“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater – Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori, serta ke(tidak)sadaran kultural dan politik.

Terkenal lewat karya-karya radikal dengan tubuh dan ruang, karya kolaborasi ini bertajuk “the last IDEAL PARADISE”, menjadi yang pertama kalinya di Asia.

Pertunjukan akan berlangsung di Perum Produksi Film Negara (PFN), Jakarta Timur, pada 26, 28, dan 29 Februari 2020.

Dalam sebuah siaran pers yang diterima Portal Teater, Senin (17/2), “the last IDEAL PARADISE” versi Jakarta dipersembahkan Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan PFN dan didukung Kementerian Luar Negeri Jerman serta Kedutaan Besar Austria di Jakarta.

Adaptasi khusus Jakarta ini lahir melalui proses riset, wawancara dan, perjumpaan Bosse yang berlangsung di Jakarta pada tahun 2018 dan 2019.

Karya berdurasi 2,5 jam ini kemudian direalisasikan dalam kolaborasi dengan ansambel multilingual penari, aktris, penampil, dan orang awam dari berbagai generasi.

Pementasan "the last Ideal Paradise" karya kolaborasi Claudia Bosse dengan seniman Indonesia di PFN Jakarta. -Dok. Goethe-Institut Indonesien
Pementasan “the last Ideal Paradise” karya kolaborasi Claudia Bosse dengan seniman Indonesia di PFN Jakarta. -Dok. Goethe-Institut Indonesien

Karya Lintas Disiplin

“the last IDEAL PARADISE” merupakan karya lintas disiplin pada titik singgung performa dan seni visual di latar terbuka, di mana penonton dipersilakan bergerak dengan bebas, memilih sudut pandang masing-masing, serta mengembangkan dramaturgi sendiri.

Karya ini berupa instalasi, koreografi, dan performa sekaligus, suatu inventaris proses kerja yang menggabungkan masa kini dan masa lalu politik dengan ritual dan mitos. Mempertanyakan rezim-rezim saat ini dan kemungkinan untuk hidup berdampingan.

Dengan mengamati konstelasi kontemporer dan historis melalui lensa malapetaka, keguncangan, serta pergolakan pribadi dan politik, karya ini secara puitis menjelajahi perpotongan antara politik, agama, serta hubungan antara negara dan individu.

Dikemas sebagai permainan kata dan komposisi yang absurd, judul “the last IDEAL PARADISE” menyiratkan suatu kiasan inti penampilan ini: surga dengan beragam makna dan fungsinya.

Soroti Problem Sosial

Instalasi dan performa ini memuat materi yang menyoroti pergolakan sosial dan arsip etnografis, mentransformasi semuanya dan menciptakan komunitas sementara yang rapuh dengan dan untuk penonton.

“Ketika melihat performa ini di Tanzplattform 2018, sebuah festival yang setiap dua tahun mempertemukan produksi-produksi paling menonjol dalam tari kontemporer di Jerman, kami tertarik oleh konsep yang unik dan pendekatan lintas disiplin yang khas dari the last IDEAL PARADISE,” kata Anna Maria Strauss, Kepala Bagian Program Budaya di Goethe-Institut Indonesien.

Anna mengungkapkan, performa ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai masa kini kita dan memberi tempat untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, baik secara individual maupun kolektif.

Tema-tema yang diangkat, dan juga caranya tema-tema itu diangkat, sangat beresonansi dengan konteks di Indonesia.

“Kami bergembira bahwa ada begitu banyak pihak dari seluruh Indonesia yang turut berkolaborasi untuk membentuk edisi Jakarta dari the last IDEAL PARADISE,” tuturnya.

Anna mengakui, untuk sebuah karya site-specific, tempat berlangsungnya performa ini menjadi sangat penting.

Perum PFN dengan kekayaan sejarahnya dan tempatnya yang memukau di Jakarta Timur, akan menjadikan performa ini benar-benar menyatu dengan ruang yang ada dan mengajak penonton berpindah-pindah tempat.

Bosse mengungkapkan, perjalanan menyusuri ruang-ruang berbeda yang dilakukan oleh setiap penonton saat menyaksikan “the last IDEAL PARADISE” sekaligus merupakan perjalanan melalui berbagai format artistik yang saling berbaur.

“Karya ini dimulai sebagai instalasi yang dilalui sendiri-sendiri sebagai pengamat, selanjutnya menjelma sebagai koreografi yang ditonton, lalu prosesi yang diikuti, dan kemudian menjadi karya paduan suara dan akhirnya arsip hidup dari orang-orang yang terlibat, yang dijumpai hampir seperti di sebuah museum,” katanya.

Ia menjelaskan, posisi bebas penonton berikut pilihan sudut pandang masing-masing mereka penting dalam memahami teater sebagai ruang negosiasi kolektif, tempat aspek puitis dan politis bertaut di dalam ruang.

Proyek Ber-seri

Karya ini merupakah hasil proses kerja multi-bagian dan multi-tahun berjudul “IDEAL PARADISE”, yang dimulai pada 2015.

Proyek ini merupakan sebuah instalasi dengan sejumlah wawancara dari Kairo dan Athena yang mencerminkan situasi politik dan pergolakan sosial pada masa itu.

Satu bagian berikut berlangsung di Weltmuseum Vienna dengan menggunakan material dari koleksi etnografis berikut berbagai objek dan video.

Setelah itu, seri ini berkembang secara nomadik ke ruang-ruang urban sebelum singgah di Tanzquartier Wien dan menghasilkan latar performatif di Bukarest.

Proses ini mencapai puncaknya dalam “the last IDEAL PARADISE” yang direalisasikan di bekas pusat pengiriman pos dengan memanfaatkan elemen-elemen yang diambil dari seluruh seri dan dengan melibatkan sejumlah penampil dan paduan suara setempat.

Dan pementasan di Jakarta menambahkan satu level lagi kepada karya dan proses
panjang Bosse ini.

Selain pertunjukan, ada pula sesi bincang karya dengan para artis yang akan diselenggarakan untuk penonton seusai penampilan pada 28 Februari.

Jadwal

  • Tanggal: 26, 28, dan 29 Februari 2020
  • Waktu: 17.00-19.30 WIB
  • Tempat: Perum Produksi Film Negara (PFN)
  • Alamat: Jln. Otto Iskandardinata Raya No. 125-127, Jakarta Timur

Baca Juga

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...