Toko Buku Alternatif sebagai Ruang Kontra Wacana

Portal Teater – Indonesia memiliki catatan historis yang kelam jika kita berbicara tentang toko buku atau penerbit buku. Kekelaman itu sungguh-sungguh terjadi pada era Orde Baru, persis setelah tragedi Gestapu yang kemudian melahirkan kebencian massal dan ideologis terhadap komunisme (gerakan Kiri).

Meski kemudian kita tidak dapat menghakimi Orde Baru sebagai praktik paling buruk dalam sejarah yang menenggelamkan kehadiran wacana dan literasi alternatif, setidaknya era tersebut menjadi preseden bagi kebangkitan toko buku dan penerbit di kemudian hari.

Pada masanya, rezim ini begitu dominan menentukan arah wacana dan khazanah bacaan yang berlaku bagi masyarakat dan sistem pendidikan. Semua penerbit dan penulis yang menawarkan wacana alternatif, misalnya wacana Kiri, tenggelam bahkan mati. Hampir tidak ada ruang kontra wacana yang tercipta pada era ini.

Banyak buku yang menulis tentang sejarah alternatif tentang peristiwa-peristiwa kelam negara, termasuk tragedi Gestapu tidak pernah muncul. Toko-toko buku yang mendistribusikan buku-buku beraliran Kiri pun dibredel. Praktik-praktik tersebut masih terjadi hingga bangsa ini menghirup udara segar Reformasi sekalipun.

Wacana dominan tersebut kemudian seolah masuk ke dalam struktur literasi dan pendidikan kita. Kerap terjadi, sistem pendidikan kita ikut menentukan buku mana yang layak dipakai para siswa sebagai bahan bacaan di sekolah. Demikian pula, para guru seringkali menentukan referensi buku dari penerbit-penerbit mayor (mainstream) yang harganya tidak terjangkau siswa.

Buku-buku dari penerbit minor atau indie (independen) jarang dimasukkan dalam deretan referensi resmi yang diciptakan sistem pendidikan kita. Hal itu kemudian mengukuhkan kesenjangan struktural yang diproduksi oleh sistem dan budaya pendidikan kita; ada garis demarkasi antara buku bacaan penerbit mayor dan minor (alternatif).

Perlunya Toko Buku Alternatif

Ketika angin segar Reformasi menghembus ke seantero pertiwi, banyak buku-buku yang sebelumnya dilarang diterbitkan oleh penerbit-penerbit indie, misalnya “Das Kapital” karya Karl Marx, “Tetralogi Buruh Pram” karya Pramoedya Ananta Toer, berikut penerbit-penerbit minor yang pada masa sebelumnya dibekukan.

Bersamaan dengan itu, pesatnya industri perbukuan membuat penerbit-penerbit minor terpaksa harus gulung tikar. Selain karena tidak mampu bersaing dengan penerbit-penerbit mayor yang memiliki akumulasi modal besar, penerbit-penerbit tersebut pun belum memiliki pangsa pasar yang luas.

Belum lagi, toko-toko buku tersebut beserta penerbitnya masih sering dijarah oleh militer karena diduga masih menerbitkan buku-buku beraliran komunisme dan marxisme yang sejak tahun 1965 dilarang di Indonesia.

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta menyadari, bahwa Indonesia saat ini masih memerlukan wacana alternatif yang hadir melalui toko-toko buku yang menawarkan pilihan literasi kepada generasi masa depan. Secara khusus toko-toko buku yang menyediakan ruang alternatif bagi pengembangan khazanah sastra tanah air.

Karena fakta mengatakan, bahwa dalam dunia kesusastraan pun ada struktur-struktur dominan yang mempengaruhi literasi masyarakat; ada pembagian kelas dalam cara masyarakat mengkonsumsi karya sastra.

Apalagi masih ada segelintir dari buku-buku yang beredar di Indonesia yang memiliki konten menggigit, mengkritisi, dan memberikan sebuah prespektif lain dalam cara pandang pikir pada umumnya. Dengan kehadiran buku alternatif, diharapkan mampu memberikan nilai yang berbeda dari cara pandang mainstream masa kini.

Karena itulah, dalam rangkain kegiatan jelang gelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019, Komite Sastra mengadakan lokakarya dengan mengambil tema khusus untuk mendudukkan persoalan tersebut: “Toko Buku Alternatif”. Lokakarya ini diselenggarakan pada 13-16 Agustus 2019 di Komunitas Kekini Besar, Cikini, Jakarta.

Adapun lokakarya ini menghadirkan dua pembicara dari POST Bookshop Pasar Santa, yakni Teddy W. Kusuma dan Maesy Angelina. Kedua pasangan suami-istri ini mendirikan POST pada 2014 lalu dengan memberikan alternatif bahan bacaan utama sastra dan sejarah sosial, berikut buku-buku yang bertemakan sosial lainnya.

Banyak Model Kontra Wacana

Maesy mengatakan, lokakarya ini digelar dalam kesamaan gagasan dengan Komite Sastra DKJ untuk memberikan ruang kontra wacana bagi kehadiran toko-toko buku alternatif yang digerakkan oleh mayoritas orang-orang muda saat ini. Ruang kontra wacana ini disediakan agar masyarakat dapat lebih mudah menjangkau keberadaan buku bermutu.

Hasil lokakarya hari pertama tersebut menunjukkan adanya varian pemahaman atau definisi tentang wacana toko buku alternatif. Misalnya, peserta menginginkan adanya pusat toko buku alternatif yang menyediakan buku-buku yang mengkritik wacana dominan yang beredar.

“Untuk ini sangat dekat dengan kerja aktivisme, di mana mereka mengkritik kerja pemerintah dan lebih soal keadilan sosial,” ungkapnya, Selasa (13/8).

Sementara yang lainnya mendefinisikan wacana alternatif berdasar jenis buku yang ditawarkan. Dalam hal ini soal pasokan buku yang akan didistribusikan kepada masyarakat. Dalam toko buku ini, ditawarkan buku-buku yang tidak ada di toko buku arus utama yang harganya tidak terjangkau.

Selain itu, ada pula yang mendefinisikan wacana toko buku alternatif soal tempat, yaitu bagaimana masyarakat dapat mengakses kepada toko buku. Misalnya dengan membuat lapak di taman, atau toko buku di pasar tradisional yang bisa menjangkau masyarakat bawah.

“Jadi konsep yang muncul bervariasi berbasis ideologi yang mereka miliki, lokasi yang dimiliki dan ini yang menyenangkan buat kami,” terangnya.

Meski sekarang dunia sedang berada di pusaran kemajuan teknologi digital, yang kemudian turut mempengaruhi industri perbukuan, Teddy dan Maesy percaya, toko buku alternatif yang bersifat offline tetap memiliki nilai lebih dibandingkan toko buku online.

Melalui toko buku offline, penjual atau penyedia tidak hanya menawarkan harga dan jenis buku kepada masyarakat (konsumen), tetapi juga menciptakan atmosfer diskusi yang lebih dekat dengan pembacanya. Misalnya dengan membuat grup diskusi tentang tema tertentu dari buku-buku yang ada.

“Kami percaya bertemu dengan tatap muka karena itu memiliki nilai lebih. Pertemuan fisik ini penting yang membuat orang datang kesini. Ini yang berbeda dengan toko buku online karena di sana pembaca dan penyedia dapat melakukan diskusi lanjut tetang tema-tema menarik yang menjadi topik dari buku-buku yang ada,” katanya.

Tentang POST Bookshop

POST Bookshop didirikan pada tahun 2014 oleh pasangan suami-istri Teddy dan Maesy. Dengan POST, mereka menghadirkan alternatif bacaan bagi pembaca ibukota, terutama jenis buku sastra dan sejarah sosial. Toko buku ini menjadi tempat favorit para pasangan muda.

Di POST, ada sekitar 70 persen buku terbitan Indonesia, dan sisanya 30 persen merupakan buku berbahasa Inggris. Buku-buku yang dijual pun tidak akan mudah ditemui di toko buku mayor yang populer.

Semua buku yang dijualdi POST merupakan hasil pemilihan dari pemilik dan kawan-kawannya. Dari proses kurasi itulah, toko buku indie ini mendapatkan kekhasannya.

Selain menjual produk penerbit indie, POST juga menjalin kedekatan personal dengan para pengunjung, juga antara pengunjung dengan pengunjung. Hampir setiap pekan ada acara diskusi buku atau kelas menulis yang menghadirkan penulis buku.

*Daniel Deha

Baca Juga

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Kasus Corona Masih Fluktuatif, Ratusan Bioskop di China Kembali Ditutup

Portal Teater - Menyusul kembali meningginya penemuan pasien terkonfirmasi virus Corona akhir pekan lalu, otoritas China meminta pelaku industri bioskop untuk menutup kembali lebih...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Terkini

Linimasa Kasus Corona Indonesia Selama Maret 2020

Portal Teater - Sebulan penuh Indonesia telah bergumul dengan ancaman virus Corona (Covid-19). Sejak pertama teridentifikasi melalui dua pasien Corona di Depok, Jawa Barat,...

Industri Seni Indonesia Menderita

Portal Teater - Di tengah pandemi global virus Corona (Covid-19), industri seni Indonesia ikut menderita. Jika beberapa negara terpapar corona sudah menggelontorkan dana untuk menopang...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

ATAP Manfaatkan Media Daring Gelar Parade Monolog

Portal Teater - Kreativitas senantiasa mengalir tanpa muara. Kalaupun ada, maka itu adalah awal bagi gagasan baru untuk terus berproses kreatif. Dalam situasi krisis...

Presiden Jokowi Tetapkan Pembatasan Skala Besar

Portal Teater - Setelah melewati pelbagai pertimbangan, Presiden Joko Widodo akhirnya secara resmi menetapkan pembatasan sosial berskala besar untuk menekan laju penyebaran dan pertumbuhan...