Teater Tradisi Masyarakat Jawa

Portal Teater – Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang luar biasa. Setiap daerah atau suku bangsa, bahkan entitas budaya terkecil sekalipun punya tradisi yang unik. Ada yang mirip untuk beberapa daerah, namun di beberapa daerah lainnya sangat berbeda.

Salah satu kekayaan tradisi yang dimiliki masyarakat adalah teater rakyat yaitu sebentuk seni pertunjukan tradisional suatu kelompok masyarakat dalam mengungkapkan spirit moral, agama, dan kepercayaannya.

Teater tradisi ini pada mulanya lebih merupakan sebuah upacara keagamaan. Misalnya, untuk memanggil kekuatan gaib, menjemput roh pelindung untuk hadir di tempat pertunjukan, peringatan nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan/kepahlawanan serta sebagai pelengkap upacara.

Seiring berkembangnya zaman, barulah berkembang teater tradisi berbentuk seni pertunjukan, seperti misalnya Pertunjukan Wayang, Ludruk, Ubruk, dan lain-lain.

Kini, meski Indonesia sudah memasuki babak teater modern, tapi mayoritas masyarakat masih merawat teater tradisi karena ia telah bertransformasi menjadi tidak lagi ekspresi kepercayaan, tapi juga kritik sosial terutama terhadap modernisme yang dianggap meluluhlantakan keyakinan moral dan agama.

Pada masyarakat Jawa, teater tradisi ini begitu hidup dan terpelihara dengan baik. Kelompok-kelompok seni pertunjukan dibentuk untuk terus-menerus menggali kekayaan tradisi masyarakat Jawa yang hidup berabad-abad lamanya.

Setidaknya ada enam bentuk teater tradisi mayor dalam masyarakat Jawa, antara lain Ludruk, Ubruk, Ketoprak, Wayang Orang, Lenong, dan Longser.

Varian dari teater tradisi dipraktikan menurut wilayah kultural masing-masing, tapi ada juga yang tersebar di beberapa wilayah secara bersamaan.

Pada umumnya, teater tradisi masyarakat Jawa berbentuk hiburan, dengan dialog-dialog yang humoristik dan satir. Ini berbeda dengan teater tradisi di wilayah lain di Indonesia.

Ludruk dengan tema "Melawan Jepang". -Dok. Koran TEMPO
Ludruk dengan tema “Melawan Jepang”. -Dok. Koran TEMPO

Ludruk dari Jawa Timur

Menjadi teater tradisi khas masyarakat Jawa Timur, Ludruk merupakan seni teater tradisi yang berbentuk sandiwara atau drama yang dipertontonkan melalui tarian dan nyanyian yang diiringi gamelan.

Bentuk pertunjukan ini mirip dengan Ketoprak dari Yogyakarta. Namun yang membedakannya adalah dalam Ludruk, semuanya pemainnya adalah pria. Bahkan peran wanita pun dimainkan oleh pemeran pria. Boleh dibilang teater tradisi ini bias gender.

Sebagai pertunjukan hiburan, dialog-dialog yang muncul pada Ludruk biasanya bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa.

Tidak hanya menghibur penonton, Ludruk ternyata juga dimainkan sebagai bentuk pengungkapan kondisi kehidupan aktual masyarakat dan penyaluran kritik sosial.

Karena itulah, Ludruk selalu mengangkat cerita kehidupan sehari-hari, cerita perjuangan, atau ketimpangan, kemiskinan, dan sebagainya.

Inilah mengapa Ludruk amat diminati masyarakat karena berbicara tentang masalah yang dekat dengan penonton. Selain itu, Ludruk umumnya dimainkan menggunakan bahasa Jawa Timur yang penuh guyonan yang diiringi dengan sedikit gerakan.

Seperti teater tradisi lain di Jawa, para pemain Ludruk umumnya mengandalkan improvisasi ketika memainkan pertunjukan ini.

Karenanya tidak ada pakem yang baku dan juga naskah yang terstruktur dalam pertunjukan ini. Cerita dibawakan terutama untuk merepson lawan main di panggung dan mencairkan suasana.

Ludruk biasanya di awali dengan pembukaan berupa pertunjukan Tari Remo atau Ngremo, atraksi bedayan yang berjoget ringan sembari menyanyikan kidung, adegan lawakan atau dagelan.

Ada empat dalam pertunjukan Ludruk. Setiap babak dibagi menjadi beberapa adegan dan di sela-sela adegan diselingi dengan seseorang yang menyanyikan satu tembang.

Pertunjukan Ketoprak. -Dok. Senipedia.id.
Pertunjukan Ketoprak. -Dok. Senipedia.id.

Ketoprak dari Surakarta

Ketoprak merupakan seni pertunjukan bergenre drama dari Jawa Tengah, tepatnya di Surakarta. Selain hidup di Surakarta, Ketoprak juga berkembang di Yogyakarta.

Menurut beberapa catata, Ketoprak lahir dan mulai berkembang di Surakarta dan Yogyakarta sekitar tahun 1925 hingga tahun 1927.

Umumnya cerita-cerita yang diangkat dalam pertunjukan Ketoprak berupa cerita legenda dan epos Ramayana dan Mahabharata.

Legenda ini dibawakan dengan tujuan, tidak hanya menjadi pertunjukan hiburan, tapi juga menyampaikan pesan moral kepada masyarakat.

Selain legenda Ramayana, para pemeran juga mengangkat cerita fiksi, atau cerita dari atau berseting luar negeri. Salah satu cerita yang terkenal adalah Sampek Engtay.

Sementara dialog-dialog dalam Ketoprak menggunakan bahasa Jawa dengan menerapkan unggah-ungguh boso atau tingkatan penggunaan bahasa sesuai dengan kedudukan, seperti bahasa Ngoko Lugu dan Krama Inggil.

Seperti Ludruk, Ketoprak pun memiliki babak-babak dalam pertunjukannya. Ada babak di mana para pemeran mementaskan cerita tidak memiliki hubungan dengan cerita yang dibawakan sebelumnya. Babak ini disebut sebagai sesi hiburan.

Ketoprak mula-mula berasala dari bahasa Jawa, kethoprak. Teater tradisi ini sering disebut sebagai Ketoprak Mataram.

Ketoprak pada mulanya menggunakan iringan lesung (tempat menumbuk padi) yang dipukul secara berirama sebagai pembuka, iringan saat pergantian adegan, dan penutup pertunjukan sehingga terkenal disebut sebagai Ketoprak Lesung.

Dalam perkembangannya, Ketoprak kemudian menggunakan iringan gamelan Jawa, dan penggarapan cerita maupun iringan yang lebih rumit.

Pementasan Ketoprak dilakukan di ruangan terbuka maupun tertutup, bahkan beberapa pementasan Ketoprak pernah dipentaskan di lingkungan keraton.

Pertunjukan Wayang Orang. -Dok. Materi Tertulis
Pertunjukan Wayang Orang. -Dok. Materi Tertulis

Wayang Orang dari Solo

Selain Ketoprak, masyarakat Jawa Tengah, khususnya di Solo, memiliki teater tradisi yang disebut Wayang Orang. Ini adalah salah satu teater tradisi yang mengambil lakon dari kisah pewayangan.

Wayang Orang pertama kali muncul pada abad ke-18 di Solo, dengan penciptanya adalah KGPAA Mangkunegoro I yang terinspirasi dari drama yang berkembang di Eropa.

Kisah yang diangkat untuk dijadikan pertunjukan wayang orang ini biasanya diambil dari kisah Mahabharata dan Ramayana, sama halnya dengan Ketoprak.

Pertunjukan ini memadukan tiga disiplin ilmu seni sekaligus, yaitu seni musik, seni tari, dan seni drama.

Teater tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Wayang Wong ini umumnya dipentaskan orang-orang dewasa dan disajikan dengan gerakan-gerakan tari tradisional.

Tata rias dan tata busana dalam pertunjukan Wayang Orang biasanya mempunyai pakem tersendiri yang bersifat mengikat dan tidak boleh dilanggar.

Wayang Orang seperti seni pertunjukan teater tradisi lain, juga sarat akan nilai moral sehingga dapat menjadi wahana pendidikan bagi masyarakat penonton.

Pada mulanya, teater tradisi ini hanyak dikhususkan bagi kaum keraton atau abdi dalem. Namun dalam perkembangannya, juga bisa dipentaskan di luar istana. Pertunjukan ini kemudian menjadi cukup populer di kalangan masyarakat.

Pertunjukan Ubruk dari Banten. -Dok. sultantv.co
Pertunjukan Ubruk dari Banten. -Dok. sultantv.co

 

Ubruk dari Banten

Terminologi ubrug diambil dari bahasa Sunda: saubrug-ubrug yang berarti campur baur. Dalam praktiknya, Ubruk memang bercampur, yaitu antara pemain atau pelaku dengan nayaga yang berada dalam satu tempat atau arena.

Dalam kamus bahasa Sunda, kata ubrug memiliki arti bangunan darurat, tempat bekerja sementara, untuk beberapa hari saja, misalnya untuk kepentingan hajatan atau pesta.

Kata ubrug kemudian digunakan sebagai nama praktik kesenian, barangkali karena pemain Ubruk yang suka berpindah-pindah tempat dan membuat bangunan sementara manakala mereka mengadakan suatu pertunjukan.

Dalam terminologi Jawa Serang, ubrug berasal dari kata gabrugan, abrag, grubug, dan ubreg. Gabrugan berarti memanfaatkan pelaku seni peran sesuai dengan keahlian dan kemampuannya dalam memainkan suatu peran.

Abrag berarti teks adalah tidak ada rasa atau tidak ada isi. Grubug berarti bohong, sedangkan ubreg berarti ribut, berisik, bercanda.

Ketika membawakan Ubruk, para pemeran seperti teater tradisi sebelumnya, tidak menggunakan naskah atau pakem yang baku. Yang ada hanyalah kekuatan improvisasi pemeran di atas panggung.

Sementara itu, para panjak atau nayaga dan sinden yang bertugas mengiringi proses penampilan Ubruk berada di sisi kiri depan panggung.

Penempatan itu bertujuan mempermudah komunikasi antara penari dengan dalang. Para panjak duduk dengan memegang alat-alat musik tradisional yang dikuasainya sesuai dengan instruksi dari konduktornya.

Adapun peralatan musik dalam pertunjukan Ubruk, antara lain kendang besar, kendang kecil, gong kecil gong angkeb (dahulu di sebut dengan katung anggun atau betutut), bonang, kecrek, rebab dan ketuk.

Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco. Hal ini karena alat pemikulnya bernama kanco, yaitu tempat untuk menggantung alat-alat seni Ubruk.

Untuk busananya meliputi: juru nadung yang mengenakan pakaian harian lengkap dengan kipas yang digunakan pada waktu nandung.

Sementara aktor yang memerankan pelawak atau bodor, pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton.

Untuk para nayaga busananya tidak ada ketentuan. Yang ada bahwa mereka harus mengenakan pakaian yang rapi dan sopan.

Ubruk biasanya di gelar pada sebuah halaman yang cukup luas dengan sebuah tenda seadanya cukup dengan daun kelapa atau rumbia. Penonton dapat berseliweran di dekat pemain ketika Ubruk dibawakan. Membentuk semacam panggung arena.

Baru sekitar tahun 1955 Ubruk menggunakan panggung atau ruangan, baik yang tertutup atau terbuka di mana para penonton dapat menyaksikan dari segala arah.

Pertunjukan Longser dari Bandung. -Dok. era.id
Pertunjukan Longser dari Bandung. -Dok. era.id

Longser dari Jawa Barat

Sebagai salah satu jenis teater tradisi dari Jawa Barat, Longser mirip dengan Lenong Betawi. Bersifat melucu, ringan, dan jenaka.

Terminologi longser berasal dari kata melong yang berarti melihat, dan seredet yang berarti tergugah. Secara sempit, Longser berarti , siapapun yang melihat, pasti hatinya akan tergugah.

Ketergugahan penonton lebih dikarenakan secara tematik menarik, pun karena tarian yang dibawakan ronggeng menawan dengan gerakannya.

Sejak awal mula penemuannya, Longser hampir tidak pernah dipentaskan di panggung dengan penataan artistik yang mewah.

Barulah pada sekitar tahun 1920-1960-an, Longser mulai dipentaskan di panggung-panggung besar. Ia mencapai masa kejayaannya pada periode ini ketika masyarakat dapat menikmatinya sebagai karya seni.

Seperti Ludruk, cerita yang dibawakan para pemain Longser umumnya diambil dari kehidupan sehari-hari yang sarat pesan moral.

Untuk mendukung pertunjukannya, Longser biasanya diiringi gamelan dan tarian.

Pertunjukan Lenong Betawi. -Dok. yukepo.com
Pertunjukan Lenong Betawi. -Dok. yukepo.com

Lenong Betawi

Sebagai kesenian masyarakat Betawi, Lenong bertumbuh di lingkungan masyarakat pinggiran Jakarta. Karena di pusat-pusat kota sudah terkendala gedung-gedung pencakar langit, teater tradisi dipengaruhi kuat oleh kesenian Sunda.

Lenong umumnya dibawakan dengan dialek Betawi yang khas, penuh humor dan guyonan, bahkan dengan kritik-kritik yang pedas terhadap kondisi sosial.

Seni pertunjukan rakyat ini diketahui mulai berkembang sejak akhir abad ke-19 dan dipercaya merupakan sebuah bentuk adaptasi oleh masyarakat Betawi dari kesenian serupa yang sudah lebih dulu ada, seperti komedi bangsawan dan teater stambul.

Adegan-adegan dalam Lenong biasanya berkembang dari beberapa lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai sebelumnya, sehingga mengandalkan kemampuan improvisasi para pemainnya, seperti teater tradisi sebelumnya.

Seperti yang lainnya pula, Lenong umumnya berisi pesan-pesan moral sederhana dan diiringi dengan musik gambang kromong, gong, kendang, kempor, suling dan kecrekan.

Tidak jarang juga, dalam Lenong ditampilkan alat musik dengan unsur Tionghoa mengiringi pertunjukan lenong tersebut seperti tehyan, kongahyang dan sukong.

Seperti komedi stambul, Lenong pada mulanya merupakan pertunjukan keliling yang dilakukan dari kampung ke kampung. Atau dilakukan di ruang terbuka beralaskan tanah.

Lenong menjadi tontonan panggung baru terjadi di awal kemerdekaan Indonesia. Sejak 1970-an, ketika Taman Ismail Marzuki didirikan, Lenong dimodifikasi dan dipertunjukkan secara rutin di panggung TIM Jakarta, sampai sekarang.

Dua bentuk pertunjukan Lenong yang terkenal adalah Lenong denes dan Lenong preman. Dari asal kata keduanya, sudah dapat dibedakan bagaimana bentuk pertunjukannya.

Lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti dinas), para aktornya mengenakan busana formal dan kisahnya berlatar kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan.

Dalam Lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari.

Demikian halnya dengan penggunaan bahasa. Lenong denes menggunakan bahasa formal dan halus, sedangkan Lenong preman menggunakan bahasa sehari-hari.

Demikianlah kiranya ada enam teater tradisi besar yang dihidupi masyarakat Jawa hingga hari ini. Praktik-praktik seni teater ini tidak hanya terlokalisasi di daerahnya masing-masing, tapi kemudian juga ikut bergeser seiring arus urbanisasi.

Di Jakarta, ada Festival Teater Tradisi yang digagas Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tahun lalu, ada beberapa komunitas teater yang mementaskan teater tradisi, dengan semua seniman berada di Jakarta, untuk merawat praktik seni pertunjukan tradisional dari seluruh daerah Jawa. (dari berbagai sumber)*

Baca Juga

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...