Umbu Paranggi dan Yori Antar Sabet Penghargaan Akademi Jakarta 2019

Portal Teater – Akademi Jakarta (AJ) baru saja memberikan penghargaan “Lifetime Achievement Award 2019” kepada dua tokoh yang dinilai memiliki kontribusi besar di bidang humaniora selama beberapa tahun belakangan.

Adalah Umbu Landu Paranggi, sastrawan kelahiran Kananggar, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), 10 Agustus 1943, dan Gregorius Antar Awal (Yori Antar), arsitek kelahiran Jakarta, 4 Mei 1962.

Dua tokoh beda disiplin ilmu dan beda generasi ini dianggap menonjol lewat karya-karya sosial mereka kepada masyarakat dan kebudayaan Indonesia secara menyeluruh.

Keputusan itu dibacakan Ketua Dewan Juri Penghargaan AJ 2019 Riris K. Toha Sarumpaet di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/12) sore.

Diketahui, ada lima juri perwakilan dari kalangan profesional seni dan arsitektur yang memberikan penilaian terhadap karya para tokoh Indonesia di bidang humaniora tahun ini.

Kelima juri tersebut yakni Danton Sihombing, Jean Couteau, Maman S. Mahayana, Riris K. Toha Sarumpaet dan Sunaryo.

Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Ketua Akademi Jakarta Taufik Abdullah kepada Umbu Paranggi dan Yori Antar. Umbu Paranggi berhalangan hadir, sehingga diberikan kepada putranya.

Ketua Akademi Jakarta Taufik Abdullah memberikan penghargaan kepada Yori Antar dan Umbu Paranggi (diwakili oleh anaknya) di Teater Kecil, TIM Jakarta, Senin (16/12). -Dok. portalteater.com
Ketua Akademi Jakarta Taufik Abdullah memberikan penghargaan kepada Yori Antar dan Umbu Paranggi (diwakili oleh anaknya) di Teater Kecil, TIM Jakarta, Senin (16/12). -Dok. portalteater.com

Warna Baru Arsitektur Indonesia

Yori Antar diketahui adalah pendiri komunitas Rumah Asuh yang kemudian memberi warna dan langgam baru bagi arsitektur di Indonesia.

Dalam pembacaan keputusan Dewan Juri, Riris Sarumpaet mengatakan, Yori Antar terkenal gigih dalam menggali ilmu arsitektur lokal, mendokumentasikan, dan membangun rumah-rumah adat yang terancam punah.

Ia juga memusatkan perhatian pada upaya melestarikan warisan arsitektur Nusantara dengan menjadikannya sebagai salah satu pembelajaran dalam kurikulum arsitektur di Indonesia.

“Dengan membangun cara berpikir yang baru tentang arsitektur dan kemanusiaan Indonesia, ia ingin menemukan kembali akabr budaya dan siapakah Indonesia,” ujar Riris.

Sebagai peneroka arsitektur Nusantara, Yori Antar mempengaruhi secara luas di mana ia mengubah mindset masyarakat dalam memandang rumah adat Nusantara.

Bahwa rumah adat Nusantara bukan sebagai peninggalan purbakala yang mesti dijauhkan atau menjadi museum, tapi sebagai peninggalan arsitektur yang terlindas oleh modernisme dan perlu diselamatkan dan dipelajari kembali.

Gerakan Rumah Asuh yang dibentuk sejak tahun 2008 bersama rekan-rekannya tidak pernah dimiliki oleh bangsa lain manapun di dunia. Lewat komunitas itu, Yori Antar menciptakan citra baru arsitektur lokal sebagai kekayaan budaya bangsa yang khas.

Riris Sarumpaet menambahkan, karya-karya Yori Antar memberikan standar baru pada praktik arsitektur dari segi teknik dan estetik. Dengan cara yang khas pula ia memberikan ruang bagi ekspresi kebudayaan masyarakat lokal lewat gerakan Rumah Asuh.

“Ini juga diharapkan dapat menjadi sarana penyadaran masyarakat untuk menghargai kekayaan alam dan budayanya,” katanya.

Bagi Akademi Jakarta, arsitektur Indonesia adalah penunjuk jatidiri bangsa yang beragam dan khas, serta memiliki nilai estetik dan filosofis.

Yori Antar lewat karya-karyanya ingin agar bangsa Indonesia hidup dan menyadari keindonesiaan dan kekayaan budayanya melalui arsitektur yang nyata-nyata merupakan cerminan diri dan jiwa bangsa.

Di tengah pusaran globalisasi yang bergerak cepat dan masif, membangkitkan kembali ingatan masyarakat akan kekuatan arsitektur lokal merupakan langkah-langkah yang patut diapresiasi.

“Dalam hal ini, Penghargaan Akademi Jakarta 2019 atas nama Yori Antar, sangatlah pantas,” tutur Riris.

“Presiden Malioboro”

Di bidang ilmu yang lain, karya-karya Umbu Landu Paranggi tidak dapat dipandang sebelah mata. Bukan semata-mata karya kepenyairannya, melainkan lebih pada karya sosial yang didedikasikannya bagi penyair-penyair muda.

Ketika mulai bekerja sebagai Redaktur pada Mingguan Pelopor Yogya, Umbu Paranggi bersama rekan-rekannya dari komunitas Persatuan Sastrawan Muda (Persada) gigih menggerakkan apresiasi sastra di emperan Jalan Malioboro.

Atas ketekunannya merawat semangat teman-temannya untuk terus bergiat di salah satu ikon kota Yogyakarta itulah, Umbu Paranggi dijuluki “Presiden Malioboro”.

Pada tahun 1968, Umbu Paranggi meminta para penulis agar bergabung dalam sebuah studi klub sastra. Setahun berselang, studi klub itu berdiri dengan nama Persada Studi Klub, tepatnya pada 5 Maret 1969.

Klub sastra itu didirikannya bersama dengan beberapa rekannya, antara lain: Teguh Rabu Sastra Asmara, Ragil Suwarno, Imam Budhi Santosa, Suparno, S. Adhy, Suginato Sugito, dan Mugiyono Gitowarsono.

Dalam klub sastra itulah Umbu Paranggi, yang memiliki bakat alam sebagai penyair itu mendidik dan membina penulis-penulis yang lebih muda.

Akhirnya, lahirnya penulis dengan nama beken seperti Emha Ainun Nadjab, Linus Suryadi, Yudhistira Ardi Noegroho, Iman Budhi Santosa, Fiasal Ismail, Teguh Ranu, Jihad Hisyam, Slamet Kuntohaditomo, Slamet Riyadi Sabrawi, Slamet Supriyohadi, RPA Suryanto Sastroatmojo, Landung Rusyanto Simatupang, Korrie Layun, dan masih banyak lagi.

“Patut dipercaya bahwa Umbu adalah seorang guru, pendidik, pembimbing, dan motivator pengarang muda Indonesia,” ungkap Riris Sarumpaet.

Pada tahun 1975, Umbu Paranggi pindah ke Bali sambil bekerja pada Bali Post. Di sana panggilannya sebagai guru bagi penulis muda yang haus akan pengetahuan tidak berhenti.

Lewat Sanggar Minum Kopi (SMK), Umbu Paranggi menjadi pusat dan kekuatan bagi penulis-penulis yang berguru padanya. Diam-diam, ia menjadi ‘bapak angkat’ bagi anak-anak muda Bali.

Lantas, seperti di Yogyakarta, tangan dingin Umbu Paranggi menetaskan sederet penulis terkenal Bali, antara lain: Raudal Tanjung Banua, Oka Rusmini, Cok Sawitri, Warih Wisatsana, Putu Fajar Arcana, Putu Vivi Lestari, Riki D. Putra, Wayan Sunarta, Eka P. Dewi, Ole, Sonia Picayanti dan banyak penulis lainnya.

Selain mengadakan diskusi, debat, acara-acara pembacaan puisi, dan pertunjukan puisi, Umbu Paranggi juga berkeliling ke kampung-kampung dan desa-desa, menularkan semangatnya kepada para penulis untuk berkarya.

“Dalam dunia sastra Indonesia, tak ada yang dapat menggantikan peran Umbu dengan segala keajaiban dan misterinya. Dialan sosok yang tiada henti melahirkan, mengasuh, membesarkan, dan menyemarakkan kehidupan sastra-puisi Indonesia,” pungkas Riris.

Dalam catatan Akademi Jakarta, selama kurang lebih 50 tahun, Umbu Paranggi telah bekerja tanpa pamrih, baik dari pemerintah maupun masyarakat; bekerja hanya untuk membangun kehidupan dan budaya Indonesia lewat karya sastra.

“Capaian, dedikasi, dan pengaruh dari penyair, guru, pembimbing, dan motivator bernama Umbu yang luar biasa membuatnya sangat layak dan pantas menerima Penghargaan Akademi Jakarta 2019,” kata Riris.

Indonesia Memanggil

Dalam pidatonya, Yori Antar mengungkapkan, dedikasinya untuk membangun kembali arsitektur lokal terinspirasi dari banyak pengalaman peziarahan arsitekturnya, baik dalam maupun luar negeri.

Bila melihat desain arsitektur kebanyakan di Indonesia modern, semuanya menggunakan pijakan arsitektur dan budaya Barat, yang merupakan masyarakat industri empat musim.

Padahal, Indonesia adalah masyarakat dua musim, sehingga desain arsitektur impor (akibat kolonialisme masalalu) tidak cukup relevan merepresentasikan budaya Indonesia dan filosofi keindonesiaan kita.

Kita melihat saat ini, banyak arsitektur lokal dianggap peninggalan dan mulai ditinggalkan masyarakat. Desa-desa adat berubah jadi modern, materialnya pun diganti dengan material industri, dan seterusnya.

“Tidak mengherankan kalau sedari awal lulusan kita lebih mengenal arsitektur luar berikut rancang bangun dan material impor. Terlebih lagi image yang diberikan kepada arsitektur tradisional itu adalah arsitektur peninggalan masalalu,” ungkapnya.

Lebih mengerikan, kata Yori Antar, arsitektur lokal/tradisional dilihat sebagai peninggalan dari zaman kegelapan, karena masyarakatnya dianggap buta huruf (budaya lisan) dan tidak bisa menulis.

Arsitektur tradisional juga kerap mendapat prejudice sebagai simbol peradaban animisme dan paganisme dengan banyak ritual adat dan sesajian kepada leluhur.

“Kombinasi cara pandang seperti ini yang menyebabkan masyarakat adat merasa makin lama makin tidak bangga dengan jati dirinya,” pungkasnya.

Dalam pidato Yori Antar berjudul “Indonesia Memanggil”, Yori Antar ‘memanggil’ kembali Indonesia yang terlindas oleh imperialisme modern, dan anggapan-anggapan masyarakat modern yang cenderung melihat budaya lokal sebagai hal yang primitif.

Sejak dibentuknya tahun 2008, Rumah Asuh pimpinan Yori Antar telah berkontribusi dalam membangun kembali rumah-rumah adat di beberapa daerah terdepan Indonesia, yang jika tidak diselamatkan akan hilang dan punah.

Beberapa di antaranya bisa disebutkan, yakni rumah adat Waerebo di Manggarai, NTT, rumah budaya di Ratenggaro di Sumba, NTT, rumah adat Nias di Sumatra Utara, rumah adat Tazo di Riung, Flores, rumah adat Wamena, Papua.

Di wilayah barat Indonesia, Rumah Asuh bekerjasama dengan para donatur membangun beberapa rumah adat, antara lain: rumah adat Minangkabau di Sumatra Barat, dan rumah adat Dayak di Kalimantan Timur.

“Sudah lebih dari 30 titik Rumah Asuh bersama masyarakat dan para donatur bergotong royong melestarikan dan membangun kembali desa adat/arsitektur Nusantara,” tuturnya.

Yang menarik dari dedikasi Yori Antar dalam membangun rumah-rumah adat tersebut adalah perubahan mindset dalam diri mahasiswa magang yang dimintanya untuk terjun dan tinggal bersama masyarakat untuk membantu menyelesaikan pengerjaan rumah-rumah tersebut.

Di sana, para mahasiswa yang mayoritas (atau semuanya) berdarah biru, mewakili golongan elit dari kota-kota besar Indonesia, Jakarta misalnya, justru merasakan sebuah pengalaman budaya yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.

Hidup sederhana bersama masyarakat miskin di Waerebo dan Sumba, misalnya, sangat mengagumkan bagi para mahasiswa. Mereka terlempar keluar dari stereotipe yang selama ini mengungkung pikiran mereka.

Dari segi keilmuan, mereka juga tidak merasakan ada benturan sama sekali antara arsitektur modern yang dipelajari lewat buku-buku di kampus dengan arsitektur lokal yang dihadapi mereka di tempat-tempat itu. Seolah semuanya tersambung.

Di Waerebo, Manggarai, para mahasiswa tinggal bersama dengan masyarakat selama sebulan lebih. Setelah selesai mengerjakan tiga rumah adat, mereka diwisudakan oleh Kepala Suku sebagai simbol bahwa mereka telah lulus dalam berkarya.

Yori Antar menuturkan, masyarakat lokal memiliki budaya membangun rumah dengan semangat gotong royong. Dan para mahasiswa yang ber-live in untuk membangun rumah adat, menemukan nilai-nilai itu begitu hidup dalam tradisi masyarakat.

Kenyataan itu berbeda dengan pengalaman mereka di kota-kota besar ketika nilai-nilai itu mulai hilang karena orang mulai hidup menurut dunianya sendiri.

Bagi Yori Antar, itulah mengapa ia menekuni arsitektur lokal, karena di sana tersimpan kekayaan filosofis yang luar biasa, yang dapat terhubung dengan ilmu manapun: ilmu sosial, budaya, seni, teknik, dan lain sebagainya.

Lewat gerakan Rumah Asuh, yang sekarang sudah diadopsi pemerintah (lewat Kementrian PUPR), Yori Antar ingin menghembuskan semangat baru agar masyarakat Indonesia perlu kembali ke jati dirinya yang paling awal, yang belum tersentuh oleh industri modern.

Moment di mana kekayaan-kekayaan tradisi dan budaya dirayakan secara bersama tanpa sekat atau terkotak-kotak.

Sebab jika melihat arsitektur modern empat musim, maka kita melihat desain rumah yang tertutup dan tersekat-sekat. Ada banyak kamar yang terpisah.

Sementara dalam arsitektur budaya lokal, dengan masyarakat yang hidup dua musim, desain rumahnya lebih terbuka, di mana tidak ada sekat ataupun kamar.

Inilah yang disebut sebagai ruang sosial, menurut Yori Antar. Ruang di mana anggota masyarakat duduk dan berbincang secara terbuka tanpa sekat.

“Tradisi dan budaya bukan masalalu, akan tetapi masakini dan masa depan kita,” ungkapnya.*

Baca Juga

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Terkini

Para Penyair Robot, Ekosistem Penulis dan Tak Ada Apa-apa

Portal Teater - Sebuah unggahan Instagram milik akun @balingehits memunculkan performance berbeda tentang pisang, bapak dan ibu. Kata ditempatkan di atas bidang IG putih...

Galerikertas Kembali Buka Ruang Pameran untuk Publik

Portal Teater - Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, awal Juli ini Galerikertas akhirnya kembali dibuka untuk publik. Pembukaan kembali galeri berbasis Depok, Jawa...

Rontoknya Kekerasan karena Cinta

Portal Teater - Apakakah kekerasan akan luluh lantak dengan indahnya alis mata, binar indah bola mata dan lentik bulu mata. Atau malah makin ganas? Dalang (sutradara)...

Teater Broadway Tutup hingga Awal 2021

Portal Teater - Teater Broadway telah mengumumkan secara resmi bahwa akan tetap menutup teaternya sepanjang sisa tahun ini hingga awal tahun 2021 mendatang. Meski demikian, pembukaan...

Buku Puisi Sosiawan Leak Berbasis Media 3 in 1 Siap Diterbitkan

Portal Teater - Buku puisi "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami: Kumpulan Puisi Puasa di Masa Korona" karya penyair multitalenta Sosiawan Leak berbasis media 3...