Teknologi, Urbanitas dan Problem Kultural Kini

Dalam pentas "HIM" oleh Teater ASA, Sabtu (16/11) malam.

Portal Teater – Kia Banowati, perempuan kesepian yang tinggal di sebuah apartemen mewah di kota Jakarta. Representasi kota Jakarta terlihat dari mapping-mapping yang ditampilkan dalam pertunjukan.

Apartemen dipilih Teater ASA, perwakilan Festival Teater Jakarta 2019 dari Jakarta Barat, untuk menggambarkan tiga kondisi sosial hidup Kia: berada di kelas atas, asosial, dan sarat dengan teknologi-teknologi.

Kia (diperankan Peni Ross) terlibat dalam sebuah hubungan percintaan yang tidak biasa. Boleh dibilang di luat batas nalar manusiawi.

Di tengah kesendiriannya, ia bercumbu dengan bayang-bayang Operating System One (OS One), sistem operasi komputer yang bisa berbicara, berpikir tajam, dan peka terhadap perasaan.

OS One (diperankan Stefanus) seperti manusia super tanpa tubuh. Atau robot bertubuh manusia. Dan bagi Kia, itulah cintanya yang bisa menghapus ingatan-ingatannya terhadap Matthew (diperankan Kevin), mantan pacarnya. Apalagi Kia berkepribadian introvert pula.

Meski begitu, Kia sebelumnya dikenal sebagai perempuan yang ceria. Ia dikenal oleh security apartemen dan juga sepasang keluarga paruh baya yang bertetangga dengan apartemennya.

Namun, beberapa bulan setelahnya, ia jarang keluar kamarnya. Penghuni apartemen, terutama orang-orang terdekatnya pun curiga ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.

Di kamar ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama OS One. Teater ASA menghadirkan sosok OS One sebagai manusia yang berada dalam kelambu, sehingga Kia seperti terhubung secara simulatif dengan OS One.

Kia bisa bercakap-cakap, bertemu dan menghubungkan kedua dunia yang berbeda itu layaknya dunia nyata, meski sosok OS One berada dalam fantasinya.

Ketika bosan, Kia meminta OS One memutarkan lagu-lagu pilihannya. Atau ketika ia ingin berdansa dan menari, OS One dengan senang hati menemaninya.

Sayangnya, Kia, meski terlahir sebagai anak Jawa, tidak bisa menari tarian tradisional Jawa. Ia kelihatan sangat lihai dalam berdansa. Kia seperti kehilangan identitas etnisnya. Software telah mengasingkan dirinya dari kebudayaannya.

Ada benturan dua tubuh dalam kekinian Kia: tubuh modern versus tubuh tradisi.

Kita melihat ada konstruksi budaya yang terbentuk secara tidak integratif di dalam kepribadiannya. Lantas, ia mudah terombang-ambing di arus kemutakhiran.

Di tengah percumbuannya dengan OS One, Kia masih menyimpan kenangan-kenangannya dengan Matthew. Bayangan mantan pacarnya itu senantiasa hadir di hidupnya.

Suatu waktu Matthew menghubunginya melalui Skype Video. Ia memberitahukan bahwa film yang dibintanginya segera diluncurkan. Kia tidak menghiraukannya. Ia menepis bayangan-bayangan Matthew ketika mereka pernah bersama dulu.

Misalnya, ketika pernah bermain bersama di jalanan, atau di taman dengan skuter listrik, teknologi transportasi mini baru yang sedang trend di Jakarta.

Di saat yang sama, Kia cemburu pada Dara (diperankan Mutiara Anggun Apriliani), temannya, yang juga menaruh hati pada Matthew. Ia menuduh Dara melaporkan semua pekerjaannya akhir-akhir ini yang membuatnya melepaskan Matthew.

Seorang Bapak tetangga apartemennya (diperankan Jannu Ronggo) tiba-tiba muncul di saat-saat rumit dalam hidupnya. Setelah menemui Kia di luar apartemen, ia meminta agar pembicaraannya rahasinya dengan Kia sebaiknya dilakukan di kamar apartemen Kia.

Kia tampak takut dan gemetar karena bertemu dengan seorang Bapak, meski dikenalnya, tapi hanya berduaan di kamar. Ia berusaha menjauhi agar Bapak itu tidak menyentuh dirinya. Meski kesepian, ia masih menjaga kehormatannya.

Setelah ngobrol, akhirnya terbongkarlah sebuah rahasi yang tidak pernah diketahui Kia. Bapak itu ingin bercerai karena istrinya sekarang sudah terkontaminasi teknologi dan jarang bertemu dengannya.

Bapak itu curiga, istrinya sudah berhubungan dengan OS One. Sekarang, Bapak itu lebih suka melayani para “piaraannya”. Kia pun menemui OS One setelah Bapak itu pergi. Tanpa berkata lama, OS One mengakuinya.

Kia pun kehilangan cintanya dan memarahi OS One. Putus asa, ia menari-nari erotis seperti orang gila dengan hanya mengenakan tank-top dan celana pendek. Dunia fantasinya runtuh.

Representasi Kekinian

Meski durasi pertunjukannya singkat, yaitu satu jam, lakon “HIM” oleh Teater ASA ini melukiskan dengan apik kondisi dunia ketika teknologi menjadi begitu dominan dan setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri.

Ketika teknologi seolah mengganti semua pekerjaan manual, manusia mulai terasing dari orang lain, bahkan dari dirinya sendiri, seperti kata Karl Marx.

Mereka tidak lagi membutuhkan ruang untuk bercakap-cakap secara fisikal, teman bermain, atau menatap wajah-wajah “yang lain”.

Dunia jadi sempit dan berdinding, tebal seperti apartemen-apartemen mewah, tempat di mana Kia berada sekarang. Tidak ada waktu untuk membangun hubungan bermakna di dunia ini.

Jakarta, sebagai kota urban, dan salah satu kota global, dengan aktivitas ekonomi yang masif, yang ditunjang oleh kemajuan teknologi, telah memunculkan sejumlah problem kultural baru.

Orang seakan sudah terkonstruksi untuk mengejar “waktu pasar” dan meninggalkan “waktu kultural”. Integrasi simulakra antara Kia dengan OS One menunjukkan ketidaksiapan subjek manusia di tengah arus perkembangan pasar yang mengandalkan teknologi.

Kebudayaan bukan soal mengejar waktu dan menjadi yang terbaik, tapi bagaimana pengetahuan, gagasan, teknologi dan kreativitas manusia berkembang untuk peradaban.

Dengan kondisi urbanitas di mana identitas penghuninya terfragementasi, problem-problem ini segera disentuh agar aras kebudayaan kita berjalan secara baik.

Pertunjukan “HIM” oleh Teater ASA diadakan  di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (16/11) malam.

Naskah ini ditulis oleh Stanislaus J Daryl dan Simon Karsimin, yang diadaptasi dari film “HER” karya Spike Jonze dan disutradarai Simon Karsimin.

*Daniel Deha

Baca Juga

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...

Promosi Teater kepada Pelajar, Mahasiswa IKJ Pentaskan “Pinangan”

 Portal Teater - Mahasiswa Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta akan mempersembahkan drama komedi "Pinangan" karya Anton Checkov (saduran Suyatna Anirun)...

Bamsoet Ajak Milenial Nonton “Panembahan Reso” Mahakarya Rendra

Portal Teater - Masterpiece dramawan WS Rendra, "Panembahan Reso", akan dipentaskan ulang oleh kolaborasi GenPI.Co, JPNN.Com, Ken Zuraida, dan BWCF Society. Lakon yang menjadi buah...

Terkini

TEKO UI akan Pentas Teater Musikal Skala Besar di GKJ

Portal Teater - Teater Psikologi Universitas Indonesia (TEKO UI) akan mempersembahkan pentas teater musikal dengan skala besar selama dua hari, pada 13-14 Februari 2020...

“Anak Garuda”, Sebuah Inspirasi Merawat Mimpi

Portal Teater - "Anak Garuda", sebuh film yang diproduksi Butterfly Pictures telah resmi tayang perdana di seluruh bioskop di tanah air pada Kamis (16/1)...

Pematung Dolorosa Sinaga Jadi Direktur Artistik Jakarta Biennale 2020

Portal Teater - Pameran seni kontemporer Jakarta Biennale kembali menyapa warga kota Jakarta tahun ini. Diadakan tiap dua tahun sekali untuk "membaca" identitas kota...

“Senjakala” Kritik Seni di Era Digital

Portal Teater - Komite Seni Rupa Dewan Kesenian (DKJ) telah sukses menggelar pameran "Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992)" di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki,...

Mengomentari Sanento Yuliman Hari Ini

Portal Teater - Saya bukan seorang seniman, tetapi sangat menikmati tulisan-tulisan Sanento Yuliman. Dia menulis untuk dipahami orang seperti sebuah tanggung jawab. Dia tidak...