Teater dan Konflik Kemanusiaan

Oleh: Rudolf Puspa*

Portal Teater – Ada teori yang mengatakan bahwa “drama is a dialogue story about humanitarian conflict.”

Konflik adalah sesuatu kejadian atau suasana yang sangat menarik menjadi garapan teater.

Dalam hal ini, konflik kemanusiaan karena teater bicara tentang manusia dan dimainkan serta ditonton manusia.

Bahkan ketika kita pentaskan naskah yang perannya binatang, pohon, hutan, langit, selalu menyangkut mengenai rangkaian kehidupan manusia.

Bicara tentang konflik kemanusiaan menjadi sangat menarik karena mau tidak mau kita akan belajar mengenal manusia seutuhnya bukan hanya ujut lahiriahnya namun lebih jauh yakni ke dalam jiwanya, perasaan-perasaannya, suasana batinnya.

Oleh karenanya latihan “penghayatan” atau juga disebut “olah rasa” menjadi sangat vital.

Kita bukan hanya melatih teknik penguasaan tubuh yang menjadi alat peraga aktor yang termasuk fondasi penting namun juga kepekaan rasa kita.

Justru kepekaan rasa inilah yang sering menjadi yang paling penting. Kuat tidaknya fondasi ditentukan oleh takaran adukan semen, pasir, air, besi betonnya.

Aktor perlu memiliki kemampuan dalam hal menakar, mengolah, mencampur adukan emosi, perasaan, gerak fisik, pemikiran dengan tepat timbangannya.

Marah, mangkel, kecewa, tua, muda, lucu, aneh, absurd, benci, cinta, sayang, sangat sulit dijabarkan melalui pikiran nyata.

Maka peranan “daya rasa” di sini justru menjadi pokok utama. Ini semua termasuk mengasah daya abstraksi kita yang konon menurut ilmunya ada di otak kanan.

Berarti kita dalam hidup perlu menyeimbangkan kegiatan otak kiri dan kanan sehingga berimbang.

Dokumentaasi pertunjukan "Biduanita Botak" karya Eugene Ionesco, terjemahan Jim Adilimas, oleh Teater Keliling di STAIN sekarang UIN) Malang, 20-21 Februari 1999. -Dok. Rudolf Puspa.
Dokumentaasi pertunjukan “Biduanita Botak” karya Eugene Ionesco, terjemahan Jim Adilimas, oleh Teater Keliling di STAIN (sekarang UIN) Malang, 20-21 Februari 1999. -Dok. Rudolf Puspa.

Bukan Perkara Mudah

Rekan saya, Dr. Trevino yang pianis, selama menjadi penata musik Teater Keliling sering mengingatkan hal ini karena menurutnya inilah yang lemah dalam dunia pendidikan kita.

Selama kuliah di Fakultas Kedokteran UI ia menyadari bahwa antara seniman teater dan dokter memiliki bahan yang sama dikerjakan yakni manusia. Bedanya para dokter mengurus fisiknya dan seniman teater jiwa, emosi, perasaannya

Kita punya perasaan tapi ketika memainkan suasana batin yang sedang sedih, senang, menjadi sangat sulit.

Apalagi ketika suasana sedih mulai kita pertanyakan karena apa, mengapa, bagaimana. Sedih karena kematian saudara, orang tua, kekasih, anak, sahabat tentu berbeda beda.

Suka karena mendapat lotre, mendapat piala kejuaraan, lulus ujian, menjadi berbeda beda.

Inilah yang sering terjadi dalam pertunjukan teater. Begitu sedih lalu teknik yang dipakai sama saja. Menangis juga sama saja.

Hal ini terjadi akibat kelemahan dalam hal daya rasa pemain yang bisa terjadi karena kurangnya mengasah kekuatan rasa.

Hanya sibuk dengan melatih hal-hal teknis fisik saja. Misalnya secara fisik menangisnya sudah betul, tapi penonton tidak merasakan adanya tangis. Apalagi yang lebih sulit yakni tertawa.

Dokumentasi pertunjukan "Bukan untuk Bersedih" karya Motingo Bousye oleh Teater Keliling di Sumatra, Kalimantan dan Jawa, tahun 1992-1993. -Dok. Rudolf Puspa.
Dokumentasi pertunjukan “Bukan untuk Bersedih” karya Motingo Bousye oleh Teater Keliling di Sumatra, Kalimantan dan Jawa, tahun 1992-1993. -Dok. Rudolf Puspa.

Teater dan Konflik

Unsur konflik menjadi unsur yang sangat kuat dalam mengekspresikan keadaan atau suasana batin maupun pikiran peran.

Konflik terjadi antara pikiran peran yang satu dengan yang lain. Perbedaan ide, pendapat, pengertian akan mewujudkan bentuk pengucapan, ekspresi wajah, gestur dari pemain dengan setiap perannya.

Di dalam memainkan peran bisa terjadi konflik antara suasana perasaan pemain dengan emosi peran yang mungkin saja berbeda.

Konflik pemeranan bisa terjadi antara rasa kesal yang sedang terjadi karena urusan pribadi tapi harus perannya justru harus gembira bahkan tertawa terkekeh kekeh.

Konflik antara rasa senang tapi harus menangis karena ada berita buruk dari rumah misalnya keluarga dekat wafat.

Dalam situasi darurat batin semacam itu aktor harus mampu menyusun jalannya suasana kebatinan perannya yang muncul dari konflik ke konflik hingga mencapai puncaknya atau klimaksnya dan kemudian anti klimaks kalau memang dibutuhkan.

Apapun yang terjadi dengan pribadinya namun aktor harus tetap prima di panggung.

Urusan pribadi aktor bukan keingintahuan penonton datang ke gedung pertunjukkan.

Melalui catatan ini saya sampaikan salut dan hormat kepada pemain-pemain yang ketika sedang keliling mengalami kesedihan besar karena kematian orang tua atau nenek kakek atau keluarga terdekat namun memilih menyelesaikan keliling baru pulang.

Ini perjuangan batin yang sungguh sukar digambarkan. Bahkan kadang tidak bisa diterima akal sehat manusia pada umumnya.

Walaupun sebagai sutradara saya langsung siapkan rencana B untuk “the show must go on”.

Bukan hanya tragedi yang memiliki human conflict tapi komedi atau melodrama pun tetap masih kita jumpai juga.

Barangkali hanya drama-drama yang berisi puji pujian sajalah yang tak ada sumber konfliknya, kecuali konflik di luar pemeranan.

Seperti Kasidah Barzanji, misalnya, merupakan drama yang penuh puji pujian terhadap Tuhan sehingga sukar bagi kita menemukan konfliknya di mana.

Namun masih bisa saja terjadi konflik antara pemain itu sendiri dengan peran yang dibawakan.

Misalnya pemain sedang sakit demam harus main juga karena tak ada pengganti padahal harus menari dengan menyanyikan puji pujian yang dalam suasana gembira.

Tentu ini satu konflik permainan yang kuat baginya. Namun justru konflik bisa menjadi sumber kekuatan sebuah karya seni teater.

Namun juga bisa menjadi perusak kerjasama dalam teater jika para aktor tak mampu mengendalikan egonya.

Begitu kuatnya daya konflik kemanusiaan sehingga kita dalam mempelajari teater ternyata harus banyak mempelajari berbagai cabang disiplin ilmu.

Kenapa? Karena peran yang kita mainkan sangat bervariasi.

Untuk memerankan peran seorang dokter yang pakar dalam hal ilmu kesehatan jantung tentu kita sedikit banyak kenal dokter spesialis jantung.

Memainkan seorang gila, seorang berpenyakit ayan, seorang pengidap AIDS, seorang dosen, guru taman kanak kanak, binatang purba, pohon rindang; kita perlu mengenal dengan mempelajarinya lalu menguasai.

Selain itu akan masuk ke permasalahan yang menjadi tema perbincangan di panggung antar pemeran.

Bicara masalah sosial, ilmu eksakta, komputer, kedokteran, politikus, maka aktor perlu tahu ilmu ilmu tersebut.

Dokumentasi pertunjukan "Impian di Penidur" karya Yukio Mishima, terjemahan Masnendi, oleh Teater Keliling di GKJ, 5-6 November 2000. Ini merupakan produksi kolaborasi Teater Keliling dengan Teater Bangkit FKUI. -Dok. Rudolf Puspa.
Dokumentasi pertunjukan “Impian di Penidur” karya Yukio Mishima, terjemahan Masnendi, oleh Teater Keliling di GKJ, 5-6 November 2000. Ini merupakan produksi kolaborasi Teater Keliling dengan Teater Bangkit FKUI. -Dok. Rudolf Puspa.

Dengan demikian kita bisa mengerti pernyataan bahwa peran yang dimainkan seorang pemain tak akan jauh berbeda dengan isi otak dan batin sang pemain.

Misal aktor yang bodoh soal soal kedokteran maka sang dokter yang diperankan akan kelihatan bodoh atau canggung atau bahkan jadi aneh.

Lihat saja pemeran wanita melahirkan, yang belum pernah melahirkan dengan yang pernah kelihatan berbeda.

Apalagi bila sutradaranya laki laki, maka bisa menjadi lain lagi penggambaran ekspresi melahirkan.

Manajemen Konflik

Almarhum Arifin C. Noer mengatakan bahwa aktor harus pandai secara pikiran maupun batin.

Istilah yang populernya cerdas intelektual dan emosional bahkan ditambah spiritual.

Tidak lagi zamannya hanya mengandalkan bakat alam saja. Memang lebih mudah perjalanan seorang yang memiliki bakat jika memang menyadari dan mau memperkuat daya kreativitasnya.

Kalau malas memang bisa baik permainannya namun sering terjebak pada apa yang disebut “manarism”.

Karena teater bicara tentang konflik manusia dan kemanusiaan maka menjadi nyata bahwa seni teater memiliki kekuatan bagi membangun karakter dalam mencapai kehidupan yang sehat jasmani dan rohani.

Manusia kalau jasmani dan rohaninya sehat akan dengan sendirinya memiliki rasa keindahan hidup yang mana sangat bermanfaat dalam menciptakan kehidupan yang aman, nyaman dalam kedamaian atau dengan kalimat singkatnya mampu “hidup bersama dalam kebersamaan”.

Dalam dunia politik atau ketatanegaraan sering kita dengar bahwa pemimpin harus menguasai manajemen konflik di bidang apapun sehingga akan dengan cepat meredam kekerasan yang dipicu oleh konflik sosial yang banyak terjadi akibat adanya konflik kepentingan.

Melalui senyum malu-malu terbersit gagasan bahwa barangkali ada baiknya sebelum menjadi pemimpin-pemimpin di segala bidang luangkan waktu belajar ilmu penyutradaraan teater.

Maaf kalau pikiran ini terasa terlalu membusungkan dada. Terimalah sebagai penawaran positif.

Penggarap teater selalu membawa misi maka kemampuan mengolahnya menjadi sangat penting terutama dalam hal berkomunikasi.

Adalah kewajiban pemain mampu menyampaikan pemikiran atau perasaan yang paling sulit atau abstrak pun sehingga mudah dan enak diterima penonton.

Penonton tidak pernah salah, harap dimengerti. Jadi jika penonton teater tidak bisa memahami apa yang ditonton maka yang harus diteliti adalah kemampuan pemainnya dalam berkomunikasi.

Sekali lagi aktor harus memiliki kemampuan menyusun irama konflik cerita sejak awal hingga akhir. Istilah kerennya menguasai manajemen konflik.

Itulah sumbangsih yang tak ternilai terhadap keikutsertaannya mendukung usaha membangun karakter bangsa atau seperti yang masih kita ingat yakni “revolusi mental”.

Pertanyaannya berapa banyak yang tahu? Baik yang terlibat sebagai pekerja seni teater ataupun para pejabat negara terlebih yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk terlibat.

Barangkali karena kurang intens dalam menyadari dan mencari solusi; sehingga menjadi salah satu kendala kenapa teater masih belum menemukan rumah untuk terus menerus menghasilkan karya.

Namun sebagai bangsa kita dilatih optimis masa itu akan datang; karena memang saling memerlukan.

Jakarta 21 Juni 2020.

*Rudolf Puspa adalah sutradara senior teater. Mendirikan Teater Keliling tahun 1974 dan turut membesarkan nama Teater Keliling di ranah teater Indonesia. Tahun 2016, ia dianugerahi penghargaan “Abdi Abadi FTI 2016” dari Federasi Teater Indonesia. Menetap di Jakarta dan telah menghabiskan waktunya untuk berkarya di bidang teater dan literasi teater bersama anak-anak muda ibukota. Ia dapat dihubungi melalui email: pusparudolf@gmail.com.

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Terkini

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...

Rudolf Puspa: “Abdi Abadi” adalah sebuah Tanggung Jawab

Portal Teater - Berdiri di panggung Graha Bhakti Budaya di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM), pada 26 Desember 2016 ketika menerima piagam...