Tiga Warna dalam Satu-Ruang yang Kusam

Portal Teater – Sebuah pemandangan yang cukup ‘terganggu’ ketika memasuki ruang pameran di Balai Budaya Jakarta. Tidak seperti ruang-ruang pameran di beberapa tempat lain yang pernah dikunjungi, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta, galeri ini terlihat kusam, rapuh, dan tua.

Benar bahwa galeri pameran ini didirikan tahun 1954 dan saat ini dikelola oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Namun, bangunan yang dulu dikelola Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional ini belum bisa ditetapkan sebagai cagar budaya, sehingga seperti tidak terawat dengan baik.

Padahal di masa lalu, tempat ini menjadi fenomenal karena banyak seniman besar Indonesia yang melakukan pameran karya seni, sebelumnya akhirnya beralih ke Taman Ismail Marzuki pada akhir 1960-an, yang saat itu sedang bertumbuh.

Setelah berpindah ke TIM Jakarta, bangunan ini kurang diperhatikan lagi, karena seniman-seniman muda yang baru muncul umumnya berpameran di TIM. Sementara bangunan ini menjadi tempat ‘nostalgia’ seniman tua.

Pada ketiga dinding ruang pameran, bergantung 19 karya tiga perupa, yang boleh dikatakan cukup terkenal dalam seni rupa Indonesia, antara lain Heriawan Siauw (7 lukisan), Mas Padhik (6 lukisan), dan RB. Ali (6 lukisan).

Ketiga perupa ini menggagas pameran bersama mengawali tahun ini, dengan menampilkan karya-karya terbaik selama kurang lebih 10 tahun terakhir. Pameran bertajuk “TARUNG” ini telah digelar sepanjang 23-30 Januari 2020.

Pemandangan yang kontras ada dalam ruangan ini. Keindahan lukisan para seniman kondang ini, dua dari mereka sering mengikuti pameran di luar negeri, seolah luntur karena terserap oleh pencahayaan ruangan yang kusam. Salah satunya karena lantai dan dinding ruangan yang sudah tua.

Belum lagi, dalam sehari tidak lebih belasan pengunjung datang ke tempat ini, mengapresiasi karya para perupa. Ketika saya memasuki ruangan, hanya disambut oleh ketiga perupa dan seorang kerabat mereka. Tak ada pengunjung lain.

Setelah mengisi buku tamu, saya melihat-lihat karya pameran sejenak, lalu kami duduk di sebuah bangku tua, sepertinya peninggalan dari masa lalu, sambil bercerita banyak hal tentang karya dan juga pengalaman mereka berpameran.

Ruang pameran tiga perupa di Balai Budaya Jakarta yang tampak sudah kusam dan rapuh. -Dok. portalteater.com
Ruang pameran tiga perupa di Balai Budaya Jakarta yang tampak sudah kusam dan rapuh. -Dok. portalteater.com

Tiga Warna yang Menyatu

Ketiga perupa menghadirkan karya-karya terbaik mereka dalam tiga ‘warna’ yang berbeda. Perbedaan ‘warna’ itu sesuai dengan genre seni rupa yang menjadi karakter karya mereka masing-masing.

Namun yang menarik, perbedaan itu menyatu dalam satu tema, yang secara instrinsik merupakan sentuhan perlawanan terhadap ego diri untuk tidak menghakimi mana karya yang baik atau buruk. Karya-karya ini lahir dari pengendalian emosi yang ditahan perlahan ke dalam permukaan kanvas.

Ada tiga karya yang boleh dikatakan memiliki kekuatan-kekuatan itu, antara lain lukisan berjudul “Yin Yang” karya Heriawan Siauw, “Hening” karya Mas Padhik dan “Energi Cinta” karya RB. Ali.

Heriawan Siauw boleh dikatakan terkenal dengan karya-karya abstrak (abstraksionisme). Perupa kelahiran Pendopo Liat, Sumatra Selatan, ini telah melalangbuana, tidak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri.

Setidaknya lebih dari 50 kali perupa 61 tahun ini menggelar pameran sepanjang pengkaryaannya.

Lukisan perupa Heriawan Siauw dalam pemeran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com
Lukisan perupa Heriawan Siauw dalam pemeran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com

Ada tujuh karyanya yang dipamerkan di BBJ, antara lain: Happy Blue 2019 (140X300 cm, acrylic on canvas), Evolution of Piet 2019 (140X300 cm, acrylic on canvas), Yin Yang 2019 (200×200 cm, acrylic on canvas), Yin Yang #2 2019 (90X90 cm, acrylic on canvas), Good day 2019 (90X90 cm, acrylic on canvas), dan One Way Two Side 2019 (200X180 cm, acrylic on canvas) serta lukisan kecil Evergreen (…).

Dalam lukisannya, Heriawan menekankan kekuatan pada imajinasinya untuk menyusun garis, warna dan komposisi. Lukisannya berjudul “Yin Yang” (2019) sangat menarik perhatian ketika memasuki ruang pameran.

Terletak persis di garis lurus pintu masuk, lukisan ini merupakan karya monumental yang merefleksikan hitam-putih kehidupan manusia. Tak ada yang sempurna; di dalam keburukan selalu ada setitik kebaikan; sebaliknya, di dalam kebaikan selalu ada setitik nila.

Umumnya, karya lukis Siauw merefleksikan secara abstrak dan dalam makna kehidupan manusia; kegembiraan, kesedihan, kebahagiaan, dan seterusnya. Bagaimana makna hidup bergantung pada ‘jalan mana yang ditempuh’.

Mas Padhik, perupa kelahiran Bandar Lampung, dalam pameran ini menampilkan enam karya monumentalnya yang dikerjakan selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Beberapa karya seniman berusia 60 tahun ini, antara lain: Hening 2019 (100×70 cm, acrylic on canvas), Konser Perdamaian 2019 (155×145 cm, acrylic on canvas), Tragedi Buah Apel 2019 (160×150 cm, acrylic on canvas), Ismail Marzuki 2019 (180×120 cm, acrylic on canvas), Adam dan Hawa 2019 (Diameter 210 cm, acrylic on canvas), dan Menuju Nirwana (…).

Lukisan karya Mas Padhik dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com
Lukisan karya Mas Padhik dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com

Berlatar disiplin seni patung di ASRI Yogyakarta, Mas Padhik memperlihatkan karya-karyanya yang umumnya berjenis konstruktivisme dan figuratif. Di mana tiap lukisannya secara tebal menonjolkan tubuh-tubuh bangunan dan tokoh-tokoh.

Pilihan warna, komposisi, dan garis-garis begitu rapi dan terkendali. Umumnya berukuran besar, lukisan-lukisannya ini tampak sangat agung dan sakral ketika kita menatapa lebih lama di depannya.

Dalam lukisan “Menuju Nirwana”, “Ismail Marzuki”, “Hening”, misalnya, warna dan penataan cahaya pada bata sangat natural dan ekspresif. Mengambil figur Buddha, lukisan ini tidak hanya mengandung daya spiritualitas, tapi juga dalam dirinya melekat kekuatan artistik yang luar biasa.

Selain itu, di setiap lukisannya, tata ruang juga begitu terbaca. Tampaknya ia begitu cerdas menempatkan objek lukisnya pada ruang yang tepat, sehingga memberi pengaruh terhadap posisi objek.

Lukisan “Menuju Nirwana” merupakan salah satu yang cukup representatif merespon gejolak yang terjadi di bangsa kita saat ini. Di mana banyak orang mengenakan baju agama untuk mencapai tujuan tertentu. Padahal untuk mencapai ‘surga’, orang perlu menanggalkan semua ‘sepatu’ yang dipakainya itu.

Lukisan "Menuju Nirwana" karya Mas Padhik dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com
Lukisan “Menuju Nirwana” karya Mas Padhik dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com

Berbeda dari dua seniman lainnya, karya-karya RB. Ali tampaknya berupaya menolak dan mengaburkan semua aliran seni rupa. Lukisannya menggabungkan kubisme, futurisme, dan pop art menjadi satu objek yang dinamis, ekspresif, dan mencolok.

Syakieb Sungkar pernah mengatakan, RB. Ali tampak bermain-main dengan bebas, tanpa terikat dengan salah satu aliran.

Baginya, aliran-aliran itu hanya alat untuk menyampaikan gagasan. Dan alat itu kemudian dibuang pada saat gagsan yang berbeda ingin disampaikan. Memang itulah hakekat kesenian, bentuk tidak membelenggu idea.

Ada enam karya lukis perupa muda kelahiran Lampung ini, antara lain: Happiness 2019 (145×185 cm, acrylic on canvas), Harapan dipenghujung Tahun 2019 (185×145 cm, acrylic on canvas), Yang Sinkron 2019 (200×180 cm, acrylic on canvas), Dialog Panjang 2019 (140×140 cm, acrylic on canvas), Energi Cinta 2019 (80×110 cm, acrylic on canvas), Seribu Wajah 2019 (100×150 cm x 2 sisi, acrylic on canvas).

Karya lukis RB. Ali dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com
Karya lukis RB. Ali dalam pameran bersama di Balai Budaya Jakarta. -Dok. portalteater.com

Berupaya menundukkan bentuk, RB. Ali lewat karya-karya ini ingin berselancar bebas sesuai impresi atau imajinasi liar yang terlintas di alam pikirannya maupun tubuhnya.

Lukisannya lebih banyak menonjolkan kekuatan garis dan warna, di samping figur-figur berupa manusia atau hewan dan bangunan.

Sementara komposisinya tampak tidak beratur, namun seolah disanggah oleh garis-garis melengkung. Pertemuan, lengkungan dan persinggungan garis selalu memberi ruang baginya untuk memberi warna terhadap objek yang ingin dihadirkannya.

Berbagai aliran disatukan, dilumerkan, dan ditebarkan ke dalam permukaan kanvas. Untuk tidak berlebihan, boleh dibilang karya-karya ini merupakan representasi nalar metafisik yang mengalir dalam dirinya.*

Baca Juga

Stimulus Fiskal untuk Resiliensi Industri Seni

Portal Teater - Sebelumnya kami menurunkan tulisan mengenai industri seni Indonesia yang begitu menderita di tengah wabah global virus Corona (Covid-19). Pendasarannya, sampai saat ini...

Pesta Kesenian Bali 2020 Ditiadakan

Portal Teater - Pemerintah Provinsi Bali mengumumkan peniadaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-42 tahun 2020 menyusul penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di...

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...