Tubuh, Seni, dan Indentitas Kultural

Portal Teater – Pada abad ke-14 di Italia terjadi sebuah gelombang revolusi keagamaan, seni, pengetahuan, dan kemasyarakatan secara besar-besaran.

Beberapa ilmuwan, atau kemudian disebut kaum humanis Italia, melakukan gerakan untuk membebaskan diri dari kungkungan Gereja yang telah mendominasi selama Abad Pertengahan.

Gerakan ini disebut Renaissans, istilah yang mula-mula dipopulerkan oleh Jules Michelet, dan kemudian dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860), untuk merujuk pada periode sejarah yang bersifat individualisme, kebangkitan kebudayaan antik (Yunani dan Romawi kuno), serta penemuan dunia dan keterpusatan pada manusia (antroposentrisme).

Beberapa tokoh penting dalam muncul dalam gerakan ini, antara lain: Dante Alighiere (1265-1321), Lorenzo Valla (1405-1457), Niccolo Machiavelli (1469-1527), Boccacio (1313-1375), Francesco Petrarca (1304-1374) dan Desideramus Erasmus (1466-1536).

Semboyan pokok dalam gerakan ini adalah bahwa “agama bukanlah ekspresi tertinggi dari nilai kemanusiaan”. Bahkan salah seorang yang dilukiskan sebagai manusia ideal Renaissans Leon Batista Alberti (1404-1472) dengan tegas mengatakan bahwa “manusia dapat melakukan segala hal jika mereka memungkinkannya”.

Renaissans memungkinkan munculnya aliran humanisme yang terdiri dari empat aliran: eksistensialisme, liberalisme barat, marxisme, dan agama.

Dan yang terpenting dari semuanya adalah bahwa manusia patut mendapatkan kebebasaannya. Salah satunya melalui rasionya, seperti yang pernah terjadi dalam kebudayaan Yunani dan Romawi kuno.

Gerakan inilah yang memunculkan periode Eropa modern yang dimulai dengan Rene Descartes melalui adagiumnya: cogito ergo sum.

Slogan yang terus mewarnai peradaban manusia hingga saat ini, bahwa kesempurnaan manusia dicapai sejauh mana ia memakai rasionalitasnya untuk merefleksikan keberadaannya.

Dalam bidang seni, kaum humanis menjadi seni sebagai media untuk mengekspresikan bahwa tema-tema kekristenan selama Abad Pertengahan perlu ditinggalkan. Kebutuhan akan kesenian harus difokuskan pada objek materialistik dan profan, tidak lagi berbau agama (Kristen).

Maka muncullah pemahat, pelukis, dan sastrawan, yang mempertontonkan keindahan tubuh manusia, baik pria maupun wanita. Dimensi spiritualistik mulai hilang dari kajian seni humanistik. Sebaliknya, yang diperlihatkan adalah manifestasi keindahan materi.

Tara Basro dalam sebuah unggahan yang menghebohkan publik Indonesia Selasa (3/3) lalu. -Dok. technologue.id
Tara Basro dalam sebuah unggahan yang menghebohkan publik Indonesia Selasa (3/3) lalu. -Dok. technologue.id

Tubuh dan Seni

Hari-hari ini publik Indonesia dihebohkan dengan unggahan aktris Tara Basro yang mengkampanyekan body positivity melalui akun Twitter dan Instagramnya pada Selasa (3/3) lalu.

Dalam foto tersebut Tara tampil topless yang memperlihatkan lekukan pada perutnya. Di akun medsos itu, ia menulis: “Coba percaya sama diri sendiri.”

“Dari dulu yang selalu gue denger dari orang adalah hal jelek tentang tubuh mereka, akhirnya gue pun terbiasa melakukan hal yang sama, mengkritik dan menjelekan. Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of it daripada fokus dengan apa yang kita tidak miliki,” tulis Tara dalam unggahan yang lain.

Bak gayung bersambut, foto tersebut menyedot perhatian publik dan mendapat komentar, kritik dan kecaman dari berbagai kalangan. Foto itupun akhirnya di-take down kembali pengunggah setelah menuai protes.

Ada satu frame yang dapat ditangkap bersama dari diskusi di ruang publik, yaitu pertanyaan tentang hak perempuan dalam mengekspresikan hak atas tubuhnya dan batasan akan pornografi.

Humas Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Ferdinandus Setu menyatakan, unggahan tersebut jelas-jelas melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Pasal 27 Ayat 1. Adapun bunyi pasal tersebut adalah:

“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

UU ini tahun 2013 silam pernah dikenakan kepada Ariel NOAH setelah video mesumnya yang diunggah ke publik dinyatakan melanggar hukum.

Namun pernyataan Ferdi dinilai tidak tepat dan menimbulkan protes baru. Akhirnya Menteri Kominfo Johny Plate menarik kembali pernyataan itu dengan menyebut unggahan itu tidak melanggar UU ITE.

Menurutnya, itu merupakan sebuah seni, tergantung perspektif siapa yang memandangnya. Dan Tara punya cara tersendiri untuk menghormati tubuhnya.

Kerangka berpikir Menteri Johny Plate pada dasarnya merunut pada pemikiran Renaissans Eropa, jika kita boleh mengatakannya. Yang mana menteri asal Partai Nasdem itu melihat tubuh (telanjang) sebagai objek seni.

Tubuh di sini tidak lagi sebagai dianggap sebagai hal yang tabu, sebagaimana menjadi dogma mayor pada Abad Pertengahan. Manusia dan ketubuhannya memiliki nilai keindahan yang pantas dirayakan.

Hal ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan ketika dua manusia pertama diciptakan dalam Taman Eden (bisa dibaca: Surga), yang meski telanjang, mereka tidak melihatnya sebagai pornografi atau dosa. Tapi sebagai ‘keindahan ciptaan’.

Merunut pada kisah tersebut, tubuh telanjang manusia menjadi sesuatu yang ‘bernoda’ atau ‘tercela’ (dalam istilah hukum sebagai pornografi) ketika kedua manusia pertama itu jatuh ke dalam dosa. Jadi, pada mulanya, tubuh telajang bukanlah hal yang porno/asusila.

Dalam seni pertunjukan, tubuh adalah sebuah objek seni, di mana dengan tubuhnya, aktor atau pemain mempertontonkan keindahan pertunjukan. Tubuh adalah pertunjukan itu sendiri; ia tidak dapat terpisah dari pertunjukan.

Tubuh cantik yang tampil di atas panggung akan mempertebal daya tarik penonton terhadap tubuh pertunjukan. Maka tidaklah mengherankan bilamana industri perfilman, berbeda dengan industri teater, mencari aktor/aktris yang cantik dan tampan.

Ketika tubuh aktor dipresentasikan dalam sebuah pertunjukan, maka ia tidak lagi bersifat subjektif atau privasi, melainkan sebagai tubuh publik. Di atas panggung, tubuhnya akan dibedah penonton dari kaki sampai ujung rambut, dengan segala kehadirannya.

Tubuh telah bergeser dari domain privat ke domain publik. Karena itulah, tubuh publik adalah tubuh yang telanjang, yang terbuka terhadap pelbagai tatapan, interpretasi, dan juga proyeksi.

Demikian halnya dalam seni tari, misalnya. Tubuh adalah kekuatan yang menggerakkan seluruh narasi pertunjukan. Bertumpu pada tubuh, barangkali itulah sebutan yang lebih tepat, untuk menggambarkan bahwa tubuh adalah esensi dari seni pertunjukan (tari).

Dalam seni rupa, tubuh seniman hilang dari lukisan atau pahatannya. Namun dengan melukis objek tertentu, ia menghadirkan tubuhnya ke dalam lukisan itu.

Ketika melihat lukisan, publik akan teringat pada sosok tubuh dibalik karya itu. Lebih dari itu, lewat lukisan, seniman mempresentasikan “tubuhnya” yang lain ke dalam kanvas. Jadi, tubuh dan seni adalah dua entitas yang akan selalu bertautan.

Barangkali kita ingat akan kontroversi lukisan Monalisa dan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci. Lukisan itu begitu misteri. Dan publik maupun sejarah dunia meraba-raba jika memang kemisterian itu justru terlahir dari jiwa pelukisnya yang juga misteri dan penuh kontroversi pada masanya. Kedua lukisan itu adalah “tubuh” yang lain dari da Vinci yang mashyur itu.

Unggahan Tara Basro bukan bentuk pornografi jika kita melihatnya menggunakan kacamata seni. Atau setidaknya menggunakan perspektif estetik tertentu.

Namun ketika tubuhnya telah menjadi “santapan” publik lewat postingannya di media sosial, meniscayakan satu kenyataan, bahwa ia telah bermigrasi menjadi kode publik.

Karenanya apapun tatapan dan proyeksi publik terhadapnya tak dapat lagi dibendung. Itulah konsekuensinya. Lagipula, ia adalah figur publik yang tahu bahwa dirinya telah sepenuhnya bersifat publik.

“Body Positivity” dan Identitas Kultural

Dalam unggahannya, Tara Basro menyebutnya itu sebagai gerakan “body positivity”. Lantas, apa itu “body positivity”?

Alan Smithee (2019), mendefinisikan “body positivity” sebagai gerakan sosial yang berdasar pada keyakinan bahwa semua manusia harus memiliki citra tubuh positif, sambil menentang cara masyarakat memandang dan menyajikan gambaran tubuh ideal.

Gerakan ini bertujuan untuk mengatasi standar kecantikan yang tidak realistis dan untuk membangun kepercayaan diri sendiri dan orang lain.

Para perempuan menentang standar sosial bahwa perempuan harus memiliki pinggang kecil, dan mendorong penerimaan semua bentuk tubuh.

Gerakan ini sebenarnya bukan baru kali ini digaungkan, selama beberapa dekade terakhir kampanye ini kian berkembang.

Mula-mula dimulai dengan gerakan Victorian Dress Reform, yaitu salah satu momentum yang memprakarsai “body positivity” dan feminisme di era 1850-1890-an.

Gelombang pertama gerakan ini mulai digaungkan pada 1967, ketika seorang host New York bernama Steve Post mengadakan acara “Fat-in” di Central Park.

Tujuan dari acara tersebut adalah untuk memprotes diskriminasi terhadap lemak. Penulis Lew Louderback kemudian menulis esai berjudul “More People Should be Fat!” setelah istrinya menjadi korban diskriminasi akibat bentuk tubuh.

Gelombang kedua dari gerakan ini berkembang pada 1990. Gelombang ini diprioritaskan untuk memberikan semua orang, dengan semua ukuran, di mana mereka bisa berolahraga dengan nyaman.

Gerakan ini mencapai puncaknya pada 2012 seiring dengan berkembangnya media sosial. Slogan yang digaungkan adalah menentang standar kecantikan yang tidak realistis seperti kulit halus, ukuran tubuh, dan menghindari segala ketidaksempurnaan.

Terlepas dari ketidakkeliruan Tara Basro dalam mengkampanyekan “body positivity”, ada satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam polemik ini. Yaitu perihal identitas kultural.

Tara Basro bernama asli Andi Mutiara Pertiwi Basro, adalah aktris kelahiran Jakarta, 11 Juni 1990. Saat ini berusia 30 tahun. Orangtuanya berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Aktris berkulit eksotis ini cukup diperhitungkan dalam ranah perfilman Indonesia. Ia pernah meraih penghargaan sebagai aktris terbaik (2015).

Biografi kehidupan Tara memperlihatkan bahwa seluruh kehidupannya dihabiskan di Indonesia. Artinya, Tara memiliki identitas kultural sebagai orang Indonesia.

Identitas kultural ini penting karena kultur adalah sebuah totalitas yang membentuk sebuah kehidupan sosial individu dalam tautannya dengan bidang tertentu.

Seperti argumentasi Barker (2005), bahwa identitas sepenuhnya merupakan suatu konstruksi sosial budaya. Tidak ada identitas yang dapat mengada (exist) di luar representasi atau akulturasi budaya.

Merujuk pada pandangan ini, maka identitas dan subjek/individu sangat terkait dan tidak dapat dipisahkan begitu saja. Subyektivitas menyangkut diri (identitas pribadi) seseorang, di dalamnya tercakup perasaan, emosi, hasrat dan kemauan seseorang.

Identitas inilah yang kemudian menjadi rentan terhadap setiap perubahan yang terjadi di sekitarnya, seperti adanya dominasi, minoritas, maupun hegemoni. Dalam konteks Tara, ada semacam perlakuan tidak istimewa jika bertubuh gemuk.

Identitas kultural ini menentukan posisi subjek di dalam relasi atau interaksi sosialnya, baik secara etnis, ras, gender, dan bangsa. Dan identitas diri Tara bertabrakan dengan identitas sosial di sekitarnya.

Mengamini pandangan Hall (1990) bahwa identitas budaya bukanlah sesuatu yang jelas dan tanpa masalah karena identitas budaya adalah produk yang tidak pernah selesai, selalu dalam proses pembentukan dan terbentuk dalam suatu representasi.

Representasi ini harus berada dalam proses yang terus menerus dan bersifat personal dan lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari; ia adalah sesuatu yang cair sesuai ruang dan waktu, di mana subjek tersebut hidup.

Namun, identitas budaya ini selalu bersifat oposisi biner, yaitu sistem yang membagi dunia dalam dua kategori yang berhubungan. Misalnya Barat versus Timur, liberal versus nasionalis, laki-laki versus perempuan, cantik versus buruk, dll.

Dalam relasi-relasi ini terdapat hubungan tidak seimbang; ada dominasi dan subordinasi. Ada kaum yang kuat dan ada yang lemah, demikian seterusnya.

Hal kemudian terjadi, bahwa identitas kultural sarat akan identitas politik, yaitu politik penentuan posisi dalam masyarakat tertentu.

Tara dalam unggahanya sadar betul akan identitas kulturalnya. Bahwa ia ingin memiliki posisi tertentu dalam masyarakat yang sudah demikian diskriminatif.

Namun lagi-lagi, identitas dirinya selalu terkait dengan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, Tara juga mesti mempertimbangkan sosiokultur yang berkembang di Indonesia.

Terlepas dari persoalan hukum, apakah budaya Indonesia cukup akrab dengan produk liberalisme Barat. Itu juga yang seharusnya diperhatikan. Karena di Indonesia sudah ada semacam pandangan esensialis yang melihat hal berbau pornografi sebagai asusila.

Sebab, meski Tara menunjukkan perlawanannya untuk berpandangan anti-esensialis untuk terlepas dari kebakuan budaya yang dianutnya, tapi ia tidak dapat berpisah dari identitas kultural yang melekat dalam dirinya.*

Baca Juga

Industri Musik AS Ambruk Karena Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah menyebar di 203 negara di dunia dengan terkonfirmasi positif 859.965 kasus, 42.344 meninggal dan 178.364 sembuh. Amerika Serikat...

Virus Corona dan Problem Kultural

Portal Teater - Virus corona (Covid-19) yang kini melanda dunia, bagi Yuval Noah Harari, salah satu filsuf masakini, merupakan krisis global. Mungkin krisis terbesar...

Kemendikbud Fasilitasi Pertunjukan dan Kelas Seni Daring

Portal Teater - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menggagas penyajian aneka pertunjukan dan kelas seni dengan memanfaatkan media daring atau online. Hal itu bertujuan...

Terkini

Shahid Nadeem: Teater sebagai Kuil

Portal Teater - Dramawan terkemuka Pakistan Shahid Nadeem dalam pidatonya pada World Theater Day 2020 (27 Maret) mengatakan bahwa penciptaan teater masa kini harus...

Jelajahi Pameran dan Koleksi Seni Museum MACAN Lewat Tur Digital

Portal Teater - Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) Jakarta membuka program tur digital untuk mengajak publik menjelajahi pameran dan koleksi seni...

Satu Juta Penduduk Dunia Terinfeksi Virus Corona

Portal Teater - Virus Corona (Covid-19) telah memukul dunia di mana lebih dari satu juta penduduk terinfeksi patogen ini. Data ini menjadi tonggak pencapaian...

Intelijen AS Sebut China Sembunyikan Data Covid-19

Portal Teater - Intelijen Amerika Serikat dalam sebuah laporan rahasia mengatakan bahwa pemerintah China telah menyembunyikan data penyebaran virus Corona di negara itu, terutama...

Seni (Harus) Tetap Hidup Melawan Pandemi

Portal Teater - Beberapa bulan terakhir adalah masa berat bagi seluruh umat manusia, termasuk para seniman dan pekerja seni. Virus Corona (Covid-19) telah menewaskan...