Teater Indonesia Hibur Penonton Lewat Parodi Tentang “Anjing”

Dalam pementasan "Kisah Cinta Dan Lain-Lain" karya Arifin C. Noer, Kamis (21/11) malam.

Portal Teater – Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Kamis (21/11) malam riuh-rendah. Gelak tawa, haru, ketegangan, kesedihan, bercampur jadi satu. Sesekali suara tawa meledak, kemudian surut, lalu meledak lagi.

Sungguh, emosi penonton diaduk-aduk lewat pementasan “Kisah Cinta Dan Lain-Lain” oleh Teater Indonesia, peserta Festival Teater Jakarta (FTJ) berbasis Jakarta Pusat.

Penonton seperti menertawakan diri sendiri, atau menertawakan penonton lain yang tiba-tiba meledak tertawa, atau barangkali tertawa karena merespon adegan dan dialog-dialog bergaya komikal para aktor. Sungguh sebuah tontonan yang menghibur.

Sebagai grup teater yang terkenal mengusung konsep teater realis, sutradara Buddy Sumantri begitu lihai menjaga tempo dan timing pertunjukan agar penonton terbawa ke dalam atmosfer pertunjukan, seperti mengalami sendiri pengalaman-pengalaman di atas panggung.

Selama gelaran FTJ 2019, baru kali ini penonton begitu tertawa lepas dan meledak-ledak dari tribun pertunjukan. Sementara aliran dialog cukup terjaga di antara para aktor, meski terlihat bahwa komedi yang muncul belum begitu natural.

Yang menarik, meski lakon ini bercerita tentang situasi genting di ujung kematian, yaitu kematian di anjing bernama Tony, namun para aktornya seperti memparodikan kondisi itu sebagai kisah yang lucu.

Kisah Tentang “Anjing”

Lakon ini berkisah tentang sebuah keluarga dengan latar belakang kehidupan sosial yang sangat kaya raya, tapi tidak mempunyai seorang anak.

Si Nyonya (diperankan Maya Safitri) memelihara seekor anjing yang diberi nama Tony. Ia sangat mencintai Tony layaknya seorang anak. Bisa dikatakan, lebih dari seorang anak manusia.

Ketika Tony sakit, seisi rumah menjadi sibuk. Semua mencari pengobatan, baik dengan mendatangkan dokter maupun dukun. Namun kedua petugas kesehatan beda disiplin ilmu ini pun tak kuasa menyembuhkan Tony.

Sementara umur Tony makin tua, yang membuatnya makin sulit terobati.

Perlakuan kasih sayang yang berlebihan si Nyonya bertentangan dengan kata hati suaminya (diperankan Subarkah Eko Dharma). Sebab perhatian si Nyonya lebih kepada Tony lebih besar ketimbang tanggungjawabnya sebagai istri.

Di saat keluarga Tuan dan Nyonya sibuk mencari pengobatan bagi Tony, si sopir (diperankanArmada Saputra) ternyata diam-diam menghampiri si pembantu (diperankan Maria Septi Budiyanti).

Tidak hanya pembantu, ia juga menghamili seorang gadis lain, dan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Alasannya, ia sudah beristri dan anaknya pun sedang sakit.

Dibawakan dengan konsep realis-konvensional, lakon ini mau memperlihatkan problem yang paling dekat dengan pengalaman sekitar kita. Bahkan pengalaman kita sendiri.

Hampir selalu terjadi, kita memanusiakan anjing dan sebaliknya bertindak layaknya anjing. Paradoks itu tampak dalam tindakan si sopir dan si Nyonya.

Di akhir kisah, beberapa frame dihadirkan untuk menandakan ada sebuah dinding lain di sebuah ruang yang berisikan foto-foto Tony.

Dalam naskah asli, cerita tentang anjing yang sakit sudah diberitahukan sejak awal, tapi sutradara memodifikasinya dengan menempatkan peristiwa sakitnya anjing di pertengahan cerita.

Tim Produksi

Sutradara: Buddy Sumantri
Penata Musik: Arya Andika
Penata Artistik: Mardiono
Penata Cahaya: Eggy Iskandar
Penata Busana: Rusmaeni
Penata Make up: Ninin Sunia Sari

Pemain

Aktor utama perempuan: Maya Safitri
Aktor utama laki-laki: Subarkah Eko Dharma
Aktor peran pembantu perempuan: Maria Septi Budiyanti
Aktor peran pembantu laki-laki: Armada Saputra
Aktor peran pendukung: Saferi Suyanto, Abdul Toha, Nahar, Lukman, Komalasari, Wahyu, Embong Imam, Adam Wahid, Maudy Arti Rini, Fikri, Nirji, Puspa, Ali Sanjaya, Dharma

Tentang Teater Indonesia

Sejak berdiri tahun 2006, Teater Indonesia selalu aktif mengikuti FTJ dan selalu menjadi finalis mewakili wilayah Jakarta Pusat. Hanya di tahun 2018 Teater Indonesia tidak mengikuti FTJ, karena pentas tunggal.

Pada awal berdirinya, sampai tahun 2008, Teater Indonesia disutradarai oleh Alm Dayo Pangestu Aji. Mulai tahun 2009 sampai sekarang disutradarai Buddy Sumantri atau Budi Kecil.

Buddy Sumantri, lahir di Jakarta 2 Agustus 1964, adalah seorang aktor dan sutradara yang cukup berpengalaman. Di Jakarta Pusat, ia terkenal sebagai sutradara dan penulis naskah teater realis yang handal.

Pada tahun 2006, 2007, dan 2014 ia terpilih sebagai Aktor Terbaik FTJ Jakarta Pusat. Lalu tahun 2012 dan 2014 terpilih sebagai Sutradara Terbaik FTJ Jakarta Pusat.

Kemudian, pada tahun 2012, 2014, 2015, 2016, 2017 ia juga terpilih sebagai Penulis Naskah Asli Terbaik FTJ Jakarta Pusat.

*Daniel Deha

Baca Juga

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Terkini

Gubernur Lampung Kukuhkan Akademi Lampung dan DKL Periode 2020-2024

Portal Teater - Gubernur Lampung Arinal Djunaidi melalui Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Fahrizal Darminto resmi mengukuhkan pengurus struktural Akademi Lampung dan Dewan Kesenian Lampung...

“New Normal” Kesenian: Melampaui Protokol, Menyadari Risiko

Portal Teater - Empat bulan setelah kasus virus corona (Covid-19) muncul pertama kali di Indonesia pada Maret, pemerintah akhirnya menetapkan kondisi "new normal". Berbagai kegiatan...

Kolaborasi sebagai Praktik Intervensi Membongkar Kebekuan Teater

Portal Teater - Mengapa praktik-praktik penciptaan karya seni sekarang mengarah ke kerja kolaborasi? Praktik-praktik kolaborasi dalam kerja artistik terutama berakar ketika mulai munculnya studi-studi inter-kultur,...

Museum MACAN Gandeng OPPO Gelar “Arisan Karya” Edisi Terakhir

Portal Teater - Setelah sukses di dua ronde pertama, Museum MACAN kembali menggelar program "Arisan Karya" edisi terakhir. Program suntikan motivasi bagi ekosistem seni Indonesia...

Rudolf Puspa: Menggelorakan Berkesenian

Portal Teater - Saya masih ingat ketika pada tahun 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyerukan kepada penyelenggara pendidikan untuk menggelorakan aktivitas kesenian. Saya...