‘Under The Volcano’ Mahakarya Yusril Katil Siap Dipentaskan di Jakarta

Portal Teater – Indonesia adalah salah satu negara yang menempati “Ring of Fire”. Peristiwa bencana letusan gunung berapi, tsunami, atau gempa bumi berkekuatan tinggi melanda negara ini sejak berabad-abad lalu. Narasi ini menjadi ‘jejak’ yang hampir tak sepenuhnya hilang dari memori kolektif masyarakat.

Berupaya membangkitkan ingatan publik akan narasi kolektif itu, seniman teater Yusril Katil, pendiri Komunitas Seni Hitam-Putih berbasis Padang, Sumatra Barat, akan menyuguhkan pementasan mahakaryanya berjudul “Under The Volcano” di Jakarta.

Ini menjadi pertunjukan perdana karya putra Minang ini di Jakarta setelah mendulang sukses pada acara Olimpiade Teater ke-6 di Dayin Theatre, Beijing, Cina, tahun 2014 dan di TheatreWorks, Singapura, pada 2016 lalu.

Di Jakarta, karya ini akan dipentaskan di Ciputra Artprenuer, pada 4-5 April 2020, secara penuh. Sebelumnya karya ini dipentaskan pada Borobudur Writers & Cultural Festival di Panggung Akshobya Candi Borobudur tahun 2018 secara tidak utuh.

Karya ini terinspirasi dari “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh (1883) yang menceritakan mengenai kejadian meletusnya gunung Krakatau pada tahun yang sama.

Dalam cerita ini, Yusril menggali memori yang hidup dan berkembang di masyarakat perihal bencana letusan gunung berapi dengan mengolah memori-memori itu dalam tubuh aktor; bagaimana aktor merespon pelbagai ingatan dan kesadaran yang muncul.

Diketahui, letusan Krakatau terjadi pada 1883 yang dimulai pada 26 Agustus 1883 dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera. Pada 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.

Bencana besar yang pernah melanda sebagian wilayah Nusantara ini menginspirasi seniman yang kini tinggal di Padang Panjang, Minangkabau, Sumatera Barat, yang diapiti dua gunung merapi.

“Pada 1999 muncul gempa besar yang meluluhlantakkan rumah membuat saya dan teman-teman satu bulan tidur di tenda,” kata Yusril dalam konferensi pers di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Selasa (4/2), melansur liputan6.com.

Karya ini mengingatkan kita pada sebuah film yang cukup populer pada tahun 1984, dengan judul yang sama, “Under the Volcano”.

Film ini disutradarai di Meksiko oleh John Huston dan ditulis Guy Gallo pada 1984, berhasil menyedot perhatian industri perfilman hingga meraih nominasi Oscar untuk kategori Aktor Terbaik dan Musik Terbaik.

Kedua karya ini memiliki cerita yang berbeda, tapi terinspirasi dari latar geografis yang sama. Film “Under the Volcano” diadaptasi dari novel penulis Inggris Malcolm Lowry yang diterbitkan pada tahun 1947.

Novel mengisahkan tentang Geoffrey Firmin, seorang konsul Inggris yang beralkohol di kota kecil Quauhnahuac di Meksiko tahun 1938.

Judul novel ini terinspirasi dari dua gunung berapi yang menaungi kota Quauhnahuac dan tokoh-tokohnya, yaitu gunung Popocatepetl dan Iztaccihuatl.

Demikian halnya dengan kondisi geografis tempat Yusril berdiam saat ini, diapiti dua gunung berapi.

Yusril Katil dan manajemen Ciputra Artpreneur dalam acara konferensi pers di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (4/2). -Dok. harianhaluan.com.
Yusril Katil dan manajemen Ciputra Artpreneur dalam acara konferensi pers di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (4/2). -Dok. harianhaluan.com.

Mewaspadai Bencana Informasi

Mengambil latar dan narasi yang digambarkan Mohammad Saleh dalam karyanya, Yusril mencoba menghadirkan bagaimana orang-orang yang berjuang menyelamatkan diri dan menemukan nilai-nilai baru dalam kehidupan mereka ketika bencana melanda: kesetiakawanan, solidaritas, kerjasama, dan lainnya.

Namun, potensi relevansi karya ini dapat pula dilihat dari sudut pandang yang lain. Seperti misalnya, Yusril juga berikhtiar meniupkan kesadaran untuk senantiasa waspada tehadap ‘bencana lain’ yang bakal muncul dalam hidup masakini.

Barangkali, bencana terbesar masakini tidak lagi berupa gunung berapi, meski Indonesia masih digerundung peristiwa bencana alam akhir-akhir ini, tapi yang lebih dekat adalah bencana teknologi dan informasi.

Di mana orang bebas mengakses dan memproduksi serta merepoduksi informasi untuk menyebarkan kebohongan, kepalsuan dan kebencian, hingga radikalisme.

Selanjutntya, bertemakan nilai-nilai universal, pementasan ini amat dinamis yang berakar dari tradisi silek dan ulu ambek di Minangkabau, dan elemen modern berupa video digital.

Silek adalah sebuah reaksi dan refleksi diri agar senantiasa waspada atau naluri untuk menghindar dari bahaya.

Adapun tiket “Under the Volcano” dijual seharga Rp250 ribu hingga Rp1.350.000.*

Baca Juga

Forum Seniman Peduli TIM Gelar Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI

Portal Teater - Sejak November 2019, sejumlah seniman, budayawan dan pelaku budaya yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM (FSPT) menggelar aksi 'silet movement'...

Mohammad Yusro Kembali Terpilih Jadi Ketua Itera

Portal Teater - Musyawarah Besar Ikatan Teater Jakarta Utara (Itera) 2020 kembali menunjuk Mohammad Yusro menjadi Ketua Itera periode 2020-2023. Sebelumnya jabatan ini dipegang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

Terkini

Suara Penyintas Kekerasan Seksual dari “Belakang Panggung”

Portal Teater - Lentera Sintas Indonesia dan Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta akan mempersembahkan teater musikal "Belakang Panggung" untuk menyuarakan kesunyian yang terkubur dari...

Taman Ismail Marzuki Baru dan Ekosistem Kesenian Jakarta

Portal Teater - Pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) Baru memasuki tahap pembongkaran fisik bangunan di kawasan TIM Jakarta. Karena komunikasi publik dari pihak Pemerintah Provinsi...

Perjalanan Spiritual Radhar Panca Dahana dalam “LaluKau”

Portal Teater - Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana (RPD) akhirnya kembali ke panggung teater setelah lama tak sua karena didera kondisi kesehatan yang...

Perkuat Ekosistem Seni Kota Makassar, Kala Teater Gelar Aneka Program

Portal Teater - Sejak terbentuk pada Februari 2006, Kala Teater cukup dikenal sebagai salah satu grup teater yang memiliki sistem manajemen yang solid. Dengan sekitar...

“the last Ideal Paradise”, Site-Specific Claudia Bosse untuk Indonesia

Portal Teater - Koreografer terkemuka Claudia Bosse berkolaborasi dengan seniman dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Lampung akan menghadirkan karya site-specific mengenai terorisme, teritori,...