Teater Camuss Akan Hadirkan Komedi Satir Era 1950-an Lewat “Mak Comblang”

Portal TeaterTeater Camuss akan mementaskan naskah “Mak Comblang” karya Nikolai Gogol (terjemahan Asrul Sani dan Teguh Karya) pada hari ini, Jumat (22/11), pukul 19.30 WIB di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Naskah ini menjadi pilihan grup teater yang menjuarai Festival Teater Jakarta Timur 2019 itu karena cukup disukai oleh para aktor sebagai daya ungkap yang relevan dengan kondisi kekinian.

Lewat lakon ini, Teater Camuss akan mengembalikan komedi satir yang trend pada era 1950-1960-an, di mana pada masa itu pendekatan ini sedang banyak diproduksi, baik film maupun teater.

Untuk mempertebal aliran komikal, sutradara Reza Ghazali menggunakan latar belakang budaya Sunda. Sebab banyak aktornya memiliki kedekatan antara alur, penanda tempat serta bacground asal, sehingga sajian cerita menjadi lebih mudah dicerna.

Ini sesuai anggapan Gogol, bahwa segala macam tingkah manusia dan kenaifan-kenaifannya bisa jadi sangat lucu ketika manusia-manusia itu menjadi korban dari obsesi maupun pemikirannya.

Dalam sebuah pernyataan Gogol menulis: “semakin lama dan lebih hati-hati kita melihat sebuah kejadian lucu, semakin menyedihkan jadinya”.

Berpijak pada asumsi itulah grup teater yang berdiri tahun 1989 ini pun mencoba mendekatinya melalui pilihan kostum berwarna cerah tapi muram untuk menggambarkan komedi satir dan folklore yang digagas Gogol dalam karyanya.

Dipilih Secara Kolektif

Sejak awal menggarap naskah ini, Teater Camuss menggunakan sistem kerja kolektif. Di mana aktor memilih sendiri naskah dan peran apa yang dimainkan.

Dengan demikian, tiap aktor bertanggung jawab terhadap pilihan keaktorannya. Dan tekanan sutradara terhadap aktor berkurang dan aktor lebih enjoy memainkannya.

Sementara untuk tempo permainan, dipilihlah satu aktor yang bertugas menjaga ritme pertunjukan, atau dalam istilah Reza Ghazali seperti “kapten” dalam dunia sepakbola. Sebab, irama permainan menjadi penting dalam menggarap pertunjukan ini.

Selain tempo permainan, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM terfavorit di UIA Jakarta ini juga menjaga timing pertunjukan dan menjadi kunci bagi letupan-letupan komedi dalam lakon ini.

Dengan memilih pola pertunjukan yang ekspresif dan menggelitik, Teater Camuss berusaha agar penoton bisa merasa terhibur sambil mencurigai makna-makna yang terkandung dalam pertunjukan sebagai kritik atas pilihan-pilihan hidup yang pernah dirasakan, juga kegetiran yang dilalui di dalamnya.

Dalam penggarapannya, Teater Camuss melakukan banyak hal untuk mendalami naskah karya penulis Rusia tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan riset tentang naskah asli dan terjemahannya.

Karenanya, dalam pentas kali ini Teater Camuss tidak memainkan isi teks secara berlebihan, tapi mendekatkan dialog-dialog yang asing dengan aktor-aktornya yang mayoritas masih muda dengan menjadikannya seperti bahasa mereka sendiri.

Tim Produksi

  • Sutradara: Reza Ghazaly
  • Penata Musik: Yuyun Nurdianti
  • Penata Artistik: Nova Verawati Fazri S
  • Penata Cahaya: Pahrudin
  • Penata Busana: Idham Hidayatulloh
  • Penata Rias: Ferawati dan Mariam

Pemain

  • Aktor utama perempuan: Yulia Putri Anggraini Sebagai AMBARITA, Siti Yunani Sebagai MAK ELYA
  • Aktor utama laki-laki: Muhammad Fajar Binawan Sebagai AKHMADIN AKHMAD
  • Aktor peran pembantu perempuan: Sahrotul Puwadah Sebagai ARINA, Nindya Pratami Sebagai SITI
  • Aktor peran pembantu laki-laki:
  • Muhammad Ifqy Dzikrullah Sebagai KARIM
  • Muhammad Yunus Al Fajri Sebagai TATANG BIN SERABI
  • Farhan Hazami Sebagai ARJUNA
  • Idham Hidayatulloh Sebagai TIGOR
  • Riki Wijayanto Sebagai KARTA

Tentang Teater Camuss

Teater Camuss merupakan pada awalnya bernama Teater Kamus. Didirikan pada 14 Februari tahun 1989. Pendirinya adalah Wess Ibnu Say dan dikembangkan oleh Rini Fajarini Dewi.

Teater Camuss resmi menjadi UKM pada tahun 1990. Pada tahun 1993 nama Teater Kamus diubah menjadi Teater Camuss yang berlaku sampai sekarang.

Adapun alasan mengganti nama Teater Kamus menjadi Teater Camuss dikarenakan dua hal: pertama, karena adanya kesamaan nama pada teater di Yogyakarta, dan kedua, trend bahasa pada saat itu.

Teater Camuss terdaftar di Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Madya Jakarta Timur tahun 1995 dengan nomor pendaftaran 208.07.09.04.4.95.

Grup teater kampus ini disutradarai Reza Ghazaly atau yang terkenal dengan nama Remon Camuss. Lahir di Kuningan, 19 April 1985, Reza adalah lulusan S1 Hukum.

Secara pribadi, Reza pernah mendapat penghargaan Juara Harapan III pada Lomba Nasional Penulisan Naskah Lakon Teater 2017.

Adapun beberapa karya yang disutradarainya, yakni:

• Kapai-Kapai (Arifin C. Noer)
• Raja Mati (Eugene Ionesco)
• Umang-Umang (Arifin C. Noer)
• Dalam Bayangan Tuhan (Arifin C. Noer)
• Meja Makar (Reza Ghazaly)
• Siklus (Reza Ghazaly)
• AA II UU (Arifin C. Noer)

*Daniel Deha

Baca Juga

Komite Tari DKJ Gelar “IMAJITARI” sebagai Ajang Sosialisasi Dance Film

Portal Teater - Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar IMAJITARI "International Dance Film Festival" sepanjang 12-13 Desember 2019 di Art Cinema FFTV...

Eksplorasi Imajinasi Anak Lewat Metode “Masuk Ke Dalam Alam”

Portal Teater - Teater Tanah Air telah sukses mementaskan lakon "HELP" karya Putu Wijaya selama dua hari di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Terkini

Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater - Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk "Poem of Blood" di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan...

Tutup Tahun, JCP Persembahkan Konser Special “Tribute to Farida Oetoyo”

Portal Teater - Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta mempersembahkan konser spesial akhir tahun bertajuk Tribute to Farida Oetoyo pada Jumat (13/12), pukul...

Ini Daftar 20 Dance Film Yang Lolos Kompetisi IMAJITARI 2019

Portal Teater - Ada 20 karya dance film yang dinyatakan lolos ke tahapan sesi kompetisi helatan IMAJITARI “International Dance Film Festival” 2019. Dari 20...

Selama 43 Tahun, Kritik Seni Rupa Indonesia Masih Sebatas “Pengantar”

Portal Teater - Ketika kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan doktoralnya di Prancis tahun 1981, Sanento Yuliman mulai aktif menulis kritik seni rupa di...

Mahasiswa Prodi Teater IKJ Pentas “Macbeth” dengan Konsep Kekinian

Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan bangga akan mementaskan "Macbeth" karya William Shakespeare di Gedung Teater Luwes IKJ,...