Ugo Untoro: Melukis Lebih Dekat tentang Personalitas Diri

Portal Teater – Duabelas tahun lalu pameran seni visual Ugo Untoro bertajuk “Poem of Blood” di Galeri Nasional Indonesia Jakarta, 12-26 April 2007, menghebohkan publik Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan.

Namanya lantas menjadi perbincangan publik, bahkan hingga hari ini.

Betapa tidak, seniman asal Yogyakarta itu memamerkan karya-karya terbarunya sepanjang tahun 2006-2007 berupa instalasi, obyek, video, fotografi dan lukisan itu dengan semuanya berbahan dasar kuda.

Dan yang sangat menghebohkan adalah keberanian Ugo membawa jasad kuda ke lokasi pameran. Ini sangat tidak biasa dalam tradisi seni rupa Indonesia.

Rupanya kecelakaan yang merenggut nyawa salah satu kuda kesayangannya pada 2005 menyisakan ingatan yang kuat dalam benaknya, sehingga perupa berusia 49 tahun itu harus menghadirkannya sebagai tubuh pameran.

“Karya itu secara mendalam merefleksikan perjalanan adab manusia yang telah membawa kuda memasuki tahap tertentu seperti sekarang ini: binatang peliharaan pemuas hasrat sang maskulin”, tulis Larasati Gading, model senior Indonesia.

Atas pencapaiannya itu, Majalah Tempo menobatkannya sebagai “Man of The Year 2007”. Selain itu, Langgeng Galeri juga memberikan penghargaan sebagai The Best Artist and Work, Quota Exhibition, Galeri Nasional Jakarta.

Kembali ke Galnas

Belasan tahun berselang, Ugo kembali hadir di Galnas dalam sebuah pameran tunggal. Hampir pasti, kehadiran dan karya-karyanya bakal ditunggu penikmat seni ibukota.

Sejak akhir tahun lalu, ia telah mempersiapkan konten untuk pamerannya, demikian ia bercerita dalam sebuah wawancara pada Kamis (12/12) malam.

Bagi Ugo, pameran tunggal merupakan sebuah kepenuhan dan pencapaian bagi seorang seniman dalam waktu yang panjang.

Dengan itu ia mengerahkan seluruh daya dan kemampuannya untuk menyuguhkan apa yang terbaik bagi publik di hari pamerannya nanti.

Menurutnya, itulah yang membedakannya dengan pameran bersama, di mana seorang seniman masih menyimpan sisi-sisi lain dari pengalaman pengkaryaannya yang utuh.

Pameran bertajuk “Rindu Lukisan Merasuk di Badan” dengan kurator Hendro Wiyanto, pada 20 Desember-12 Januari 2020 nanti akan menghadirkan 50-an karya yang dibuatnya selama kurun waktu delapan tahun (2011-2019).

Instalasi karya Ugo Untoro berupa kuda pada pameran di Galeri Nasional tahun 2017. -Dok. catataniseng.com.
Instalasi karya Ugo Untoro berupa kuda pada pameran di Galeri Nasional tahun 2007. -Dok. catataniseng.com.

Menekankan Personalitas Diri

Berbeda dengan konsep karyanya pada belasan tahun lalu, Ugo kali ini akan menghadirkan karya yang lebih menekankan sisi personalitas manusia, khususnya tentang bagaimana ia berkarya secara apa adanya.

Bagi perupa kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, 28 Juni 1970 ini, cara untuk kembali kepada pengalaman yang utuh tentang dirinya sebagai seniman adalah dengan melukis.

Seperti tergambar dalam tema pamerannya kali ini: “Rindu Lukisan Merasuk di Badan”.

Sebab bagi Ugo, pekerjaan itulah yang sangat dicintainya dan menjadi lokus di mana ia memulai seluruh karyanya.

“Tahun ini saya kembali pada apa yang saya cintai, apa yang dekat dengan saya. Saya sangat mencintai seni lukis. Dan saya sangat menikmati dunia itu,” tuturnya.

Untuk mendekatkan dirinya dengan karya lukisannya, dalam pameran akhir tahun ini, Ugo banyak melibatkan unsur-unsur Romantisme Barat.

Salah satu seniman yang menginspirasinya adalah Eugene Delacroix, maestro seni rupa paling penting di Prancis. Di Indonesia, Ugo mengambil banyak inspirasi dari S. Sodjojono.

Dalam pameran nanti, Ugo akan memamerkan lukisannya tentang kedua seniman itu.

Delacroix lewat karyanya “Massacre at Chios” (1824), misalnya, membuka kebekuan seni rupa era klasik dengan memperlihatkan jejak pada badan lukisannya. Hingga ia dijuluki “massacre of painting”.

Ia memberontak terhadap gaya lukisan sebelumnya yang cenderung menutup atau menyembunyikan sisi kemanusiaan pelukis dengan hanya menampilkan keagungannya, tanpa cacat apapun di lukisan.

Dengan kembali membangkitkan nuansa Romatisme, alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta (1996) itu ingin mendekatkan aspek-aspek personalitas dan emosi manusia ke alam, layaknya merayakan kondisi asali penciptaannya.

Seniman yang dijuluki sebagai “Presiden Perupa” ini percaya, seni selalu bersifat personal, di mana sisi-sisi kemanusiaan pelukis muncul secara kuat: putus asa, cemas, marah, dll., pada kanvasnya.

Karena itu, lewat karya-karyanya, baik yang baru dibuatnya tahun ini maupun yang direkonstruksi ulang dari karya tahun 2011, Ugo meghilangkan unsur-unsur estetik. Ia mau melukis sebagaimana impresi-impresi itu ada pada dirinya.

“Ini sebuah penelitian alamiah yang dijalani saja dan bagaimana hubungannya dengan manusia,” ungkapnya.

Ugo mengambil jarak terdekat dengan peristiwa hidupnya, karena itulah yang memudahkannya memahami secara mendalam impresi visual yang akan dimunculkannya dalam lukisan. Sehingga meski terlihat sederhana namun sarat makna.

Lebih dari itu, dengan berupaya lebih menghargai garis, warna dan bahasa yang tepat untuk karya lukisnya, Ugo kali ini seolah ingin ‘melambatkan’ dirinya di tengah percepatan teknologi dan informasi yang tak terbendung.

Berhenti sejenak dan menarik napas di tengah arus kebudayaan tak tertata membuat ayah dua anak ini memilih kembali fokus pada penggalian kekuatan personal yang mendalam tentang dirinya lewat melukis.

“Ketika seni rupa muncul begitu rupa karena perkembangan teknologi, dari situ saya ingin berjalan lambat, proses kembali ke diri saya,” tuturnya.

Sekilas tentang Ugo Untoro

Selain menjadi pelukis, Ugo juga adalah pematung dan penulis. Ia menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta tahun 1988-1996.

Karya-karya seninya telah dipamerkan dalam beberapa pameran, baik tunggal maupun kolektif, dalam dan luar negeri.

Awalnya ia berkarya melalui lukisan, tapi kemudian Ugo juga membuat karya seni berupa benda tiga dimensi, instalasi dan video-art.

Karya Ugo sudah dipamerkan dalam beberapa pameran bersama sejak tahun 1988.

Pada tahun 2013, Ugo mengadakan pameran berjudul “Melupa” di Ark Galerie, Yogyakarta.

Pada pameran tersebut Ugo memamerkan 22 karya berupa tulisan tangannya pada berbagai media, seperti kanvas, kardus, pinggiran buku, meteran, karton, triplek, kayu, selotip dan rokok.

Salah satu karyanya berjudul “Minus” ditulis di atas papan kayu. Tulisan itu menceritakan tentang kisah sebuah keutuhan yang diceritakan seseorang yang jari kelingkingnya diamputasi.

Karya Ugo di pameran itu berbeda dengan seniman tekstual lain karena menghilangkan kekuatan estetik, sehingga terkesan ia hanya ingin menulis dalam karyanya.

Karya Pameran Ugo Untoro

Pameran Tunggal:
2019
“80nan ampuh”, Kiniko Art, Yogyakarta

2018
“Marang Ibu”, Galeri Kertas, Studio Hanafi, Depok, Jawa Barat

2015
“Passage”, Retrospective Exhibition, Galeri Gejayan, Yogyakarta

2013
“Melupa”, Ark Galeri, Yogyakarta

Pameran Bersama:

2019
“ARTJOG Common Space”, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia
“mind”, Sarang Building, Yogyakarta

2018
“Kecil itu indah”, Edwin’s Gallery, Jakarta
“100 Tahun Hendra Gunawan”, Ciputra Artpreneur, Ciputra World 1, Jakarta

2017
“Art Of Choosing”, Rumah Komik, Yogyakarta
“Sawang Sinawang PEMANDANGAN” , Museum Dan Tanah Liat, Yogyakarta
“Jakarta Biennale: JIWA”, Jakarta

2016
“Sekaliber”, Tahun Mas Artroom, Yogyakarta
“Invisible Force”, Langit Art Space, Yogyakarta
“Manifesto: ARUS”, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

Penghargaan

1994
Philip Morris Award, Jakarta
The Jurse Attention

1998
Philips Morris Award, Jakarta. The Best 5 Finalis
Philip Morris Competition in Hanoi, Vietnam

2007
Man of The Year 2007 versi Majalah Tempo
The Best Artis and Work, Quota Exhibition, Galeri Nasional Jakarta oleh Langgeng Galeri

Sumber tambahan: artjog.co.id

Baca Juga

PSBB untuk Jakarta, Bagaimana Nasib Daerah Lain?

Portal Teater - Pemerintah resmi menetapkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta. Keputusan ini dibuat untuk menekan transmisi virus...

Teater Karantina #1: Wabah Athena, Galen dan Oedipus Kode

Portal Teater - Lukisan Michiel Sweerts, "Wabah di Kota Tua" (Plague in an Ancient City) banyak dikutip dan dipercayai mengambarkan wabah besar yang pernah...

Mendata Pekerja Seni Terdampak Corona

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan membuka pendataan bagi pekerja dan pelaku seni di ibukota yang terdampak secara ekonomi akibat...

Terkini

PSBB untuk Jakarta Berlaku Selama Dua Minggu

Portal Teater - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua minggu ke depan, mulai 10-23 April 2020. Penetapan PSBB...

Kemenparekraf Talangi Pekerja Pariwisata dan Seni

Portal Teater - Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memberikan stimulus fiskal bagi pekerja di bidang pariwisata dan seni. Pendataan akan diperketat agar tidak...

Temuan Kasus Baru Melonjak Drastis

Portal Teater - Temuan kasus baru pasien terkonfirmasi virus Corona (Covid-19) di Indonesia melonjak drastis pada Kamis (9/4). Otoritas melaporkan, ada 337 kasus baru...

500 Juta Penduduk Dunia akan Jatuh Miskin Karena Corona

Portal Teater - Oxfam, sebuah organisasi nirlaba dari Inggris yang fokus pada penanggulangan bencana dan advokasi, mengatakan pada Kamis (9/4) bahwa dampak dari penyebaran...

Festival Teater Nasional 2020 Ditunda

Portal Teater - Teater Gema mengumumkan secara resmi penundaan pelaksanaan Festival Teater Nasional tahun 2020. Kabar penangguhan disampaikan melalui publikasi di akun media sosialnya,...