas yang bertengger di tangga pemenang adalah pelaku teater, atau grup yang sudah lebih dari 20 tahun berteater.

Maka ketika muncul FTJ dengan semangat muda dan tema “Generasi Z”, pertanyaannya kembali ke atas, bagaimana proses penguatan misi itu dapat dilakukan DKJ dan para stakeholder FTJ lainnya?Bagaimana tema itu bisa menjadi milik bersama para penggiat teater (FTJ) mulai dari hulu?

Sekedar usulan, di sisi lain, menimbang posisi DKJ sesungguhnya cukup strategis untuk memberi arah pada kebijakan pembinaan dan pengembangan seni budaya di Jakarta.

Karenanya diperlukan jaringan kerjasama lintas lembaga kesenian dan kebudayaan yang notabene memiliki program dan misi yang sama.

Semisal, penyelenggaraan workshop dan penyediaan fasilitas kesenian, memungkinkan keterlibatan DKJ dalam menguatkan fundamen dasar dan hasil yang sepatutnya dicapai.

Satu contoh ini diharapkan lembaga seperti di DKJ dapat memosikan dirinya sebagai fasilitator dan mediator antar lembaga kesenian yang dapat sangat membantu terciptakan kerjasama dan ruang yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan seni di Jakarta termasuk Kepulauan Seribu.

Tanpa itu, hari ini tentunya sulit bagi siapapun yang hanya mau menegakkan ide tanpa kerjasama dengan berbagai pihak dalam segala kurang-lebihnya. Bahkan dengan masa lalu yang gelap sekalipun.

Jawaban Afrizal Malna

Pertama, logika program: FTJ bukan organisasi massa, melainkan program festival yang berlangsung dari hulu (penyisihan) ke hilir (final).

Kedua, Januari 2017, FTJ membuat Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh hampir seluruh sutradara maupun asosiasi dalam program FTJ di lantai 2 Galeri Cipta TIM. Hasilnya, kita kembali mengunyah persoalan-persoalan yang rutin dan laten, keruh dan gelap.

Mapping dan Investigasi:

1. Komite Teater melakukan mapping kasar atas berbagai fenomena festival teater internasional untuk ancang-ancang melihat di mana posisi FTJ dalam kancah teater masakini.

2. Kalau dalam setiap pertemuan FTJ, kita tidak beranjak dari persoalan rutin dan laten, berarti kita harus evakuasi dari sumber masalah yang mencekik masa depan kita dan mencari landasan baru untuk mendapatkan pijakan masa kini.

3. Komite Teater berorientasi bukan ke persoalan, melainkan ke soluisi. Kalau ada persoalan yang menarik, persoalan itu diubah menjadi gagasan.

4. FTJ belum bisa keluar dari aktivisme penciptaan teater era Orde Baru. Sementara lingkungan di sekitar kita sudah berubah. beberapa contoh, misalnya:

  • Munculnya aplikasi start-up seperti Go-jek yang multiple platform sifatnya dan belum pernah ada sebelumnya.
  • Munculnya bentuk supermarket dengan trans-market yang sifatnya juga multiple platform
  • Co-branding dalam membuat program
  • Era baru alat tukar uang dengan pulsa (e-money), dll.

5. Agar Komite tidak membuat kerja kuratorial sepihak, diadakan forum “ngobrol teater enter” untuk berbicara perihal kerja kuratorial teater masa kini. Hasil dari ngobrol ini juga terlampir dan menjadi referensi utama pembuatan program Komite Teater.

6. Yang memutus mataratai grup senior bukan DKJ, melainkan pejabat Badan Pelaksana DKJ TIM pada masanya. Lembaga ini sekarang sudah berubah menjadi UPT (Unit Pelaksana Teknis) yang sistem dan mekanisme dan orang-orangnya juga berubah, dan sangat tidak mudah untuk bisa mengembalikannya.

7. FTJ sekarang sudah tidak menggunakan naskah pilihan DKJ sebagai titik-tolak penciptaan. Pilihan naskah ini sebenarnya sudah mengandaikan tantangan dramaturgi baru melalui naskah-naskah terpilih yang rata-rata berangkat dari kultur, konteks maupun strategi penulisan naskah yang beragam.

Bebasnya FTJ dari keharusan membawakan naskah pilihan DKJ, membuat sebagian aktivisme penciptaan teater dalam kancah FTJ terjebak ke dalam zona nyaman; cenderung memilih naskah murahan agar pertunjukan menjadi maksimal untuk mendapatkan penghargaan.

Yang paling bertanggung-jawab dalam medan ini, adalah bagian hulu FTJ, yaitu bagaimana babak penyisihan menjadi pesta baru untuk berbagai aktivisme penciptaan menawarkan gagasan maupun tantangan.

8. Komite Teater tidak akan mengembalikan mekanisme naskah pilihan kepada grup-grup peserta FTJ, untuk membuka peluang setiap grup membuat langkah beragam dalam memilih naskah dan evakuasi dari naskah-naskah yang sudah rutin dan laten dibawakan dalam FTJ.

Mekanisme seperti ini juga sudah tidak cocok dengan etis penciptaan masa kini yang kian beragam dan personal.

Tanggapan Dendy Madya

Kalau FTJ masih diminati oleh banyak kalangan teater Jakarta lintas usia, menurut saya tidak apa-apa. Seleksi alam tetap akan bekerja. Contohnya tahun kemarin. Grup-grup lama sudah mulai tidak ikut.

Pemenang FTJ di final tahun kemarin ada kejutan dari generasi peserta FTJ yang relatif lebih baru. Kalau pun grup-grup lama ini mau ikut lagi tahun ini dan tahun-tahun mendatang, ya tidak apa-apa.

Toh, siapa saja akan berhadapan dengan situasi zaman yang berubah, lalu mau bersikap apa? Itu kan pertanyaannya.

Yang pasti saya setuju, teater sekarang perlu berjejaring semenjak proses awal penciptaannya. Mulai dari memikirkan, siapa penonton yang akan disasar, sebagai contoh.

Pelaku teater sekarang perlu memikirkan: dia akan berjejaring kemana? Ke kecenderungan ide yang bagaimana? Perlu nyambung ke ilmu pengetahuan yang mana? Perlu memakai metode yang kayak apa?

Membuat teater sekarang terkesan lebih ribet tapi sebenarnya lebih mudah karena banyak tools yang bisa dipakai. Tapi memang menjadi sungguh-sungguh ribet karena pijakan pelakunya tidak berubah.

Kalau saya, melihat Komite Teater periode sekarang memperlakukan FTJ kayak sebuah usaha membuat temen-temen teater jadi melongo; jadi bertanya-tanya lagi, membuat semacam brainstorming, bikin shock; mengeluarkan FTJ dari medan yang beku.

Meskipun tentu tidak semua orang senang dengan hal ini.